Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Sobat karib


__ADS_3

"Pak kita sudah sampai di depan hotel." Ucapan kerasnya pak sopir membuat pangutan bergairah Antara Aku dan Flo, harus berakhir. ku lap bibirnya yang basah karena ulahku dengan cepat. Mengabaikan pak supir yang melirik ke belakang dengan canggungnya. Sebenarnya aku malu pada Pak sopir tapi, ku anggap ia sudah dewasa dan memaklumi apa yang kami lakukan sekarang. a


Apalagi kami adalah pasangan suami istri dan pengantin baru, masih hangat hangatnya, karena kami baru menikah satu minggu.


"Oh iya pak." Jawabku gelagapan merapikan kembali rambutnya Flo, yang acak-acakan serta mengencingkan kemejanya yang sempat terlepas dua kancing, karena berciuman sambil mer emas Gunung kembarnya yang kenyal dan padat itu sangatlah nikmat.


Kami akan menghabiskan waktu di Danau Toba ini, hingga esok sore. Sekarang waktu nya chek in. Kamar executif telah diboking sebelum nya.


"Eemmm.. Sahabat mu Ali, memang nya tinggal di mana By?' Flo bicara dengan bergelayut manja di lengan ku. Kami sedang memasuki hotel.


Ku menghentikan langkah, memutar leher ke arahnya. " Nanti dech aku ceritain samamu seberapa penting sahabatku yang bernama Ali itu dihidup ku." Ujarku lembut, menuntunnya kembali agar melangkah memasuki loby hotel.


Seketika wajahnya yang murung


bersinar-sinar mendengar diriku akan menceritakan tentang Ali padanya.


Kami mengikuti langkah pelayan menuju kamar hotel. Flo tak pernah melepaskan rengkuhan tangannya di lenganku, dengan kepala bersandar manjah di bahu. Sikap Flo sangat berlebihan, ia sudah seperti prangko yang menempel terus pada ku. Kenapa kami sebuncin ini? Padahal kami hanya kenal satu bulan saja. Terus nikah, terbilang cepat memang. Tapi, karena merasa nyaman dengan Flo disaat pertama kali kenal dengannya, diajak nikah, aku langsung mau. Apalagi keluargaku sudah mendesakku agar menikah.


Jadi, kepulangan kami kali ini adalah. Akan diadakannya acara kecil-kecilan di kampung. Atas diriku yang sudah menikah.


"Eemmm..... Jujur ya By, aku itu sangat takut untuk datang ke kampungnya Hubby, aku takut ibunya Hubby, serta keluarga besarnya Hubby tidak suka denganku." Ujarku Flo dengan muka sedihnya.


Ia terlihat sangat tidak percaya diri. Padahal dia ini sangat cantik, dia juga seorang aktris masak, berhadapan dengan keluargaku dia takut.


"Eemmm... Jangan mikir yang macam-macam. Ibu serta keluarga besarku, pasti suka denganmu. Kamu itu cantik, baik, nggak ada kekuranganmu sedikitpun." Ujarku lembut penuh kasih sayang. Aku ingin memberikannya semangat.


"Iya sayang." Sahutnya lemah. Kini kami sudah keluar dari lift. Kembali melewati lorong menuju kamar.

__ADS_1


Bruuggkk..


"Aaawwww...!"


Seorang wanita menabrak kami dan anehnya malahan wanita itu yang terpental. Dia kini ambruk di hadapan kami, dengan memegangi bokongnya serta tangannya. Mungkin ia merasa kesakitan. Aku dan Flo istriku, sama-sama memperhatikan wanita yang masih terduduk itu dengan kesal. Ia tal lihat jalan. Masak menabrak orang. Wanita itu pun bangkit dengan muka sedikit kesal, tapi ia berusaha untuk bersikap ramah. Mungkin ia tahu, kalau Ia yang salah. Setelah ia berdiri dia melirik kami sekilas dengan menarik paksa senyum di bibirnya.


"Maaf aku terburu-buru." Ujarnya lemah, masih dengan senyum tipisnya.


"Ana..!"


Ujar Flo dengan tatapan tajam ke arah Wanita yang menabrak kami.


Nama itu cukup familiar di telingaku. Sontak aku menoleh kearah wanita yang di sebelah Flo, yang hendak masuk ke dalam lift. Kenapa Flo tahu nama wanita ini?


"Al... Alana, Ana...!" ujarku dengan ekspresi wajah terkejut. Sebenarnya aku masih sedikit ragu, Apakah wanita yang ada di belakang kami saat ini adalah teman masa kecilku yang bernama Alana Ketlovly.


"Arif.. Arif.. kamu Arif kan? kamu Arif...?" ujarnya tak kalah terkejutnya melihatku. Kedua bola matanya yang bulat dan indah itu membelalak hendak keluar dari tempatnya dengan wajah sumringah dan senyum mengembang menatapku.


Aku yang terkejut bisa bertemu dengan Ana di tempat ini, aku refleks melepaskan rengkuhan tangan Flo dari lenganku. Tangan ini menjulur cepat ke hadapan Ana. Ia pun menyambutnya dengan sangat antusias. Kami bersalaman dengan perasaan yang membuncah, sedangkan Flo terlihat murung memperhatikan kami. Ku lirik Flo dan tangan ini masih menjabat tangannya Ana. Karena ia cemberut, aku pun melepaskan jabatan tanganku dari Ana.


"Sayang, perkenalkan. Ini Ana, temanku sekampung." Ujarku meraih punggung Flo dan memeluknya, agar mendekat ke arah Kami. Karena Flo mundur melangkah dengan ekspresi wajah tegang bercampur bete.


"Hai... Aku Alana, panggil saja Ana." Ujar Ana dengan senyum mengembang, menjulurkan tangannya ke hadapan Flo. Walau tersenyum lebar, terlihat sorot matanya Ana yang insecure.


Flo tak menanggapi juluran tangan Ana, ia masih terlihat bete, dan dominan menunjukkan ekspresi wajah cemburu.


Ku raih tangan Flo, memberi kode dengan mata agar menyambut uluran tangan Ana. Ia pun menurutinya.

__ADS_1


"Flo." Ujarnya singkat, dan melepaskan tangannya cepat dengan muka masamnya. Ekspresi kesalnya Flo terlihat sangat lucu. Ia kenapa terlihat secemburu itu?


"Baiklah, aku pergi dulu. Senang bisa bertemu denganmu lagi Arif."


Ekspresi Ana terlihat tegang. Mungkin ia merasa tak nyaman dengan tatapan tajam nya Flo.


"Hei... Ana, tunggu sebentar. Bagi no hape mu!"


Ana kembali membalik badan, menatapku dengan senyum tipisnya. Ia kembali menatapku dan Flo secara bergantian. Kemudian merogoh tas jinjingnya. Mengambil kartu nama dari dompetnya.


"Ini Rif," menyodorkan kartu nama ke hadapanku. Ia masih melirik lirik Flo, yang menampilkan ekspresi wajah masam. "Aku pergi dulu."


Aku masih memperhatikan lekat Ana yang ada di dalam lift. Hingga lift itu tertutup.


Saat itu juga aku baru tersadar, kalau Flo sudah meninggalkanku di tempat. Aku pun dibuat panik akan sikap flo yang terlihat cemburuan dan sangat berlebihan itu. Ku kejar Ia yang telah meninggalkanku menuju kamar yang sudah kami pesan. Disaat aku semakin mempercepat langkahku dia menoleh ke belakang dengan wajah masamnya dan mempercepat langkahnya.


Grapp...


Aku berhasil mendaratkan tanganku di punggungnya, merangkulnya dengan gemes. Ia mengangkat bahunya dengan menatapku masam. Aku pun mengalah, melepaskan tanganku dari bahunya. Ia kembali melirikku dengan muka berlipatnya, kemudian masuk ke kamar yang sudah di buka oleh pelayan hotel. Aku menyusul masuk ke dalam mendararkan bokongku di sofa yang diduduki oleh Flo, ku raih tangannya lembut, ia masih membuang muka.


Huufftt


Wanita kalau sudah cemburu bawaannya ingin marah-marah tak jelas. Aku pun dibuat bingung akan sikapnya Flo. Mana Aku tidak punya pengalaman mengenai wanita. Aku hanya sering dengar lagu yang berjudul Karena Wanita Ingin Dimengerti. Ya, aku harus sabar-sabarkan diri lah menghadapi Flo yang sedang cemburu, tak mungkin juga aku ikutan marah. kami menikah baru satu minggu, kalau sikapnya yang keras ku balas dengan keras juga maka pernikahan kami ini tinggal menunggu waktu saja untuk meledak.


Cuupp..


Jemarinya yang lentik dan mulus sudah kena sapu oleh bibirku yang basah, aku melakukannya dengan lembut dan ku lirik flow yang kini sudah mulai senyum-senyum. Ya, beginilah cara menaklukkan wanita Kita harus pandai merayunya

__ADS_1


"Gadis itu, teman karibku di kampung. kami satu sekolah mulai dari SD SMP dan SMA. Jadi, kami itu ada satu geng, yang hanya terdiri ada tiga orang. Aku, temanku yang tadi kubilang yang namanya Ali dan satu lagi ya Ana.


__ADS_2