
"Astagfirullah. ..Arif tersadar. Ia kesampingkan hasratanya yang sempat berkobar-kobar. Ia fokuskan penglihatannya untuk mengambil pacet itu dari bagian intinya Alana.
"Sial.... Koq susah banget ya di tarik?" Arif bicara sendiri demgan bodohnya. Karena saat ditarik, Pacet nya malah semakin mencengkram otot miliknya Alana.
Ia kembali memperhatikan miliknya Alana. Karena pencahayaan di tempat itu sangat terbatas, diakibat hari yang sudah mulai gelap.
"Astaga.... ada dua lagi." Ujar Arif merasa ngeri. Bulu Kuduk nya ikut meremang disaat ia sudah berhasil mendapatkan satu pacet di tangan kanannya. Dan kini tangan kirinya berusaha menarik pacet kedua yang kebetulan berada di selang kangannya Alana.
Huufftt...
Arif membuang napas secara kasar. Dan membuangnya berat ia merasa energinya terkuras habis, setelah berhasil mengambil dua pacet yang menghisap darahnya Alana. Ia sudah seperti Dokter Obgyn saja. Yang membantu proses melahirkan.
Huuffftt...
Arif masih merasakan ketegangan yang amat sangat. Dengan perasaan yang berkecamuk di dada, Ali menatap Alana yang terbaring dengan penuh kekhawatiran. Ia benarkan posisi kaki Alana, merapatkan kedua kaki wanita itu dan menurunkan kemeja yang dikenakan Alana. Agar bisa menutupi bagian sensitif dari wanita itu.
Setelah itu ia bangkit dia akan membunuh Pacet yang tetap melekat di tangannya, dipindahkan dari tubuhnya Alana, pacet itu malah keasyikan menghisap darah di tangannya.
Kedua Pacet itu masih menari-nari di tangannya Arif, sedangkan Arif berusaha mencari sesuatu untuk membunuh pacet ini. Pacet dengan mudah dimusnahkan apabila kena air sabun atau kena garam. Arif menyoroti sekitar Pondok berharap Ia mendapatkan garam atau sabun. Dan Arifpun bisa bernapas dengan legah, setelah melihat sebuah wadah tergantung yang ia yakini wadah itu adalah tempat sabun.
Benar saja di wadah itu terdapat sabun batangan berwarna kuning. Ia pun mengoleskan sabun itu ke Pacet yang menggigit tangannya dan seketika Pacet itu lepas sendiri dari tangannya Arif. Terjatuh di lantai papan Pondok itu. Arif kemudian mengoleskan sabun itu ke permukaan tubuh pacet dan tak berapa lama tubuh pacet itu terlihat hancur, mengeluarkan darah yang telah dihisapnya dari tubuh Alana dan tubuh nya.
Arif kembali memperhatikan Alana yang terbujur. Ia ingin sekali memakaikan celana untuk menutupi bagian bawahnya Alana. Tapi, ia takut jikalau Alana sadarkan diri, dan salah paham padanya.
Arif akhirnya hanya menyampirkan celana miliknya ke atas pahanya Alana. kemudian pria itu meraih tas selempang waterproofnya. Tas mahal anti air selalu ia bawa ke mana pun.
__ADS_1
Huufftt..
Arif mendudukkan bokongnya kembali dan bersandar di dinding pondok. Merogoh tas nya untuk meraih ponsel di dalam tas itu. Iya akan menghubungi salah satu orang yang bekerja di kebunnya berharap dapat bantuan agar Ia dan Alana bisa keluar dari tempat mereka berada sekarang Ini.
"Astaga... koq gak ada jaringan sih?" Arif bicara sendiri dengan prustasinya. Biasanya juga jaringan dapat di kebunnya walau kadang hilang-hilang muncul tapi kali ini benar-benar hilang. Apa karena sedang terjadi hujan badai.
Arif yang tak mau menyerah dengan keadaan. Memutuskan keluar dari pondok. Ia ambil mantelnya dari dalam bagasi jok motornya. Ia memakainya dengan cepat. Ia akan ke jalan, menunggu siapa tahu masih ada orang yang lewat. Walau hari sudah mulai gelap.
Arif melangkahkan kakinya dengan penuh kehati hatian, melewati air yang menggenang di areal perkebunan itu. Saat ini, air yang masuk
ke perkebunan itu sekitar lututnya Arif tapi jangan ditanya di depan sana air mungkin sudah sampai sepinggang.
"Ya Allah... Gimana caranya aku bawa Alana keluar dari tempat ini? mengendong dia sampai rumah, tak akan bisa ku lakukan. Rumah masih jauh." Arif bicara sendiri dengan bingungnya Ia pun akhirnya memutuskan kembali masuk ke dalam pondok sambil memperhatikan kakinya Apakah ada Pacet yang menempel di tubuhnya. Dan ia melihat pacet. Tapi, gak tahu juga apa sudah ada menempel di tubuhnya yang tidak bisa dijangkau oleh matanya.
"Astagfirullah ... Kamu ngagetin aja." Ujar Arif dengan terkejut. Mmegangi dadanya yang berdebar-debar saat ini. Ia sangat terkejut dibuat oleh Alana yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"I, ia." Jawab Alana sendu. Ia pun memundurkan langkah nya dengan terpincang, karena kakinya masih sakit saat melangkah. Dan kini Alana sudah berpakaian dengan rapi. Ia pun mendudukkan bokongnya di tempatnya semula.
"Apa kita gak bisa keluar dari Tempat ini?" Tanya Alana sendu. Ia tak sanggup menatap Arif. Saat ini dia merasa sangat malu sekali, pasti Arif sudah melihat miliknya. Alana merasa sangat malu sekali, ingin rasanya Dia membenamkan dirinya ke dalam lubang semut saja, saking malunya mengetahui bahwa Arif lah mengambil pacet dari selang kangan dan di bagian tepi tepi bibir kema luannya.
"Bisa, tapi harus berjalan. Di depan sana, air sudah setinggi pinggang pasti. Mana hari sudah gelap. Kita gak bisa lihat jalan.
Huhuhu..
Alana menangis tersedu sedu." Bu...Aku takut..!" isak Alana, masih tak berani menatap Arif.
__ADS_1
"Kamu gak perlu takut. Apa kamu meragukan aku?" tanya Arif sedikit tersinggung dengan ucapan Alana.
Alana terdiam, ia jelas takut. Walau Arif, ia kenal baik. Tapi kan namanya manusia. bisa saja pemikiran Arif berubah jadi buas dan memanfaatkan keadaan yang sulit buat Alana karena mereka akan menghabiskan malam di tempat itu. Mana cuaca sangat dingin. Alana takut, Arif jadi berhasrat padanya. Apalagi tadi, Alana sangat yakin bahwa Arif lah yang mengambil pacet dari tubuhnya
"Aku gak mungkin melakukan hal keji padamu dek Alana. Kalau aku mau, sudah dari tadi aku manfaatkan kesempatan, disaat kamu pingsan." Ujar Arif dengan datar.
Alana sadar ia telah menyinggung perasaan Arif. "Maaf ya bang. Aku, aku benar benar ketakutan." Sahut Alana sedih.
"Jadi, gimana? kita tempuh saja hujan ini?" tanya Arif lagi memastikan.
"Iya, tapi Kalau kita terjebak di sana." Alana menunjuk Tempat terendah yang akan mereka lalui. "Pasti disana air sudah tinggi dan deras."
"Sepertinya begitu, aku pun kurang hapal tempat ini. Karena aku baru seminggu lebih di kampung ini." Jawab Arif datar.
"Sama, yang ku tahu hanya jalan tadi "
"Sama.." Timpal Arif.
Alana melirik Arif. "Bang, kita tempuh saja hujannya. Semoga ada pertolongan nanti. Dan semoga bisa kita lewati." Usul Alana dengan penuh keyakinan.
"Aku sih mau? aku ragu padamu. Kamu gak takut digigit Pacet lagi?"
"Iihhh.... Aww.... Takut...!" Alana bangkit dari tempatnya secepat kilat, berhambur memeluk Arif yang kini terkejut dengan tingkah hebohnya Alana. Kalau dipeluk seperti ini, apa yang Di takut kan Alana pasti terjadi.
TBC
__ADS_1