
Rasanya sangat lemas setelah mendengarkan cerita Hana tentang hilangnya Ali. Ia tak merasakan firasat apapun sebelumnya. Ali yang bekerja di perusahaan kontraktor sang ayah, tak kunjungi pulang juga hingga malam tiba, dan sampai sekarang, keberadaan Ali tak ditemukan. Dua hari setelah kehilangan Ali, Hana telah melapor ke pihak berwajib, tapi gak juga membuahkan hasil.
Aku yang sangat penasaran dengan keberadaan Ali, langsung melakukan penyelidikan malam itu juga. Aku mulai dengan menanyakan teman teman Ali di kampung ini. Tapi, semuanya mengatakan tak ada yang tahu keberadaan Ali.
Pukul 00.30 Wib dini hari, aku baru tiba di rumah. ternyata Flo belum tidur dia menunggu kepulanganku. Tadi memang aku menghubunginya mengatakan kalau aku ada urusan penting dan tak bisa pulang dengan cepat.
"Eemmm... Baru sehari di kampung. Aku sudah ditinggalin sendiri di rumah. Katanya, pergi hanya sebentar. Tapi, nyatanya pulang udah hampir subuh." Flo merajuk, bibirnya terlihat menggoda saat ditekuk dan dimanyunkan.
Hhuuffttt...
Ku baringkan tubuhku yang terasa lelah. Di ranjang sebelah kirinya Flo. Aku baru selesai mengganti pakaian. kutatap ia dengan datar. rasanya sangat malas untuk menceritakan semuanya. Apalagi saat ini, hatiku masih terguncang dengan berita kehilangan Ali.
" Maaf ya, Hubby ada urusan penting sekali. Hubby sedang mengurus masalah yang sangat besar dan pelik." ujarku lembut membelai pipinya./ kini kami saling berhadapan. Dia terlihat serius menanti penjelasanku berikutnya.
"Sabahatku Ali hilang, sudah seminggu ini."
"Apa....!' Flo terkaget kaget mendengar ucapanku. kedua bola matanya yang coklat dan indah itu membeliak hendak keluar dari tempatnya. Saking terkejutnya atas berita yang kusampaikan. Flo bahkan bangkit dan terduduk dengan ekspresi kagetnya.
Kutarik lengan cepat, hingga ia kembali ambruk dan berbaring disampingku, aku langsung mendekapnya erat. "Sudah, kita tidur saja. Hubby ngantuk sekali malas bahas Ali." Ku daratkan kecupan penuh cinta di kepalanya. Dan aku pejamkan kedua mata ini.
Sepertinya Flo mengerti akan keadaanku serta diriku yang terlihat lelah. Dia pun tak mau bertanya atau mencecarku dengan pertanyaan beruntun. Dia hanya diam dalam pelukanku dan kami pun akhir nya tertidur.
***
Keesokan harinya.
Flo akhirnya pulang terlebih dahulu naik pesawat. Aku memutuskan untuk tinggal di kampung, mengusut tuntas atas hilangnya Ali yang hilang tanpa jejak. Tadinya Flo tak mau pulang sendiri. Tapi, aku akhirnya bisa membujuknya juga. Karena aku ingin membantu keluarga sahabatku Ali.
Sebenarnya sangat berat untuk melepas Flo pulang sendirian. Apalagi kami datangnya bareng. Tapi, mau gimana lagi. Aku gak bisa diam, atas hilangnya Ali yang penuh misteri ini. Hati kecilku mengatakan bahwa Ali telah dilenyapkan S
Seseorang, yang menaruh dendam padanya. Tak mungkin dia menghilang begitu saja. Ali bukanlah orang yang bodoh, ia sangat cerdas. Ia pasti bisa selamatkan diri, seumpama ia disandra Seseorang.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Flo ke bandara. Aku langsung bergegas menuju TKP yaitu ke rumahnya Ali dan Hana yang kini mereka sudah tinggal di kota. Aaktu yang diperlukan untuk sampai ke rumahnya Ali sekitar 30 menit dari rumah orang tua saya yang di kampung.
Sesampainya di rumah itu. Hana langsung menyambutku dengan hangat, ekspresi wajah sedih karena kehilangan masih terlihat jelas di wajahnya. Tapi, ia berusaha menyembunyikan kesedihan itu dengan menarik kedua sudut bibirnya sehingga menghasilkan senyum yang tulus. Aku kembali mewawancarai Hana tentang kejadian awal mula, hilangnya. Ali walau sebenarnya di rumah ibunya Ali dia sudah menceritakannya sebagian, tetapi aku ingin cerita lebih detailnya lagi.
"Hari itu aku pamit pada Ali. karena aku ada pertemuan di kota Jakarta selama tiga hari. sejak aku pamit pergi pelatihan ke kota Jakarta, Aku sudah tidak bisa menghubungi Ali lagi.
Dia tidak bisa ditelepon. Saat itu aku sudah tak konsentrasi lagi mengikuti pelatihan itu tapi ku Yakinkan diriku bahwa semuanya baik-baik saja. Mungkin Ali sedang sibuk dengan pekerjaannya, sehingga ia tak bisa diganggu. Padahal biasanya, kami selalu bertukar kabar. Walau begitu, aku tetap menghubungi tetangga, meminta bantuan untuk melihat situasi di rumah, apa Ali ada di rumah. Tetapi rumah kami terkunci, bahkan mobil pun tak ada di rumah." Ujar Hana dengan sedih nya.
Aku masih sangat penasaran dengan penjelasan Hana. Ternyata Ali sudah tak ada kabar, saat ia keluar kota. Ku tetap menatap lekat Hana yang bercerita dengan tidak sabarannya menanti penjelasan Hana selanjutnya.
"Sebenarnya pernikahanku dengan Ali tidaklah harmonis. Kami jarang berkomunikasi, sejak kami menikah. Tapi, tiga bulan terakhir ini hubungan kami semakin membaik dan setelah hubungan kami dekat begini, Ali malah menghilang."
Air matanya Hana mengucur deras saat ini. Sepertinya ia merasa sangat terpukul karena kehilangan Ali.
Setelah mendengarkan penjelasan panjang kali lebarnya Hana. Arif pun memutuskan pergi dari rumah itu, ia kini bergerak ke arah kantor polisi. ia akan meminta akan membantu pihak kepolisian dalam menyelidiki kasus hilangnya Ali dan Hal pertama yang akan dilakukannya adalah mencari, Di mana keberadaan mobilnya Ali yang hilang bersamaan dengan hilangnya Ali.
Arif juga memerintahkan anggota kepolisian untuk memeriksa CCTV di sekitar rumahnya Hana.
Arif yang Dilema karena menghilangnya Ali, akhirnya memutuskan pergi ke rumah orang tuanya Ali. Ia ingin bertanya banyak hal, tentang Ali pada ibunya, karena sejak Ali dan Hana menikah. Arif tak pernah berkomunikasi lagi dengan Ali. Dan kebetulan sekali, Hana sedang berada di rumah orang tua nya Ali.
"Ali itu sangat pendiam dan pemalu, dia tidak mau ada pembantu serta satpam di rumah ini, dia juga tidak mau bersosialisasi dengan warga sekitar."
Arif terdiam mendengarkan penjelasan Hana. Ya ada benarnya juga Ali memang orangnya introvert
Dia itu sangat pemalu dan tidak mau bergaul dengan orang yang tidak ia kenal.
"kata Ali yang akan membantuku mengerjakan pekerjaan rumah dan terbukti kami berbagi pekerjaan. Bahkan ia yang lebih sering mencuci baju mencuci piring memasak bahkan bersih-bersih rumah."
"Tunggu, tunggu sebentar aku kurang yakin dengan penjelasanmu Hana. Coba kamu jujur. Apakah dengan menghilangnya Ali, karena kalian bertengkar?" Tanyaku dengan serius, memotong penjelasan Hana. "Mungkin Ali merasa tersinggung karena sepertinya dari ceritamu. Ia lebih banyak melakukan pekerjaan rumah. Biiasanya pria tidak akan suka terlalu di atur " Ujarku penuh selidik.
Hana menatapku dengan tidak percayanya
__ADS_1
"Aku selalu menghormatinya, sebagai istri. Aku selalu patuh padanya,walau hubungan kami tidak harmonis Bahkan hingga saat ini ia tidak pernah menyentuhku."
"Apa...?" Ibunya Ali sangat terkejut mendengar penjelasan nya Hanya. Sebenarnya tak hanya ibu yang terkejutnya, aku juga. Ali dan Hana sudah menikah satu tahun. Tapi, mereka belum melakukan hubungan suami istri.
Sesaat aku teringat dengan pengakuan Ali di hari pernikahannya. Dan hari itulah pertemuan kami yang terakhir.
Aku yang lagi bingung dan panik ini, memutar badan, dan ternyata mata ini tertuju ke sebuah figura besar yang bertengger di dinding ruang tamu ibunya Ali. Figura itu berisi foto pernikahan Ali dan Hana.
Flasback On.
Rumah mewah dan megah dihiasi oleh banyak nya bunga. Dengan perlahan aku masuk ke sebuah kamar pengantin. Dimana di kamar itu ada sepasang penganten baru dan dua orang MUA, yang sedang sibuk menghias mempelai wanita.
Dengan senyum mengembang ku menghampiri pengantin pria yang sedang duduk murung dan melamun di sebuah sofa sudut. Pengantin pria itu adalah Ali. Ia terlihat sangat terkejut dengan kedatanganku ke kamar itu. Mungkin Ia tak menyangka, aku akan datang ke pesta pernikahannya. Karena saat aku diberi kabar akan pernikahannya. Aku mengatakan sedang sibuk, dan tak bisa hadir di hari pernikahannya.
"BRo....!" Ali bangkit dari duduknya dengan bahahianya. Wajah murung itu hilang sudah. Kami berpelukan dengan sangat erat, meluapkan kerinduan yang membuncah, karena sudah lama tak berjumpa. Aku masih memeluknya erat, serta menepuk-nepuk kuat punggungnya.
"Selamat Bro selamat menempuh hidup baru sobatku. Semoga kamu bahagia selamanya." ujarku dengan tulus, pelukan hangat itu pun kini terasa hambar.
Dan dengan cepat, moodnya Ali, berubah. Ia menarik lengan ku, mangajakku pergi dari kamar itu, tanpa pamit terlebih dahulu pada Hana, yang masih di make over.
Ali masih memegang tanganku serta menariknya. Menuntunku mengikuti langkahnya menuju taman belakang rumah yang sepi. Kami lewat belakang, sehingga tamu yang datang tak melihat kepergian kami.
Sesampainya di taman. Ia melipat kedua tangannya di dada. Melemparkan pandangan kosong ke kolam ikan yang diterangi lampu lampu hias taman.
"Kenapa kau terlihat murung? Aku sudah memperhatikanmu sejak aku tiba di sini." Tanyaku dengan serius meraih kedua bahunya Ali, agar mau menatapku yang bicara dengan serius saat ini. Dia tak langsung menanggapi ucapanku ia memutus kontak matanya denganku dan menundukkan pandangan. Ia seperti tal sanggup membalas tatapan mataku.
Apa kau tidak menginginkan pernikahan ini Ali?" Tanyaku dengan tegas, menggoyang bahunya dengan kuat Ia pun akhirnya berani menatap ke arah ku. Tapi, ia masih diam.
" Ali... Jawab aku..?" emosiku mulai terpancing atas sikapnya yang membingungkan.
"Ya, ya... Aku tidak menginginkan pernikahan ini." Ujar nya penuh emosi.
__ADS_1
Flashback of
TBC