
Arif menghela napas panjang. Ia jadi ingat semua tentang apa yang ia jelaskan pada Ali saat itu. Walau ia melihat buku juga saat itu saat menceramahi Ali
"Pak.. Arif....!" Panggilan pengacara yang kuat membuat Arif terkejut. Ternyata ponsel yang ia pegang masih tersambung ke pengacaranya. Arif sedang melamun, teringat semua moment, saat bersama Ali.
"Iya pak.." Sahut Arif dengan lemah. Jujur, ia sangat sedih saat ini.
"Pak Ali ada menitipkan sepucuk surat untuk bapak. Tadi sebelum persidangan dimulai, ia menanyakan tentang bapak." Ujar pengacaranya lemah. "Aku sungguh kasihan melihat keadaannya pak. Dia sudah seperti mayat hidup. Ada yang bilang, ia tak makan selama dalam tahanan."
Tes
Tes
Tas
Mata berkabutnya Arif kini mengeluarkan cairan bening. Ia tak sanggup membendung air matanya lagi. Arif tak menyangka akan kehilangan sahabatnya dengan cara ini setragis ini.
"Oouuww.. Iya pak, suratnya bapak scan, kirim ke aku filenya." Arif jadi penasaran dengan isi surat yang ditulis Ali padanya.
__ADS_1
"Baik pak." Sahut pengacaranya Arif dengan sopan.
Arif nampak berpikir. "Oh ya pak mayatnya Ali apa dikuburkan di kampung?" tanya Arif dengan lirih.
"Soal itu aku kurang tahu pak." Jawab Pengacara sopan.
" Baiklah Pak Komarudin teleponnya saya Sudahi dulu. Assalamualaikum...!"
"Waalaikumsalam...!"
Panggilan telepon itupun terputus. Dan dengan tergesa gesa Arif Men Scroll kontak ponselnya dia akan menghubungi Hana Mantan istrinya Ali. Hana pasti tahu tentang kematian Ali. Entah kenapa Arif jadi sangat berharap melihat jenazah sahabatnya itu untuk terakhir kalinya.
Panggilan pertama pun terhubung pada Hana.
Yang pertama didengar oleh Arif adalah suara tangisnya Hana yang terdengar sangat menyayat hati. Seperti nya Hana begitu kehilangan Ali.
"Puas.. Puas kamu pak Arif. Apa yang kamu inginkan terwujud. Abang Ali telah tiada. Hua.... Hua... Hua....!" Hana meluapkan kesedihan di hatinya. Arif jadi sasaran amuk dari wanita itu.
__ADS_1
"Jenazahnya Ali akan disemayamkan di mana Hana?"
"Yang jelas mayatnya gak akan dibawa ke kampung. Karena ia juga masih punya malu dan menjaga nama baikmu. Karena ia gak mau, kamu jadi bahan gunjingan warga." Ujar Hana masih dengan nada kesal.
"Ouuww.. Ya sudah. Aku hanya ingin tahu." Sahut Arif datar. Dan seketika panggilan telepon itu pun terputus. Sepertinya Hana kesal mendengar jawaban Ari yang terdengar tidak prihatin itu.
Arif menarik napas panjang, memperhatikan layar ponselnya yang sudah tidak tersambung lagi dengan Hana. Jujur ia merasa sedih atas meninggalnya Ali. Tapi Arif yang berpikiran realistis tak mau ambil pusing lagi dengan cara kematian Ali dan ia sedikitpun tak ada niat untuk datang ke kota melihat proses pemakaman Ali karena menurutnya kesalahan Ali sangat fatal. Sehingga Arif sangat kecewa pada pria itu.
Yang bisa Arif lakukan saat ini adalah hanya berdoa kepada sang pencipta agar Ali bebas dari siksa kubur. Dan semoga ia dilapangkan dalam kubur.
Arif kembali melanjutkan rencananya yaitu pergi ke kebunnya. Saat ini waktu masih menunjukkan pukul 03.00 sore hari. Setidaknya dia masih punya waktu 2 jam lagi untuk bekerja di kebun. Arif melajukan motornya dengan kecepatan sedang, pemandangan di kampungnya sangat indah di sisi kiri ada bukit dan di sisi kanan ada hamparan sawah yang luas yang padinya sedang menguning. Arif merasa sangat tentram dan bahagia tinggal di kampung ini. terhindar dari hiruk pikuk perkotaan yang membuat kepala sering sakit karena mendapati macet ditambah dengan polusi udara yang membuat kesehatan terganggu.
Saat Arif menikmati indahnya pemandangan saat mengenderai motornya. Ia berpapasan dengan Alana. Tapi, Alana tidak menyadari kalau mereka berpapasan. Alana memang terlihat sedih di atas motornya.
"Mau ke mana dia, sendirian naik motor dengan muka murung gitu?" Arif bicara sendiri di atas motornya. Ia yang penasaran pada Alana. Sempat menepikan motornya itu menoleh ke belakang, guna melihat Alana yang mengenderai motor dengan melamun itu.
"Sepertinya dia mau ke pemakaman." Arif bermomolog. Ia pun kembali melajukan motornya.
__ADS_1
Baru juga motornya melaju dia mendengar suara teriakan.