
"Kak Liza?"Pekik bianca dengan membolakan kedua matanya saat Seorang wanita yang tidak asing baginya berdiri di hadapannya dengan sebuah nampan yang cukup besar di kedua tangannya.
"Untuk apa kak Liza kesini?"Tanya bianca dengan guratan kekhawatiran terlihat jelas di raut wajahnya. Bianca takut jika ada seseorang melihat keberadaan disini maka sesuatu yang buruk akan terjadi kepada wanita baik tersebut.
"Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu Bianca?" Liza balik bertanya kepada wanita hamil itu. Tidak ada ketakutan di wajahnya karena Liza sudah memperhitungkan semua konsekuensi yang akan dia terima setelah melanggar titah dari tuannya.
"Kak Liza, Sebaiknya kak Liza keluar dari ruangan ini! Bagaimana jika ada seseorang yang melihat kak Liza bertemu dengan Bianca dan melaporkan nya kepada Tuan Edward."Seru Bianca dengan semburat kekhawatiran terlihat jelas di wajah kuyunya.
"Kau tidak perlu khawatir seperti itu Bianca." Sela Liza seraya menyelipkan sulur sulur rambut yang menutupi wajah wanita hamil itu.
"Kak Liza. Bianca mohon kak keluar dari sini kak. Bagaimana jika kak Liza mendapatkan masalah karena kak Liza bertemu dengan Bianca saat ini?!"Bianca mengatupkan kedua tangannya di hadapan Liza bahkan kedua manik matanya terlihat berkaca-kaca.
"Sumpah demi Tuhan Bianca! Jangan pernah mempersalahkan suatu hal yang belum tentu terjadi. Dan jika memang yang kamu takutkan itu terjadi. Maka kak Lizalah yang akan bertanggung jawab dan menerima semua hukuman jika memang yang kamu khawatirkan itu terjadi kepada kak Liza."Timpal Liza dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kak..."Bianca mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh Bianca tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada Liza, Terlebih lagi jika Liza mendapatkan masalah karena membantu Bianca.
"Dari pada kau memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Lebih baik sekarang kau makan dulu."Ucap Liza sembari menaruh nampan di hadapan Bianca.
"Makan..."Cetus Bianca dengan menelan Savila susah payah. Tanpa terasa perut kembali bergemuruh dan itu terdengar jelas oleh Liza.
"Lihat bahkan anakmu pun menginginkan Nya. Dan lihat kak Liza membawa Makanan yang kau inginkan."Seru Liza seraya menatap perut Bianca yang semakin menggunung.
Sejenak Bianca melupakan bahwa Edward melarang siapapun yang berada di dalam rumah ini untuk memberikan makan kepada Bianca.
"Seret wanita itu di hadapan ku. Dan kurung wanita Sialan itu ke dalam gudang dan jangan beri makan dan minum wanita sebelum kalian mendapatkan perintah dariku..!!"Dan kata kata Edward itu kembali terlintas di pikiran wanita hamil itu. Membuat Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Kedua manik madunya Bianca kembali memuram. Kedua bibirnya terkatup dengan rapat, sorot matanya tidak bisa di jabarkan. Akan tetapi tersirat sebuah kesedihan yang mendalam di kedua sorot matanya.
"Kenapa?"UJar Liza melihat perubahan raut wajah Bianca, Namun wanita itu hanya membalas gelengan kepala dari Liza."Kenapa Bianca? Jelaskan semuanya yang kau risaukan Kepada kak Liza."Kata Liza dengan suara yang menuntut.
"Bianca tidak bisa memakannya kak. Lebih baik kak Liza pergi saja bawa semua makanan yang kak Liza bawa."Tutur Bianca tanpa menatap wajah Liza yang kini tengah menatapnya.
"Apa maksud mu Bianca? Katakan dengan jelas mengapa kau tidak ingin memakan makanan ini?"Kedua mata Liza menyorot tajam ke arah Bianca.
"Tidak ada alasan apapun kak. Bianca hanya tidak lapar saja."Bianca berujar dengan suara yang parau dan mengalihkan pandangannya .
"Apakah kau takut Tuan Edward mengetahui kak Liza memberi makan kepadamu?!"Tutur Liza dengan menghela nafasnya."Tidak apa apa Bianca. Makanan ini adalah jatah makan malam kakak. Jadi tidak ada siapapun yang mempermasalahkan hal seperti itu. Jadi kamu makan ya."Bujuk Liza sembari mengusap rambut wanita malang tersebut.
Bianca tetap menggelengkan kepalanya."Tidak kak, Bianca tidak ingin kak Liza mendapatkan masalah karena kak Liza memberikan Bianca makan."Timpal Bianca dengan menundukkan kepalanya.
"Kau jangan egois Bianca! Hanya demi mempertahankan Egomu. Kamu tidak memikirkan Nyawa anak yang ada di dalam kandungan nya."Sargah Liza dengan menggebu gebu bahkan kedua matanya menyorot Bianca tajam.
"Kamu tahu bahaya yang akan Dia alami jika kau tetap tidak mau makan?"Seru Liza dan di balas Bianca dengan menggelengkan kepalanya."Kau akan kehilangan nya. Karena dia masih sangat kecil dan lemah. Dia sangat membutuhkan asupan makanan yang sehat untuk pertumbuhan nya. Kamu tidak mau kan dia pergi meninggalkan mu?"Jelas Liza seketika itu membuat jantung Bianca berdegup kencang.
"Tidak kak! Bianca tidak ingin dia pergi meninggalkan Bianca. Karena hanya bayi inilah satu satunya orang yang Bianca punya di dunia ini."Jawab Bianca dengan suara paraunya dan memilin ujung baju yang dia kenakan.
"Nah dari tadi dong. Biarkan kakak yang menyuapi kamu ya."Pungkas Liza dengan senyuman kecilnya. Bianca pun terpaksa menganggukkan kepalanya tanpa keluar satu patah katapun. Bianca pun memakan makanan itu dengan susah payah. karena di setiap suapan itu Bianca kembali mengingat umpatan kasar dan makian Edward masih terdengar jelas di pendengaran Bianca.
Bianca menatap wanita yang ada di hadapan nya dengan dalam. Di saat semua keluarga Bianca memperlakukan Bianca layaknya seekor binatang. Ada sesosok orang asing yang memperlakukan Bianca layaknya keluarga nya sendiri. Bahkan memberikan kasih sayang yang tidak pernah Bianca dapatkan selama ini.
Liza menyadari bahwa Bianca sedari tadi menatapnya. Namun Liza tetap melanjutkan menyuapi Bianca layaknya seorang bayi yang tidak bisa melakukan apapun.
"Terima kasih kak. Terima kasih atas semua yang kakak lakukan kepada Bianca selama ini." Ucap Bianca memberikan sebuah senyuman terbit di sudut bibir Liza.
"Tidak perlu berkata seperti Bianca. Kak Liza ikhlas melakukan semua ini kepada mu. Kak Liza sudah menganggap Bianca adik kandung kak Liza sendiri."Tutur wanita itu tanpa menghentikan aktivitasnya.
_
__ADS_1
_
_
"Sudah kak, Bianca sudah kenyang."Seru Bianca saat Liza tidak henti hentinya menyuapi dirinya.
"Sedikit lagi Bianca."Sahut Liza dengan tangan yang berusaha menyuapi Bianca.
"Tapi kak, Bianca sudah merasa kenyang. Dan Bianca tidak yakin bisa menampung makanan itu lagi."Sahut Bianca dengan menatap Liza dengan mencebikan bibirnya.
"Baiklah Baiklah Bianca benar benar sudah kenyang..?"Kata Liza seraya menatap wajah Bianca dan mengusap wajahnya.
"Iya kak."Jawab Bianca dengan cepat dan Liza pun memberikan segelas air putih kepada Bianca untuk wanita hamil itu minum.
"Berubahlah Bianca."Cetus Liza dengan tiba tiba membuat wanita hamil itu mengerutkan keningnya.
"Ma-maksud kak Liza apa?"perasaan Bianca seketika tidak nyaman setelah mendengar ucapan dari Liza.
"Air matamu terlalu berharga hanya untuk menangisi Tuan Edward. Jadi berubahlah."Dan tanpa terasa cairan bening sedikit demi sedikit keluar dari kedua pelupuk matanya. Perasaan tidak nyaman itu berubah menjadi rasa takut, entah mengapa Bianca merasa bahwa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan wanita berhati malaikat yang ada di hadapan Nya.
"Me-mengapa kak Liza mengatakan itu? Seolah-olah kak Liza akan pergi meninggalkan Bianca?"Suara Bianca terdengar parau.
Liza hanya membalas ucapan Bianca dengan senyuman yang sulit untuk di artikan. Liza menghapus air mata yang membasahi wajah cantik Bianca.
"Mengapa menangis hmm?!"Tanya wanita itu hanya di balas gelengan kepala oleh Bianca.
"Kak Liza tidak boleh mengatakan hal seperti itu lagi. Jika kak Liza pergi bagaimana dengan Bianca? Karena Hanya kak Lizalah yang benar benar tulis menyayangi Bianca walaupun tidak ada hubungan apapun di antara kita."Tutur Bianca dengan menyeka air matanya.
"Siapa yang akan pergi meninggalkan mu? Kak Liza hanya mengatakan bahwa kau harus berubah. Kau tidak inginkan selalu tertindas dan pihak yang selalu tersakiti?"Bianca hanya menganggukkan kepalanya.
"Maka pikirkan lah dengan baik baik."Ujar Liza sembari menepuk pundak Bianca.
"Baiklah Hati hati ya kak."Jawab Bianca seraya menatap Liza punggung Liza yang semakin menjauh dari jangkauan Nya.
Liza pun menutup pintu gudang dimana Bianca berada dan menguncinya, agar Edward tidak curiga bahwa ada seseorang yang memasuki gudang tersebut dan memberikan makan kepada Bianca. Liza membalikkan badannya dan seketika kedua bola matanya membulat dan tanpa sadar Liza menjatuhkan nampan yang ada di genggaman tangannya.
Prang
Dengan gerakan yang cepat seseorang di hadapan Liza membekap Liza dengan sebuah kain yang telah dia berikan obat bius. Dan seketika itu juga Liza kehilangan kesadarannya.
"Cepat bawa pelayan ini. Sebelum Tuan Edward semakin murka kepada kita."Titah laki laki kepada teman seprofesinya untuk membantu membopong tubuh Liza.
Suara benda terjatuh mengalihkan intensi Bianca. Jantung nya berdegup dan rasa tidak nyaman itu semakin membelenggu wanita hamil itu.
"Kak Liza..."Lirih Bianca.
Bianca pun bangkit dan berjalan menuju pintu ruangan tersebut. Tangan mungilnya mengetuk ngetuk pintu ruangan tersebut, seraya menyerukan nama Liza. Namun tidak ada sahutan sama sekali di luar sana membuat Bianca semakin merasa cemas akan keadaan wanita yang beberapa saat lalu dirinya temui.
"Kak Liza."Pekik Bianca sekali lagi Namun nihil tidak ada sahutan sama sekali di luar sana.
_
_
_
Di sebuah ruangan yang bercahaya tamran, terlihat seorang wanita tengah duduk di atas kursi dengan tangan dan kaki yang terikat dengan sebuah tali dengan sangat kencang. Dan di depannya seorang laki laki dengan nafas yang memburu berdiri dengan tangan yang berdecak pinggang, di hadapan wanita tersebut.
__ADS_1
"Siram wanita itu!"Titah laki laki itu kepada para bawahannya.
"Baik Tuan Muda."Tanpa di perintahkan dua kali, para bawahan laki laki itu pun segera menyiram wanita itu dengan seember air.
Byurrr
Seketika itu juga air itu membasahi wajah dan tubuh wanita itu. Wanita itu terbatuk-batuk dan rasa perih yang menyerang hidung dan mata wanita itu.
"Dimana aku?"Lirih wanita itu seraya memegangi kepalanya yang berdenyut. Wanita itu belum menyadari bahwa ada seorang pria yang kini berdiri menjulang di depannya.
"Sudah bangun hmm."Wanita itu pun segera mengalihkan pandangannya saat mendengar suara.
"Tu-tuan Edward."Pekik wanita dengan wajah yang pucat pasi. Ya wanita itu adalah Liza yang kini tengah menghadapi kemurkaan dari Edward karena telah melanggar perintah Nya.
"Kenapa takut?"Cetus Edward dengan tersenyum mengejek. sedikit demi sedikit kaki panjang Edward melangkah ke arah liza yang kini tengah terikat di atas kursi kayu.
"Tuan..."Tubuh Liza bergetar dan Edward mata tajam melihat itu semua.
"Kemana keberanian mu itu melanggar perintah ku!"Edward mencengkram rahang Liza dan mendongkakkan kepala Liza Sehingga menatap ke arah Edward yang kini tengah menyeringai ke arah dirinya.
"Sean."Panggil Edward kepada laki laki yang sedari tadi diam di belakangnya tubuh Edward. Laki laki yang bernama Sean itupun segera berjalan ke arah Edward dan berjarak beberapa meter di belakang Edward.
"Ya Tuan..."Jawabnya.
"Kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan kepada seseorang yang telah berani mengkhianati seorang Edward O'deon?"Ujar Edward dengan tersenyum penuh misteri.
Tubuh Liza semakin bergetar karena mendengar apa yang di ucapkan. Wanita itu berusaha memberontak, Namun ikatan yang ada di tangan dan kakinya begitu kuat sehingga apa yang di lakukan oleh Liza sia sia saja.
"Baik Tuan."Jawab Sean seraya mengambil sesuatu di atas meja yang tidak jauh dari jangkauan Nya.
"Tu-tuan saya mohon jangan Tuan. Saya melakukan semua itu demi kebaikan anda juga Tuan."Sahut Liza dengan suara yang bergetar dan kedua mata yang membelik.
"Siapa yang mengijinkan mu berbicara Hah." Sargah Edward dengan nafas yang memburu karena amarahnya yang kembali tersulut.
"Maafkan saya Tuan."Ujar Liza dengan lirih. Kini wanita itu hanya pasrah atas apa yang di lakukan oleh Edward kepada dirinya.
"Kenapa kau diam seperti orang bodoh seperti itu..!! Cepat kau lakukan tugas mu.."Titah Edward di balas anggukkan kepala oleh Sean.
"Akhhh..."Pekik Liza karena sebuah cambukan yang sangat kencang mengenai tubuh bagian belakangnya.
Dan kini ruangan itu hanya berisi suara cambuknya dan suara rintihan seorang wanita yang tidak bersalah. Dan air mata tiada henti hentinya keluar dari kedua pelupuk mata Liza. Sakit di sekujur tubuhnya tidak membuat wanita itu berhenti memikirkan Bianca. Kini Liza memikirkan bagaimana kondisi Bianca setelah ini. Liza tahu bahwa setelah ini dirinya tidak di ijinkan kembali untuk bekerja di kediaman Edward.
Dan Bianca akan menjadi bulan bulanan Edward setelah dirinya pergi. Lalu siapa yang akan menghapus dan merengkuh wanita malang saat Bianca sudah lelah akan kemalaman yang terjadi di dalam kehidupan Nya. Bagaimana jika Bianca bisa gelap dan mengakhiri hidupnya.
"Ya Tuhan tolonglah jaga wanita malang itu" Pinta Liza di dalam hatinya sebelum kegelapan malam wanita itu.
"Berhenti..."Titah Edward melihat tubuh Liza telah melemah dan cairan berwarna merah membasahi tubuhnya.
"Bawa wanita itu sejauh mungkin dan bereskan ruangan ini."Seru Edward sembari berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Baik Tuan..."Jawab mereka dengan serentak dan segera membopong tubuh tidak berdaya Liza ke tempat yang telah di tentukan.
Jangan lupa
Like
Comment
__ADS_1
Rate
Vote