
"Lepaskan, Lepaskan saya Tuan...!!"Seru Bianca dengan meronta-ronta melepaskan cengkraman Edward di tangannya. Namun laki-laki itu tidak merasa iba ataupun kasihan dengan permohonan dari wanita yang telah menghancurkan hidupnya itu.
"Melepaskan mu?"Desis Edward sembari mengeratkan cengkraman nya di pergelangan tangan Bianca, membuat wanita malang itu memekik karena rasa sakit yang semakin wanita itu terima.
"Akhhh... Tu-tuan sa-sakit."Pekik Bianca saat rasa sakit itu semakin menjadi-jadi wanita itu rasakan.
"Sakit katamu?"Cetus Edward dengan tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah Bianca yang kesakitan karenanya.
"Tuan saya mohon lepaskan saya Tuan. Saya menemui Anda bukan untuk mencari keributan Tuan."Pinta Bianca dengan nada penuh harap.
"Melepaskan mu? Tidak semudah itu Ja'ang..!!"Desis Edward dengan tersenyum smriknya.
Edward semakin mempercepat langkahnya membuat kaki mungil Bianca terseok-seok tidak bisa mengimbangi kaki panjang milik laki-laki itu.
"Akhh..."Bianca tersungkur karena tidak bisa mengimbangi langkah lebar Edward.
"Mamah..."Teriak Briana saat melihat Bianca terjatuh karena perbuatan Papah kandungannya.
Tidak ada belas kasih di hati Edward saat melihat Bianca tersungkur. Namun laki-laki itu tepat mencengkeram pergelangan tangan Bianca dan melanjutkan langkahnya sehingga membuat tubuh mungil Bianca terseret-seret karena langkah laki-laki itu.
Briana berusaha bangkit dan mengejar sang Mamah yang kini tengah di seret paksa oleh sang Papah.
"Mamah...!!"Briana berlari mengejar sang Mamah, tidak peduli rasa sakit yang kembali gadis kecil itu rasakan saat luka pasca operasi nya itu kembali terasa.
"Papah..."Briana berhasil mengejar Edward dan menghalangi langkah Papah kandungannya.
"Anna..."Bianca menggelengkan kepalanya saat Briana ada di hadapannya dan dari sorot matanya Bianca mengisyaratkan agar sang anak pergi dari hadapannya.
Gadis kecil itu terluka dan tidak menyangka bahwa sosok Papah yang dirinya rindukan begitu tega berlaku kasar kepada dirinya dan sang Mamah.
"Papah, Briana mohon Lepaskan Mamah Pah."
Pinta Briana dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Ckck..."Decih Edward dengan tersenyum penuh arti.
"Briana mohon Pah..."Lirih Briana dengan cairan bening yang tiada henti-hentinya keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Siapa yang kau sebut Papah Sialan..!!"Sentak Edward yang mulai jengah akan panggilan gadis kecil di hadapannya.
"Aku bukanlah Papah mu! dan Jika pun aku benar Papah kandung mu, Aku tidak akan sudi mempunyai anak dari seorang wanita murahan seperti ibu mu itu."Sarkas Edward tanpa mempedulikan kata-kata kasarnya yang akan melukai hati ringkih gadis kecil itu.
"Pa-papah...!!"Briana terhenyak dan mematung di tempatnya saat kata-kata kejam itu keluar dari mulut sosok yang Briana rindukan selama ini.
Kejadian itu menjadi pusat perhatian dari para karyawan yang berada di lobby perusahaan itu karena memang saat ini waktunya makan siang dan bisik-bisik mulai terdengar melihat bagaimana cara Edward memperlakukan kedua wanita berbeda usia itu.
"Apa yang kalian lihat?! Cepat kembali dan selesaikan pekerjaan kalian..!!"Sentak Edward menggema di seluruh ruangan itu.
"Baik Tuan..."Dengan serempak mereka membubarkan diri sebelum Edward kembali mengeluarkan taringnya.
"Dasar Ja'ang Sialan..!!"'
"Akhh..."Bianca menjerit saat Edward mendorong tubuhnya sehingga membuat tubuh Bianca terguling-guling di depan lobby perusahaan Edward.
"Mamah...!!"Jerit Briana menghampiri sang Mamah yang kini tengah terbaring lemah di tanah.
"Mamah hiks-hiks..."Tangis Briana pecah melihat kondisi mengenaskan sang Mamah.
"Papah jahat..!!"Pekik Briana dengan menatap Edward dengan penuh kekecewaan.
"Maafkan Anna Mamah, Maafkan Anna..."
Ucap Briana di sela-sela tangisan gadis kecil itu.
"Anna sayang, berhentilah menangis. Mamah baik-baik saja."Ucap Bianca dengan tersenyum paksa dan menyeka air mata anaknya itu.
"Ana benci Papah..!!"Jerit Briana semakin histeris saat melihat darah yang keluar dari kening Mamah itu.
"Anna tidak baik berbicara seperti itu..."
Tutur Bianca.
"Maafkan Anna Mamah. Semua ini karena Briana, Andai saja Briana tidak memaksa untuk bertemu Papah mungkin saja Mamah tidak seperti ini."
"Tidak sayang, semua ini bukanlah salahmu."
Imbuh Bianca.
"Kini Briana mengerti, mengapa Mamah tidak ingin Ana bertemu dengan Papah selama ini."
Lirih Briana.
__ADS_1
"Ckck... Drama menjijikkan..!!"Decak Edward dengan bersedekap dada.
"Papah jahat..!!"Briana memegang dadanya saat rasa sesak kembali gadis kecil itu rasakan membuat gadis kecil itu kesulitan untuk bernafas.
"Anna..."
"Mamah..."Panggil Briana dengan suara yang tersendat-sendat karena rasa sesak yang kian menghimpit dada gadis kecil itu.
"Papah jahat Mah, Anna sangat membenci Papah."Seru Briana sebelum kegelapan menyelimuti gadis kecil itu.
"Anna..."Pekik Bianca dengan histeris saat Briana tidak sadarkan diri di hadapannya
"Tuan Edward..!!"
"Anda benar-benar tidak memiliki hati, bagaimana Anda bisa berbuat kasar kepada anak sekecil ini?!"Seru Bianca dengan berapi-api membuat tubuh tidak berdaya Briana ke dalam dekapannya.
Bianca melupakan amarahnya tidak peduli kini mereka tengah menjadi pusat perhatian dan menjaga gunjingan dari orang-orang di sekelilingnya.
"Ternyata setelah tujuh tahun ini, Sifat Anda masih tidak berubah sama sekali. Apakah karena dendam dan kebencian membuat hati nurani Anda membeku Tuan? Jika semua yang saya katakan benar, Anda benar-benar bodoh Tuan Edward yang terhormat."Tukas Bianca nada sarkasmenya.
"Tutup mulut mu Sialan..!!"Sentak Edward dengan kedua bola matanya yang membelik.
"Kenapa saya harus tutup mulut Tuan? bukankah semua yang saya katakan itu semuanya benar?"Balas Bianca.
"Sumpah demi Tuhan Tuan Edward yang terhormat, Anda akan menyesalinya semua perbuatan yang Anda lakukan saat ini." Ucap Bianca dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Ckck... Ja'ang ini. Sepertinya kau tidak pernah belajar dengan masa lalumu Ja'ang..!" Desis Edward dengan tersenyum miring menjawab pertanyaan dari Bianca.
"Dunia berputar Tuan dan Tuhan tidak tidur. Tidak selamanya Anda berada di atas dan jika waktu itu tiba, maka jangan pernah sekalipun Anda menjilat ludah Anda sendiri..!!"Seru Bianca dengan nafas yang memburu.
"Tidak akan pernah..!!"Balas Edward dengan nada penuh percaya diri.
"Kita lihat apa yang akan terjadi di masa depan Tuan."Ujar Bianca meninggalkan Edward dengan sejuta luka yang kembali wanita itu rasakan.
Bianca terisak-isak dan tanpa segan air mata itu keluar dari kedua pelupuk mata wanita ringkih itu. Di setiap langkahnya hanya ke khawatiran yang menyelimuti wanita itu rasakan saat tidak ada tanda-tanda Briana akan sadarkan diri.
"Briana..!!"
"Briana Sayang bangunlah...!!"Ujar Bianca dengan langkah yang tergopoh-gopoh menuju jalan raya.
"Mamah mohon sayang, bangunlah..!!"Pinta Bianca dengan suara lirihnya.
"Siapapun tolong saya..!!"Ucap Bianca kepada orang-orang di sekelilingnya.
Tidak ada satupun orang yang berniat untuk menolong Bianca, mereka tetap acuh dengan kegiatan mereka masing-masing seolah-olah tidak melihat keberadaan Bianca.
"Tuhan tolonglah hambamu ini."Pinta Bianca dengan penuh harap dengan kepala yang menengadah.
"Siapapun Tolong, Tolong anakku..."Ucap Bianca dengan suara lirihnya dengan tubuh yang bergetar menahan tangisannya saat merasakan suhu tubuh sang anak yang cukup panas.
"Ana sayang bangunlah, jangan membuat Mamah khawatir seperti ini."Ujar Bianca sembari menepuk-nepuk wajah Briana.
Bianca mencoba meminta bantuan dengan cara memberhentikan mobil yang melaju di hadapannya. Namun tidak ada satupun
mobil yang berhenti untuk memberikan bantuan kepada Bianca.
"Nak, Mamah mohon bangunlah..."Pinta Bianca dengan penuh harap.
"Bianca..."Panggil seseorang yang begitu familiar bagi Bianca.
Bianca mendongkakan kepalanya saat namanya di panggil dan seketika tatapan mata wanitg,ra itu bersitatap dengan seseorang yang tidak asing bagi wanita itu.
"Nenek..."Ucap Bianca tanpa mengalihkan pandangannya.
"Astaga apa yang terjadi kepada mu Bianca?!"Pekik Nenek Clara dengan kedua mata yang membelik saat melihat darah yang mengalir di kening wanita itu.
"Nenek..."hanya kata itu yang mampu wanita itu ucapkan.
"Nak,"Panggil Nenek Clara menyeka darah yang ada di wajah Bianca.
"Bagaimana bisa kamu ada disini Nak? Dan sebenarnya apa yang terjadi kepada mu Nak,?"Tanya Nenek Clara dengan nada penuh ke khawatiran.
Bianca memejamkan matanya saat tangan renta itu membelai wajahnya dan Bianca dapat merasakan kasih sayang yang begitu besar Nenek Clara kepada dirinya.
"Nenek..."Ucap Bianca dengan suara lirihnya.
"Sayang..."Tanpa Bianca ceritakan Nenek Clara dapat merasakan kesedihan dari raut wajah Bianca dan tanpa di minta wanita parubaya itu pun membawa tubuh Bianca ke dalam dekapannya.
Luruh sudah semua pertahanan Bianca saat ini, pada saat wanita itu merasakan tepukan tangan renta Nenek Clara di punggung nya.
"Nenek, Ke-kenapa semua ini terjadi kepada Bianca Nek? Apa kesalahan yang Bianca lakukan Nek, Sehingga semua kemalangan ini terjadi kepada Bianca Nek." Seru Bianca di sela-sela tangisannya.
__ADS_1
"Kapankah Tuhan memberikan kebahagiaan di dalam kehidupan Bianca Nek. Bianca sudah lelah dengan semua kepahitan yang Bianca rasakan selama ini Nek, kenapa Tuhan begitu jahat kepada gadis malang ini Nek?"
"Apa kesalahan yang Bianca lakukan Nek, Sehingga semua orang begitu membenci kehadiran Bianca Nek? Bahkan kedua orang tua kandung Bianca, begitu tega memperlakukan Bianca selayaknya noda di dalam kehidupan mereka."Lirih Bianca dengan suara yang tersendat-sendat.
"Tenanglah, jangan berkata seperti itu." Kata Nenek Clara mengelus punggung ringkih wanita itu.
"Apa yang harus Bianca lakukan Nek? Kini Briana tahu bagaimana sosok asli Papah kandungnya. Dan semua ketakutan yang menghantui Bianca rasakan selama ini benar-benar terjadi Nek."
Kini Nenek Clara dapat menarik kesimpulan apa yang terjadi kepada Bianca saat ini dan Wanita parubaya itu pun menghembuskan nafasnya dengan kasar saat bayangan apa yang di alami Bianca oleh Papah kandung Briana.
"Sudah cukup air mata ini."Seru Nenek Clara menyeka air mata Bianca.
"Air matamu terlalu berharga untuk laki-laki seperti itu."Imbuh Nenek Clara mengecup seluruh permukaan wajah Bianca.
"Nenek..."Lirih Bianca memejamkan matanya meresapi setiap kecupan kasih sayang yang dirinya terima.
.
.
.
.
.
Bugh....
Bugh....
Bugh....
Suara pukulan menggema di dalam ruangan bercahaya tamran itu. Dimana seorang pria tengah melupakan amarahnya kepada para bawahan nya yang telah lalai menjalankan tugas mereka.
"Kalian tahu apa kesalahan yang telah kalian lakukan?"Seru Sean dengan nafas yang memburu karena amarah yang membelenggu laki-laki itu.
"Maafkan kami Tuan..."Ucap mereka dengan serentak dengan menundukkan kepalanya.
"Maaf katamu?"Desis Edward dengan mengeratkan rahangnya saat amarah semakin menguasai laki-laki itu.
"Bang'sat...!!"Pekik Sean kembali menghadiahkan sebuah tentang di tubuh para bawahannya.
Bugh...
Bugh...
Para bawahan Sean hanya diam menerima setiap pukulan yang mereka dapatkan, karena mereka tahu kesalahan apa yang telah mereka buat dan mereka pantas mendapatkan nya.
"Kalian tahu sebesar apa kesalahan yang telah kalian lakukan?"Seru Sean tanpa menurunkan intonasi suaranya.
"Tenanglah Sean, Semuanya sudah terlanjur terjadi dan semua ini di luar kendali kita."
Cetus Asisten Kai yang sedari tadi diam melihat apa yang di lakukan oleh temannya itu.
"Tenang katamu?"Tukas Sean dengan membolakan kedua matanya.
"Apakah dengan kau memukuli mereka, semuanya dapat kembali seperti semua? Tidak bukan? Semuanya sudah terlanjur terjadi dan semua itu di luar dari kendali kita semua."Seru Asisten Kai dengan bersedekap di dadanya.
"Ckck..."Decak Sean dengan memalingkan wajahnya.
Sean menghembuskan nafasnya dengan kasar agar amarah itu terendam di dalam dirinya.
"Pergilah..."Ucap Asisten Kai dengan mengibaskan tangannya.
"Baik Tuan."Jawab mereka dengan serentak.
Tanpa di perintah dua kali mereka pun segera meninggalkan kedua atasannya itu dengan langkah yang tergesa-gesa.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit
Gift
__ADS_1