Oh My Baby

Oh My Baby
Part 35


__ADS_3

Cleona mencengkeram kemudinya, Kedua bola mata wanita itu bergerak gelisah saat perasaan gundah dan cemas bersatu dan melanda diri wanita cantik itu. Saat wanita itu tengah berkumpul dengan teman-teman nya di sebuah restoran, Cleona mendapatkan telepon dari Pak Jang bahwa Edward telah mengetahui keberadaan Bianca. Setelah mengetahui itu, Cleona pulang terlebih dahulu dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit Bianca di rawat.


Cleona menggelengkan kepalanya saat bayangan Edward menyiksa Bianca melintas di pikiran. Cleona tahu tempramen Edward seperti apa, Laki-laki dapat melakukan apapun saat amarah menguasai dirinya. Terlebih lagi Edward sangat membenci Bianca, Entah apa yang akan Edward lakukan kepada wanita malang itu.


"Edward Demi Tuhan. jangan sampai kau melakukan sesuatu yang dapat kau sesali seumur hidupmu."Guman Cleona.


Cleona segera turun dari mobilnya setelah memasuki pelantara rumah sakit itu dan bertepatan dengan Dokter Andreas pun keluar dari mobilnya. Cleona memberi tahukan Dokter Andreas bahwa Edward mengetahui tempat Bianca di rawat.


"Andreas..."


"Cleona...."Pekik mereka berdua dengan berjalan tergesa-gesa menghampiri satu sama lainnya.


Tanpa sapaan hangat ataupun pelukan sebagai seorang sahabat. Cleona dan Andreas segera ke arah lift menuju lantai tiga dimana ruangan Bianca berada.


"Ohh Ayolah..."Seru Cleona saat pintu lift itu tidak kunjung terbuka walaupun dirinya sudah menekan tombol itu sedari tadi.


"Bisakah kau sedikit bersabar Cleona?"Ujar Dokter Andreas yang mulai jengah akan perilaku Cleona.


"Sabar kau bilang?! Bagaimana aku bisa sabar setelah mengetahui semua ini. Detik dan menit begitu berharga bagi kita, Aku tidak tahu apa yang telah di lakukan oleh Edward kepada wanita malang."Pekik Cleona membuat semua pasang mata yang ada di lobby rumah sakit itu teralihkan ke arah mereka.


Tiba-tiba Seorang wanita berpakaian serba putih menyela perdebatan antara Cleona dan Andreas."Maaf Nona, Lift ini sedang di perbaiki."Kata Wanita itu.


"Kenapa kau tidak memberi tahukan ku." Kedua mata Cleona menatap Andreas dengan belikan kedua matanya.


Cleona pun segera berlari menuju tangga darurat yang berada di ujung lorong, tanpa mengatakan kata terimakasih kepada perawat tersebut.


"Maafkan teman saya Sus."Ucap Andreas memohon maaf atas ketidaksopanan Cleona kepada wanita yang ada di hadapannya.


"Anda tidak perlu meminta maaf seperti itu Dok."Sahut perawat itu dengan segan kepada Seorang Dokter di hadapannya.


"Andreas Kenapa kau malah mengobrol seperti itu! Cepatlah sebelum sesuatu yang tidak di inginkan terjadi kepada Bianca." Teriak Cleona di ujung lorong sana.


"Astaga Wanita itu...!"Decak Andreas terlihat menggelengkan kepalanya atas kelakuan wanita itu. Andreas segera berlari ke arah tangga darurat, Setelah Cleona terlebih dahulu memasuki nya.


Sementara itu tepat di depan ruangan rawat Bianca. Edward laki-laki kejam itu, tidak henti-hentinya mencambuki Bianca. Walaupun keadaan wanita malang itu telah terbaring lemah di atas lantai dengan punggung, kaki beserta tangannya mengeluarkan darah.


"Ja'ang Sialan..."Pekik Edward sembari menghadiahkan sebuah Cambukan di punggung ringkih Bianca.


"Kau dan anak haram mu itu adalah noda yang harus di hilangkan dalam hidupku. Kalian adalah pembawa sial dalam hidupku. Seandainya kalian tidak masuk ke dalam kehidupan ku, Mungkin saat kini aku tengah berbahagia dengan kekasih ku."Seru Edward tanpa menghentikan perbuatannya.


Kedua kelopak mata Bianca tergenang oleh cairan bening yang entah kapan berada di kedua pelupuk matanya, Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat wanita hamil itu tiada berdaya untuk menggerakkan tubuhnya. Terlebih lagi rasa pedih di kaki, tangan berserta punggungnya yang terkena cambukan Edward. Namun satu hal yang Bianca takutkan saat ini, Kondisi kandungan dan kedua bayinya lemah, lalu apakah meraka akan bertahan setelah Edward mengganjarnya dengan membabi buta.


"Ya Tuhan. Hambamu mohon untuk selamatkan kedua anak yang ada di dalam kandungan hambamu ini. Mereka adalah lentera dalam kehidupan hamba yang suram. Mereka adalah kekuatan dari segala permasalahan yang bertubi-tubi datang di dalam kehidupan hambamu yang malang itu. jadi hamba mohon jangan ambil mereka dari sisi Bianca."Pinta Bianca penuh harap kepada sang pemilik kehidupan.

__ADS_1


"Kau dan anakmu adalah benalu di dalam kehidupan ku dan sudah sepatutnya manusia hina seperti Kalian enyah dari dunia ini." Sunggut Edward dengan kaki yang sudah siap untuk menendang perut Bianca.


Bianca menggelengkan kepalanya dengan isakan lirih. Kedua tangan mungil itu menggenggam perutnya dengan erat, wanita malang itu tidak ingin apa yang di ucapkan oleh Edward terjadi. Setelah sekian lama dirinya satu atap dengan Edward, Bianca tahu bahwa semua ancaman yang Edward lontarkan tidak pernah main-main.


"Ja-jangan Tuan. Jangan mengambil mereka dari saya. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang saya miliki di kehidupan ini."Kata Bianca dengan suara paraunya. Wanita malang itu terlihat kepayahan akan rasa nyeri yang menyerang tubuhnya.


Kedua mata Cleona maupun Andreas membelik, Nafas mereka tercekat saat melihat bagaimana kejam dan brutalnya Edward memperlakukan Bianca. Dengan langkah yang tergesa-gesa mereka menuju Edward.


"KAU..."Edward berucap dengan menujuk Cleona dengan wajah yang memerah padam.


"Apa yang kau lakukan Edward?"Pekik Cleona dengan membolakan kedua matanya. Cleona menatap Bianca yang tengah terbaring lemah di atas dinginnya lantai rumah sakit. Hati nurani Cleona tergerak melihat semua penderitaan Bianca yang di sebabkan oleh sepupunya sendiri. Cleona pun merutuki semua perlakuannya saat menerima tawaran Edward untuk menjadi pacar pura-pura laki-laki itu hanya demi sebuah kebebasan dan terlepas dari kekangan kedua orang tuanya yang begitu posesif kepadanya.


"Sudah cukup Edward! Sudah cukup semua permainan yang kau lakukan selama ini. Lebih baik kau hentikan semua ini dan berlapang dadalah menerima semua garisan takdir yang telah Tuhan tuliskan di dalam hidupmu."Ucap Cleona membuat bibir Edward berdecih.


"Jangan lupa batasan mu Cleona O'deon! Meskipun kau adalah saudaraku, Kau tidak berhak ikut campur dalam urusan ku. Lebih baik saat ini kau dan laki-laki penghianat di samping mu itu, berlarilah dan menjauh sejauh mungkin setelah kalian berada di pihak wanita rendahan ini."Pungkas Edward dengan suara yang menjamam begitupun dengan kedua matanya.


Bianca hanya bisa menatap perdebatan antara Cleona dan Edward tanpa bisa menyela perdebatan mereka. Sungguh saat ini Bianca merasa badannya remuk dan tidak bisa di gerakan sama sekali.


"Sebelum semua itu terjadi, jelaskan semuanya di kantor polisi atas apa yang kau lakukan kepada istrimu."Kata Cleona dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Kau...!!"Edward mengepalkan kedua tangannya di depan wajah Cleona, Seolah olah laki-laki itu akan menghantam wajah Cleona kepalan tangannya.


Tidak lama kemudian datanglah empat orang polisi laki-laki dengan gagahnya berjalan menuju Cleona dan Edward.


"Tuan Edward, Anda kami tangkap atas tindakan kekerasan dan Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi." Polisi itu begitu cepat meringkus Edward, Sehingga membuat laki-laki itu tidak berkutik sedikitpun saat tubuhnya di ringkus oleh polisi.


"Cleona Sialan..!! Kau akan menyesal setelah melakukan semua itu kepadaku."Teriak Edward saat tubuhnya di tarik paksa oleh para polisi itu.


"Cleona apakah ini semua tidak berlebihan? Kau ingin memenjarakan saudaramu sendiri?" Tanya Andreas yang sedari tadi bungkam melihat drama yang ada di hadapannya. Kedua matanya tidak lepas melihat Edward yang tengah meronta-ronta dari kuasa para polisi itu. Sesungguhnya Andreas pun tidak tahu bahwa Cleona telah menelepon polisi untuk menahan laki-laki itu.


"Entahlah aku tidak tahu."Cleona menjawab seraya mengidikan bahunya."Aku hanya ingin Edward tersadar atas semua yang telah dia lakukan selama ini. Sebagai orang terdekatnya, aku tidak ingin dia semakin tenggelam di jurang kebencian dan dendam."Sambungnya dengan pikiran yang menerawang jauh.


"Lalu bagaimana jika keluarga besarmu mempertanyakan mengapa kau melakukan semua ini kepada Edward? Kau akan menjawab apa? Bukankah apa yang lakukan ini akan membuat kedua keluarga besar dapat bersitegang?"


"Kau tidak perlu memikirkan itu semua. Karena semua itu adalah tanggung jawab ku."Tukas Cleona dengan memalingkan wajahnya.


"Bianca..."Andreas pun segera membawa tubuh Bianca ke ruang perawatan wanita hamil itu dan tidak sedikit pula darah Bianca yang mengenai pakaian Andreas.


Tanpa mereka sadari sebuah pasang mata menatap semua kejadian itu dari awal hingga akhir. Kedua manik matanya menatap kosong dan tanpa sang empu sadari setitik cairan bening jatuh dari pelupuk matanya. Udara yang ada di sekitarnya seraya terenggut paksa, Sehingga membuat sang empu kesulitan untuk bernafas.


"Bianca..."Ucapannya dengan lirih dengan kedua tangannya terkepal erat.


Tubuh sang empu luruh lantai di atas lantai rumah sakit. Wanita itu tergugu dengan air mata yang tidak henti-hentinya keluar dari pelupuk matanya mengingat kejadian menyeramkan di depannya, wanita itu tidak dapat membayangkan bagaimana takutnya Bianca menghadapi semua itu.

__ADS_1


"Nona Agnes..."Sebuah tangan menepuk pundak wanita itu, Membuat sang empu mengalihkan pandangannya. "Anda baik-baik saja Nona?"


"Sus..? Ada apa?"Tanya Agnes dengan menyeka air matanya.


"Tuan Arnold telah sadar dan beliau menanyakan keberadaan Anda."Ucap Perawat itu membuat sedikit beban di pundak Agnes sedikit terangkat.


"Benarkah Sus?"Pekik Agnes segera bangkit dari duduknya dan perawat itu pun mengganguk dengan yakin.


"Terima kasih Tuhan, Kau telah mengabulkan permintaan hambamu yang hina ini."Agnes pun segera berlari menuju ruangan Arnold, Setelah mengucapkan terima kasih kepada perawat tersebut.


"Kakak..."Seru Agnes saat kedua bola mata yang beberapa hari terpejam itu mulai menampakkan ronanya. Agnes termangu di tempatnya dengan kedua matanya yang sudah bisa membendung air matanya.


"Kenapa menangis hmm? Apakah kamu tidak ingin memeluk kakak mu ini?"Kata Arnold dengan senyuman yang tidak pernah luntur di kedua sudut bibirnya.


Agnes menggelengkan kepalanya, Wanita itu menyeka air matanya dan berlari menuju ranjang Arnold untuk menghambur ke dekapan seorang laki-laki yang dia cintai setelah ayahnya.


"Kakak..."Panggil Agnes dengan suara yang menahan tangisannya.


Agnes menggelengkan kepalanya di dada bidang sang Kakak, tangisan wanita itu tidak surut sedikit pun. Bayang-bayang Edward memukuli dan mencambuki Bianca masih tercekat jelas di ingatan nya. Walaupun Agnes sangat membenci Bianca, dia tetap saja tidak tega melihat Bianca di perlakukan seperti itu. Bagaimana pun Bianca tetaplah adik kandungnya, Meskipun dirinya tidak luput berbuat buruk kepada Bianca. Namun, Agnes hanya berkata Sarkasme saja dan menampar, tidak seperti Edward yang memperlakukan Bianca layaknya seekor binatang.


"Jangan menangis seperti itu. Kakak sudah baik-baik saja."Ucap Arnold yang mengira Agnes menangis karenanya.


"Kakak..."Agnes mengangkat wajahnya dan menatap Arnold dengan lekat."Kenapa Kakak bisa menerima Bianca sebagai adik Kakak. Bukankah Kakak yang selalu mengatakan kepada Agnes, bahwa kehadiran Bianca lah yang membuat keluarga kita hampir hancur. Lalu mengapa sekarang Kakak tiba-tiba seperti itu? Ataukah kakak memiliki rencana lain tanpa sepengetahuan Agnes?"Imbuhnya.


"Kenapa kau tiba-tiba membahas Bianca? Apakah terjadi sesuatu kepadanya."Tanya Arnold yang seketika perasaannya tidak nyaman setelah Agnes membahas Bianca.


"Tidak Kak,"Elak Agnes dengan membuang pandangannya ke sembarang arah.


Arnold menatap langit-langit kamarnya seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Laki-laki itu kembali mengingat semua rentetan-rentetan kejadian yang membuat Arnold menyadari kesalahannya selama ini kepada Bianca dan puncaknya saat laki-laki itu mengetahui bahwa Bianca di perkosa oleh pria yang tidak di kenalnya. Dan saat itu hati kecil Arnold tercubit dan merasa gagal menjadi seorang kakak. Seandainya saat itu dia berbesar hati menerima kehadiran Bianca dan menjadi kakak yang baik untuk gadis malang itu, mungkin saja keadaan Bianca tidak seperti ini.


Tangisan Agnes semakin kencang mendengar semua penjelasan dari kakaknya. Bayang-bayang dimana dia selalu berkata dan berperilaku kasar Kepada Bianca dan memperlakukan adiknya yang malang itu layaknya seorang pembantu di rumahnya sendiri.


"Ya Tuhan. Apa yang Agnes lakukan selama ini? Maafkan Kakak Bianca..."Guman Agnes menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini kepada Bianca.


Jangan lupa


Like


Comment


Rate


Vote

__ADS_1


Favorit


Tips


__ADS_2