Oh My Baby

Oh My Baby
Part 31


__ADS_3

Derap langkah kaki panjang Edward melangkah masuk ke dalam rumah utama keluarga O'deon. Dan para pelayan menghentikan pekerjaannya melihat salah satu Tuan muda keluarga O'deon memasuki rumah utama.


"Selamat datang Tuan muda."Sapa para pelayan itu dan tidak ada satupun dari mereka mendapatkan jawaban dari Edward sang Tuan muda yang terkenal angkuh dan sombong itu.


Sedikit tertarik senyuman kecil di sudut bibir Edward melihat punggung wanita yang tidak asing bagi dirinya. Dengan langkah perlahan-lahan Edward menghampiri wanita yang sedang membelakangi dirinya tersebut.


Happ


Kedua tangan kekar Edward melingkari pinggang ramping wanita tersebut.


"Astaga Tuhan!"Pekik Wanita itu pada saat kedua tangan Edward memeluk dirinya dari belakang.


"Mam..."Sebuah kecupan di pipi Edward layangkan kepada wanita yang telah melahirkan itu.


"Anak nakal! Kau ingin membuat Mamah mu mati dengan cepat?!"Pekik Mamah Eleana dengan memukul tangan Edward yang melingkar di tubuh nya.


"Awwww....!"Pekik Edward berpura-pura kesakitan saat Sang Mamah memukulnya dengan bertubi-tubi.


"Rasakan saja! Sudah lama kau tidak menjumpai wanita tua ini dan datang datang membuat Mamah mu kaget."Ucap Mamah Eleana dengan berapi-api. Namun Edward dapat melihat jelas pancaran kasih sayang dan rindu dari kedua sorot matanya.


Inilah yang Edward rindukan kecerewetan sang Mamah walaupun sering membuat telinganya berdengung kencang akibat suara lengkingan sang Mamah.


"Lepaskan wanita tua ini anak nakal! Siapa yang mengijinkan mu memeluk ku Hah!"Seru Mamah Eleana berusaha lepas dari dekapan sang Anak. Edward pun berpura pura tidak mendengar seruan dari sang Mamah Dan Edward pun menyandarkan kepalanya di pundak ringkih sang Mamah yang selama ini berusaha untuk kuat demi dirinya.


"Diamlah Mam..."Lirih Edward. Laki-laki itu semakin mempererat dekapannya di tubuh Sang Mamah dan menghirup aroma tubuh sang mamah yang selama ini laki-laki itu rindukan."Biarkan lah Edward seperti ini untuk beberapa saat, Mam. Edward butuh baterai, karena setelah ini aku harus menghadapi harimau gila mu itu."Bisik Edward dengan suara kecil dan hembusan nafasnya terdengar berat.


Wajah sang Mamah memucat dan pias setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh anaknya tersebut. Membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Edward. "Kenapa? Kenapa Papah mu ingin berbicara dengan mu?"Tanya Mamah Eleana dengan suara yang bergetar. Karena bukan rahasia umum lagi jika hubungan Edward dan sang ayah bagaikan api dan air yang tidak pernah bersatu. Dan ada saja yang selalu mereka perdebatan dan ujung ujungnya mereka berselisih paham yang membuat wanita parubaya itu harus memilih antara suami dan anaknya..


Sangat berbeda jauh dengan hubungan Ayah Edward dan Erland Adik Edward. Yang bagaikan surat dan perangko. Dan ayah Edward pun selalu membanding bandingkan Edward dan Erland sehingga hubungan kedua kakak beradik itu sangatlah renggang bahkan bisa di hitung jari untuk mereka saling bersapa.


"Tidak apa apa Mam. Mungkin papah hanya ingin berbicara tentang masalah pekerjaan dengan Edward saja."Tutur Edward yang mengetahui kegundahan hati sang Mamah tercinta.


Wajah Sang Mamah tidak menampilkan perubahan apapun. Tangan Sang Mamah terulur untuk menyentuh wajah Edward yang sudah beberapa bulan belakangan ini tidak bisa dia sentuh, Karena permasalahan yang terjadi menimpa Edward.


"Mamah tidak perlu khawatir, Edward pasti akan baik-baik saja."Sahut Edward dengan tersenyum di paksakan.


Mengecup kening sang Mamah untuk beberapa saat."Edward pergi ke ruang baca Papah ya Mam."Pamit Edward setelah melepaskan kecupannya dan menatap sang Mamah dengan lekat.


Edward pun pergi meninggalkan sang Mamah dan melangkahkan kakinya menuju ruang baca sang Papah. Namun sebuah tangan yang menggenggam erat tangan Edward, sehingga mengharuskan Edward menghentikan langkahnya.


"Ada apa Man?"Tanya Edward dengan senyuman khas laki-laki itu.


"Mamah akan ikut ke ruang baca Papah kamu." Kata Mamah Eleana dengan nafas yang memburu. Wanita parubaya itu tidak ingin terjadi sesuatu lagi kepada anaknya seperti terakhir kali keduanya bertemu.


Menggenggam tangan sang mamah dengan erat dan satu tangan lainnya terulur untuk memberikan usapan di wajah sang Mamah yang tidak muda lagi."Tidak perlu seperti itu mam. Edward akan baik-baik saja"Tutur Edward dengan suara yang memberat.


"Tapi Mamah khawatir dengan kamu Ed. Mamah tidak ingin terjadi sesuatu kepada mu."Sahut sang Mamah.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Mam. Bukankah Edward sudah terbiasa dengan hal ini?!"Ucap Edward dengan tersenyum kecut."Mamah tidak perlu khawatir ya, Mamah percayakan kepada Edward?"Sang mamah pun mengangukan kepalanya dengan terpaksa.


"Baiklah jika ada sesuatu terjadi di dalam sana Kamu bisa panggil Mamah."Kata Mamah Eleana dan Edward pun menganggukkan kepalanya berlalu pergi meninggalkan Sang Mamah.


Sang Mamah menatap sendu punggung kekar milik Edward. Sudah sering terjadi jika Edward masuk ke ruang baca sang suami, maka Edward keluar dengan keadaan wajah yang membiru dan babak belur.


"Aku harus ikuti Edward."Guman Mamah Eleana di dalam hatinya.


Edward menghirup nafasnya dengan dalam dalam, saat dirinya tepat di depan pintu ruang baca sang Papah.

__ADS_1


Sebuah buku yang cukup tebal melayang dan hampir mengenai wajah laki-laki itu, menyambut Edward saat pertama kali memasuki ruangan tersebut.


Bukk...


Suara benturan yang cukup kencang antara buku dan dinding. Manik mata Edward menajam melihat pelaku pelemparan buku tersebut.


"PAPAH APA YANG KAU LAKUKAN?!"Desis Edward dengan menajam.


"Anak kurang ngajar..!"Sentak Papah Julian dengan bangkit dari posisinya dan menghampiri Edward dengan wajah yang memerah padam.


"Ada urusan apa Papah memanggil ku kesini?"Tanya Edward wajah tanpa ekspresi.


Dan sebuah tangan melayang keras ke wajah Edward sehingga Edward memalingkan wajahnya.


"PAH....!"Seru Edward dengan suara yang meninggi. Bukan hal yang asing lagi bagi Edward mendapatkan perlakuan kasar ataupun tamparan dari sang Papah. Mungkin itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Edward. Dan karena itu pula karakter keras Edward tercipta sebagai bentuk perlindungan.


"Berani kau berbicara dengan nada tinggi seperti itu kepada Papah mu!"Bentak Papah Julian dengan menghunuskan tatapan matanya yang tajam ke arah Edward.


"Kalau aku tidak salah untuk apa aku takut." Cibir Edward dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya.


"KAU...!"pekik nya sembari mengangkat tangan nya untuk menampar Edward. Namun sebuah tangan menghentikan tindakan sang Papah sebelum mengenai wajah tampan Edward.


"Pah, Jangan seperti itu kepada kak Edward." Suara itu, suara yang sangat di benci oleh Edward. Dan seketika itu juga sang Papah menurunkan tangannya dan menatap Edward dengan tajam.


Edward pun berdecih menatap drama yang ada di hadapannya."Menjijikan..."Decak Edward dengan memutar bolanya malas.


Sang Papah pun membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menuju ke meja kerjanya.


Sang Papah melemparkan sebuah berkas berwarna merah tua kepada Edward. Edward yang tidak siap akan kejadian itu pun tidak menangkap berkas berkas dan seketika itu juga isi dalam berkas berkas itu berhamburan di atas lantai.


"Jika kau bukan Papah kandung ku! dan tidak mengingat pesan Mamah, Takkan ku biarkan kau bernafas dengan bebas setelah kau melakukan hal seperti itu kepada ku!!" Batin Edward bergemuruh dan menatap tajam ke arah sang pelaku pelemparan.


"BACA..!! BACA SEMUA BERKAS BERKAS ITU!"Teriak nya kepada Edward dengan nafas memburu. Edward pun mengambil berkas berkas yang ada di bawah kakinya dan membacanya.


"Kau tahu, Harga saham kita menurun dan para investor banyak yang menarik sahamnya karena scandal mu dengan wanita itu"Seru Papah Julian dengan berapi-api. Bahkan kemarahan tercekat jelas di wajahnya yang tidak lagi muda.


Lalu aku harus apa? Tanya Edward lewat sorot matanya sehingga membuat amarah sang Papah semakin memuncak.


"Anak kurang ajar!!"Pekik sang ayah dengan kedua matanya membola.


"Contohlah adikmu Erland..."


"Mulai lagi..."Batinnya yang sudah mengetahui kemana arah pembicaraan sang Papah. Pembicaraan yang sangat memuakkan bagi Edward, karena dirinya selalu di banding bandingkan dengan Erland sang adik.


"Adikmu masih kuliah dan dia sudah bisa membantu Papah di perusahaan!"Tutur Papa Julian menunjuk Edward dengan sorot matanya dengan berdecih."Dan kau? Apa yang aku lakukan? Hanya bisa nongkrong nongkrong yang tidak jelas bersama teman teman mu itu Pergi ke club' malam sehingga memperkosa wanita yang tidak jelas asal usulnya itu! Sungguh memalukan sekali hidupmu Edward O'deon."


"Bahkan sampai saat ini pun aku tidak bisa mengangkat pandangan ku, di hadapan semua orang dan kolega ku. Hanya karena scandal yang telah kau buat itu! Jika kau terus-menerus berlaku seperti itu, Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kau memegang perusahaan O'deon!"Tutur Papa Julian dengan nada sinisnya.


"Yang kau lihat hanyalah Erland Anak kesayangan mu! Sebaik, sebagus dan membanggakan apapun yang aku lakukan untuk mu. Semua yang aku lakukan itu percuma saja! karena hanyalah Erland yang ada di matamu dan hanya Erland lah yang mampu membanggakan mu. Tidak dengan Edward." Sesak di dada yang selama ini Edward rasakan kini tidak bisa lagi dirinya bendung. Sungguh memuakkan jika kita selalu di banding bandingkan dengan seseorang. apakah mereka tidak tahu, bahwa manusia itu memiliki kelebihan dan kekurangan nya masing masing.


"Beraninya kau!"Pekik sang Papah dengan gigi yang bergemurutuk dan mengeratkan rahang nya karena mendengar apa yang di ucapkan oleh Edward.


"Kenapa..? Kenapa aku harus takut? Aku disini berbicara di sisi kebenaran. Karena memang sedari dahulu kau hanyalah Erland yang membanggakan untukmu! Sedangkan aku?" Menunjuk dirinya sendiri dengan nafas yang memburu dan kedua matanya menatap tajam manik mata yang serupa dengan dirinya."Aku hanyalah sebutir debu di mata mu saja Papah. Percaya ataupun tidak percaya hanyalah Erland yang sempurna di kedua matamu. Bahkan aku pun bertanya tanya apakah aku benar benar anak kandung mu atau bukan?!" Sambung Edward dengan membuang pandangannya karena entah kapan air mata itu keluar dari kedua pelupuk matanya.


"KAU....!!"Kedua matanya membola tajam dan mengepalkan kedua tangannya atas apa yang di ucapkan oleh Edward.


"Dan apa tadi? Kau akan memberikan jabatan Presdir kepada Erland?"Tukas Edward dengan tersenyum menyeringai di sudut bibirnya. "Silahkan, silahkan saja kau berikan semua nya kepada anak kesayangan mu itu, Aku tidak sudi menerima jabatan dan uang dari mu itu.

__ADS_1


Karena tanpa uang dan jabatan mu itu pun aku masih bisa bertahan hidup."Kata Edward.


"Beraninya kau berbicara seperti itu kepada Papah mu Edward O'deon! Di mana sopan santun mu kepada Papah kandung"Sentak Papah Julian dengan menaikkan satu tangannya untuk menampar kembali wajah Edward.


Plakk....


"Mamah...!"Pekik Edward dan Erland bersamaan saat saat mamah yang terkena tamparan keras dari sang Papah.


Tubuh Sang Mamah terhuyung ke belakang karena saking kencangnya tamparan dari suaminya. Edward pun segera membantu sang Mamah dan menepis kasar tangan Erland yang mencoba membantu sang Mamah untuk bangkit.


"Mamah tidak apa-apa?"Tanya Edward dengan nada cemas yang kentara dari suaranya.Sang Mamah hanya bisa tersenyum kecil karena pertanyaan dari anak anak pertama nya.


"Apakah ini terasa terasa sakit?"Edward dengan mengelus wajah sang Mamah yang memerah karena terkena tamparan dari sang Papah.


"Mamah baik-baik saja Ed."Elak Mamah Eleana yang mencoba menutupi rasa nyeri di area wajahnya.


Sang Papah terlihat sangat santai, setelah apa yang di lakukan nya kepada wanita yang telah menemaninya selama dua puluh delapan tahun ini.


"Aku tidak perduli bahwa kau adalah papah kandung ku, Akan ku buat perhitungan dengan siapapun yang telah berani berbuat kasar kepada Mamahku."Tutur Edward dengan suara yang sangat memberat.


"TERMASUK KAU!"Desis Edward dengan tangannya yang siapa untuk menghajar wajah sang Papah. Namun sebelum itu terjadi sang Mamah terlebih dahulu mencekal tangan Edward.


"Jangan bertindak dan berbicara seperti itu Ed! Dia adalah Papah kandung mu dan tidak sepatutnya kamu bertindak dan berbicara kurang ngajar seperti itu kepada Papah mu" Nasihat Mamah Eleana dengan tangan yang mengusap punggung Edward, karena dengan cara itulah yang selalu sang Mamah lakukan untuk meredakan amarah dari anak pertamanya tersebut.


"Tidak akan mam! Meskipun dia papah kandung ku, akan ku pastikan laki laki itu menerima balasan nya setelah perlakuan kasarnya kepada Mamah selama ini"Karena bukan rahasia umum lagi Jika sang Papah kerap berlaku kasar kepada dirinya dan sang Mamah. Bahkan pernah beberapa kali sang Papah membentak sang Mamah di hadapan umum dan para kolega nya. Dan itu semua masih membekas di ingatan Edward sampai sekarang dan sampai kapanpun Edward tidak akan pernah melupakan hal itu.


"Dasar anak kurang ngajar kau! Berani beraninya kau berkata tidak sopan seperti itu kepada ku!"Pekik Papah Julian.


"Lalu aku harus seperti apa?!"Cetus Edward dengan senyuman seringai nya."Apa aku harus menghormati dan menghargai mu sebagai Papah kandung ku! Sedangkan kau tidak pernah memperlakukan aku layaknya seorang anak."Sambung Edward membuat amarah sang Papah semakin memuncak.


"KAU...!"menunjuk Edward dengan suara meninggi. Dan mengangkat tangan untuk menampar kembali wajah Edward, Namun langsung di tepis oleh sang Mamah.


"Pah, Jangan seperti itu kepada Edward. Dia baru saja berkunjung ke rumah ini dan Papah menyambutnya dengan pertengkaran yang tiada habisnya."Tutur Mamah Eleana.


"Lihatlah..! Lihatlah anak kurang ngajar mu itu, apakah ini yang kau ajarkan kepada anakmu selama ini."Sentak Papah Julian dengan suara yang semakin meninggi.


"Jangan sekali sekali lagi kau membantak Mamah ku!"Seru Edward dengan menunjuk ke sang Papah.


"Edward sudah."Sela Mamah Eleana berusaha menengahi perdebatan antara anak dan suaminya.


"Tapi Mamah.."


"Apakah sekarang kau sudah berani membantah ucapan Mamah?!"Pungkas Mamah Eleana.


"Baiklah! Ayo kita keluar dari sini."Ucap Edward sembari membawa sang mamah keluar dari ruangan Papah Julian. Akan tetapi sebelum itu kedua manik mata Edward menatap tajam dan menghunus ke arah sang Papah dan terutama ke arah Erland yang sedari tadi diam saja melihat perdebatan antara dirinya dan sang Papah.


Jangan lupa


Like


Comment


Rate


Favorit


Vote

__ADS_1


__ADS_2