Oh My Baby

Oh My Baby
Part 59


__ADS_3

Dua hari pun berlalu dengan cepat. Tepat hari ini Briana akan mendapatkan tindakan untuk operasi jantungnya. Tergambar jelas kegusaran dan kegelisahan di raut wajah wanita satu anak itu, Namun Bianca berusaha menutupi semua kegelisahan dan keresahan yang wanita itu rasakan di balik senyuman kecil yang terpatri di sudut bibir mungilnya.


"Mamah..."Panggil Briana di brankar nya saat melihat wanita satu anak itu berjalan mondar- mandir di hadapannya.


"Ada apa sayang?"Tanya Bianca seraya menghampiri Briana yang kini tengah menatapnya, tidak lupa dengan senyuman yang tersemat di wajahnya.


Briana menundukkan kepalanya dengan tangan kecilnya memilin ujung selimut yang membalut tubuhnya.


"Briana takut Mah..."Cicit Briana dengan suara menahan tangisannya.


"Kenapa takut hmm? Bukankah sudah ada Mamah yang ada di samping Briana?kenapa Briana harus takut?"Ucap Bianca seraya mendudukkan dirinya di samping sang anak.


"Bianca takut Mah, Kenapa Briana harus di operasi Mah? Apakah Briana mengidap suatu penyakit yang mematikan, Sehingga Briana harus di operasi?"Cerca Briana dengan nada menuntut ke arah Sang Mamah.


"Ana percaya kepada Mamah..?"Tanya Bianca menatap sang anak dengan lekat.


Briana pun menganggukkan kepalanya atas pertanyaan dari Sang Mamah."Ana sangat mempercayai Mamah. Karena hanya Mamah lah seorang yang Briana punya di dunia ini." Jawab Briana dengan cepat.


"Jika Ana memang mempercayai Mamah, Maka Briana pun harus mempercayai bahwa semua keputusan yang dia ambil oleh Mamah adalah keputusan yang terbaik untuk Briana."Tutur Bianca dengan sedikit penekanan di setiap kalimatnya agar sang anak mengerti akan semua perkataan nya.


"Baiklah Mah..."Jawab Briana tanpa menatap ke arah Bianca.


Tidak lama kemudian datanglah dua orang perawat mengatakan bahwa sebentar lagi operasi akan di mulai. Briana yang mendengar itu pun sontak kembali ketakutan.


"Mamah..."Panggil Briana dengan menggenggam erat tangan Bianca seolah takut sang Mamah pergi meninggalkan dirinya.


"Tenanglah sayang, Mamah akan selalu ada bersama mu."Ucap Bianca mencoba menenangkan Briana dengan tidak lupq membalas genggaman tangan Briana tidak kalah eratnya.


"Briana takut Mah..."


"Tenanglah sayang, Tidak ada yang perlu kamu takutkan."Kata Bianca berusaha menguatkan Briana sang anak yang akan menjalani operasi jantung nya tersebut.


"Mamah..."Panggil dengan menggelengkan kepalanya saat brankar yang di tempati nya telah sampai di depan pintu ruangan operasi.


"Mamah Takut..."Ucap Briana dengan tangisan yang membuat siapa saja iba mendengarnya.


Bianca pun tidak kuasa menahan tangisannya saat melihat sorot mata ketakutan dari sorot mata anaknya.


"Sus, Bolehkah saya meminta sedikit waktu, untuk berbicara sebentar dengan anak saya Sus?"Pinta Bianca dengan penuh harap menatap kedua suster di hadapannya tersebut.


"Silahkan Nyonya..."Jawab Suster itu.


"Ana dengarkan Mamah sebentar saja."Seru Bianca dengan menangkup wajah sang anak. Namun, Briana memalingkan wajahnya enggan menatap wajah Sang Mamah yang kini tengah menatapnya dengan lekat.


"Tidak Mamah..!!"


"Briana Takut, Di dalam sana pasti banyak jarum suntik dan Ana pasti sendirian di dalam sana."Tukas Briana tanpa menatap Bianca dan sesekali gadis kecil itu mengusap air mata yang membasahi wajah kuyunya.


"Tidak sayang, Ana tidak sendirian. Mamah akan ada di samping Briana dan selalu bersama Briana walau apapun yang terjadi."


"Mah, Ana mohon batalkan operasi ini. Briana sangat takut sekali Mah..."Pinta Briana dengan mengatupkan kedua tangannya ke arah Sang Mamah, tidak peduli dengan rasa sakit karena salah satu tangannya yang di infus tertarik akibat apa yang telah dia lakukan saat ini.

__ADS_1


"Briana, Mamah melakukan semua ini demi kebaikan kamu Nak. Bukankah Briana selalu berkata ingin bermain dan berlari seperti teman-teman Ana lainnya. Setelah Semua Operasi ini di lakukan, Maka Ana bisa seperti teman-teman Ana lainnya. Ana bisa bermain dan berlari sepuasnya tanpa Ana harus memikirkan apapun lagi."Tutur Bianca berusaha untuk bernegosiasi dengan Briana yang kini tengah ketakutan.


Namun apa yang di lakukan oleh Bianca ternyata sia-sia. Gadis kecil itu tetap memalingkan wajahnya dan melipat bibirnya tanda jika gadis kecil itu tidak menyetujui akan keputusan yang telah di ambil oleh ibu kandungnya tersebut.


"Ana..."Panggil Bianca dengan suara lirihnya.


"Tidak Mamah..!!"Balas Briana tanpa menatap Sang Mamah.


"Briana Tiffany, Mamah mohon untuk kali ini saja menuruti semua keinginan Mamah. Mamah janji, Jika setelah Briana selesai melakukan operasi, Mamah akan memberitahukan siapa Papah kamu atau Jika Briana ingin Mamah akan mempertemukan kamu dengan Papah kandung kamu. Bukankah ini yang kamu inginkan selama ini?"Seru Bianca dengan nada bersungguh-


sungguh.


Bianca sudah tidak mampu lagi membujuk Sang Anak untuk menyetujui Operasi tersebut. Sehingga tercetuslah sebuah kalimat yang tidak pernah Bianca bayangkan sama sekali akan wanita itu ucapkan darinya. Namun terbukti, Briana segera memalingkan wajahnya dan menatap Bianca dengan begitu intens.


"Benarkah apa yang Mamah katakan?"Tanya Briana dengan binar kebahagiaan yang tidak pernah Bianca lihat sebelumnya.


"I-iya Sayang, Kamu bisa percaya kepada Mamah."Ucap Bianca lalu mengambil handphone yang ada di dalam sakunya dan memberikan handphone tersebut kepada Briana.


"Lihatlah sayang, ini foto Papah mu."Ucap Bianca seraya mengulurkan handphone itu ke arah Sang Anak.


"Benarkah Mah?"Ucap Briana sembari membuka matanya lebar-lebar, Seolah-olah jika dirinya mengedipkan matanya foto Sang Ayah akan menghilang dari pandangannya.


"Papah tampak sekali Mah..."Ucap Briana seraya mengelus foto Edward yang ada di dalam handphone Sang Mamah.


"Briana ingin bertemu dengan Papah Mah, Ana rindu sangat kepada Papah."Lirih Briana.


"Ana ingin di operasi Mah. Jika dengan di Operasi ini Ana akan bertemu dengan Papah."Ucap Briana dengan menggebu- gebu.


Bianca menundukkan wajahnya, Hati ibu mana yang tidak terluka melihat betapa mendambakan sang anak akan kehadiran sosok ayah dalam kehidupan nya.


"Lihatlah keadaan Anakmu Tuan Edward yang terhormat! Dia begitu menginginkan kehadiran mu Tuan dan begitu teganya engkau jika kembali menolak kehadiran nya." Guman Bianca dengan mengepalkan kedua tangannya tanpa ada satupun yang menyadarinya.


"Ibu Suster, Ayo Cepat bawa Ana, Ana ingin di operasi agar Ana bisa bertemu dengan Papah."Pekik Briana dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari sudut bibirnya.


Seperti hari-hari yang telah di lalui oleh Edward sebelum-sebelumnya, Laki-laki itu kini tampak tengah berkutat dengan berkas berkas yang telah menemaninya selama ini.


Deg


Seketika Edward terdiam dengan pandangan matanya kosong saat perasaan gelisah tiba-tiba saja menyeruak di dalam dirinya.


"Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak karuan seperti ini? Seolah-olah telah terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui."Tanya Edward kepada dirinya sendiri sembari memegang dadanya yang berdetak kencang.


"Tuan..."Panggil Sean yang sedari menatap apa yang di lakukan oleh Tuannya itu.


"Hmm..."Balas Edward tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.


"Apakah Anda baik-baik saja Tuan?"Tanya Sean tanpa menghilangkan nada ke khawatiran nya.


"Kenapa kau menjadi cerewet seperti ini Sean..!!"Tukas Edward dengan dengusan di akhir kalimatnya.


Sean pun menundukkan kepalanya tanpa membalas ucapan Sang Tuan karena memperhatikan semenjak kedatangan mereka ke tanah kelahiran mereka sang Tuan tampak gelisah dan sering melamun.

__ADS_1


"Sialan wanita Ja'ang itu lagi..!!"Desis Edward dengan menggenggam erat handphone yang ada di tangannya.


"Sean..."Panggil Edward dengan penuh penekanan saat memanggil Asisten pribadinya itu.


"Iya Tuan..."Jawab Sean dengan cepat.


"Cepat kau urus wanita Ja'ang itu dan aku tidak mau dia kembali mengganggu hidup ku lagi dan membuat kekacauan."Titah Edward dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan.


"Sesuai perintah Anda Tuan."Balas Sean dengan menganggukkan kepalanya.


Tanpa Edward memberi tahukan siapa nama wanita yang di ucapkan nya, Sean sudah mengetahui siapa yang di maksud oleh Tuannya, Karena siapa lagi wanita yang kini tengah mencari masalah dengan Tuannya selain Gwen wanita congkak yang kerap memamerkan lekuk tubuhnya.


Sementara itu ternyata kabar kedatangan Edward telah sampai di telinga Mamah Eleana dari orang suruhannya yang dia tempatkan di kediaman mewah sang anak.


"Benarkah begitu?"Pekik Mamah Eleana dengan senyuman yang terpatri di sudut bibir wanita parubaya itu.


"Baiklah, pantau terus keadaan Tuanmu dan berhati-hatilah jangan sampai keadaan mu di curigai oleh siapapun."Titah Mamah Eleana dengan tegas.


"Baik Nyonya..."Jawab seseorang di seberang sana dengan suara lirihnya.


Setelah beberapa saat, Mamah Eleana pun mengakhiri sambungan teleponnya di seberang sana dengan perasaan yang tidak menentu.


Mamah Eleana tampak menghela nafasnya dengan tatapan matanya yang menyiratkan sebuah luka dan kerinduan yang mendalam yang tiada satu orang pun yang dapat menyelami nya.


"Akhirnya hari ini tiba..."Ucap Mamah Eleana sembari berjalan menuju balkon kamarnya.


"Apakah ini akhir dari semua kerinduan dan penderitaan ku Tuhan?"Guman Mamah Eleana dengan menahan sesak di dalam dadanya.


"Anakku, Anak yang selama ini Aku rindukan telah berada di hadapan ku."Mamah Eleana tampak memeluk dengan erat figura antara dirinya dengan Edward, saat anaknya itu baru berusia beberapa tahun.


tergambar jelas kesedihan di raut wajah wanita parubaya itu. Walaupun dia sudah mengetahui bahwa sang anak telah berada dekat dengan dirinya, Namun Mamah Eleana merasakan jarak yang begitu jauh yang telah di bangun oleh Edward kepada dirinya, terbukti dengan dengan pulangnya Edward tanpa mengabari wanita parubaya itu.


"Mamah tidak menyangka kekecewaan mu begitu besar kepada Mamah? Sehingga kamu memutuskan pergi begitu saja meninggalkan wanita tua ini dengan segenap kerinduan yang tiada terhingga."


Wanita parubaya itu tersenyum getir pada saat melihat kolam renang yang biasa menjadi tempat Mamah Eleana menghabiskan waktunya bersama-sama dengan Edward saat laki-laki itu masih kecil.


"Maafkan... Maafkan Mamah Sayang dengan segala perbuatan Mamah yang telah membuat mu kecewa."


"Edward, Mamah sangat merindukan Nak..."


Lirih Mamah Eleana dengan deraian yang membasahi wajah wanita tua ini.


"Kembalilah Nak, Maafkanlah segala perbuatan wanita tua ini."Ujar Mamah Eleana di sela tangisannya.


Jangan lupa


Like


Comment


Vote

__ADS_1


Rate


Favorit


__ADS_2