
"Nona."Bianca tersentak saat sebuah tangan menepuk pundaknya. Bianca pun membalik tubuhnya dengan seulas senyum terbit di bibirnya saat wanita hamil itu saat melihat siapa yang menepuk pundaknya.
"Pak Jang."Kata Bianca.
"Anda akan berpergian Nona?"Tanya pak Jang menelisik penampilan Bianca dari atas hingga bawah.
"Iya Pak Jang, Ada apa?"Balas Bianca.
"Bukankah Anda di anjurkan oleh Dokter untuk beristirahat total selama beberapa Minggu?" Seru laki laki parubaya itu dengan menatap intens Bianca.
"Iya Pak, Tapi Bianca merasa sudah baikan kok. Lagipula Bianca sudah tidak masuk kerja lebih dari satu Minggu, Bianca merasa tidak enak kepada bos tempat Bianca bekerja."Sahut Bianca dengan tersenyum di paksakan.
"Anda tidak ingat bahwa kandungan Anda lemah? Terlebih Anda mengandung dua bayi, Sebaiknya Anda kembali ke kamar Anda dan beristirahat."Titah pak Jang membuat lengkungan di sudut bibir Bianca semakin terangkat. Bianca tidak tersinggung akan semua perkataan pak Jang, tetapi wanita hamil itu merasa senang karena semua penuturan pak Jang seperti perkataan Seorang Ayah terhadap Anaknya.
"Tidak apa-apa Pak, Sungguh Bianca sudah merasa baik baik saja. Bianca sudah lama tidak masuk kerja, Dan Jika Bianca tidak kerja, bagaimana Bianca memenuhi kebutuhan Bianca?"Tutur Bianca tanpa menatap pak Jang karena Bianca merasa pak Jang kini menatapnya dengan belas kasih.
"Baiklah Jika memang itu keputusan Anda."
Kepala pelayan itu dapat melihat kesedihan dari ucapan Bianca. Sehingga pak Jang lebih memilih mengalihkan ucapannya."Apakah Anda ingin mengambil jatah makan Anda?"Ucap pak Jang membuat Bianca mendongkakan kepalanya.
"Tidak pak, Apakah Tuan Edward sudah mengizinkannya?"Bianca balik bertanya. Namun pak Jang hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan Bianca."Tidak apa apa Pak, Tanpa pak Jang menjawabnya Bianca sudah tahu Jawabannya."Wanita berkata seraya tersenyum kecut.
"Nona..."Kata pak Jang.
"Tidak apa-apa Pak. Bianca ke belakang dulu ya Pak."Pamit Bianca dan pak Jang pun mengagukan kepalanya sebagai jawabanya.
Sudut mata Bianca menatap Edward dengan begitu dalam sebelum berlalu dari ruangan tersebut.
_
_
_
Sementara setelah acara makan itu selesai. Dokter Andreas langsung meminta Edward untuk berbicara empat mata dengannya. Dan dengan sedikit paksaan dari Dokter muda itu, Edward akhirnya menyetujuinya dan kini mereka tengah duduk berhadapan di dalam ruangan kerja Edward. Atmosfer di dalam ruangan itu tampak mencekam karena kedua laki laki itu tengah menatap tajam satu satu sama lainnya.
"Untuk apa kau ingin berbicara dengan ku?"
Tanya Edward setelah jengah akan situasi yang kini mereka hadapi. Setelah pertemuan terakhir mereka di rumah sakit, hubungan antara Edward dan Andreas cukup merenggang. Karena tidak ada satu di antara mereka yang mengalah.
"Bisakah kau bicara tanpa menggunakan emosi?"Kata Andreas dengan tegas."Aku hanya ingin memberikan ini untuk mu."Laki-laki itu tampak mengeluarkan sebuah Amplop putih berlogo sebuah rumah sakit di hadapan Edward.
"Apa itu?"Tanya Edward dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Ini adalah hasil Tes Dna antara kau dan janin yang ada di dalam kandungan Bianca."Jelas Andreas. Namun Edward tidak bereaksi ataupun menyentuh Amplop tersebut.
"Berapa yang wanita itu berikan kepadamu untuk melakukan semua ini? Apakah tubuhnya"Tukas Edward dengan suara yang menahan amarah.
"Tidak! Bukan seperti itu Edward. Kau salah paham."Andreas menggelengkan kepalanya atas pemikiran dari sahabatnya.
"Salah paham katamu! Aku tidak sebodoh itu Andreas. Kita berteman bukan sehari dua hari, Aku sudah mengenal karakter mu luar dan dalam. Kau bukanlah orang yang sebaik itu untuk mengurusi kehidupan orang lain! Bahkan dengan keluarga mu pun kau begitu acuh. Lalu kini kau begitu peduli kepada wanita Ja'ang itu!" Tutur Edward membuat Andreas mati Kutu. Karena memang semua yang Edward katakan semuanya benar. Namun dia tidak memiliki niat terselubung melakukan semua itu, ini semua murni rasa kemanusiaan saja.
"Edward ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku melakukan semua ini untukmu, Aku tidak ingin apa terjadi kepada Shawn terjadi pula kepada mu."Kata Andreas dengan tatapan yang menerawang. Mengingat kembali Shawn sahabat mereka yang depresi, setelah sang kekasih meninggalkan Shawn karena kesalahan yang dilakukan oleh laki laki itu."Kau tahu jika penyesalan itu datang terakhir?" Imbuh Andreas dengan lirih dan menatap Edward dengan lekat.
"Seharusnya kau ingat Andreas, Jika di dalam kamus seorang Edward O'deon tidak ada kata menyesal. Dan kau pun tahu bahwa aku adalah seseorang yang memperhitungkan segala apa yang telah ku lakukan dan ku ucapkan. Jadi berhentilah mengurusi kehidupan ku."Tukas Edward sembari beranjak dari duduknya.
"Edward tunggu dulu! Aku belum selesai berbicara denganmu."Panggil Andreas seraya memegang pergelangan tangan Edward.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Andreas! Semuanya sudah jelas."Ucap Edward dengan tegas.
"Tidak Edward."Sahut Andreas.
"Pergilah Andreas, Sebelum aku melupakan bahwa kau adalah sahabatku."Edward menyentak tangan Andreas dan berlalu meninggalkan sahabatnya tersebut.
Andreas mengusap wajahnya dengan kasar melihat kepergian Edward, kini hubungan persahabatan mereka akan semakin merenggang setelah kesalah pahaman Edward.
"Astaga Laki laki Bodoh itu!"Umpat Andreas dengan dengusan di akhir Kalimantan. Akhirnya Dokter Andreas pun keluar dari ruangan kerja Edward dengan gerutuan dan umpatan di setiap langkah laki laki itu.
"Pak Jang."Sapa Andreas melihat lelaki parubaya yang berstatus sebagai kepala pelayan di rumah Edward.
"Dokter."Pak Jang menghentikan langkahnya saat dirinya di panggil oleh Sahabat Tuanya tersebut."Ada yang bisa saya bantu Dokter?" Tanya pak Jang dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Andreas mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Namun nihil laki laki itu tidak menangkap keberadaan Bianca wanita malang itu. Tidak mungkin Jika dirinya bertanya kepada pak Jang, karena itu dapat menimbulkan kesalah pahaman yang baru antara dirinya dan Edward.
"Tidak perlu pak."Jawab Andreas dengan menyematkan senyumannya."Saya permisi Pak."Pamit Andreas.
"Silahkan Dokter."Andreas pun segera berjalan keluar dari kediaman sang sahabat walaupun tujuannya tidak tercapai, Namun masih ada hari esok untuk laki laki itu mencoba membuka jalan pikiran Edward sebelum semuanya terlambat.
Andreas segera memasuki mobil Ferrari hitamnya dan melajukan mobilnya meninggalkan pelantara rumah mewah tersebut. Namun seketika Laki laki itu menghentikan laju mobilnya melihat punggung seorang wanita yang tengah berjalan di depannya.
"Bukankah itu Bianca?"Kata Andreas mencoba menyakini apa yang di lihatnya. Dan tanpa membuang waktu Andreas pun segera turun dari mobilnya dan berjalan dengan tergesa gesa ke arah Bianca.
"Bianca."Panggil Andreas. Merasa dirinya di panggil wanita hamil itupun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah sumber suara.
"Dokter Andreas."Kata Bianca melihat kembali laki laki yang telah membantunya selama di rumah sakit."Ada yang bisa saya bantu Dok?" Tanya Bianca.
"Tidak. Kau akan kemana?"Dokter Andreas balik bertanya dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf Dok, Sepertinya kita tidak terlalu dekat, Untuk Anda bertanya seperti itu kepada saya." Sahut Bianca dengan penuh penekanan. Rasa trauma kepada Sang Papah dan Edward, membuat Bianca membatasi interaksinya dengan lawan jenisnya, terlebih lagi Bianca tidak begitu mengenal lelaki yang ada di hadapannya.
"Baiklah, Sepertinya aku terlalu lancang bertanya seperti itu kepada mu. Mungkin kau merasa tidak nyaman saat pertemuan kedua kita aku bertanya seperti itu kepada mu."Dokter Andreas berkata seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan seketika suasana canggung menyelimuti mereka berdua.
"Oh iya Dokter Andreas."Panggil Bianca membuat Atensi Dokter muda teralihkan.
"Ada apa? Kau merasa perutmu sakit kembali?" Nada suara Laki-laki itu tampak kekhawatiran nya begitupun dengan tatapan matanya.
"Bukan itu Dok. Perut Bianca baik baik saja" Bianca tampak mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya."Bukan Bianca tidak menghargai kebaikan dari Dokter Andreas. Akan tetapi, Bianca tidak bisa menerima uang pemberian dari Dokter Andreas."Ucap Bianca seraya mengulurkan Amplop coklat itu ke hadapan Dokter Andreas.
"Kenapa? Kau takut Edward mengetahui bahwa aku memberikan mu uang itu?"Nada bicara dokter Andreas seperti menahan amarah dan Bianca pun merasakan amarah dari Dokter Andreas lewat sorot matanya.
"Memang itu salah satu alasan saya menolak uang pemberian dari Dokter. Lagi pula masih banyak orang di luar sana yang lebih membutuhkan uang itu dari pada saya."Jawab Bianca.
"Bukankah Anda pun, sekarang sedang membutuhkan uang? Uang itupun bisa Anda gunakan untuk membayar semua hutang hutang Anda kepada Edward." Bianca membolakan kedua matanya mendengar semua penuturan dari dari laki laki yang ada di hadapannya.
"Ba-bagaimana Anda mengetahui semua itu." Tutur Bianca dengan terbata bata. Kedua bola matanya bergerak gelisah begitu pun dengan gestur tubuhnya.
"Anda tidak perlu tahu saya mengetahui itu dari siapa."Sargah Dokter Andreas.
Tanpa mereka sadari Edward sedari tadi melihat semua interaksi mereka berdua. Kedua tangan laki laki itu terlepas erat begitu pun dengan nafasnya yang memburu seiring dengan amarah yang kini meluap di dalam dirinya.
"Ja'ang Sialan..!"Umpat Edward dengan tatapan mata yang tidak lepas dari interaksi antara Bianca dan Edward.
_
_
_
Setelah mengantarkan semua botol botol Susu kepada pemiliknya, Bianca memiliki waktu satu jam lagi ke tempat kerjanya. Bianca memutuskan untuk bertemu dengan bibi Ellen ke rumah Sang Papah, Wanita hamil itu ingin bertanya mengapa selama ini bibi Ellen membohonginya dengan kematian ibu kandungnya dan cerita cerita dusta karangan dari bibi Ellen yang selama ini menjaga dan membesarkan nya selayaknya orang tua kandungnya sendiri.
"Paman..."Panggil Bianca saat salah satu pelayan di rumah Papah yang tampak keluar dari rumah mewah sang Papah.
"Nona Bianca."pelayan laki laki itu pun segera membuka gerbang untuk Bianca lalui."Silahkan masuk Nona."Ucap pelayan itu sembari mempersilahkan Bianca masuk ke kediaman mewah ayah kandungnya.
"Apakah bibi Ellen Ada, Paman?"Tanya Bianca seraya mengedarkan pandangannya mencari wanita parubaya yang selama ini merawatnya. Biasanya Jam Jam seperti ini bibi Ellen ada di kebun samping sedang mengambil sayuran yang sudah matang.
"Ada Nona."Jawab pelayan laki laki itu dengan cepat.
"Paman, bisakah paman memanggilkan bibi Ellen? Bianca mohon paman."Pinta Bianca dengan penuh harap.
"Baik Nona."pelayan laki laki seraya menatap Bianca intens.
"Ada apa paman? Kenapa paman melihat Bianca seperti itu? Ada yang ingin paman katakan kepada Bianca?"Bianca berujar dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Tidak Nona, Paman hanya merasa waktu begitu cepat berlalu. Dulu tinggi Anda hanya sepinggang Paman, Kini Nona kecil paman sudah begitu dewasa bahkan tidak lama lagi akan menjadi seorang ibu."Tutur pelayan itu membuat sudut bibir Bianca terangkat.
"Paman, Jangan berkata seperti itu! Bianca jadi sedihkan."Ucap Bianca dengan suara yang parau bahkan kini kedua matanya berkaca-kaca melihat laki laki yang ada di hadapannya.
"Dahulu kehadiran Nona selalu menjadi rebutan para pelayan. Namun waktu begitu cepat berlalu, Sehingga Kami tidak menyadari bahwa Nona kecil kami sudah tumbuh besar dan memiliki kehidupan nya sendiri."Pelayan itu akan mengusap rambut Bianca, Namun dia urungkan karena belum mendapatkan izin dari sang empu.
"Kenapa paman berhenti? Paman ingin mengusap rambut Bianca seperti dulu? Silahkan lakukan paman. Bianca masih seperti Nona kecil paman, Meskipun keadaanya berbeda."Ujar Bianca membuat pelayan itu terenyuh. Dengan tangan yang sedikit gemetar, pelayan itu mengusap pucuk kepala Bianca dengan penuh peraduanya membuat Wanita hamil itu tidak kuasa menahan air matanya.
"Terima kasih Paman, Terima kasih karena selama ini paman menjaga dan menyayangi Bianca seperti layaknya Putri kandung. Paman dan lainnya begitu banyak melimpahkan kasih sayang kepada Bianca, membuat Bianca lupa, bahwa Bianca tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua Bianca."Terlalu tenggelam dalam duka dan penderitaanya dan orang orang yang membenci kehadiran nya, membuat Bianca melupakan bahwa masih ada kenangan indah dan orang orang yang menyayanginya di sekitarnya.
__ADS_1
"Nona Jangan bersedih, itu tidak baik untuk perkembangan Kandungan Nona."Kata pelayan itu yang kemudian menyeka air mata Bianca.
"Paman yang membuat Bianca bersedih! Jadi jangan salahkan Bianca, Jika Bianca menangis."Tukas Bianca dengan mencebikan bibirnya.
"Baiklah baiklah, Maafkan paman Nona kecil."Pelayan itu terkekeh akan ucapannya sendiri. Paman pelayan itupun segera pamit kepada Bianca sekaligus memanggil teman seprofesinya untuk menemui Bianca.
Bianca menatap punggung tegap itu yang semakin jauh dari jangkauanya, Hatinya tersentuh akan semua perkataan dan perbuatan Paman pelayan itu, Membuat Bianca tanpa sadar tersenyumlah begitu lebar sehingga menampilkan lesung Pipit di kedua pipinya.
"Kak Liza benar."Guman Bianca kembali mengingat semua perkataan perkataan Liza di malam terakhir pertemuan mereka. Saat Liza menyuruhnya untuk berubah dan tidak terfokus dengan orang orang yang membencinya.
Terlalu larut dalam lamunannya, membuat Bianca tidak menyadari bahwa seorang wanita parubaya berdiri di hadapannya dengan tatapan matanya memancarkan kerinduan yang mendalam.
"Nona Bianca."Panggil bibi Ellen sembari menyentuh wajah Bianca dan merabanya.
"Bibi Ellen!"Bianca tersentak dalam lamunannya. Jika seperti sebelumnya Bianca akan memeluk dan mencurahkan kerinduanya saat pertemuan mereka. Kini Bianca hanya terdiam dan menatap bibi Ellen dengan datar.
"Kenapa Nona menatap bibi seperti itu?" Dan Jika biasanya Bianca akan meminta kepada bibi Ellen untuk tidak berbicara formal kepadanya, kini Bianca diam saja. Sehingga membuat wanita parubaya itu bertanya tanya akan sikap yang di lakukan Bianca saat ini.
Wanita hamil itu tampak menghembuskan nafasnya, lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Jujur perasaan Bianca saat ini sedang kacau antara ingin mengetahui kebenaran apa yang terjadi atau pura pura tidak tahu.
"Katakanlah Nona, Semua yang ingin Nona bicarakan kepada bibi."Walaupun Bianca belum berbicara satu katapun, akan tetapi bibi Ellen mengetahui ada yang ingin di bicarakan oleh Bianca kepadanya.
Bianca menatap wajah wanita yang membesarkannya dengan penuh arti.
"Kenapa bibi Ellen berbohong kepada Bianca?"Kata Bianca dengan memilin ujung baju yang dia kenakan.
"Ma-maksud Nona A-apa?"Ucap bibi Ellen dengan terbata-bata. Kini bibi Ellen merasa gusar akan pertanyaan dari Bianca. Wanita parubaya itu merasa Bianca sudah mengetahui rahasia besar yang selama ini dirinya dan para pelayan lain tutupi.
"Bibi Ellen tidak usah pura-pura tidak mengerti apa yang Bianca bicarakan." Sarkas Bianca dengan suara yang menjajam."Kenapa bibi Ellen dan yang lainnya membohongi Bianca, Bahwa ibu kandung Bianca telah tiada?"Imbuh Bianca dengan suara yang lirih.
"A-apa yang Nona bicarakan? Bibi Ellen tidak mengerti?"Bibi Ellen berkata dengan gusar, bahkan kedua matanya enggan untuk menatap Bianca.
"Kenapa di saat semuanya sudah terbongkar, Bibi Ellen masih saja berkata bohong kepada Bianca? Katakanlah bi, Jelaskan mengapa kalian membohongi Bianca selama ini? Bianca ingin mengetahuinya bi? Apakah karena Bianca anak hasil dari pemerkosaan, Sehingga Bunda Bianca tidak sudi menanggap Bianca anaknya?"Bianca berucap dengan suara yang tercekat bahkan tanpa terasa cairan bening keluar dari pelupuk matanya.
"Bukan seperti itu Nona."Sahut Bibi Ellen. Wanita parubaya itu tidak bisa berkata kata karena memang yang di katakan oleh Bianca adalah salah satu alasan Liliyana pergi meninggalkan Bianca saat wanita itu baru saja melahirkan.
"Lalu seperti apa bibi? Coba jelaskan kepada Bianca, Agar Bianca tidak menduga duga akan sesuatu yang tidak pasti."Kata Bianca dengan menggebu-gebu.
"Nona."
"Katakanlah Bibi Ellen! Bianca siap mendengarkan semua penjelasan dari bibi,
Walaupun kebenaran itu menyakitkan bagi Bianca."Desak Bianca dengan tidak sabar.
"Maafkan kami Nona, Ini keputusan kami semua untuk merahasiakan semua itu dari Anda. Kami tidak ingin Anda terluka karena ibu kandung Anda tidak menginginkan kehadiran Anda."Bianca memejamkan matanya saat mendengar semua penjelasan penjelasan dari mulut wanita yang membesarkannya. Sungguh hati Bianca hancur saat mendengar semua kenyataan itu.
"Apakah Semua Cerita yang Bibi ceritakan kepada Bianca, hanyalah karangan bibi semata?"Bianca menyeka air matanya dan tersenyum getir. Tidak ada yang tahu hancurnya perasaan wanita hamil itu, Namun untuk saat ini Bianca berusaha tegar.
"Maafkan saya Nona."Bibi Ellen sudah tidak mempunyai keberanian untuk menatap Bianca."Anda terlalu kecil saat itu untuk tahu kebenarannya dan kami tidak ingin Anda terluka."Sambungnya.
"Nyatanya Bianca tetap terluka saat mengetahui kebenarannya. Baik dulu maupun sekarang, Andai dahulu bibi menjelaskan nya kepada Bianca mungkin Bianca tidak terluka seperti ini."Tutur Bianca dengan suara penuh kekecewaan begitu pun dengan tatapan matanya.
"Nona..."Panggil bibi Ellen saat Bianca berjalan pergi meninggalkan nya.
"Bisakah Bibi meninggalkan Bianca? Bianca butuh waktu sendiri bi."Pinta Bianca tanpa menatap lawan bicaranya.
"Tapi Nona,"Sahutnya.
"Bianca mohon bi."Bianca mengatupkan kedua tangannya dan mau tidak mau Bibi Ellen pun mengiyakan permintaan Bianca. Sebelum pergi meninggalkan Bibi, tangan rentanya berusaha menggapai wajah Bianca namun wanita hamil itu menghindari nya dengan memalingkan wajahnya, sehingga membuat tangan itu hanya menggapai udara.
"Bibi Permisi Nona."bibi Ellen menatap sedih Bianca, begitu fatalkah kesalahannya sehingga Bianca enggan untuk menatapnya dan Bianca hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Maafkan Bianca bi."Lirih Bianca menatap punggung renta itu semakin jauh dari jangkauanya.
Jangan lupa
Like
Comment
Favorit
__ADS_1
Vote
Rate