Oh My Baby

Oh My Baby
Part 60


__ADS_3

Di depan ruang tunggu tampak Bianca duduk dengan gelisah menunggu selesainya operasi yang di jalani oleh sang anak saat ini.


Ke khawatiran menyelimuti wanita satu anak itu. Ini sudah beberapa jam berlalu, akan tetapi tidak ada tanda-tanda satu pun akan selesainya operasi yang kini tengah di jalan oleh Briana. Rasanya ingin sekali Bianca menerobos pintu kaca yang ada di hadapannya untuk melihat kondisi sang anak saat ini.


"Aku harus bagaimana Tuhan? Apa yang harus aku lakukan?"Guman Bianca tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu kaca yang ada di hadapannya.


Hati Bianca semakin di liputi kegelisahan dan ke khawatiran saat tidak ada satupun tanda-tanda lampu operasi itu akan mati. Tanpa terasa air mata itu keluar dari kedua pelupuk wanita itu saat ketakutan akan pikiran-pikiran buruk kembali menghantui Bianca tentang apa yang terjadi kepada Briana di dalam sana. Bagaimana jika operasi sang anak gagal? Bianca tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi kepada dirinya jika semua kemungkinan buruk itu terjadi kepada sang anak.


"Ya Tuhan, Ku mohon lindungi lah anak hambamu ini dan lancarkan lah semua jalannya operasi anak hambamu ini Tuhan." Pinta Bianca dengan mengadakan kedua tangannya berdoa kepada sang pemilik kehidupan agar melancarkan jalan operasi yang kini tengah di jalani oleh sang anak.


"Bianca..."Panggil seseorang dengan nafas yang tersengal-sengal seraya menghampiri Bianca.


"Nenek..."Pekik Bianca saat melihat Nenek Clara tengah berjalan menghampiri dirinya dengan langkah yang tergesa-gesa.


"Ada apa Nek? Kenapa Nenek ada di rumah sakit?"Tanya Bianca berusaha menutupi kegelisahan di wajahnya dari wanita yang telah memberikan nya dirinya bantuan beberapa tahun yang lalu itu.


"Kenapa tidak memberi tahukan kepada wanita tua ini, Bahwa Briana di operasi hari ini?"Tanya Nenek Clara dengan menghela nafasnya dengan kasar saat melihat wajah sendu wanita yang telah dia anggap sebagai anaknya sendiri itu.


"Tidak apa-apa Nek, Bianca tidak ingin mengganggu waktu Nenek yang kini tengah berkumpul dengan keluarga Nenek."Ucap Bianca berusaha tersenyum di hadapan wanita tua itu.


"Tidak usah tersenyum seperti itu, Jika di paksakan..!!"Tukas Nenek Clara dengan menepuk punggung ringkih wanita itu.


"Maafkan Bianca Nek..."Ujar Bianca seraya membantu Nenek Clara untuk duduk di kursi yang dia duduki beberapa saat yang lalu.


"Sebenarnya apa yang terjadi kepada Briana saat ini Bianca? Dan Kenapa gadis kecilku harus di operasi?"Tanya Nenek Clara dengan sekali tarikan nafasnya.


Jika saja dirinya tidak menempatkan salah satu pengawalnya tanpa sepengetahuan Bianca, mungkin saja saat ini dirinya tidak mengetahui akan kabar operasi yang akan di jalani oleh Briana saat ini.


Bianca pun menceritakan awal mula bagaimana bisa Briana masuk rumah sakit, tentang Briana yang tiba-tiba menanyakan keberadaan sang Ayah dan perdebatan antara Bianca dan Briana, sehingga mengakibatkan Kolaps nya Briana saat itu. Tidak lupa dengan diagnosa Dokter akan penyakit jantung bawaan yang kini tengah di derita oleh sang anak, sehingga Dokter menyarankan jalannya operasi untuk kebaikan dan kesehatan Briana.


"Ya Tuhan malang sekali nasib cucuku."Kata Nenek Clara dengan membekap mulutnya setelah mendengar semua penjelasan dari Bianca.


"Semua ini salah Bianca Nenek..!!"Seru bianca dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Seandainya saat itu Bianca tidak bodoh dan naif, mungkin saja saat ini kejadian nya tidak seperti ini. Briana tidak mendapatkan penyakit seperti ini dan kembaran Briana masih ada sampai saat ini."Ujar Bianca dengan memukul-mukul dadanya saat rasa sesak kian menghimpit dadanya. Pada saat mengingat kebodohan yang wanita itu lakukan di masa lalunya yang berakibat fatal bagi masa depan anak-anaknya.


Nenek Clara pun dengan cepat membawa tubuh ringkih bianca ke dalam pelukannya, pada saat melihat Bianca menangis pilu seperti itu, membuat siapa saja merasa iba mendengar tangisan pilu seorang ibu yang kini tengah meratapi nasib malang anaknya.


"Bianca takut Nek, Bianca takut jika terjadi sesuatu kepada Briana."Ucap Bianca di dalam pelukan wanita tua itu.


"Tenanglah, Semuanya akan baik-baik saja." Ucap Nenek Clara sembari mengelus punggung ringkih Bianca yang kini tengah bergetar karena tangisannya.


"Mamah..."Pekik Bunda Liliyana di ujung lorong sana sontak membuat Bianca segera menguraikan pelukannya saat mendengar suara wanita yang telah melahirkannya itu.


"Liliyana..."Nenek Clara menatap menantu nya itu dengan kening yang mengerut.


"Untuk apa kau kesini?"Tanya Nenek Clara tanpa melepaskan pelukannya.


"Mamah, Kenapa Mamah ke rumah sakit sendiri saja?! Bukankah Mamah saat ini sedang kurang sehat, Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Mamah saat di perjalanan?" Seru Bunda Liliyana tanpa sadar meninggikan suaranya di hadapan mertuanya itu.


"Liliyana...!!"Geram Nenek Clara saat mendengar apa yang di ucapkan oleh menantunya itu.

__ADS_1


"Benarkah seperti itu Nek?"Bianca pun segera menatap wajah renta wanita tua itu dan benar saja wajah Nenek Clara begitu pucat.


"Wajah Nenek pucat sekali.."Imbuh Bianca seraya mengusap wajah renta wanita tua itu.


"Tidak apa-apa sayang, Nenek baik-baik saja." Elak Nenek Clara tanpa menatap ke arah Bianca sedikit pun.


"Nenek, Nenek tidak perlu memaksa diri Nenek sendiri seperti ini. Nenek saat ini sedang sakit dan Bianca tidak apa-apa Kok sendiri disini."Tutur Bianca dengan sematan senyuman yang membuat Nenek Clara geram sendiri.


"Tidak sayang, Nenek akan ada disini bersamamu sampai operasi Briana selesai." Ucap Nenek Clara dengan tegas.


"Nenek...!!"Bianca menggelengkan kepalanya dengan helaan nafasnya yang terdengar kasar.


"Nenek, bagaimana jika setelah ini kesehatan Nenek kembali menurun? Dan Bianca tidak ingin semua itu terjadi kepada Nenek."Imbuh Bianca.


Bertepatan saat itu pintu ruangan operasi terbuka dan seorang suster keluar dari ruangan operasi itu dengan langkah yang tergesa-gesa dan Bianca yang melihat itu pun segera menghampiri suster tersebut.


"Bagaimana dengan operasi putri saya Sus?"


Tanya Bianca setelah menghampiri sang suster.


"Apakah Anda ibu dari pasien?"Tanya Suster itu di balik masker yang membalut wajahnya.


"Benar Sus, Apakah terjadi sesuatu dengan anak saya Sus?"Tanya Bianca dengan guratan ke khawatiran yang nampak jelas di wajah cantiknya.


"Mari ikut dengan saya Nyonya."Suster itu pun segera menyerahkan sebuah baju khusus kepada Bianca, membuat kening wanita itu mengkerut.


"Sebenarnya ada apa dengan anak saya Sus? Dan kenapa Anda menyerahkan baju Ini kepada saya?"Tanya Bianca bertubi-tubi.


"Marilah ikut dengan saya Nyonya! Waktu Anda tidak banyak..."Tukas Suster tersebut.


"Ma-maksud Anda apa Nyonya?"Ucap Bianca dengan terbata-bata.


"Bianca..!!"Nenek Clara dengan cepat menyanggah tubuh Bianca yang terhuyung ke belakang.


"Nenek..."Tanpa terasa air mata keluar dari pelupuk mata wanita satu anak itu saat membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi kepada anaknya.


"Mari Nyonya..."Seru sang perawat itu saat waktunya terbuang dengan sia-sia.


"Ba-baik Sus..."Balas Bianca seraya menatap ke arah Nenek Clara dengan penuh permohonan.


"Nenek pulanglah, Bianca tidak apa-apa kok sendiri."Ucap Bianca dengan menelan savilanya dengan susah payah karena pemikiran tentang kemungkinan terburuk yang terjadi kepada Briana kembali menghantui wanita itu.


Dengan perasaan yang campur aduk Bianca pun mengikuti langkah suster tersebut untuk masuk ke dalam ruangan operasi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tanpa terasa siang pun berganti dengan cepat, menutup hari dengan sejuta cerita yang beragam. Alunan musik menggema di setiap sudut ruangan yang bercahaya remang-remang itu, lautan manusia menarik dengan erotis dengan di iringi seorang DJ wanita yang tengah memainkan piring hitamnya. Menelisik indera pendengaran dan menghanyutkan setiap jiwa-jiwa yang kini tengah terlena dengan gemerlap nya dunia malam.


Ya begitulah cara Edward menghabiskan malam-malam nya selama ini. Kekecewaan dan pengkhianatan yang laki-laki itu rasakan membuat pribadinya berubah 180° derajat.


Entah berapa banyak minuman haram yang telah laki-laki itu tegak, untuk melupakan sejenak semua masalah yang kini menimpa dirinya.


"Dasar Ja'ang Sialan..!!"Umpat Edward sembari menegak kasar minuman yang ada di hadapannya.


Sementara itu tidak jauh dari tempat Edward, Sean dan Asisten Kai tampak menggelengkan kepalanya atas apa yang di lakukan oleh Tuannya tersebut.


"Apa yang harus kita lakukan Sean? Jika Tuan Edward terus menerus seperti ini, pasti akan berdampak buruk bagi kesehatan Tuan Edward."Ujar Asisten Kai tanpa melepaskan pandangannya dari arah Edward.


Sean tidak menjawab pertanyaan dari As IPisten Kai, Laki-laki itu kini tengah tenggelam dalam lamunannya. Asisten Kai memutar bola matanya malas saat melihat ke arah laki-laki yang ada di sampingnya.


"Ckck...!!"Decak Asisten Kai dengan tangan bersedekap di dada.


"Kai, Sepertinya kita harus mempercepat rencana kita. Jika terus menunda nya, maka tidak menutup kemungkinan jika rencana kita akan di ketahui oleh Tuan Edward."


Tutur Sean tanpa menatap ke arah Asisten Kai.


"Tunggulah sebentar lagi, Untuk saat ini waktunya tidaklah tepat."Balas Asisten Kai sembari menenguk cairan cairan berwarna kuning itu.


"Hmm..."Balas Sean dengan sebuah deheman.


Entah berapa banyak lagi minuman berakhcol yang kini di tengah oleh Edward dan menyisakan botol-botol kosong berserakan di sekitar laki-laki itu. Hingga tidak lama kemudian datanglah seorang wanita berpakaian seksi duduk di samping Edward tanpa meminta persetujuan oleh laki-laki itu.


"Tuan, Saya lihat Anda sendirian saja. Bolehkah saya menemani Anda?"Tanya Wanita itu dengan mengedipkan matanya ke arah Edward.


"Ckck... Tanpa meminta persetujuan ku pun, kau sudah duduk di samping ku Ja'ang..!!" Sarkas Edward dengan tersenyum sinis ke arah wanita yang ada di sampingnya.


Wanita itu hanya tersenyum dan tidak tersinggung akan perkataan kasar Edward, karena semua itu memang pekerjaan nya.


"Tuan..."Panggil wanita itu seraya merapatkan tubuhnya dengan Edward dan dengan sengaja wanita malam itu menempalkan bagian tubuh atasnya ke pergelangan tangan laki-laki itu.


"Ckck... Pergilah sebelum ku lakukan sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan sama sekali..!!"Desis Edward dengan menatap tajam wanita itu.


Wanita malam itu menelan Savilanya dengan susah payah saat mendapatkan tatapan tajam dari laki-laki yang menjadi incaran nya itu.


"Kenapa kau tetap diam seperti itu, Cepatlah kau pergi dari sini..!!"Sentak Edward dengan menggebrak meja yang ada di hadapannya.


"Ba-baik Tuan..."Ucap wanita itu dengan langkah lebarnya pergi meninggalkan Edward.


Jangan lupa


Like


Comment


Rate

__ADS_1


Vote


Favorit


__ADS_2