Oh My Baby

Oh My Baby
melukis


__ADS_3

Kiki memamerkan medalinya ke Jung Kook. Kiki lalu bercerita. "Kiki layi. Jatuh. Layi lagi." Kiki menunjukkan lutut kakinya yang agak merah.


Hana melihat medali Kiki. ~ Kiki sama kayak appa. Cepet larinya. Dulu appa juga sering menang lomba lari.


Kiki lalu mengambil hadiah lomba larinya yaitu satu set alat gambar. Ada buku gambar, ada pensil warna.


"Buat appa." Kiki menyerahkan hadiahnya ke Jung Kook.


"Buat appa?" Jung Kook terharu. Kiki kecil-kecil sudah bisa memberinya hadiah dengan hasil usahanya sendiri.


"Gomawo." Jung Kook berterima kasih. Ia menepuk-nepuk kepala Kiki.


"Appa mau nangis, tuh, Ki." Hana melihat mata Jung Kook yang mulai berair.


"Aku nggak nangis. Aku cuma terharu. Kiki kasih aku hadiah." Suara Jung Kook mulai serak. Tapi ia berusaha menahan air matanya. Ia akan dikatai cengeng jika air matanya menetes. Padahal tidak apa-apa sesekali menangis.


"Iya. Iya."

__ADS_1


"Appa, gambay." Kiki meminta Jung Kook menggambar sesuatu. Jung Kook membuka buku gambar dan mulai menggoreskan pensil.



"Keyinci." Kiki melihat Jung Kook menggambar kelinci. "Lagi." Kiki meminta Jung Kook menggambar kelinci lagi. Akhirnya ada banyak kelinci.


"Keyinci kuat." Kiki meninggikan tangannya. Menunjukkan lengan atasnya yang tidak kekar.


"Eh. Kookie, gimana kalau kamu bikin lukisan trus kita jual. Kita bisa jual lewat online juga. Kamu, kan jago gambar." Bakat melukis Jung Kook turunan dari ayah mereka.


Tadi sewaktu di perahu angsa Hana berkata, "Kookie ... Cerita ke aku kalau kamu ada pikiran. Aku mungkin nggak bisa kasih jalan keluar, tapi aku bisa mendengarkan. Setidaknya mengurangi bebanmu." Hana tahu Jung Kook sedang banyak pikiran setelah cedera.


Hana menanggapi. "Seperti yang kau tahu, aku tidak begitu setuju saat kau memilih jalan hidup sebagai petarung. Aku hanya mendukungmu. Wajah setampan ini sangat sayang jika bengkak-bengkak karena dipukul." Hana menempelkan jari telunjuknya ke pipi Jung Kook.


"Lebih tampan mana? Aku atau Jin Hyung?"


"Kamu tampan. Jin oppa juga tampan. Sama-sama tampannya. Kita lihat dulu ke depannya. Semoga ada jalan untuk kita. Satu atau dua bulan ini kita masih bisa bertahan dengan uang tabungan. Kalau masih belum cukup, kita bisa pinjam uang Kiki sebentar, nanti kita kembalikan. Aku rasa Kiki nggak masalah. Ia itu seperti bermain saat bekerja. Ia senang bisa ketemu anak-anak seusianya."

__ADS_1


Jung Kook memegang tangan Hana. Ia merasa sedikit lega. Ia tidak sendirian. Ada Hana di sampingnya.


Kembali ke saat ini.


"Tapi apa lukisan buatanku bakal laku?"


"Kita coba aja dulu. Kalau nggak laku, ya, jadi dekorasi rumah."


Mereka lalu pergi ke toko alat lukis. Membeli beberapa kanvas, kuas dan cat minyak.


Di rumah.


Jung Kook melihat kanvas yang masih putih kosong. Ia masih bingung harus menggambar apa. Ia melihat galeri fotonya. Ia akhirnya punya ide. Jung Kook mulai menggambar pemandangan di Gangwondo, tempat mereka berlibur dulu.



Hana sekali lagi takjub dengan bakat menggambar Jung Kook. Nilai mata pelajaran seni Jung Kook saat masih sekolah selalu tinggi.

__ADS_1


Lukisan buatan Jung Kook jadi. Hana mulai memotret hasil lukisan dan meng-upload ke media sosial dan online shop. Jung Kook lanjut membuat lukisan yang lain.


__ADS_2