Oh My Baby

Oh My Baby
Part 30


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Sudah beberapa Jam berlalu saat Edward menggagahi tubuhnya dengan paksa, Namun wanita hamil itu begitu enggan untuk menatap kedua matanya. Bianca menatap langit-langit kamar Edward dengan sendu dan cairan bening tidak henti hentinya keluar dari kedua pelupuk matanya. Bianca menatap punggung kokoh Edward yang tidur membelakanginya


"Hiks hiks..."Wanita hamil itu menggigit bibir bawahnya menahan isakan lirih yang keluar dari mulutnya."Ya Tuhan..! Cobaan apalagi ini Tuhan."Kata Bianca di sela isakan tangisannya.


"Kenapa Tuhan? Kenapa lagi-lagi Engkau menghancurkan dan meleburkan harapan hambamu yang malang ini. Tidak adakah satu takdir baik yang kau tuliskan di dalam kehidupan hambamu ini?"Ujar Bianca dengan memejamkan matanya saat rasa sesak begitu menghimpit di dalam dadanya, Seakan-akan ada sebuah batu besar menghimpit di dalam dadanya.


"Bisakah kau diam dan menghentikan suara tangisan menjijikkan mu itu!"Sentak Edward membalikkan tubuhnya dan menatap Bianca dengan tajam dan penuh kemarahan.


"Tu-tuan..."Lirih Bianca dengan terbata-bata. "Kenapa Tuan? Kenapa Anda melakukan semua ini kepada Saya? Bukankah Anda merasa Jijik kepada tubuh hina saya ini?"Tanya Bianca dengan bertubi tubi dan menyeka air mata yang tidak henti hentinya keluar dari kelopak matanya.


"Hentikan sandiwara murahan mu itu Ja'ang! Aku tahu di dalam hatimu kau pasti senang, atas apa yang telah terjadi kepada kita malam ini."Tukas Edward dengan menggebu-gebu dengan penekanan di setiap kalimatnya.


Bianca memalingkan wajahnya dengan sudut bibirnya tersenyum getir. Sungguh jika Bianca mengituki amarah yang membelenggu dirinya, Bianca ingin sekali berteriak dan memaki kepada laki-laki yang ada di hadapannya.


Edward bangkit dan dengan langkah yang lebar laki-laki itu berjalan menuju walk in closed. Nafas Edward memburu bahkan desakan nafasnya memecahkan kesunyian di dalam ruangan itu.


Rahang Edward mengerat dan gigi yang bergemurutuk seiring dengan amarah yang meliputi diri laki-laki itu. Dengan gerakan yang tergesa-gesa Edward memakai bajunya.


"Andreas Sialan..! Kau pasti yang menyuruh Kaisar untuk melakukan semua ini."Desis Edward dengan mengepalkan tangannya dengan erat.


Edward berjalan bersisian arah dengan tempat dirinya berdiri dan membuka sebuah lemari yang di dalamnya ada kotak brangkas. Tangan besar Edward menekan beberapa tombol angka di depannya dan seketika pintu brankas itu. Edward mengambil beberapa tumpukan uang di dalamnya, tanpa menutup pintu brankas nya kembali Edward berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan tersebut.


"Ja'ang..!!"Desis Edward mata elangnya menatap Bianca yang tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Bahkan Bianca belum mengenakan pakaiannya, hanya selembar selimut putih yang membalut tubuh polosnya.


Kedua manik rusa Bianca menatap ke sembarang arah dengan tatapan matanya yang begitu dalam, Sehingga membuat siapapun yang menatapnya akan ikut tenggelam dalam tatapan matanya.


Edward melempar semua uang yang ada di genggamannya ke wajah Bianca, Sehingga membuat uang-uang itu berhamburan di sekitarnya."Ambillah semua uang itu. Anggap saja itu bayaran atas tubuhnya yang telah ku pakai."Sarkasme Edward tanpa memikirkan bagaimana perasaan Bianca setelah mendengar semua perkataan nya.


"Tuan..!! Apa yang Anda lakukan?"Pekik Bianca berusaha menahan amarah yang semakin berkobar di dalamnya saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Edward.


Edward berdecih dan menatap Bianca dengan sinis, tidak lupa senyuman miring tercekat jelas di sudut bibirnya."Tidak perlu marah seperti itu. Bukankah ini yang kau inginkan dariku? Jadi kau tidak perlu bersandiwara dengan berpura-pura marah dan menangis atas apa yang terjadi kepada kau!"Sarkasme Edward dengan kedua tangannya yang bersedekap di dadanya.


"Sungguh Tuan! Anda telah salah jauh menilai saya seperti itu? Bisakah anda membuka sedikit mata hati anda dan lihatlah kebenaran yang ada di hadapan Anda."Kata Bianca dengan nafas yang memburu dan untuk pertama kalinya manik rusa itu berani membalas tatapan Edward.


"Aku sudah tahu apa yang ada di dalam pikiran mu, Jadi berhentilah bersandiwara yang menjijikkan ini. Atau uang yang ku berikan ini kurang untuk membayar tubuh mu yang telah ku nikmati."Edward tersenyum miring setelah mengatakan hal tersebut kepada Bianca.


Bianca menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan yang terkepal. Sungguh Bianca sangat muak atas perlakuan Edward selama ini kepada dirinya. Bianca memegang erat selimut yang membalut tubuhnya, tangan mungilnya mengambil lembar demi lembar uang yang berhamburan di bawahnya.


"Ambillah semua uang ini Tuan. Saya tidak memerlukan uang Anda ini."Kata Bianca sembari memberikan uang itu kepada Edward dengan paksa.


"Ckck, ternyata kau menjual tubuh mu dengan secara cuma-cuma! Apakah kau juga melakukan semua itu di luaran sana. Membiarkan semua pria-pria silih berganti menikmati tubuhmu secara gratis."Kata Edward dengan senyuman seringainya.


Plakk...!!


Tangan mungil Bianca mendarat keras di wajah tampan Edward, Sehingga membuat wajah Edward berpaling karena saking kencangnya tamparan Bianca.


Bianca membeku di tempatnya dengan kedua mata yang terbelalak, rasa kebas menjalar di telapak tangannya. Sungguh Bianca terkejut atas apa yang telah dia lakukan.


"Apa yang kau lakukan Ja'ang..!!"Pekik Edward tatapan mata yang menghunus tajam ke arah Bianca.


"Tu-tuan...!!"Bianca memundurkan langkahnya saat Edward berjalan ke arahnya. "Akhh..."Pekik Bianca saat tubuhnya terjerembab di atas kasur.


"Dasar Ja'ang Sialan..! Berani sekali tangan kotormu itu menyentuh tubuhnya."Ucap Edward menghimpit tubuh. "Lihatlah tangan kotor ini. Dengan tangan inilah tadi kau menampar ku. Benarkah?"Tutur Edward memegang tangan Bianca yang tadi menamparnya.


"Akhh..."Jerit Bianca saat Edward mencengkeram dan meremas tangannya dengan erat. Bahkan Bianca merasakan tangannya terasa remuk akibat perbuatan Edward kepadanya."Sa-sakit Tu-tuan Saya mohon lepaskan saya."Pinta Bianca dengan penuh harap dan tanpa terasa cairan bening kembali menumpuk di pelupuk mata wanita malang itu.


"Lihatlah, hanya pembalas kecil seperti ini kau sudah menangis dan memohon ampun kepada ku. Lalu, bagaimana jika aku mematahkan tanganmu yang sudah lancang menyentuh tubuhku?"Ujar Edward membuat Bianca bergetar di tempatnya.


"Tu-tuan..."Lirih Bianca dengan membelikan kedua matanya.

__ADS_1


"Aku adalah seorang O'deon dan Seorang O'deon tidak akan pernah melepaskan seseorang orang yang telah berani mengusik dan bermain-main dengannya."Bianca beringsut mundur berusaha terlepas dari Kungkungan Edward. Namun laki-laki semakin menghimpit tubuh Bianca membuat wanita hamil itu tidak bergeming di tempatnya.


Plakk...


Plakk...


Tanpa berkata tangan besar Edward menampar wajah Bianca berkali-kali. Membuat kedua pipi Bianca memerah dan sudut bibirnya sobek dan tidak sedikit mengeluarkan darah.


"Pergilah sebelum aku melakukan sesuatu lebih dari ini."Edward beranjak dari atas Bianca dan pergi begitu saja meninggalkan wanita hamil itu.


Bianca terjingkrak saat Edward menutup pintu dengan kencang. Bianca pun segera bangkit dan mengambil bajunya untuk kembali wanita itu pakai, Namun Bianca harus menelan pil pahit saat melihat bajunya yang sudah tidak layak pakai lagi karena perbuatan Edward.


"Ya Tuhan! Bianca harus bagaimana?"Decak Bianca menatap pakaiannya dengan berkaca-kaca. Bianca menatap ke sekeliling nya, tidak mungkin bukan Bianca keluar dari kamar Edward hanya dengan selembar selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Bianca menatap sebuah pintu yang berada di sudut ruangan yang tidak lain adalah ruangan wardrob Edward. Bianca bangkit namun sebelum itu Bianca terlebih dahulu mengunci kamar Edward dari dalam.


Bianca mengambil acak pakaian Edward dan menggunakannya dengan tergesa gesa sebelum laki-laki kejam itu kembali. Wanita hamil itu keluar dari kamar Edward dengan langkah yang lebar, sehingga membuat Bianca tidak menyadari seseorang berjalan bersisian dengannya. Bianca terhuyung beberapa langkah ke belakang dan menatap wanita yang di tabraknya dengan wajah piasnya.


"No-nona Cleona."Kata Bianca dengan menundukkan kepalanya dan meremat ujung baju yang dia kenakan.


"Hey! Apakah kau tidak punya mata!"Pekik dengan menatap Bianca dengan tajam. "Kenapa kau ada disini? Bukankah Edward sudah melarangmu untuk masuk ke dalam rumahnya! Dan apa yang kau lakukan! Kenapa kau memakai pakaian Edward." Imbuh Cleona dengan tatapan mata yang menyelidik.


Tanpa menjawab cercaan pertanyaan Cleona, Bianca berlari tergopoh-gopoh meninggalkan Cleona dan sesekali desisan terdengar dari bibir mungilnya karena rasa sakit di bagian tubuh bawahnya.


"Dasar tidak sopan!"Gerutu Cleona dengan menautkan kedua alisnya. Cleona pun kembali melanjutkan langkahnya, Namun saat melihat pintu kamar Edward perempuan itu mematung sejenak dan tidak lama wanita itu membelikan kedua dengan mulut yang terbuka lebar.


"Wanita itu keluar dari kamar dari kamar Edward dan memakai baju Edward. Apakah mereka melakukan itu...?"Ucap Cleona seraya menggerakkan jarinya seperti orang yang tengah berciuman.


Mata Cleona terbelak dengan mulut yang terbuka lebar."Astaga benarkah mereka melakukan itu?"Tanya Cleona kepada dirinya sendiri


_


_


_


Dengan membabi buta Edward memukul wajah dan tubuh Asisten Kai bertubi tubi. Dan Asisten Kai hanya bisa pasrah menerima pukulan dari sang Tuan, Karena memang Asisten Kai bersalah dan telah lalai menjaga Edward. Sehingga Edward kembali di jebak oleh seseorang yang ingin laki-laki itu hancur.


"Kaisar Sialan...!"


"Tidak becus...!!"


"Tidak berguna...!!"


Umpatan-Umpatan itu terlontar dari bibir laki-laki itu. Wajahnya memerah padam dengan rahang yang mengerat karena amarah yang membelenggu laki-laki itu.


"Kenapa kau melakukan itu..?!"Sentak Edward melayangkan kepalan tangannya ke rahang Asisten Kai yang tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya.


"Maafkan saya Tuan."Ucap Asisten Kai menahan rasa sakit di tubuhnya karena pukulan bertubi-tubi Edward kepadanya.


"Maafmu tidak berguna Sialan! Kau tahu apa yang kau lakukan?"Desis Edward dengan membolakan kedua matanya.


"Maafkan saya Tuan. Saya tidak mempunyai pilihan lain Selain itu Tuan. Karena Jika terlambat sedikit saja, Nyawa Anda menjadi taruhannya."Sahut Asisten Kai dengan tegas membuat Edward berdecih dan menatap Asisten Kai dengan sinis.


"Kau tahu? gara-gara perebutan mu, Aku harus kembali menyentuh wanita Sialan itu." Seru Edward kembali mengingat kejadian di malam dia harus kembali menyentuh tubuh Bianca. Wanita yang paling di bencinya dan wanita yang Edward ingin lenyapkan dari dunia ini.


"Maafkan saya Tuan. Hanya itulah satu satunya yang saya pikirkan untuk menyelamatkan Anda."Dan hanya maaflah yang bisa Asisten Kai katakan untuk mendapatkan pengampunan kesalahan dari Edward.


"Maaf maaf..! Apakah hanya itu yang bisa kau katakan?! Kau masih mempunyai pilihan yang lain, Selain itu. Bahkan aku lebih baik menyewa wanita malam untuk menyalurkan hasrat ku, dari pada kembali menyentuh wanita Sialan itu!"Desis Edward dengan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Edward pun kembali melayangkan beberapa tinjauan di wajah dan rahang Asisten Kai dan terakhir tendangan di tubuh laki-laki itu, membuat Asisten Kai mundur beberapa langkah karena tendangan dari Tuannya.


Ternyata keributan antara Edward dan Asisten Kai terdengar hingga keluar ruangan kerja laki-laki itu. Sehingga Cleona mendengar informasi dari salah satu pelayan segera ke ruangan kerja Edward dengan langkah yang tergesa-gesa. Dan Cleona terperangah melihat bagaimana brutalnya Edward memukul Asisten Kai.


"Edward! Apa yang kau lakukan?!"Pekik Cleona berusaha melerai dan menahan Edward yang tengah diselimuti amarah.


"Diamlah Cleona! Kau tidak perlu ikut campur urusanku!"Pungkas Edward seraya menyentak tangan Cleona yang tengah menahan tubuhnya. Sentakan Edward begitu kasar sehingga membuat tubuh wanita itu terhuyung ke belakang dan membentur meja kerja Edward cukup keras.


"Auchh..."Pekik Cleona dengan ringisan nya.


"Astaga kau tidak apa-apa?"Tanya Edward penuh ke khawatiran. Edward pun membantu Cleona untuk berjalan, Namun wanita itu menghempaskan tangan laki-laki sebelum mengenai tubuhnya.


"Tidak perlu aku bisa sendiri."Sargah Cleona tanpa menatap Edward.


"Ckck kau marah?"Ucap Edward dengan mendecakan bibirnya.


"Tidak! Siapa yang marah."Tukas Cleona dengan bersedekap di dadanya."Tapi bisakah kau merubah sedikit sifat burukmu itu?! Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan amarah dan berkelahi. Belajarlah bersabar dan menahan amarah mu."Sambung Cleona dengan serius dan Edward membalasnya dengan sebuah deheman.


Suara deringan telepon mengalihkan atensi Cleona dan Edward. Laki-laki itu berdecak membaca siapa yang meneleponnya dan Edward pun membiarkannya sehingga deringan telepon itu berhenti dengan sendirinya.


"Siapa? Kenapa kau tidak mengangkat telepon itu?"Tanyanya. Dengan malas Edward pun mengulurkan tangannya dan memperlihatkan siapa yang meneleponnya.


"Paman Julian? Kenapa kau tidak mengangkatnya? Mungkin itu penting?" Tanya Cleona dengan menyengritkan kedua alisnya.


"Tidak perlu, Aku tahu untuk apa laki-laki tua itu menelepon ku."Jawab Edward dengan malas. Karena memang setiap sang Papah meneleponnya hanya makian dan umpatan yang Edward terima dan berakhir dengan perselisihan di antara mereka yang membuat hubungan antara ayah dan anak semakin menjauh.


Namun tidak lama kemudian telepon Edward kembali berbunyi dan Sang Papah yang kembali meneleponnya.


"Angkatlah Edward. Mungkin paman ingin membicarakan sesuatu yang penting hingga menelepon mu berkali-kali seperti itu."Titah Cleona dan Edward pun menghela nafasnya sebelum mengangkat telepon dari Sang Papah.


"Halo pah, Ada apa?"Edward menjauhkan teleponnya saat suara memekikkan di seberang sana membuat amarah laki-laki itu tersulut."Kenapa tidak besok saja Pah. Saya sedang sibuk saat ini."Kata Edward dengan wajah datarnya namun sorot matanya penuh dengan kemarahan.


"Tidak bisakah Papah berbicara kepada saya dengan baik-baik? Tidak perlu berteriak-teriak seperti itu kepada saya?" Ucap Edward penuh penekanan. Edward memutar bola matanya malas mendengar jawaban dari sang Papah. "Baiklah, Saya akan kesana sekarang."Tanpa menunggu jawaban dari Sang Papah Edward pun memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Membuat Sang Papah di seberang sana mengumpat dan memaki atas perbuatannya.


Edward mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap ke sembarang arah. Sungguh berbicara dengan Sang Papah membuat mood nya buruk.


"Edward kau baik-baik saja?"Tanya Cleona melihat kesedihan di mata Edward dan Edward membalasnya hanya dengan sebuah deheman.


"Aku akan pergi dan Kau bantulah laki-laki itu mengobati lukanya."Ucap Edward melirik Asisten Kai yang tengah berdiri mematung di seberang sana.


"Baiklah."


"Tuan biarkan saya yang mengantarkan Anda ke rumah utama."Sela Asisten Kai langsung mendapatkan lirikan tajam dari Edward.


"Kau ingin mengantarkan ku dengan wajah yang seperti itu?"Cetus Edward."Obatilah lukamu dan beristirahatlah beberapa hari sampai lukamu sembuh."Titah Edward.


"Baik Tuan."Jawab Asisten Kai.


Jangan lupa


Like


Comment


Vote


Rate


Favorit

__ADS_1


__ADS_2