Oh My Baby

Oh My Baby
Part 56


__ADS_3

"Jika wanita itu kembali dan membuat kekacauan seperti ini lagi. Lebih baik kalian langsung usir saja tanpa menunggu perintah dariku!"Titah Edward dengan nada tegasnya.


"Baik Tuan..."Jawab para Resepsionis itu secara serempak sembari membungkukkan badannya saat Edward berjalan melewati mereka.


Setelah Gwen tidak terlihat lagi di hadapannya, Edward pun segera melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karena drama kecil yang di mainkan oleh Gwen tersebut.


Edward kembali ke dalam ruangan pribadi yang ada di dalam perusahaan yang telah di bangun oleh laki-laki itu selama Tujuh tahun terakhir ini.


Edward menenggelamkan dirinya dengan pekerjaan yang tiada hentinya untuk melupakan masalah-masalah yang menimpa dirinya selama ini. Dan berusaha melupakan semua rasa dendam dan kebencian yang di miliki oleh laki-laki itu walaupun semua itu sangatlah sulit bagi Edward melupakannya.


"Dasar wanita menjijikkan..!!"Desis Edward dengan mengeratkan rahangnya saat mengingat apa yang di lakukan oleh Gwen beberapa saat yang lalu.


Sementara itu saat ini Gwen meronta-ronta berusaha untuk melepaskan tangannya yang di cekal oleh para petugas keamanan yang di perintahkan oleh Edward.


"Lepaskan tangan kotor kalian dari tubuh ku Sialan...!!"Pekik Gwen dengan membolakan kedua matanya karena amarah yang meliputi wanita itu.


Para petugas keamanan tidak mengindahkan seruan dan pekikan dari Gwen, Meskipun wanita yang berprofesi sebagai model itu memaki dan mengumpat mereka atas apa yang kini mereka lakukan.


"Lepaskan aku Sialan..!! Kau tidak tahu siapa aku Hah..!"Sentak Gwen dengan meronta- ronta ingin melepaskan dirinya.


"Dasar Bodoh..!!"Umpat wanita itu kembali.


Tanpa Gwen sadari bahwa dirinya telah menjadi pusat perhatian karena lengkingan suara yang wanita keluarkan, bahkan ada beberapa yang merekam apa yang Gwen lakukan karena mereka tahu Gwen adalah salah satu model yang kini tengah naik daun.


"Akhhh..."Ringis Gwen saat tubuhnya di terhempas ke jalan dan membentur panasnya jalanan karena dorongan petugas keamanan tersebut.


Amarah wanita semakin memuncak mendapatkan perlakuan kasar dari pada petugas keamanan itu. Dengan nafas yang menderu kencang, Gwen bangkit dan menatap nyalang para petugas keamanan itu.


"Apa yang kau lakukan Sialan..!!"Pekik Gwen dengan berdecak pinggang atas perlakuan kasar yang dirinya terima.


"Silahkan Anda pergi dari perusahaan ini Nona, Sebelum kami bertindak lebih kasar dari apa yang Anda terima saat ini."Seru salah satu petugas keamanan itu, tanpa mengindahkan seruan dari wanita itu.


"Kau..!!"Tunjuk Gwen dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Sialan kalian semua!! Aku pastikan Kalian semua akan menyesal atas apa yang kalian lakukan kepadaku."Seru Gwen dengan nafas yang memburu karena amarah yang meliputi wanita itu.


"Apa yang kalian lihat Hah."Pekik Gwen dengan berdecak pinggang melihat kerumunan yang melihat dirinya.


"Bubar..!! Bubar...!!"


"Huhh..."Seketika sorak menggema mendengar sentakan keras Gwen.


"Maaf Nona, Silahkan Anda pergi dari sini sebelum kami bertindak lebih kasar dari apa yang Anda bayangkan."Seru petugas keamanan itu.


"Sialan kalian semua..!!!Tunggu pembalasan ku..!!"Desis Gwen menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan perusahaan Edward dengan amarah yang membara di dalam diri wanita itu.


Edward menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya sesekali helaan nafas Edward terdengar nyaring di dalam keheningan ruangan itu.


"Semua wanita memang menjijikkan..!!" Desis Edward saat mengingat apa yang telah di lakukan oleh Gwen beberapa saat yang lalu.


"Tuan..."Panggil seorang wanita yang tidak lain adalah sekertaris pribadi Edward yang sedang membawa beberapa berkas untuk Edward tanda tangani.


"Ada apa?"Ucap Edward tanpa membuka kedua matanya saat mendengar suara dari sekertaris nya.


"Bolehkah saya masuk Tuan?"Tanya sekertaris Nancy di balik pintu ruangan pribadi Edward.

__ADS_1


"Hmmm..."Edward pun membalasnya hanya dengan sebuah deheman dan tidak lama kemudian masuklah sekretaris nancy dengan melengak-lenggokan badannya menuju Edward tidak lupa kemeja ketat yang membalut tubuh sintalnya.


"Saya hanya ingin memberikan beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani Tuan." Ucap Sekertaris Nancy setelah berada tepat di hadapan Edward.


"Hmmm, Taruhlah di atas meja."Titah Edward melirik meja kerja yang ada di depannya.


"Baik Tuan..."Tanpa di perintah dua kali sekertaris Nancy pun menaruh berkas-berkas itu di atas meja kerja laki-laki itu.


"Apa saja jadwal ku hari ini?"Tanya Edward.


"Siang nanti, Anda memiliki pertemuan dengan perusahaan Orlando di restoran western dan di lanjutkan dengan makan siang bersama dengan beberapa perwakilan perusahaan Orlando."Ucap Sekertaris Nancy dengan menelan Savilanya dengan susah payah saat melihat cetakan otot Edward yang terlihat sempurna di balik kemeja yang laki-laki itu gunakan, terlebih lagi kini Edward menggelung lengan bajunya.


Edward tersenyum miring saat menyadari tatapan dari sekertaris nya itu. Bukan rahasia umum jika seorang Presdir memiliki hubungan terlarang dengan sekertaris nya, tidak terkecuali dengan Edward yang pernah beberapa kali melewati malam panas dengan wanita yang berprofesi sebagai sekretaris nya.


Meskipun Nancy mengetahui bahwa Edward adalah laki-laki yang memiliki segudang wanita. Namun wanita itu dengan sukarela menyerahkan tubuhnya untuk di nikmati oleh atasannya karena memang wanita itu menginginkan nya.


"Kemarilah..."Panggil Edward seraya menepuk pahanya agar wanita itu duduk di atas pangkuannya.


Tanpa di perintah dua kali Nancy pun segera duduk di atas pangkuan Edward, laki-laki itu tersenyum penuh arti saat sekertaris nya. tidak tinggal diam, tangan laki-laki itu menjelajahi tubuh sintal Nancy sekertaris nya itu membuat suara de'sahan dan erangan keluar dari bibir seksi Nancy sehingga memenuhi ruangan itu.


Edward memalingkan wajahnya saat Nancy berusaha mencium bibirnya. Karena bagi Edward berciu'man bibir hanya untuk pasangan yang saling mencintai saja. Tidak sepertinya dirinya yang menganggap wanita hanya sebagai pelampiasan nafsunya saja.


"Kau melupakan peraturannya Nancy..!!"Desis Edward dengan mencengkeram bahu nancy dengan sangat kencang membuat wanita itu menggigit bibirnya dengan kuat menahan rasa sakit yang kini dirinya terima.


"Ma-maafkan saya Tuan..."Ucap Nancy dengan terbata-bata karena menahan nyeri yang dia terima. Nancy terlalu terbuai akan sentuhan yang dia terima dari Edward, sehingga membuatnya melupakan bahwa Edward paling tidak menyukai seorang wanita pembangkang.


"Maaf katamu..!!"Pekik Edward semakin mengeratkan cengkraman tangannya di bahu sekertaris nya itu.


"Akhhh... Tu-tuan ampun sa-sakit."Pinta Nancy saat rasa sakit itu semakin menjadi-jadi Edward berikan kepadanya. Bahkan tanpa terasa air mata jatuh membasahi wajah wanita cantik itu.


"Ampun katamu..!!"Pekik Edward dengan mengeratkan rahangnya.


Edward merasa Dejavu melihat air mata Nancy dan seketika laki-laki itu kembali mengingat kenangan buruk masa lalunya bersama Bianca, Wanita yang telah menghancurkan kehidupan nya sehancur- hancurnya sehingga membuat Edward seperti ini.


"Sialan...!! Kenapa aku kembali mengingat wanita Ja'ang itu!"Umpat Edward di dalam hatinya.


"Tu-tuan..."


"Hentikan air mata menjijikkan mu Ja'ang..!!"


Desis Edward dengan mengeratkan rahangnya saat amarah laki-laki itu semakin memuncak.


Nancy mengatupkan bibirnya menahan isakan yang keluar dari bibirnya. Melihat sekertaris nya tidak menuruti perintahnya membuat amarah Edward semakin meluap.


"Dasar wanita Sialan...!!"Pekik Edward seraya menghempaskan tubuh Nancy dari pangkuannya membuat punggung wanita itu membentur meja kerja Edward cukup keras.


"Awww..."


"Sa-sakit Tuan..."Ringis Nancy dengan mendongkakan kepalanya menatap Edward dengan penuh permohonan.


"Sakit katamu..!! Lebih sakit mana saat kehidupan ku, Kau hancurkan dengan permainan murahan mu itu Ja'ang..!!"Seru Edward dengan lengkingan suara yang sampai terdengar keluar ruangan nya.


Sean yang saat itu posisinya berada tidak jauh dari ruangan kerja Edward, Segera melangkah dengan lebar menuju ruangan atasan nya itu.


"Astaga Tuan..."Kedua bola mata Sean membelik pada saat melihat Edward tengah membenturkan kepala Nancy ke meja kerja laki-laki itu.

__ADS_1


"Tuan apa yang Anda lakukan?!"Tanya Sean sembari berusaha menjauhkan Edward dari Nancy yang kini terbaring tidak berdaya di atas lantai.


"Lepaskan aku Sialan..!! Akan ku buat wanita Sialan itu menyesal karena telah bermain- main dengan ku!"Seru Edward dengan meronta-ronta dari cengkraman Asistennya itu.


"Tuan, Sadarlah wanita yang ada di hadapan Anda adalah Nancy sekertaris Anda! Bukan Nona Bianca..."Tukas Sean.


"Ohh Shitt...!!"Umpat Edward saat menyadari apa yang dirinya lakukan kepada wanita yang pernah memberikan nya beberapa kali kenikmatan itu.


"Nancy, Kau baik-baik saja?"Tanya Edward penuh nada ke khawatiran sembari menghampiri Nancy yang kini tengah menatapnya dengan penuh rasa ketakutan.


"Sa-saya baik saja Tuan."Ucap Nancy sembari beringsut mundur saat Edward menghampiri dirinya.


Edward mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat ketakutan di wajah sekertaris nya itu.


"Sean..."


"Iya Tuan..."


"Bawalah Nancy ke rumah sakit dan pastikan kejadian ini tidak di ketahui oleh siapa pun." Titah Edward dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Baik Tuan..."Jawab Sean sembari membawa tubuh lemah wanita itu ke dalam gendongannya.


.


.


.


.


.


Bianca tergugu dan mematung di tempatnya saat melihat interaksi sebuah keluarga bahagia di hadapannya. Entah seberapa dalamnya luka wanita satu anak itu hanya Tuhan dan dirinya yang tahu.


Setelah cukup lama berada satu ruangan dengan wanita yang melahirkannya, bianca kembali di kejutkan dengan kedatangan Marcel suami suami ibu kandung bianca di tambah dengan kehadiran sosok gadis kecil di dalam gendongan Marcell membuat luka di hati wanita itu semakin menganga dan berdarah.


Bianca menundukkan kepalanya saat melihat betapa sayangnya Bunda Liliyana kepada anak dalam gendongan suaminya itu. Tanpa sadar cairan bening itu keluar dari kedua pelupuk wanita malang itu.


"Kenapa Bunda tidak bisa menyayangi Bianca seperti Bunda menyayangi anak itu. Seandainya Bunda menyayangi Bianca, Mungkin keadaan Bianca tidak akan seperti ini. Apakah karena bianca anak haram? Sehingga Bunda tidak sudi membesarkan anak haram ini?"Guman Bianca di dalam hatinya dengan sejuta rasa sesak yang kian menyiksa batin dan perasaan wanita itu.


Briana memiringkan kepalanya dan mengerjap-ngerjabkan kedua matanya melihat cairan bening yang membasahi wajah cantik wanita yang melahirkannya itu.


"Mamah menangis?"Cetus Briana membuat Atensi semua orang yang ada di dalam ruangan itu menatap ke arah Bianca.


"Menangis? Mamah tidak menangis sayang." Elak Bianca dengan cepat menghapus air matanya itu.


"Benarkah? Tapi tadi Ana melihat pipi Mamah basah?"Kata Briana tatapan matanya tidak lepas ke arah Sang Mamah.


"Mungkin Ana salah melihat, Mamah tidak menangis sayang."Balas Bianca dengan senyuman khas wanita itu.


"Apakah karena Ana Mamah menangis? Jika benar Ana adalah alasan Mamah menangis, Ana minta maaf Mamah. Ana janji, Ana tidak akan menanyakan keberadaan Papah lagi, Jika semua pertanyaan Ana itu membuat Mamah bersedih dan menangis."Ujar Briana dengan menundukkan kepalanya persis seperti Bianca jika bersedih.


"Jangan berkata seperti itu Ana ini, Kamu bukanlah alasan Mamah bersedih. Namun, keberadaan kamu adalah kekuatan Mamah dan alasan Mamah bisa bertahan hingga saat ini."Seru Bianca dengan lembut dan membawa tubuh lemah anaknya itu ke dalam dekapannya.


"Benarkah seperti itu Mamah? Tapi Mamah benar-benar tidak menangis kan?"Tanya Briana kembali yang masih belum meyakini perkataan dari Mamahnya itu.

__ADS_1


"Benar, Sayangnya Mamah..."


To be continue


__ADS_2