
Brakk...
Bianca yang sedang memejamkan matanya pun terlonjak kaget saat pintu ruangannya di buka dengan sangat kasar, Sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring di dalam keheningan ruangan itu.
Suasana dingin nan mencekam membuat tubuh Bianca meremang di tempatnya pada saat kedua manik matanya bersitatap dengan seseorang yang begitu familiar baginya dengan sorot mata penuh kemarahan dan kebencian.
"Tu-tuan..."Cicit Bianca dengan memundurkan langkahnya saat langkah kaki laki-laki itu mendekati dirinya.
"Ja'ang...!!"Desis Edward dengan penuh penekanan.
"Semua ini gara-gara kau Ja'ang Sialan! Sejak kehadiran mu semua nya berubah. Kehadiran kau dan anak haram mu itu benar-benar aib yang harus ku singkirkan dalam kehidupan ku."Seru Edward dengan menggebu-gebu.
Seketika Bianca memeluk perutnya dengan erat, Saat mata Edward mengarah ke arah perutnya. "Jangan Tuan, Anda bisa memukul dan melakukan apapun di tubuh saya, Hingga Anda merasa puas. Tapi saya mohon Tuan jangan pernah sekalipun Anda menyentuh bayi-bayi yang ada di dalam kandungan saya."Pinta Bianca.
Edward tersenyum smrik saat dirinya menyadari bahwa kelemahan Bianca adalah bayi yang ada di dalam kandungan Nya.
"Bagaimana jika aku tidak menuruti permintaan mu?"
"Tidak Tuan, Jangan..!"
"Bukankah semua ini terasa adil. Aku kehilangan kekasih dan keluarga mu karena mu dan aku akan membuat mu kehilangan satu-satunya keluarga yang kau miliki. Bukankah semua itu terdengar cukup adil bagiku maupun dengan mu."Kata Edward berjalan perlahan menuju Bianca.
Ketakutan semakin menyergap wanita hamil itu. Bianca memundurkan tubuhnya. "Tidak Tuan, Jangan! Anda bisa melakukan apapun kepada saya. memukul, mencambuk ataupun itu kepada saya sehingga anda merasa senang dan puas."Seru Bianca dengan penuh permohonan.
"Tapi saya mohon Tuan, jangan sedikit pun Anda menyentuh kandungan saya. Bagaimana pun kehadiran bayi ini di dalam hidup Anda, bayi ini tetaplah darah daging Anda."Pinta Bianca dengan mengatupkan kedua tangannya kepada Edward.
"Kau pikir aku peduli? Mau bayi itu Anakku atau bukan aku tidak akan pernah peduli. Karena bagi siapa saja yang menghalangi jalan ku akan ku singkirkan mereka hingga ke akar-akarnya!"Pungkas Edward dengan penekanan di setiap kalimatnya.
"Tidak Tuan..."
Edward berjalan dengan perlahan dengan senyuman smriknya tercekat jelas di wajah tampannya.
"Jangan Tuan! Saya mohon..."Entah berapa banyak lagi Bianca memohon kepada laki-laki itu. Namun hati Edward yang telah membeku tidak mengindahkan permohonan dan air mata wanita itu.
"Ckck..! Dasar wanita Sialan..!"Decak Edward.
"Memohon yang benar jika kau ingin belas kasihku."Kata Edward dengan senyuman penuh arti.
"Benarkah Tuan...?"Binar kebahagiaan tampak jelas di wajah kuyu wanita hamil itu.
Edward hanya berdehem tanpa menjawab perkataan dari Bianca.
"Laku apa yang harus saya lakukan Tuan? Agar Anda membebaskan saya?"
"Bersujud lah dan memohon ampunlah kepada ku dengan merendahkan dirimu!"
Kata Edward dengan senyuman smriknya.
"APA...!!"Bianca membulatkan matanya saat Edward lagi-lagi berusaha merendahkan harga dirinya.
"Kenapa kau terlihat kaget seperti itu? Bukankah semua itu bukanlah hal pertama bagimu? Beberapa bulan yang lalu kau pun pernah melakukan semua itu?"
"Ta-tapi Tuan..."Bianca pun mengingatkan saat dirinya harus rela bersujud dan merendahkan harga dirinya agar bisa tetap tinggal di rumah sang suami.
Saat itu kandungan Bianca masih terbilang awal-awal, Namun sekarang kandungan Bianca telah berada di trimester terakhir dengan perut yang membulat itu pasti akan menyusahkan Bianca untuk bersujud di bawah kaki Edward.
"Tidak mau?"Ucap Edward dengan memutar mutar pisau di tangannya, entah kapan laki-laki itu mengambilnya.
"Tuan...."
"Baiklah...! Aku akan memberikan waktu Lima menit untuk mu mengucapkan salam perpisahan kepada bayi yang ada di dalam kandungan mu."
"Tunggu Tuan! Saya akan melakukan apa yang Anda inginkan, Asalkan Anda tidak akan menyentuh kedua bayi saya."Ucap Bianca dengan terpaksa.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi cepatlah kau lakukan, Sebelum aku berubah pikiran..!"Pungkas Edward.
"Ba-baik Tu-tuan..."
Dengan kedua tangan dan kakinya yang di rantai, Bianca berusaha bangkit dan perlahan-lahan menuju Edward yang kini tengah duduk di sebuah kursi yang ada di dalam ruangan itu.
"Merangkak lah..."Titah Edward.
"Tapi Tuan..."Bianca membola saat Edward mengatakan hal tersebut. Bagaimana mungkin dia merangkak dengan keadaan perut sebesar itu.
"Menantang ku...?"Edward menatap Bianca dengan tajam dan tidak lupa sebuah pisau yang sedang Edward genggaman.
Mau tidak mau Bianca pun merangkak dan berusaha menopang berat tubuhnya agar tidak menimpa perutnya.
Belum sempat Bianca sampai di tempat Edward, laki-laki itu bangkit dan menjambak rambut wanita itu. Membuat Bianca memekik kaget sekaligus kesakitan karena nya.
"Akhh.... Tu-tuan!"
"Kau pikir aku akan melepaskan mu hanya dengan permohonan mu itu!"Kata Edward semua mengeratkan jambakanya membuat Bianca mendongkakan kepalanya ke arah Edward.
"Sa-sakit...!"
Edward mendengus. "Gara-gara kehadiran mu dan anak haram mu itu aku kehilangan muka di hadapan teman-teman ku. Menjadi bahan cemoohan dan ledekan mereka, Kau tahu apa yang ku rasakan saat semua itu terjadi?"Tutur Edward dengan mengeratkan rahangnya.
"Rasanya aku ingin sekali kau dan anak Sialan mu itu pergi dari kehidupan ku dan dunia ini."Edward melepaskan jambakanya dan menghempaskan tubuh Bianca sehingga membuat tubuh wanita hamil itu membentur lantai dengan sangat keras.
"Akhh..."Rintih wanita malang itu.
"Hanya seperti itu kau bilang sakit?"Edward berjalan menuju Bianca dan mencengkeram rahang Bianca. "Lalu bagaimana perasaan sakit ku saat kau menghancurkan hidup ku dan membuat wanita yang ku cintai pergi dan hilang entah kemana?"
"Kau tahu Bianca Jackson...? Kau adalah wanita paling menjijikkan yang pernah aku temui selama ini. Bahkan perilaku mu lebih hina dari pada Ja'ang-ja'ang di luar sana."
Nafas Edward memburu dan amarah semakin mengambil ahli kesadarannya laki-laki itu, terbukti dengan Kilatan amarah dari sorot matanya.
Bianca tidak menyanggah satu pun kalimat hinaan yang Edward lontarkan kepada dirinya. Karena Bianca belajar dari kejadian sebelumnya jika amarah Edward akan semakin tersulut, bagaikan sebuah api yang di semburkan oleh minyak jika dirinya menjawab apa yang Edward lontarkan.
"Kau benar-benar wanita menjijikkan Bianca! Aku tanya berapa uang yang telah Marvin berikan kepada mu untuk bermain sandiwara murahan seperti ini?"
"Marvin? Siapa Marvin Tuan? Apa maksud dari perkataan Anda Tuan? Saya tidak mengerti!"Sahut Bianca berusaha menahan nyeri di rahangnya saat Edward semakin mengencangkan cengkraman nya.
"Tidak perlu lagi bersandiwara dengan ku Bianca! Kini, Aku sudah tahu siapa orang yang telah membayar mu untuk menjebak pada malam itu."Seru Edward penuh penekanan.
"Sepertinya Anda telah salah paham Tuan! Saya tidak pernah bekerja sama dengan seseorang yang bernama Marvin. Dan saya tegaskan satu kali lagi bahwa saya tidak pernah sekalipun berniat menjebak Anda, malam itu saya murni membantu anda yang sedang di hadang oleh sekelompok pria."
Timpal Bianca memberanikan dirinya untuk menatap mata biru Edward.
"Kau pikir aku percaya dengan kata-kata bualan mu itu!"
"Saya sudah memberitahukan semua kebenciannya kepada Anda dan semua itu terserah kepada Anda, ingin mempercayai semua perkataan saya atau tidak."
"Dan satu yang harus Anda tahu Tuan. Bahwa ada seseorang yang kini tengah mempermainkan kehidupan kita berdua tanpa anda sadari."Seru Bianca mencoba membuka pikiran dan hati Edward yang tertutup oleh dendam dan kebencian kepada dirinya.
Melihat Bianca yang tidak mengindahkan perkataannya dan tetep tidak mengakui perbuatannya membuat Edward semakin murka.
"Dasar wanita Sialan...!!"Desis Edward Edward dengan gigi yang bergemurutuk.
Laki-laki itu semakin mengeratkan cengkramanya di rahang Bianca, Seakan- akan dengan cengkramanya dia bisa meremukkan wajah Bianca. Belum sampai di situ Edward pun kembali membenturkan kepala Bianca di dinding dengan sangat kencang, sehingga tanpa terasa cairan berwarna merah tampak keluar dari pelipis wanita malang itu.
"Shhh..."Bianca nyeri yang kian menjalar di kepala dan sekujur tubuhnya.
"Kau dan anakmu memang hama yang harus ku singkirkan dalam kehidupan ku."
Sunggut Edward dengan belikan dengan matanya yang memancarkan api kemarahan di dalam sorot matanya.
__ADS_1
Entah mengapa Bianca merasakan suatu firasat buruk yang akan menimpa dirinya dan kedua bayi yang ada di dalam kandungan nya.
"Tuan..."Panggil Bianca.
"Jika memang kehadiran saya dan bayi ini adalah hawa yang harus anda singkirkan. Maka saya akan mengalah Tuan, Saya lelah berharap akan ada sebuah keajaiban anda akan menerima kehadiran kami. Biarkan lah kami yang mengalah dan pergi Tuan."Ucap Bianca dengan nada penuh ke putus asaan.
"Namun, bisakah saya meminta satu permintaan kepada Anda, sebelum kami pergi."Pinta Bianca penuh harap. Akan tetapi Edward hanya diam tidak menggubris perkataan dari wanita itu.
"Bisakah Anda mengusap perut saya, walaupun itu hanya sekejap saja."
"Kau pikir aku sudi melakukan hal yang menjijikkan seperti itu."Tukas Edward dengan mendecih.
"Saya mohon Tuan..."Walaupun Edward menolak, wanita itu tetap memohon kepada Edward agar melakukan sesuatu yang Bianca impikan selama ini.
"Siapa kau berani memerintah ku?!"Pekik Edward dengan nada menyentak.
"Baiklah jika memang Anda tidak bisa mengabulkan nya."Ucap Bianca dengan menundukkan kepalanya. "Meskipun saya harap anda mengabulkan permintaan kecil ini. Karena saya ingin bayi ini merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya walaupun hanya sebentar."Imbuhnya dengan suara menahan tangisannya.
Plakk...!!
Plakk....!!
"Cuihh.... Drama menjijikkan!"Decak Edward dengan tersenyum sinis.
Bianca memalingkan wajahnya saat tamparan itu mengenai kedua pipinya. Bahkan Bianca melihat bahwa telapak tangan Edward terdapat noda darah yang berasal dari pelipisnya.
"Akhhh..."Bianca terjingkrak saat Edward mendorong tubuhnya sehingga terlentang di atas lantai. Belum hilang keterkejutan Bianca, bola mata wanita itu membulat Edward menaiki tubuhnya dan mencekik lehernya dengan tangan besarnya membuat Bianca kesusahan untuk bernafas.
"Uhuk-uhuk.... Tu-tuan!"
"Bagaimana rasanya? Sesak bukan?"Tanya Edward dengan smriknya. "Inilah yang aku rasakan saat mengingat semua perbuatan hinamu yang telah menjebak ku! Jika saja kau tidak menjebak ku malam itu, mungkin keadaannya berbeda. Aku telah hidup bahagia dengan kekasih ku dan mungkin saja kami tengah menanti kehadiran buah cinta kami."
"Namun sekarang, Aku harus terjebak pernikahan dengan wanita yang telah yang telah menghancurkan kehidupan ku."
Bianca berusaha memberontak dan menahan cairan bening yang entah kapan bisa dia bendung kembali.
"Karena anak ini bukan? Kau masih bertahan dengan segala siksaan dan hinaan yang telah ku lakukan?"kata Edward dengan menujuk perut Bianca.
"Maka dengan anak ini pula, Aku akan memberikan alasan untuk mu pergi dari kehidupan ku."Seru Edward dengan penuh arti.
"Akhhh...."Bianca memekik dan menjerit saat Edward menendang perutnya, tidak sekali melainkan berkali-kali.
Sungguh kali ini perbuatan Edward telah melampaui batas-batas yang ada di dunia ini. Bahkan Bianca dapat merasakan sesuatu keluar dari jalan lahirnya.
"A-anda sangat jahat Tuan! Tindakan Anda kali ini benar-benar sangat keterlaluan Tuan. Bahkan seekor hewan pun tidak akan berbuat sehina ini dari pada yang Anda lakukan kepada saya."Kata Bianca di sela rasa sakit yang dia rasakan di sekujur tubuhnya.
"Akhhh... Sa-sakit Bunda."Jerit Bianca saat rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi.
Edward terkekeh dan senyuman penuh kemenangan tercekat jelas di wajah tampannya. Tidak ada rasa iba yang laki-laki itu rasakan, hati Edward merasa puas saat melihat Bianca tidak berdaya akan perbuatannya.
"Ini adalah balasan bagi seseorang yang telah berani macam-macam dengan seorang Edward O'deon!"Kata Edward di antara kekehan nya.
"Sean...!!"Panggil Edward kepada bawahannya itu.
Tidak lama kemudian datanglah Sean dan keterkejutan nampak jelas di wajah saat melihat keadaan Bianca, terlebih lagi melihat genangan darah di bawah kaki wanita itu.
"Bawa pergi hama ini. Buang dia sejauh mungkin sehingga tidak ada satupun orang yang dapat mengenali wanita Ja'ang itu." Tuan Edward dengan senyuman yang tidak sedikit pun luntur di sudut bibirnya.
"Baik Tuan..."Sean pun memanggil para bawahannya untuk membawa Bianca keluar dari ruangan itu.
"Anda benar-benar biadab Tuan! Sungguh sumpah demi Tuhan jika terjadi sesuatu kepada bayi yang ada di dalam kandungan saya, maka saya tidak akan ada kata maaf dari saya untuk Anda, meskipun Anda telah memohon dan bersimpuh di bawah kaki saya."Seru Bianca dengan penekanan di setiap ucapannya.
Jangan lupa Like Comment Rate dan Vote
__ADS_1