Oh My Baby

Oh My Baby
Part 33


__ADS_3

Asisten kai mengerutkan keningnya saat mendengarkan gumanan gumanan Edward. Dalam hati asisten kai menggerutu dan mengutuk apa yang di lakukan oleh tuannya tersebut.


"Tuan Sudah tahu tingkat toleransi meminum alkohol nya rendah, masih saja tetap meminum alkohol. Lihatlah apa yang sekarang."Guman asisten kai sembari berdecak di dalam hatinya atas kelakuan tuannya.


"Lihatlah saja kau wanita ja*ang! Aku akan membalas semua perbuatan menjijikkan mu itu. Dengan cara yang lebih menyakitkan dan tidak pernah kau bayangkan di hidup mu." Umpat Edward di ambang kesadaran karena minuman alkohol yang tengah laki-laki itu teguk.


"Tuan Edward di saat mabuk pun, masih saja ingat tentang nona Bianca."Kata Asisten kai mendengar gumaman Edward yang mengumpati Bianca."Hati hati Tuan, Perbedaan antara cinta dan benci itu sangatlah tipis." Asisten kai terkekeh sendiri atas apa yang di ucapkan oleh nya.


"Diamlah kau kai! Mendengar suara mu yang jelek itu, membuat ku semakin pusing." Desis Edward dengan menatap tajam Asisten Kai dengan wajah kuyunya.


"Tuan Edward ini. Di saat mabuk pun masih saja menyeramkan!"Tutur Asisten Kai yang hanya bisa menggaruk kepalanya saja yang tidak gatal, mendengar apa yang di ucapkan oleh Edward.


Saku Asisten Kai bergetar dengan di iringi dengan nada dering yang menandakan ada sebuah panggilan telepon. Asisten Kai pun segera mengangkatnya dan menaruhnya di telinganya dengan tatapan mata yang tertuju ke arah Edward.


"Iya Hallo. Ada apa?"Tanya Asisten Kai dengan seseorang di seberang sana.


"Maaf, Tuan Kaisar. Mengganggu waktu Anda." Kata Seorang wanita di seberang sana yang tidak lain adalah sekertaris laki-laki itu. Asisten Kai berdehem sebagai jawabannya. "Satu jam lagi kita mengadakan pertemuan dengan perusahaan xxx....."


"Batalkan saja rapatnya dan atur kembali pertemuannya untuk beberapa hari ke depan." Pungkasnya tanpa mendapatkan jawaban Sang Sekertaris, Asisten pun segera mematikan ponselnya dan kembali memasukkan handphonenya ke dalam sakunya.


Asisten Kai pun segera membawa Edward menuju mobilnya yang terparkir di sebuah parkiran khusus di depan salah satu bar mewah di dalam negeri ini.


"Hei Sialan minuman mu belum hadis! Kau ingin membawa ku kemana."Pekik Edward memberontak dan berusaha melepaskan diri dari Asisten Kai.


"Maafkan saya Tuan."Ucap Asisten Kai sebelum memukul tengkuk Edward, Sehingga membuat laki-laki itu tidak sadarkan diri. Asisten Kai pun meminta bantuan kepada pihak keamanan Bar untuk membantunya mengangkat tubuh besar Edward.


Mobil mewah itupun pergi meninggalkan bar tersebut dan melaju dengan kecepatan tinggi membelah padatnya jalanan ibu kota.


Tidak lama kemudian Asisten Kai pun sudah tiba di depan gerbang utama rumah mewah milik Edward dan para penjaga pun sudah bersiap untuk menyambut kedatangan sang tuan mereka.


Asisten pun memarkirkan mobilnya tepat di depan pelantara rumah Edward, Laki-laki itu pun segera keluar dari kursi kemudi nya dan berjalan dengan tergesa-gesa untuk membawa Edward yang kehilangan kesadarannya.


Asisten kai pun segera membawa keluar Edward dari mobil dan Asisten Kai pun kembali meminta bantuan kepada para penjaga yang tidak jauh darinya untuk membantu dirinya membawa Edward.


"Jika saja kau bukan Tuan ku, lebih baik aku lemparkan saja kau ke pinggir jalan."Gerutu Asisten Kai.


Kaki jenjang Cleona berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menuruni tangga, Namun langkahnya terhenti saat melihat tubuh Edward sedang di gotong oleh beberapa penjaga dan Asisten Kai.


"Ckck mabuk lagi."Decak Cleona dengan mengidikan bahunya. Karena memang bukan sekali dua kali dirinya melihat Edward yang mabuk, bahkan Cleona pun seringkali ikut Minum bersama dengan Edward.


"Nona..."Sapa Asisten Kai saat berpapasan dengan Cleona. Cleona hanya menatap datar Asisten Kai, Wanita itu masih saja kesal kepada laki-laki atas apa yang telah Asisten Kai lalukan.


_


_


_


Bianca mengerjab ngerjabkan kedua matanya untuk menyesuaikan pantulan cahaya yang membias ke dalam ke dalam kornea matanya. Warna putih mendominasi ruangan itu dengan bau obat-obatan yang tercium pekat di Indra penciuman wanita hamil itu.


"Aku dimana?"Rintih Bianca dengan memegangi kepalanya lantaran rasa nyeri yang menyerang dirinya. Bianca mengedarkan pandangannya ke segala arah, kening wanita itu mengkerut di sertai dengan helaan nafasnya yang memberat.


"Apakah ini di rumah sakit?"Kata Bianca seraya memijat pelipisnya.


Bianca mencoba untuk bangkit, Namun rasa nyeri yang mendominasi tubuhnya membuat Bianca kembali terbaring. Pintu ruangan di buka dari luar dan nampaklah seorang laki-laki yang tidak asing bagi Bianca.


"Do-dokter Andreas."Ucap Bianca dengan lirih namun dapat di dengar oleh laki-laki yang berprofesi sebagai dokter tersebut.


"Bianca..."Andreas dengan langkah yang lebar berjalan menuju Bianca."Kau sudah sadar?" Kata Andreas dan Bianca hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil.


Suasana canggung tercipta di dalam ruangan itu. Baik Andreas maupun Bianca tidak ada yang mengeluarkan satu patah katapun untuk mencairkan suasana kaku yang tercipta.

__ADS_1


"Hai Bianca..."Suara seorang wanita mengalihkan atensi Bianca maupun Andreas.


"Nona Cleona."Ujar Bianca dengan belikan kedua matanya. Wanita hamil itu mencoba untuk bangkit akan tetapi perutnya yang nyeri membuat wanita hamil itu memekikkan suaranya.


"Hati-hati Bianca! Jangan melakukan gerakan yang tiba-tiba seperti itu. Gerakan mu yang seperti itu bisa membuat kontraksi perutmu." Tutur Dokter Andreas dengan suara tegasnya.


"Ba-baik Dok."Bianca tersenyum di paksakan saat melihat wajah masam Cleona saat Dokter Andreas begitu memperhatikan dirinya.


Seorang perawat masuk ke dalam ruangan Bianca dan mengatakan kepada Dokter Andreas bahwa tiga puluh menit lagi, Laki-laki itu akan menjalani sebuah operasi.


"Bagaimana keadaan mu?"Tanya Cleona setelah Dokter Andreas keluar dari ruangan rawat Bianca.


"Saya merasa sudah baik-baik saja Nona. Terima kasih karena Nona Cleona dan Tuan Andreas telah membawa saya ke rumah sakit. Entah apa yang terjadi kepada saya dan bayi yang ada di dalam kandungan saya, Jika Nona dan Tuan Andreas tidak segera cepat membawa saya."Ucap Bianca dengan senyuman khas wanita hamil itu. Bianca bersyukur masih ada orang baik yang menolongnya tanpa pamrih.


"Tidak perlu berkata seperti itu. Kita semasa makhluk hidup harus sering membantu, Untuk saat ini Kamulah yang berada di pihak yang membutuhkan. Dan kita tidak tahu masa depan kita akan seperti apa, Mungkin di masa depan akulah yang akan berada di posisimu."Sahut Cleona membuat wanita hamil itu seketika memegang tangan Cleona seraya menggelengkan kepalanya.


"Jangan berkata seperti itu Nona! Cukup Bianca saja yang merasakannya, Jangan ada Bianca Bianca lainya di dunia ini."Tukas Bianca dengan tersenyum getir membayangkan semua kepahitan yang ada di dalam kehidupannya.


Cleona menatap wajah kuyu Bianca dengan lekat. Seorang wanita polos yang tidak mungkin melakukan suatu hal yang menjijikkan dan rendah seperti yang Edward telah sampaikan kepadanya.


"Nona Cleona..."Panggil Bianca saat wanita cantik yang ada di hadapannya menatapnya begitu lekat, Sehingga membuat Bianca merasa tidak nyaman.


"Nona Cleona..."Panggil Bianca sekali lagi dengan mengeraskan suaranya.


"Akhh... Iya?"


"Kenapa Nona menatap Bianca seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajah Bianca?"


"Ti-tidak."Elak Cleona dengan tergagap seraya membuang pandangannya."Kau sudah makan?"Ucap Cleona berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


Bianca menggelengkan kepalanya karena memang saat dirinya sadar, Wanita hamil itu belum makan sama sekali.


Terbesit di pikiran Bianca untuk pergi menjauh dan meninggalkan orang-orang yang membencinya dan selalu menorehkan luka untuknya. Namun semua itu langsung di tepis oleh Bianca. Bianca tidak ingin kedua anak yang ada di dalam kandungan nya lahir dan besar tanpa kehadiran seorang Ayah. Naif memang pemikiran Bianca, Setelah semua yang telah Edward lakukan kepada wanita hamil itu, Bianca masih saya berpikir bahwa suatu hari nanti Edward akan berubah dan menerima kehadiran Bianca dan kedua anaknya di bagian kehidupan laki-laki itu. Naif bukan? Apakah ada seorang perempuan polos dan sedikit bodoh seperti Bianca di dunia ini?


"Anak-anak Mamah? Bagaimana keadaan kalian di dalam sana? Terima kasih kalian tetap berada di samping Mamah selama ini."Kata Bianca seraya mengusap ngusap permukaan perutnya, Seolah-olah wanita hamil itu kini tengah berbicara dengan kedua anaknya yang ada di dalam kandungan nya.


"Hai Bian..."Sapa Cleona yang baru saja memasuki ruang perawatan wanita hamil itu. Tampak Cleona membawa sebuah paper bag besar dan menaruhnya di samping meja Bianca.


"Kak Cleona."Ucap Bianca berusaha bangkit dari pembaringan nya


"Hati-hati Bi, Jangan bergerak tiba-tiba seperti itu! Jika ingin bangun lakukanlah gerakan yang telah di ajarkan Dokter." Tutur Cleona sembari membantu Bianca untuk bersandar. "Dan Sudah berapa kali Kakak katakan, Untuk tidak memanggil Kakak seperti itu."Imbuh Cleona yang sudah berapa kali meminta Bianca untuk memanggilnya dengan sebutan Kakak.


"Maaf Nona, Sepertinya Bianca tidak bisa. Bianca hanyalah orang rendahan yang tidak sepatutnya berbicara seperti itu kepada Anda."Sahut Bianca dengan memilin ujung baju yang dia kenakan.


"Jangan berkata seperti itu Bian."Tukas Cleona yang tidak suka dengan perkataan Bianca.


"Ka-kak Cleona, Apakah Kakak sudah memberitahukan kepada Tuan Edward bahwa Kakak menemui Bianca? Bianca tidak ingin jika hubungan kakak dan Tuan Edward merenggang karena Bianca."Seru Wanita itu.


"Sebenarnya ada yang ingin kakak sampaikan kepadamu."Ucap Cleona dengan penuh keraguan.


"Apa Kak? Ceritakan saja, Tidak perlu ragu seperti itu."Kata Bianca yang dapat merasakan keraguan dari dalam diri Bianca.


"Sebenarnya Kakak dan Edward bukanlah sepasang kekasih. Kakak adalah sepupu dari Ayah Edward, Yaitu paman Julian." Terang Cleona sembari menatap wajah Bianca yang tidak berubah sedikitpun setelah apa yang telah dia ucapkan.


"Kenapa kau diam Bi? Jika Kau ingin marah kepada Kakak silahkan. Kakak ikhlas menerima kemarahan mu."


"Bianca tidak akan bertanya mengapa kakak melakukan semua itu kepada Bianca? Bianca mengerti, Pasti Kak Cleona mempunyai alasan yang kuat sehingga Kakak melakukan semua sandiwara itu kepada Bianca. Dan tidak ada gunanya juga jika Bianca marah ataupun benci kepada Kak Cleona, Karena semua itu telah berlalu."Tutur Bianca berusaha ikhlas atas apa yang terjadi kepadanya. Cleona menundukkan kepalanya, Wanita cantik itu merasa malu untuk mengangkat kepalanya di hadapan Bianca. Cleona menyesal telah mengikuti semua rencana Edward dan berdiam saja atas apa semua perlakuan dan perkataan Edward kepada wanita berhati mulia di hadapannya.


_


_

__ADS_1


_


Dentuman musik memekikkan telinga memenuhi seluruh ruangan itu. Lautan manusia menari dengan erotis tanpa mengenal batas baik laki-laki maupun perempuan. Mereka menari meliuk-liukkan tubuhnya di iringi oleh seorang DJ yang tengah memainkan piring hitamnya dengan energik.


Di lantai atas tepatnya di sebuah ruangan VVIP Club malam ternama di ibu kota, Terlihat sekumpulan pria tengah meneguk minum minuman dengan rakus, Seakan akan minuman inilah adalah minuman terakhir untuk mereka. Dan tidak lupa beberapa wanita berpakaian seksi duduk di kanak kiri mereka.


"Kev, Lo liat tadi Cewek yang pake baju merah itu. Dari tadi dia ngeliatin lu."Seru Axel sembari melirik ke arah Kevin dengan tersenyum menyeringai dan di balas decakan oleh Kevin.


"Enggak Doyan gue, Cewek Hotel."Sahut Kevin seraya meminum wine yang ada di gelasnya dalam satu kali tegukan.


"Emang kaya si Edward. Cewek hotel pun dia embat Juga."Seloroh Marvin dengan kekekan di akhir kalimatnya dan seketika suara tawa memenuhi ruangan itu.


Edward memegang erat gelas yang ada di genggamannya. Rahang laki-laki itu mengerat dengan gigi yang bergemurutuk. Amarah meliputi laki-laki itu, Edward paling tidak suka Jika ada seseorang yang membahas scandal nya dengan Bianca. Dan tanpa berkata Edward menghantam rahang Marvin dengan sebuah bogem mentah, Sehingga membuat laki-laki itu terpelanting ke belakang.


"Jaga Ucapan mu Sialan...!!"Pekik Edward dengan nafas yang memburu.


"Apa yang kau lakukan Edward?!"Seru Marvin menyeka darah yang ada di sudut bibirnya.


"Kau pikir hal seperti itu lucu untuk di tertawakan! Sungguh menyesal aku mempunyai teman seperti Kalian."Seru Edward berjalan meninggalkan ruangan itu. Laki-laki itu tidak bergeming maupun menoleh sedikit pun saat teman-teman berseru dan memanggil namanya.


"Ja'ang Sialan..! Jika saja kau dan Anak haram mu itu tidak masuk ke dalam kehidupan ku, Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi kepadaku."Ucap Edward dengan mengepalkan kedua tangannya.


Edward kecepatan yang tinggi, Laki-laki itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama mobil yang di Kendarai Edward telah sampai di kediaman mewah laki-laki itu.


Brakk....


Edward menutup pintu mobilnya dengan keras sehingga menimbulkan dentuman bunyi yang cukup besar. Tanpa menghiraukan para pelayan yang telah menyambut kepulangannya, Edward dengan jalan yang tergesa-gesa menuju sebuah tempat yang akan menjadi bulan bulanan kemarahan.


"Ja'ang...!"Desis Edward dengan tersenyum smrik melihat sebuah rumah kayu yang selama ini menjadi tempat wanita hamil itu bernaung.


Brakkk...


Lagi-lagi Edward membuka pintu kayu itu dengan sebuah tendangan yang kencang, seketika membuat pintu kayu terjatuh dari tempatnya.


"Kemana Ja'ang itu."Seru Edward yang tidak melihat keberadaan Bianca di rumah itu.


"Sialan...!!"Umpat Edward meninggalkan rumah kayu tersebut.


"Pak Jang...!"


"Pak Jang...!"


"Pak Jang....!"Panggil Edward dengan amarahnya. Tidak lama kemudian Pak Jang pun datang dengan langkah yang tergopoh-gopoh.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?"


"Kemana Wanita itu?"Tanya Edward tanpa basa-basi. Namun pak Jang diam sesaat karena laki-laki parubaya itu telah berjanji kepada Cleona untuk merahasiakan keberadaan Bianca dari Edward.


"Saya tanya sekali lagi. Kemana Wanita Sialan itu...!!"Sentak Edward dengan suara yang menggema di dalam ruangan itu.


Jangan lupa


Like


Comment


Rate


Favorit


Vote

__ADS_1


__ADS_2