Oh My Baby

Oh My Baby
Part 50


__ADS_3

Papah Julian menatap tidak suka ke arah Edward, terlebih lagi melihat tatapan remeh yang Edward layangkan kepada dirinya membuat amarah Papah Julian kembali menguasai diri laki-laki parubaya itu.


"Untuk apa kau kesini?"Tanya Papah Julian dengan suara mengeram menahan amarahnya.


"Beginikah cara menyambut Tamu Anda Tuan O'deon!"Jawab Edward dengan nada yang tidak salah sarkas.


"Cuihh..."Papah Julian berdecak dan menatap sinis Edward. "Jika kau ingin membuat keributan disini, Lebih baik kau keluar sebelum saya memanggil para petugas keamanan untuk menyeret dari perusahaan ini."Seru Papah Julian membuat sudut bibir Edward terangkat.


"Kaisar...!!"


"Iya Tuan..."


"Siapkan mobil, Sepertinya kedatangan kita tidak di sambut baik oleh Tuan O'deon." Kata Edward dengan menatap Sang Asisten dengan penuh arti.


"Permainan apa yang akan Anda mainkan Tuan."Guman Asisten Kai dengan menggelengkan kepalanya tanpa di sadari oleh siapapun.


"Baik Tuan..."Jawab Asisten Kai.


"Kai sepertinya Aku harus memikirkan kembali untuk menanamkan saham di perusahaan O'deon yang hampir bangkrut ini."Ucap Edward dengan suara rendahnya bagaikan sebuah bisikan. Namun dapat di dengar jelas oleh Papah Julian.


"Sialan...!!"Umpat Papah Julian di dalam hatinya saat mendengar ucapan Edward.


"Tunggu...!!"Pekik Papah Julian saat melihat Edward yang berjalan keluar dari ruangan nya.


Namun Edward tetap melanjutkan langkahnya seolah-olah tidak mendengar panggilan dari Sang Papah.


"Edward tunggu..!!"Papah Julian mencekal pergelangan tangan Edward membuat laki-laki itu mau tidak mau menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi Tuan O'deon?"


"Benarkah apa yang kamu katakan Edward? Kamu akan menanamkan saham di perusahaan O'deon?"Tanya Papah Julian dengan penuh arti. Bahkan suara dan nada laki-laki itu berubah begitu lembut sehingga menggelitik pendengaran Edward.


"Iya..."Ucap Edward dengan singkat membuat lengkungan di sudut bibir Papah Julian semakin terangkat. "Tapi itu sebelum Anda ingin mengusir saya dari sini."Imbuh Edward.


"Edward! Papah mohon bantulah perusahaan Papah ini Nak. Perusahaan ini adalah perusahaan turun-temurun dari Kakek mu, bagaimana mungkin kamu tega melihat perusahaan yang sudah di bangun oleh kakekmu hancur."Tutur papah Julian.


Edward tidak bisa menahan Senyumannya di kala mendengar Sang Papah memohon kepada dirinya. Sesuatu yang sangat Edward harapkan dari dahulu, dimana laki- laki sombong itu merendahkan harga dirinya di bawah kaki Edward.


"Jika memang Anda ingin memohon, maka memohonlah dengan benar. Mungkin dengan kau memohon dan bersimpuh di bawah kakiku, Aku akan memikirkan ulang untuk menanamkan saham disini."Ucap Edward tanpa menatap Papah Julian yang mematung di tempatnya karena ucapannya.


"Edward..!!"Pekik Mamah Eleana dengan membolakan kedua matanya. "Apa yang kau katakan Edward! Dia adalah Papah kandung mu dan tidak sepantaran kau berperilaku seperti itu."Seru Mamah Eleana dengan nada penuh peringatan.


Edward hanya berdecak tanpa berniat membalas perkataan wanita yang melahirkannya itu.


"Baiklah, Sepertinya waktuku tidak banyak lagi."Ucap Edward sembari keluar dari ruangan Papah Julian.


"Tunggu Edward..."


"Baiklah, Papah akan melakukan apa yang kau inginkan, tapi dengan syarat kau harus menepati semua perkataan mu yang akan menanamkan modal di perusahaan Papah."


"Mas...!!"


"Diamlah kau Eleana..!!"Tukas Papah Julian.


"Semua ni tidak benar Mas! Kau tidak seharusnya berlutut di bawah kaki anak mu Mas. Dan kau Edward! Kenapa kau bisa seburuk ini memperlakukan kedua orang tuamu."Seru Mamah Eleana dengan menggebu-gebu.


"Ckck menjijikkan...!!"Decak Edward dengan tersenyum sinis melihat perdebatan di antara kedua orang tuanya.


Entah terbuat apa hati Edward sehingga memperlakukan kedua orang tuanya seperti itu. Ataukah rasa kebencian dan amarah menutup hati nurani laki-laki itu.


"Kau benar-benar kejam Edward...!!"

__ADS_1


_


_


_


Sementara itu di sebuah ruangan yang berdominasi berwarna putih dengan bau obat-obatan begitu tercium pekat di dalam ruangan itu. Seorang wanita terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan alat-alat penunjang kehidupan mengelilingi tubuh ringkih wanita itu.


"Bagaimana Dok? Apakah sudah ada kemajuan pada pasien?"Tanya Seorang wanita parubaya yang tengah menatap wanita itu dengan penuh kekhawatiran.


"Sejauh ini kondisi pasien masih stabil." Jawab Sang Dokter dengan helaan nafasnya yang terdengar kasar menandakan bahwa Sang Dokter telah menjalankan hari yang berat saat ini.


"Lalu, Apakah ada kemungkinan pasien akan siuman dalam waktu dekat Dok?" Tanya wanita itu penuh harap.


"Maafkan saya Nyonya sebagai Dokter tidak bisa memastikan kapan pasien bisa sadar dari komanya. Karena kesadaran pasien tergantung dengan keinginan sembuh dari pasien itu sendiri."Mendengar penjelasan Sang Dokter membuat wanita parubaya itu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Tiittt...


Tiittt....


"Dok..!! Detak jantung pasien berhenti...!!" Pekik seorang suster dengan langkah yang tergesa-gesa berjalan menuju Sang Dokter.


"APA...!!"


Tanpa menunggu lama Sang Dokter masuk ke dalam ruangan meninggalkan wanita parubaya itu yang kini tengah mematung di tempatnya.


"Cobaan apalagi ini Tuhan..!!"Guman wanita parubaya itu dengan menatap nanar seorang wanita yang kini tengah terbaring lemah di atas pembaringannya.


Ingatan wanita tua itu kembali berkelana tentang kejadian beberapa waktu yang lalu pada saat dirinya menemukan seonggok tubuh wanita dengan kondisi tubuh penuh memar dan tidak lupa dengan darah yang mengalir dari inti wanita itu. Wanita parubaya itu mengira bahwa dia wanita itu telah tiada, Namun saat dirinya akan memanggil seseorang, wanita itu merintih membuat wanita parubaya itu tahu bahwa wanita itu masih bernyawa.


"Ya Tuhan, tolong selamatkan wanita ini. Hamba mu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika wanita itu tiada."Pinta Wanita parubaya itu kepada sang pemilik kehidupan.


Wanita parubaya itu tidak dapat membendung lagi tangisan saat mengingat sesosok bayi mungil nan cantik yang kini tengah memperjuangkan hidup di dalam inkubator dengan alat-alat penyokong kehidupan yang membelit tubuh mungilnya itu, keadaan yang tidak jauh berbeda dengan keadaan sang ibu.


Sementara itu di dalam ruangan para tenaga medis tengah bersusah payah untuk mengembalikan detak jantung wanita itu yang terhenti.


"Naikkan kembali tekanannya..!!"Titah Sang Dokter yang kini tengah melakukan kejut jantung kepada pasien wanita itu.


"Baik Dok.."Tanpa mendapatkan perintah dua kali sang suster itu pun mengiyakan perintah Sang Dokter.


Entah percobaan yang ke berapa suara nyaring yang begitu memekikkan telinga di dalam ruangan itu, memberikan tanda bahwa sang pasien masih bisa di selamatkan nyawanya.


"Syukurlah..."Ucap Sang Dokter seraya menyeka bulir-bulir keringat yang keluar dari pelipisnya.


"Anda berhasil kembali Dok, Anda memang hebat tidak salah jika Anda menjadi kebanggaan dari rumah sakit ini."Kata Suster yang membantu Dokter itu.


"Anda juga sangat hebat Sus..."Timpal Sang Dokter dengan senyuman simpul yang menghiasi sudut bibirnya.


Sang Dokter segera berjalan keluar dari ruangan rawat itu, guna memberitahukan kabar bahagia kepada wanita parubaya itu.


"Nyonya..."Panggil Sang Dokter.


"Dokter James..!!"Wanita parubaya itu lantas menghampiri sang dokter dengan langkah lebarnya.


"Hati-hati dengan langkah anda Nyonya..!!"


Seru sang Dokter melihat langkah wanita parubaya itu.


"Dokter...!!"Wanita parubaya itu tidak mampu bertanya tentang kepada sang dokter. Terlebih lagi dengan kemungkinan - kemungkinan buruk yang akan dokter itu sampaikan.


"Syukurlah Nyonya, Tuhan masih berbaik hati untuk memberikan keselamatan bagi pasien."Seru Dokter James membuat wanita parubaya itu merasa beban yang ada hilang seketika.

__ADS_1


"Syukurlah Tuhan, Kau masih memberikan keajaiban mu kepada hambamu ini."Kata Wanita parubaya itu dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Nyonya, Apakah sudah ada perkembangan tentang pencarian keluarga pasien?"


"Belum Dok. Bahkan sebelum saya ke rumah sakit, Saya terlebih dahulu ke kantor polisi untuk menanyakan apakah suatu ada perkembangan. Namun, nihil bahkan sampai saat ini, pihak kepolisian belum mengetahui identitas pasien seakan-akan ada seseorang yang sengaja menutupi akses kepolisian untuk mencari informasi tentang pasien."Tutur wanita parubaya itu.


"Tapi saja Dok, meskipun masih belum ada kepastian tentang identitas pasien. Anda tidak perlu khawatir dengan biaya rumah sakit, karena semua biaya pasien menjadi tanggung jawab saya."


"Tidak Nyonya Anda salah paham! Saya hanya berpikir siapakah orang kejam yang bisa berbuat sehina ini kepada seorang wanita hamil."


_


_


_


"Dasar Anak Sialan...!!"Pekik Papah Julian menggema di seluruh ruangan kerja laki- laki parubaya itu.


Ruangan kerja Papah Julian layaknya telah terjadi gempa bumi dengan barang-barang berserakan di dalamnya.


Harga diri yang selama ini Papah Julian Junjung tinggi Kini sirna seketika dan hancur sehancur-hancurnya saat dirinya bersimpuh di bawah kaki Edward sang anak. Mengingat semua penghinaan itu membuat amarah Papah Julian semakin menyala dan tanpa segan laki-laki parubaya itu melempar semua barang-barang yang ada di atas mejanya.


"Akhh....!!"


"Dasar Anak Sialan! Berani-beraninya bocah tengik itu memperlakukan dengan hina seperti itu. Jika saja bukan demi perusahaan, tidak sudi aku melakukan hal yang merendahkan harga diriku seperti itu." Papah Julian dengan nafas yang memburu dan kilatan-kilatan amarah tercekat jelas di wajahnya.


"Sudah Mas! Jangan marah-marah seperti ini, Semua ini tidak baik untuk kesehatan jantung kamu Mas."Seru Mamah Eleana dengan suara lirihnya dengan kedua matanya tidak berani menatap mata Papah Julian yang memancarkan api kemarahan.


"Apa tadi yang kau katakan? Berhenti..?!" Papah Julian berjalan menuju Mamah Eleana dengan tatapan menghunus tajam membuat Mamah refleks mundur mendapatkan tatapan penuh kemarahan dari laki-laki yang telah menemaninya tiga puluh tahun ini.


"Jangan seperti ini Mas...!!"Cicit Mamah Eleana saat tubuhnya sudah berapa antara dinding dan tubuh sang suami.


"Kenapa kau takut?"Seringai tampak jelas di wajahnya.


"M-mas...!!"


"Semua yang terjadi kepadaku gara-gara mu Sialan! Andai saja ku tahu jika suatu saat anak Sialan itu dapat memperlakukan ku seperti itu. Lebih baik aku melenyapkannya di saat dia berada di dalam kandungan mu."


"Mas Julian! Kamu tidak bisa berkata seperti itu. Seburuknya perlakuan Edward dia tetaplah anakmu dan darahmu mengalir di setiap aliran darahnya."


"Dan aku sangat benci mengingat bahwa anak Sialan itu adalah anakku. Lebih tepatnya anak yang tidak aku inginkan kehadirannya."Sahut Papah Julian dengan desisan di setiap kalimatnya.


Plakk...


"Stop Mas! Jangan berkata seperti itu lagi kepada anakku! Meskipun kamu tidak mencintaiku setidaknya berilah kasih sayang kepada Edward anakmu. Sudah cukup aku menanggung derita dengan kamu menyuruhku membesarkan dan merawat anak hasil perselingkuhan mu sendiri wanita Ja'ang itu. Sudah cukup aku yang menderita, tidak lagi dengan anakku!"


Tukas Mamah Eleana dengan cairan bening yang entah kapan keluar dari kedua pelupuk matanya.


"Beraninya kau berkata seperti itu Eleana O'deon..!!"Desis Papah Julian.


"Kenapa kau marah seperti itu Mas? Bukankah semua yang aku katakan adalah kebenarannya! Wanita mu itu adalah wanita murahan dan sangat menjijikkan. Bahkan derajat wanita penghibur lebih baik dari pada wanita mu itu Mas!!"Tukas Mamah Eleana seolah tidak melihat api kemarahan Papah Julian yang kapan saja berkobar.


Rahang Papah Julian mengerat dengan kedua tangan yang terkepal erat, mendengar wanita yang sangat di cintainya di hina dengan sedemikian rupa itu.


"Eleana O'deon..!!"Sentak Papah Julian di iringi dengan tangan besar laki-laki yang menampar wajah Mamah Eleana sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring di dalam ruangan itu.


Wajah Mamah Eleana berpaling ke samping karena saking kencangnya tamparan dari Papah Julian.


"Sekali aku mendengar kau menjelekkan wanita ku, Akan ku pastikan kau mendapatkan balasan yang tidak pernah kau bayangkan sama sekali."Seru Papah Julian penuh ancaman.


"Kau mengancam ku hanya demi wanita yang telah tiada itu Mas!"Sudah cukup selama ini dirinya berdiam dan menerima semua perlakuan Papah Julian kepada dirinya dan Edward, sehingga membuat hubungannya dengan sang anak merenggang.

__ADS_1


"Sepertinya selama ini aku sudah terlalu baik kepada mu Eleana. Sehingga membuat mu besar kepala saat ini."Dengan kasar Papah Julian menarik lengan Mamah Eleana dan membawa wanita itu masuk ke dalam ruangan pribadinya.


Jangan lupa Like Comment Rate dan Vote


__ADS_2