Oh My Baby

Oh My Baby
Part 69


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang berdominasi gelap seorang laki-laki tengah terbaring tidak berdaya di atas lantai dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Suara erangan dan desisan kesakitan sesekali keluar dari bibir laki-laki itu karena rasa sakit yang dirinya rasakan di sekujur tubuhnya.


Sementara itu di pojok ruangan Edward tampak duduk dengan senyuman seringai tercekat jelas di wajah tampannya. Edward berdecak dan menggelengkan kepalanya saat laki-laki itu memohon ampun kepada dirinya.


Edward pun bangkit dan menghampiri laki-laki yang kini tengah menatap Edward dengan penuh permohonan. Tangan dingin Edward memutar-mutar cambuk yang ada di pergelangan tangannya. Melihat apa yang di lakukan oleh Edward sontak membuat laki-laki itu berusaha bangkit dan menghindari Edward.


Edward terkekeh melihat apa yang di lakukan oleh laki-laki yang mengkhianatinya itu. Senyuman smrik bagaikan seekor predator yang tengah mengintai mangsa nya semakin tercekat jelas di wajah tampan Edward.


"Am-ampuni Sa-saya Tu-tuan..."Ujar laki-laki itu dengan nada terbata-bata.


"Ckck... seharusnya kau berpikir berulang kali sebelum mengkhianati ku..!!"Desis Edward dengan gigi yang bergemurutuk menahan amarahnya.


Cetarrr....


"Akhhh..."Pekik Laki-laki dengan melengkung kan badannya saat sebuah cambuk lagi-lagi menghantam tubuhnya.


Dengan tubuh payahnya laki-laki itu merangkak menuju Edward dan bersimpuh di bawah Edward untuk meminta pengampunan dari laki-laki yang telah dirinya khianati.


"Lancangnya kau menyentuh kakiku dengan tangan kotor mu itu..!!"Sentak Edward sembari menendang perut laki-laki itu membuatnya terpelanting beberapa langkah ke belakang.


"Tolong Tuan, Ampuni saya dan berikan saya kesempatan. Saya berjanji tidak akan mengkhianati Anda."Ucap laki-laki itu dengan menahan nyeri di sekujur tubuhnya


"Ampuni kau? Tidak! Aku tahu bagaimana orang seperti kau."Decak Edward dengan tersenyum sinis. "Orang seperti kau tidak boleh di beri kesempatan! Karena kau adalah orang yang sangat licik dan picik. Kau adalah orang yang tidak pernah belajar dari kesalahan dan kau akan mengulangi kesalahan yang kau lakukan. Lebih baik kau menerima akibat dari kesalahan yang kau lakukan. Jika aku mengampuni mu hari ini, mungkin saja esok hari kau akan merencanakan sesuatu untuk mencelakai ku."Seru Edward dengan menggebu-gebu mengingat semua pengkhianatan yang laki-laki itu lalu kepada dirinya.


"Tidak Tuan, Saya berjanji tidak akan mengkhianati Anda kembali."Ujar laki-laki itu dengan cepat.


"Sayangnya aku bukan orang yang sebaik itu mengampuni pengkhianat seperti kau." Tukas Edward dengan penuh arti.


Edward mengedarkan pandangannya dan menatap para bawahannya yang sedari diam melihat apa yang tengah dirinya lakukan.


"Pegang dia..!!"Titah Edward dengan tegas.


"Tidak Tuan, Ampuni saya..."Pekik laki-laki itu saat kedua bawahan Edward mulai memegang kedua tangannya.


jantung laki-laki itu berdetak kencang dan Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi pelipisnya. Melihat cambuk yang kini di pegang erat yang siap menghantam dan mengoyak daging di tubuhnya.


Tidak menunggu lama, Edward pun mulai menyabetkan cambuknya kepada laki-laki yang telah mengkhianatinya itu. Seiring dengan cambukan Edward laki-laki itu berteriak pilu kesakitan saat paku-paku yang ada di kepala cambuk mulai menghantam dan mengoyak dagingnya.


"Akhhh..."


Tidak hanya itu, Teriakan pilu dan penuh kesakitan kembali terdengar dimana kala Edward mulai menarik cambuknya itu.


"Akhh...."Tubuh laki-laki itu bergetar hebat karena rasa sakit saat paku-paku tajam itu menarik dagingnya seiring dengan tarikan cambuk Edward.


Edward kembali mengayunkan cambuknya dan lagi-lagi teriakan pilu penuh kesakitan menggema di ruangan bercahaya tamran itu membuat para bawahan Edward tercekat menyaksikan betapa kejamnya Sang Tuan.


Laki-laki itu bergumam dan lagi-lagi Kata permohonan terucap dari bibir laki-laki itu. Sungguh dirinya tidak sanggup menerima siksaan yang begitu kejam dari Edward.


Entah berapa banyak cambukan yang laki-laki itu terima. Kini laki-laki itu terbaring lemah di dinginnya lantai dengan darah segar yang mengalir dari punggungnya.


"Ampuni saya Tuan.."Ucap laki-laki itu dengan lirih.


"Ckckck..."


"Cambuk dia setiap hari dan ingat, jangan biarkan pengkhianat ini mati dengan mudah karena semua ini tidak setimpal dengan pengkhianat yang dia lakukan..!!"Seru Edward dengan nada penuh penekanan.


"Baik Tuan..."Jawab para pengawal itu dengan serentak.


"Tuan...!!"

__ADS_1


"Tuan Edward, Ampuni saya Tuan."


Dengan amarah yang masih membara di dalam dirinya, Edward berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Tidak peduli teriakan laki-laki itu memanggil dan memohon ampun kepada dirinya.


Seiring dengan langkahnya Edward merasakan perasaan yang tidak menentu dan tidak nyaman, saat sekelebat bayangan dimana dirinya mencambuk dan menyiksa Bianca saat wanita itu dalam kondisi hamil.


"Ckck... Kenapa aku memikirkan wanita Ja'ang itu."Desis Edward menggulung lengan kemejanya dengan deru nafas yang memburu.


Dengan langkah lebarnya Edward memasuki sebuah ruangan yang khusus untuknya. Deru nafas Edward masih terdengar memburu, bahkan guratan-guratan amarah masih tercekat di wajah tampannya. Harus kalian ingat, bahwa Edward sangat membenci dengan namanya pengkhianatan apapun alasannya.


Dengan kasar laki-laki itu membuka kemeja yang melekat di tubuh kekarnya. Bahkan tanpa terasa kancing kemeja laki-laki berhamburan di atas lantai.


Sebatang rokok dan segelas alkohol menjadi pelampiasan amarah laki-laki itu dan sesekali terdengar helaan nafasnya yang memburu memecahkan kesunyian ruangan itu.


"Tuan..."Panggil Sean di belakang tubuh Edward.


"Untuk saat ini aku tidak ingin mendengar kabar buruk yang kau sampaikan."Tukas Edward dengan tangan yang bersedekap di dada.


"Tidak Tuan..."Balas Sean dengan cepat.


Edward menukikan alisnya menunggu kelanjutan ucapan dari asisten pribadinya itu.


"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa besok Anda di minta hadir oleh Tuan Morgan dalam acara pembukaan taman bermain beliau."Tutur Sean.


"Katakan kepada Tuan Morgan, bahwa besok aku akan menghadiri nya."Kata Edward dengan cepat.


"Baik Tuan, Saya akan menyampaikannya kepada Tuan Morgan."Jawab Sean dengan menganggukkan kepalanya walaupun tidak di lihat oleh Edward.


"Apa lagi yang ingin kau sampaikan?"Tanya Edward dengan nada dinginnya.


"Tidak Tuan, hanya itu saja yang ingin saya sampaikan."Jawab Sean.


"Pergilah, Aku sedang ingin sendiri."Seru Edward dengan mengibaskan tangannya agar Sean segera keluar kamarnya.


"Baik Tuan..."Tanpa di perintah dua kali Sean pun segera dari kamar Tuanya.


Setelah Sean tidak lagi ada di ruangan nya. Edward tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar. Pandangan mata laki-laki itu menerawang, entah apa yang kini tengah di pikirkan oleh laki-laki itu. Namun kegusaran terlihat jelas di wajah tampannya.


Brakk...


Briana yang sedang merapihkan buku- bukunya pun terjingkak karena Lyara yang dengan secara tiba-tiba menggebrak mejanya.


Lyara mendelikan kedua matanya menatap Briana. Bulir-bulir keringat nampak jelas di wajah gadis kecil itu.


"Kau..!!"Pekik Lyara dengan menunjuk wajah Briana dengan memerah padam.


"Ada apa lagi ini Lyara?"Tanya Briana dengan berdecak malas.


"Dasar anak haram..!!"Seru Lyara dengan mengepalkan kedua tangannya saat mengingat hukuman yang dia terima karena Briana lupa membawa buku tugasnya.


"Sudah berapa Anna katakan! Bahwa Anna bukankah Anak haram. Anna punya Papah dan kalian pun sudah melihat Papah Anna." Balas Briana dengan sengit


"Kau pikir kami percaya?!"Jawab Lyara dengan dengan tersenyum penuh arti.


"Terserah kalian percaya atau tidak ucapan ku."Ujar Briana kembali membereskan bukunya dan berusaha tidak mempedulikan keberadaan Lyara dan teman-temannya.


"Beraninya Anak haram ini mengacuhkan ku."Ujar Lyara sembari memandang teman- temannya dengan tersenyum miring.


"Akhhh..."Briana menjerit saat Lyara menjambak rambutnya dan menariknya keluar dari kelasnya.

__ADS_1


"Lyara apa yang kau lakukan?!"Jerit Briana.


Tidak ada satupun teman kelasnya yang mempedulikan Briana, mereka seolah tuli akan teriakan kesakitan dari Briana atau lebih tepatnya mereka takut kepada Lyara karena Lyara adalah anak pemilik sekolah ini.


"Lepaskan aku Lyara..!!"Pekik Briana dengan menahan rasa sakitnya di kepalanya.


Lyara diam dan terus melangkah melewati lorong-lorong kosong tanpa melepaskan Jambak tangannya di rambut Briana.


Brukk...


Briana meringis saat punggungnya membentur tembok dengan cukup kencang karena dorongan Lyara.


"Akhh Sa-sakit..."Ringis Braina dengan menggigit bibir bawahnya menahan tangisannya.


Lyara dan teman-temannya tersenyum penuh kemenangan melihat raut wajah Briana kesakitan.


Byurr...


Dan tanpa Briana duga salah satu dari mereka menyiram tubuh Briana dengan seember air yang penuh dengan kotoran ke tubuh gadis kecil itu.


"Emang enak...?!"Cetus salah satu teman Lyara dengan nada mengejeknya.


"Lyara kenapa kamu jahat sekali kepada Aku? Apa salah Anna sehingga kalian bisa berbuat seperti ini kepada Anna."Pekik Briana yang tidak bisa lagi membendung air matanya.


Lyara beserta teman-temannya itu pun keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan seruan Briana. Briana meneteskan air matanya saat kembali mengingat semua perlakuan-perlakuan Lyara kepada dirinya.


"Hiks-hiks Mamah..."Briana meringkuk dan menangis tersedu-sedu saat rasa sakit di punggungnya kian terasa karena dorongan Lyara.


Apa kesalahan yang telah dia lakukan sehingga dirinya harus mendapatkan perlakuan seperti ini? Ataukah hanya karena kesalahan kecil seperti itu membuat nya mendapatkan kekerasan seperti ini? Bahka sang Mamah, Wanita yang telah melahirkannya tidak pernah menyakiti dirinya seperti ini.


Kenapa mereka begitu jahat kepadanya? Kenapa dirinya selalu menjadi bahan rundungan dari teman-temannya? Apakah salahnya sehingga dirinya di perlukan dengan kejam seperti ini?.


Pernah suatu hari Lyara mengatai sang Mamah dengan kata-kata yang tidak pantas dan Briana yang mengetahuinya pun berusaha melawan Lyara. Namun karena hal itu Lyara menguncinya di dalam gudang hingga malam menjelang.


Apakah Bianca tahu? Maka jawabannya tidak, karena Briana tidak pernah cerita kepada wanita yang melahirkannya itu tentang apa yang terjadi kepada dirinya saat di sekolah. Bisa di pastikan jika sang Mamah tahu, Bianca akan merasa khawatir dan menangisi nya dan Briana tidak ingin lagi melihat Sang Mamah menangis karenanya. Biarlah dirinya menjalani semua nya dengan sendirinya. Briana harus kuat demi Sang Mamah.


"Hiks-hiks Mamah Anna ingin pulang.."


Tangis Briana pecah saat mengingat Bianca rasanya gadis kecil itu ingin sekali di peluk oleh sang Mamah dan merasakan kehangatan tubuh wanita yang telah melahirkannya itu.


"Hiks-hiks Mamah..."Ucap gadis kecil


"APA...!!"Pekik Bianca saat salah satu guru Briana meneleponnya dan memberi tahukan bahwa sang anak di temukan dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Tubuh wanita malang itu bergetar, Berbagai pemikiran buruk kini menghantui wanita itu. Bianca takut, Jika sesuatu yang buruk terjadi kepada sang anak.


"Tidak! Tidak Tuhan..!!"Cairan bening tanpa terasa keluar dari kedua pelupuk matanya.


Wanita malang itu berlari meninggalkan tempat untuk dirinya mencari nafkah selama ini. Tidak peduli seruan beberapa teman seprofesinya memanggil namanya dan tatapan para pengunjung yang menatap dirinya dengan penuh tanya.


"Taksi...!!"Panggil Bianca berusaha menghentikan taksi yang melaju di hadapannya.


"Ya Tuhan! Bagaimana ini..?!"Tutur Bianca mengusap wajahnya dengan kasar saat tidak ada satupun taksi yang berhenti.


Tidak pantang arah, Bianca pun berjalan ke tengah jalan dan berusaha menghentikan sebuah mobil yang sedang berlalu lalang di hadapannya.


"Siapapun Tolong Saya."Ucap wanita itu dengan suara lirihnya.


Note; Bagi siapa saja yang merasa cerita saya ini begitu lama menuju ******* cerita yang teman-teman inginkan. Maka skip saja ya, karena aku nulis cerita ini masih panjang dan bagi teman² yang kurang berkenan atas cerita saya ini, Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya hanyalah seseorang yang mencoba mengisi waktu luang saya dengan hal-hal yang bermanfaat.

__ADS_1


__ADS_2