
Siang hari ...
Saat Jung Kook pergi ke tempat trainingnya ...
Ia mampir sebentar ke supermarket. Membeli beras, minyak goreng, gula, mi instan, teh dan sembako lainnya untuk ibu mertuanya.
Ia juga mengambil uang tunai di ATM karena kemarin ia hanya membawa sedikit uang tunai.
Jung Kook mengarahkan mobilnya menuju rumah ibu Hana.
"Mama ... Ini untuk mama" Jung Kook menyodorkan amplop berisi uang ke ibu Hana.
"Maaf ... Mama tidak bisa menerimanya" ibu Hana menyodorkan kembali amplop berisi uang ke Jung Kook.
"Sembako yang kamu bawa sudah cukup buat mama" ujar ibu Hana.
"Bila mama tidak menerimanya, saya akan melarang Hana dan Kiki untuk datang ke sini" ancam Jung Kook secara halus.
Ibu Hana akhirnya mau menerima uang dari Jung Kook "Gomawo"
Pintu di ketuk ...
Hana datang sambil menggendong Kiki.
"Kookie ..." kata Hana.
Ternyata Hana juga berkunjung ke rumah ibunya. Membawa sembako yang sama dengan Jung Kook tapi dalam jumlah kecil karena ia masih harus menggendong Kiki.
Mereka berbincang sebentar lalu berpamitan.
"Lain kali kami akan datang lagi, Ma" pamit Jung Kook.
"Kabari kami bila mama butuh sesuatu" pesan Jung Kook.
"Halmi ... Bye ... Bye ..." Kiki mencium neneknya.
__ADS_1
...🌼🌼🌼...
Keesokkan harinya ...
Hana pov
Saat ini aku dan Kiki berada di rumah mama. Jung Kook mengantar kami sampai depan gang karena ia harus berlatih di tempat trainingnya.
Butuh perjuangan lebih untuk bisa sampai ke rumah mama. Karena jarak yang cukup jauh dari rumah.
Belum lagi harus masuk gang dan menaiki anak tangga yang cukup banyak. Apalagi bila harus menggendong Kiki yang sudah semakin berat tiap bulannya.
"Halmi ... Akh ..." Kiki membuka mulutnya minta disuap mama. Tadi mama memasak ayam goreng fillet kesukaan Kiki. Sengaja ia memasak banyak untuk kubawa pulang.
Ki ... Biasanya Kiki langsung makan pakai tangan karena nggak sabar pingin makan sendiri. Tapi di rumah Halmi, Kiki selalu minta suapin.
Setelah selesai makan, Kiki bermain tangkap bola bersama neneknya.
Mereka berada di lantai. Kiki mendorong bola ke arah neneknya dan begitu juga sebaliknya bergantian.
Kiki kemudian tidur siang.
Aku dan Mama berbincang-bincang.
"Setahu mama, Jung Kook itu adikmu"
"Apa itu betul?" tanya mama.
"Betul, ma. Jung Kook itu adikku. Ia anak kandung orang tua angkatku" aku menjawab.
Aku tau apa yang akan menjadi pertanyaan mama selanjutnya. Pertanyaan yang sudah banyak ditanyakan orang-orang.
"Mengapa kalian bisa menikah?" Mama bertanya.
Karena Kiki.
__ADS_1
"Maaf, ma"
"Hana belum bisa menjawabnya sekarang" aku berusaha menghindari menjawab pertanyaan ini.
Tidak mungkin aku memberitahu mama kalau Jung Kook menodaiku.
Aku takut mama akan membenci Jung Kook.
Aku tak ingin mereka bermusuhan.
Keadaan kami sekarang sudah sangat baik. Aku tak ingin merusaknya.
"Tapi mama bisa lihat dari mata Jung Kook kalau ia mencintaimu" kata mama.
"Kalian menikah karena saling mencintai?" tanyanya lagi.
Tidak ... Awalnya hanya Jung Kook yang mencintaiku. Aku mau menikah dengannya karena Kiki. Bukan karena cinta. Kemudian aku bisa melihat tanggung jawabnya atas keluarga kecil kami. Aku perlahan-lahan mulai jatuh cinta padanya.
Kami berbicara cukup lama.
Kiki terbangun dan ikut duduk bersama kami.
"Appa ... " Kiki berlari menuju ke arah Jung Kook yang baru saja datang. Jung Kook menggendong Kiki. Mencium pipi Kiki berulang kali.
"Mama tadi masak ayam goreng filet"
"Ayo makan dulu" Mama mengajak Jung Kook makan.
Mama menyiapkan nasi untuk Jung Kook. Jung Kook pun makan.
Aku tak harus mengatakan yang sebenarnya ke mama, kan. Bukan karena aku mau membohonginya. Tapi lebih baik bila ia tidak tau yang sebenarnya. Lebih baik bila aku menutupinya saat ini.
Tapi ... Ma ...
Ada yang ingin kutanyakan sedari dulu.
__ADS_1
Apa mama tau siapa ayah kandungku?