Oh My Baby

Oh My Baby
Part 24


__ADS_3

Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar, kedua manik madunya menatap rumah Sang Papah dengan tatapan sendunya. Kaki mungilnya perlahan lahan meninggalkan kediaman sang Papah bertepatan dengan mobil Arnold yang masuk ke dalam rumah tersebut.


"Bianca..."Seru Laki laki seraya keluar dari mobilnya dan menyuruh seorang penjaga untuk memarkirkan mobilnya.


Arnold berjalan dengan tergesa-gesa ke arah Bianca dengan sebuah senyuman di sudut bibirnya. Tanpa ragu laki laki itu membawa tubuh mungil Bianca ke dalam dekapan, Sehingga membuat para pelayan yang tidak sengaja melintasi mereka sedikit tidak percaya atas apa yang di lakukan oleh Tuan Mudanya tersebut.


"Kenapa Bianca tidak mengabari Kakak, jika Bianca kesini? Mungkin Kakak akan menjemput mu?"Seru Arnold secara menghujami kecuapan di pucuk kepala Bianca.


"Kak Arnold, Jangan seperti itu!"Bianca berusaha melepaskan rengkuhan Arnold. Walaupun hubungan mereka membaik dan Arnold sudah meminta maaf kepadanya, tetapi Bianca tetep saja meresa canggung atas apa yang di lakukan oleh laki laki tersebut. Terlebih lagi apa yang Arnold lakukan di masa lalu.


"Maafkan kakak Bianca, Kakak terlalu senang melihat kau disini. Jadi Kakak refleks melakukan itu. Maaf ya, membuat mu tidak nyaman."Kata Arnold dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan Bianca pun membalasnya dengan senyumannya walaupun terpaksa.


"Tidak apa-apa kak."Jawabnya.


"Kau ingin bertemu siapa? Kenapa cepat cepat sekali pulangnya?"Tanya Arnold yang berusaha akrab dengan Bianca, walaupun laki laki itu tahu bahwa Bianca masih memberi jarak kepada dirinya.


"Bianca ingin bertemu dengan bibi Ellen Kak. Bianca sudah sedari tadi disini dan urusan Bianca dengan Bibi Ellen pun sudah selesai." Sahut Bianca dengan mengedarkan pandangannya. Kini mereka ada di depan gerbang rumah Sang Papah, Bianca tidak ingin keberadaan nya terlebih oleh Sang Papah ataupun yang lainnya.


"Begitu ya,"Arnold menganggukkan kepalanya dan menatap Bianca sejenak. Laki laki melihat guratan kegelisahan di wajah Bianca. Tanpa di beri tahu Arnold mengetahui apa yang membuat Bianca gelisah seperti ini.


"Baiklah, Ayo ikut Kakak masuk."Ucap Arnold sembari menggenggam tangan Bianca dan menarik lembut wanita hamil itu.


"APA!"Pekik Bianca terkejut atas ucapan dari Kakaknya."Lepaskan Bianca Kak." Bianca berusaha melepaskan genggaman tangan Arnold. Namun bukannya lepas genggaman tangan Arnold semakin menguat.


"Bianca Mohon, Lepaskan Bianca Kak." Pinta Bianca dengan suara yang parau."Bukankah kakak tahu, bagaimana hubungan Bianca dan keluarga kakak."Sambung Bianca dengan meremat ujung baju yang dia kenakan.


"Itu Juga keluarga kamu bi."Sahut Arnold dengan menatap lekat wajah Bianca yang kini kian memuram karena ucapannya.


"Tidak! Itu bukanlah keluarga Bianca. Tidak ada keluarga yang memperlakukan anggota keluarga nya seperti itu."Tukas Bianca dengan memalingkan wajahnya.


"Baiklah Jika itu keinginan mu. Kakak akan mencoba mengerti perasaan dan kondisi mu. Maafkan Kakak yang memaksa kamu


Seperti itu."Ujar Arnold dengan tulus.


Bianca menatap Arnold dengan lekat, Sungguh Bianca tidak menyangka akan perubahan dari Kakaknya."Jangan meminta maaf seperti itu kepada Bianca Kak. Bianca merasa bersalah kepada Kakak, Mungkin Bianca yang terlalu berlebihan dalam bersikap."Kata Bianca dengan penuh penyesalan.


Tanpa mereka sadari Agnes sedari tadi melihat interaksi mereka dengan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Letupan letupan amarah terlihat jelas di kedua manik mata, Rongga dadanya naik turun seiring dengan amarah yang membelenggu dadanya.


"Ja'ang Sialan..!!"Desis Agnes dengan mengeratkan rahangnya. Tanpa berkata wanita itu tetap tanpa beranjak dari posisinya. Jika tidak mengingat tentang ancaman dari Sang Kakak untuk tidak lagi mengganggu Bianca, mungkin saat ini tangannya sudah mendarat di wajah Bianca yang kemudian berujung dengan perdebatan di antara mereka berdua.


"Bianca, Pamit pergi dulu ya Kak."Ucap Bianca dengan ringisan di akhir kalimat nya, karena rasa nyeri di yang tiba-tiba saja menyerang punggungnya.


"Kau Kenapa Bianca? Apa yang sakit? Apakah perutmu kram kembali?"Tanya Arnold dengan bertubi-tubi. Bahkan raut wajahnya terlihat jelas kekhawatiran tanpa di buat buat kepada Bianca.


"Tidak apa-apa Kak. Bianca baik baik saja."


Elak Bianca dengan menahan rasa sakit yang kian mendera dirinya.


"Kamu serius tidak apa-apa? Apa perlu Kakak membawamu ke rumah sakit?"Ucap Arnold yang semakin terlihat khawatir melihat wajah Bianca yang pucat dan bulir bulir keringat keluar dari pelipisnya. Dan Bianca hanya mampu menggelengkan kepalanya saja sebagai jawabannya.


"Tidak apa Kak, Bianca pamit pulang ya Kak." Bianca berusaha menahan nyerinya dan berjalan meninggalkan rumah mewah tersebut.


"Biarkan Kakak yang mengantarkan mu BI."


Arnold berusaha menawarkan tumpangan kepada Bianca untuk pergi ke tempat kerjanya, Namun Bianca menolak dengan tegas tawaran dari Sang Kakak.


"Tidak perlu Kak, Bianca bisa mencari Angkutan umum di sekitar sini."Sahut Bianca dan mau tidak mau Arnold pun mengiyakan permintaan Bianca. Karena Arnold masih melihat jelas ketidaknyamanan Bianca berada di sampingnya bahkan Arnold merasa Bianca masih memberikan jarak di hubungan berdua.


Setelah berjalan cukup jauh dari rumah sang Papah, Bianca mengistirahatkan tubuhnya di sebuah halte bus yang cukup sepi. Mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya Bianca takut Arnold diam diam mengikutinya dan melihat Bianca yang tampak kesakitan yang dapat memicu kekhawatiran bagi laki-laki tersebut.


"Ternyata kak Arnold tidak mengikuti Bianca, Syukurlah."Guman Bianca dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Anda baik baik saja Nona?"Tanya Seorang remaja yang baru saja duduk di samping Bianca.


"Iya."Bianca pun menjawabnya dengan singkat di sertai anggukan

__ADS_1


"Punggung anda Sepertinya mengeluarkan darah."Ucap remaja itu melirik punggung Bianca.


"Benarkah?"Bianca pun segera memegang punggungnya dan tangan mungil Bianca merasakan sesuatu yang basah dan sedikit berbau anyir.


"Perlu Saya antar ke rumah sakit Nona?"Tanya remaja itu seraya menatap Bianca dengan intens.


"Tidak perlu, Saya baik baik saja."Ucap Bianca dengan kikuk dan remaja itu pun melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Bianca.


"Pakailah."


"Eh, Tidak perlu."Pungkas Bianca dengan menggelengkan kepalanya dan tanpa berkata remaja itupun memakaikan jaketnya ke tubuh Bianca dengan paksa, sehingga membuat wanita hamil itu memekikkan suaranya.


"Hey! Apa yang kau lakukan."Pekik Bianca dengan membolakan kedua matanya kepada remaja yang ada di hadapannya. Bianca pun berusaha melepaskan jaket itu di tubuhnya, Namun remaja itu mencekal lengan Bianca membuat gerakan wanita hamil itu terhenti.


"Jarvis..."Tiba-tiba saja sepeda motor berhenti di hadapan mereka dan memanggil nama remaja tersebut.


"Aku pergi dulu ya Kakak. Jaga keponakan ku baik baik."Serunya dengan mengusap perut Bianca dengan cepat yang kemudian berlari ke arah temannya dan menaiki motor tersebut.


"Astaga Anak itu!"Seru Bianca dengan menggelengkan kepalanya atas apa yang remaja yang kini tengah melambaikan tangannya ke arah dirinya.


_


_


_


"Kau pikir, Kau pemilik restoran ini sehingga kau bisa bekerja dengan sesuka mu?"Pekik Seorang senior di hadapan Bianca dengan berdecak pinggang.


Kini mereka menjadi pusat perhatian di dalam dapur restoran tersebut. Bianca hanya bisa menundukkan kepalanya dan meremat ujung baju yang dia kenakan.


"Ma-maafkan Bianca Kak. Bianca lupa untuk memberikan kabar jika Bianca masuk ke rumah sakit selama satu Minggu lamanya."Jawab Bianca tanpa berani menatap wanita yang ada di hadapannya.


"Alasan saja Kau!"Pungkas wanita itu penuh dengan penekanan.


"Maafkan Bianca Kak."Kepala Bianca semakin menunduk dalam bahkan bulir bulir keringat tampak membasahi wajah kuyunya.


"Tu-tuan."Pekik mereka dengan serentak dan cepat mereka membungkukkan badannya Kepada pemilik restoran tempat mereka bekerja.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berkerumun disini?! Apakah kalian tidak lihat pengunjung semakin banyak!"Sargah pemilik restoran dengan suara yang menajam begitu pun dengan kedua tatapan matanya.


"Maafkan kami Tuan. Kami hanya bertanya kepada Bianca kemana dia selama satu Minggu tidak masuk kerja."Kata Senior wanita itu dengan menatap Bianca dengan senyuman seringainya.


"Benarkah itu Bianca?"Tanya lelaki itu kepada Bianca dengan suara datarnya membuat wanita hamil itu harus menahan nafasnya karena rasa takut bercampur gugup membelenggu dirinya."Kenapa kau diam Bianca? Bukankah saya bertanya kepada Anda?"Imbuhnya dengan menatap Bianca dengan lekat.


"Ma-maafkan Saya Tuan."Ucap Bianca dengan lirih.


"Ikut ke ruangan ku."Laki-laki itu segera berjalan tanpa menunggu jawaban dari Bianca. Membuat perasaan Bianca semakin tidak karuan memikirkan nasib pekerjaan nya.


"Rasakan itu! Kalau sudah begini baru tahu rasa. Makanya jadi orang itu bersikaplah sesuai dengan derajat nya."Desis Senior itu dengan decihan di akhir kalimatnya.


Bianca hanya menatap seniornya sekilas tanpa membalas perkataannya. Kaki mungil Bianca melangkah menuju ruangan pribadi atasannya tersebut. Dengan ragu wanita hamil itu mengetuk pintu ruangan itu.


"Tuan, ini saya Bianca."Kata Bianca di balik pintu dan tidak lama kemudian terdengarlah suara sahutan di dalam ruangan tersebut.


"Iya, Masuklah. Pintunya tidak di kunci."


Sahutnya dan Bianca pun segera masuk dengan menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap Atasannya yang kini tengah menatapnya.


"Ma-maafkan Saya Tuan."Ucap Bianca. Namun di balas kekehan oleh laki laki tersebut.


"Santailah sedikit Bia, Lagipula disini tidak ada siapa-siapa selain kita."Seru laki laki itu yang entah kapan sudah berdiri menjulang di hadapan Bianca.


"Tapi Tuan."Sela Bianca langsung Pungkas oleh laki-laki itu.


"Kak Ditto! Panggil Aku Kak Ditto." Pungkasnya dengan berdecak pinggang.

__ADS_1


"Tidak Tuan, Kita masih berada di ruang lingkup pekerjaan. Jadi sebaiknya kita profesional dalam bekerja."Tegas Bianca.


"Baiklah Jika itu maumu."Sahut Ditto dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar."Kau Sudah sarapan?"Imbuhnya.


"Sudah Tuan."Jawab Bianca dengan singkat.


"Baiklah, Kau bisa pergi dari ruangan Saya."


Seru Dito sembari menunjuk pintu ruangannya untuk Bianca lewati. Dan tanpa di perintahkan dua kali, Bianca pun segera Pamit dari ruangan Ditto dan Ditto hanya menjawabnya dengan singkat tanpa menatap Bianca.


"Bianca..."Wanita hamil itu menghentikan langkahnya, Saat suara yang sangat dia kenal memanggil namanya. Bianca pun membalikkan badannya dan menatap Kak Jo tengah berjalan tergesa-gesa ke arah dirinya.


"Ada apa mencari Bianca Kak?"Tanya Bianca setelah laki laki itu berdiri di hadapannya.


"Seseorang mencari mu, dan sekarang dia sedang menunggu mu di ruangan VVIP." Katanya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Siapa Kak? Apakah perempuan yang beberapa lalu menemui Bianca?"Wanita menyengritkan kedua alisnya dan menatap Jonathan dengan tatapan mata yang menuntut.


"Bukan Bi."Balas Jonathan dengan singkat. Tidak ingin rasa penasaran menghantuinya, Bianca pun segera Pamit ke Jonathan dan berjalan ke tempat yang telah di beri tahu oleh Jonathan.


Jantung Bianca berdegup kencang seiring dengan langkahnya yang semakin dekat dengan tujuannya. Terbesit perasaan tidak nyaman saat memikirkan siapa yang ingin bertemunya. Seakan-akan alam bawah sadarnya pun memberikan alarm pertanda bahaya Kepada wanita hamil itu.


Bunyi decitan saat Bianca membuka pintu menggema di dalam ruangan VVIP yang senyap itu, Sehingga membuat seseorang di dalam sana mengalihkan pandangannya ke arah Bianca dan untuk beberapa saat kedua mata itu bersitatap dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


Bianca mematung di tempatnya, kakinya terasa untuk di gerakan begitupun dengan tubuhnya yang bergetar melihat sosok yang ada di hadapannya. Walaupun hanya pernah bertemu sekali dan dengan waktu yang cukup singkat, Bianca ingat siapa laki laki yang ada di hadapannya. Ayah dari seorang laki laki yang menanamkan benih di dalam rahimnya dan menjadikan hidupnya penuh penderitaan bagikan neraka di dunia.


"Pa-papah."Bianca tidak tahu harus memanggil sosok yang ada di hadapannya dengan apa, Sehingga kata itu secara tidak sadar keluar dari bibir mungilnya.


Dan tidak lama terdengar suara kekehan dari mulut Sang Tuan besar O'deon. "Siapa Kau? Sehingga berhak memanggil ku dengan sebutan yang menjijikkan seperti itu?" Sarkasme Nya dengan menatap remeh wanita hamil itu.


Bianca menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya, Kini Wanita hamil itu tahu dari mana sifat dan sikap kejam Edward berasal dari mana.


"Ma-maafkan Saya Tuan."Katanya.


"Kenapa Kau diam disana seperti itu Bodoh." Seru Tuan O'deon dengan menatap Bianca dengan tajam.


"Ba-baik Tu-tuan."Sahut Bianca dengan tergesa-gesa berjalan ke arah Sang Mertua dan duduk di hadapan laki laki tersebut.


"Siapa yang menyuruhmu duduk disana."Seru Tuan O'deon dengan suara yang penuh penekanan membuat Bianca segera bangkit dari kursinya.


"Ma-maafkan Saya Tuan."Kata Bianca dengan menundukkan kepalanya terlihat tangan mungilnya memilin ujung baju yang dia kenakan seiring dengan tatapan tajam itu mengarah kepada dirinya.


"Saya tidak suka dengan basa basi, Jadi katakanlah berapa uang yang kau dapatkan dari hasil menjebak Anakku. Saya akan memberikanmu uang sepuluh kali lipat dari yang kau terima, Dengan Syarat kau harus meninggalkan Anak Saya."Tuturnya membuat wanita hamil itu mematung di tempatnya.


"Tuan, Bukankah sudah berapa kali saya jelaskan bahwa bukan saya menjebak Anak Anda di malam itu. Sama halnya dengan anak Anda, Saya pun korban dari seseorang yang kini tengah mempermainkan hidup kami Tuan."Bianca pun menjelaskan bagaimana kronologi apa yang terjadi antara dirinya dan Edward dengan sejelas jelasnya tanpa ada yang di kurang-kurangi ataupun yang di lebihkan.


"Sudah...!"Cetusnya dengan tangan yang bersedekap dada."Saya tidak tahu, Jika wanita seperti mu itu pandai sekali berakting dan merangkai sebuah cerita, Apa tidak sebaiknya Anda menjadi Aktris."Seru Tuan O'deon dengan tersenyum menyeringai. Mendengar perkataan dari Sang Mertua membuat Bianca semakin menundukkan kepalanya.


"Mengapa tidak ada satupun orang yang mempercayai semua perkataan Bianca."Guman wanita hamil itu.


"Tuan, Saya berani bersumpah atas anak yang ada di dalam kandungan Saya bahwa saya yang menjebak Tuan Edward."Cicit Bianca dengan menatap lekat Sang Ayah mertua.


"Jangan pernah sekalipun kau bersumpah ataupun menyebut Nama Tuhan untuk menutupi semua kebusukan mu."Tukas Tuan O'deon dengan nada yang bersungut.


"Dan satu yang harus kau ingat, Siapapun yang telah berani mengusik ataupun bermain main dengan seorang O'deon, Maka jangan harap kehidupannya akan tenang walau sedetik pun. Karena kami akan membuat kehidupan-Nya penuh dengan air mata dan penderitaan, Sehingga membuatnya lebih baik Mati." Ucapnya dengan nada yang penuh penekanan.


Jangan lupa


Like


Comment


Favorit


Vote

__ADS_1


Rate


__ADS_2