Oh My Baby

Oh My Baby
Part 25


__ADS_3

Keheningan dan kegelapan menyelimuti wanita hamil itu di setiap langkahnya. Helaan nafas kasar sesekali terdengar dari bibir mungilnya, kedua matanya kosong dan tidak ada pancaran kehidupan di dalam manik madunya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh malam, Waktu yang cukup malam untuk seorang wanita hamil berada di luar rumah. Hingar bingar kehidupan malam ibu kota terlihat jelas di setiap kaki mungilnya melangkah sehingga tanpa sadar Bianca melewati hotel dimana Edward merenggut kehormatan-Nya.


Bianca hanya tersenyum kecil mengingat bagaimana kenangan pahit itu selalu menghantui dan menggerogoti di setiap malam malam Bianca. Kini tidak ada lagi penyesalan ataupun air mata saat mengingat itu semua, Karena Bianca sedikit demi sedikit berdamai dengan masa lalunya. Karena menurut Bianca menyesali apa yang terjadi di malam itu, Sama saja Bianca menyesali kehadiran dua makhluk yang kini tengah bersemayam di dalam tubuhnya.


Bianca terlarut dalam pikirannya, sehingga wanita hamil itu tidak menyadari bahwa sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Bianca. Namun, sebelum Mobil itu mengenai tubuhnya sebuah tangan menarik tubuh Bianca sehingga membuat mobil hitam itu tidak menghantam tubuh ringkih tersebut.


"SIALAN..!! Apa yang kau lakukan!"Pekik Seseorang dengan suara yang tidak asing di pendengaran Bianca.


Tubuh Bianca bergetar hebat memikirkan bagaimana Jika terlambat sedikit saja, mungkin saat ini dia telah bersimbah darah dan kembali terbaring lemah di rumah sakit.


Dekapan ini....


Dekapan yang begitu hangat yang tidak pernah Bianca rasakan selama hidupnya. Rasa hangat mengalir di seluruh tubuh Bianca, membuat wanita hamil itu membeku di tempatnya. Aroma yang terasa familiar bagi Bianca dan dengan sedikit keraguan Bianca mendongkakan kepalanya.


Deg. Kedua manik madunya untuk beberapa saat bersitatap dengan seseorang yang kini tengah menatapnya dengan tajam.


"K-kak C-christ."Ucap Bianca dengan terbata-bata. Bianca dengan sedikit memaksa melepaskan tangan Christ yang kini tengah melingkar di pinggangnya.


"Apa yang kau lakukan? Menyebrang tanpa melihat kiri dan kanan! Sehingga kau tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah mu..!" Seru Christ dengan berapi-api bahkan kedua manik matanya memancarkan kemarahan untuk wanita hamil tersebut.


"Ma-maafkan Bianca Kak."Cicit wanita hamil itu tanpa berani menatap laki-laki yang ada di hadapannya.


"Jika seseorang berbicara kepada mu maka lihatlah orang tersebut Bianca."Kata Christ penuh dengan penekanan, membuat Bianca mau tidak mau mendongkakan kepalanya dan melihat Christ yang kini tengah menatap lekat ke arah dirinya.


"Maafkan Bianca Kak."Bianca mengulangi perkataannya dan kembali menundukkan kepalanya karena mereka tidak nyaman akan tatapan mata Christ kepadanya.


"Dimana Suamimu?"Tanya Christ dengan menahan gemuruh yang ada di dalam dadanya saat berhadapan dengan Bianca, Wanita yang di cintanya dari dulu hingga sekarang. Walaupun kini status Bianca telah menjadi istri seseorang.


Bianca bungkam seribu bahasa, Wanita hamil itu tidak ingin jika Christ mengetahui masalah yang ada di dalam rumah tangganya.


"Kenapa diam?"Laki laki itu menelisik penampilan Bianca dari atas hingga bawah.


"Kau masih bekerja dengan perut seperti itu." Ujar Christ melihat perut Bianca yang terlihat menyembul dari pakaian kebesaran yang Bianca kenakan.


"Kenapa memangnya jika Bianca bekerja? Apakah itu salah? Ataukah dengan Bianca bekerja itu dapat menimbulkan kerugian untuk Kak Christ?"Tukas Bianca dengan nada yang bersungut karena tidak terima akan penuturan dari Laki-laki tersebut.


"Kau itu, Selalu saja orang bertanya apa dan jawabnya apa."Kata Christ tanpa sadar mengusap pucuk kepala Bianca. Membuat wanita hamil itu lagi lagi membeku di tempatnya akan perlakuan dari Laki-laki yang bernama lengkap Christian Alexander tersebut.


"Kau akan pulang?"Tanya Christ berusaha memecahkan kecanggungan di antara mereka.


"Iya Kak..."Jawab Bianca sembari menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, biarkan aku yang akan mengantar mu." Kata Christ membuat wanita hamil itu membelikan kedua matanya."Kenapa? Kau seperti terkejut seperti itu, Saat aku berkata ingin mengantarkan mu?"Seru Christ yang melihat perubahan raut wajah Bianca.


"Tidak apa-apa Kak. Kak Christ tidak perlu mengantarkan Bianca, Bianca bisa pulang sendiri."Sahut Bianca.


"Kau tahu bukan, bahwa aku tidak suka menerima penolakan."Dengan lembut laki-laki itu menarik pergelangan tangan Bianca dan memaksa Bianca untuk menaiki motornya.


"Kak..."Cebik Bianca saat Christ telah memasangkan helm di kepalanya dan laki laki itu tampak menepuk kepala Bianca, layaknya seorang Ayah kepada anaknya.


Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengintai apa yang mereka lakukan dari kejauhan, dengan guratan-guratan kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.


Kedua tangannya bergetar seiring rasa cemas membelenggu dirinya. Keraguan meliputinya, Namun mau tidak mau dirinya melakukan hal yang menjijikkan tersebut.


Suara deringan ponsel yang memekikkan di telinga, mengalihkan atensi Laki-laki dan tertera jelas nama sang Penelepon. Dengan penuh keraguan, laki-laki itu mengangkat telepon itu dan menjelaskan kepada sang penelepon bahwa apa yang telah di perintahkan kepadanya telah gagal karena seseorang laki-laki yang entah datang dari mana.


"Dasar Bodoh Sialan..! Percuma Saya membayar mahal, Hanya menabrak seorang wanita hamil saja tidak bisa."Pekik Seseorang di seberang sana dengan nafas yang memburu seiring dengan amarah yang membelenggu dadanya.


"Ma-maafkan Saya Tuan."Ucap laki-laki itu penuh dengan penyesalan.


Sementara di seberang sana di waktu yang bersamaan terlihat seorang laki-laki tengah berdiri dengan kegelapan menyelimutinya. Nafasnya kian memburu seiring dengan amarah yang meliputi dirinya. Kedua matanya terkunci kepada punggung putih seorang wanita yang kini tengah terlelap membelakanginya. Dengan begitu lekat dan penuh arti, Namun sebuah deringan di ponselnya membuat laki-laki itu terpaksa mengalihkan atensi.

__ADS_1


Sebuah foto dimana seorang wanita hamil tengah berada dalam dekapan seorang laki-laki yang terlihat begitu mesra. Membuat siapapun akan berprasangka bahwa dua manusia berbeda jenis itu adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Senyuman seringai tercekat jelas di wajahnya sehingga membuat siapa saja akan bertanya-tanya akan apa yang ada di dalam pikirannya.


_


_


_


Kegelapan malam tidak membuat Edward beranjak dari kursi kebesarannya. Tampak tangan kekarnya dengan lincah menari di atas keyboard dan kedua manik matanya tidak henti-hentinya menatap layar komputer yang bersinar di antara kegelapan yang menyelimutinya.


"Tuan..."Edward mengalihkan atensinya saat nama di panggil oleh Asisten Kai. Tampak Orang kepercayaan Edward itu berdiri di depan Edward dengan meja menjadi pembatas di antara keduanya. Kedua tangan Asisten Kai tampak memegang sebuah nampan.


"Ada apa?"Tanya Edward dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Anda telah melewatkan makan malam Tuan, Sebaiknya Anda istirahat sejenak dan memakan makan malam anda yang telah saya bawa."Asisten Kai menaruh nampan tersebut di meja yang ada di sudut ruangan kerja Edward dan kembali berjalan ke arah tuanya.


"Tidak perlu Kai, bawalah kembali semua makanan itu."Kata Edward tanpa menatap Asisten Kai.


Kedua alis Edward menukik saat sebuah email tanpa nama tertera di layar komputernya, Tanpa berkata Edward segera membuka email anonim itu. Seketika kedua mata Edward membola dan guratan guratan kemarah terlihat jelas di wajah tampannya.


"Ja'ang sialan..!!"Desis Edward dengan suara yang menajam begitu pun dengan tatapan matanya.


Sementara di seberang Asisten Kai mengerutkan keningnya saat mendengar desisan Tuannya, terlebih lagi melihat amarah yang menyala di wajah Edward.


"Tuan, Anda baik baik saja?"Tanya Asisten Kai dengan nada penuh kekhawatiran.


"Kaisar kita pulang sekarang."Balas Edward tanpa menjawab pertanyaan dari asisten pribadinya tersebut.


Asisten Kai menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya. Karena jika Edward sudah menyebut namanya penuh dengan penekanan, pasti ada sesuatu yang buruk terjadi setelahnya.


Dengan tergesa-gesa Edward bangkit dari kursi kebesarannya, di ikuti oleh Asisten Kai di belakangnya. Terlihat Dua orang penting perusahaan itu berjalan dengan gagahnya menuju parkiran khusus dimana mobil mewah Edward berada.


"Silahkan Tuan."Ucap Asisten Kai membuka pintu mobil untuk Edward lewati. Setelah Edward masuk dan duduk di kursi belakang, Asisten Kai segera memutari mobil dan duduk di atas bangku kemudi.


"Ja'ang Sialan..! Berani beraninya kau bermain-main dengan ku."Guman Edward yang terdengar jelas oleh Asisten Kai.


"Apalagi yang dilakukan oleh wanita itu."


Asisten Kai bertanya kepada dirinya sendiri. Asisten Kai tahu bahwa wanita Ja'ang yang di sebut Edward adalah Bianca. Dan entah apalagi yang telah di lakukan oleh wanita itu sehingga amarah Sang Tuan kembali tersulut seperti ini.


Dua puluh menit pun berlalu, kini mobil mewah yang di Kendarai oleh Asisten Kai telah berada di kawasan rumah Edward, bertepatan dengan Bianca yang baru saja turun dari motor milik Edward.


"Ja'ang..!"Desis Edward dengan amarah yang semakin menyala di dalam dirinya.


"Terima kasih Kak Christ telah mengantarkan Bianca."Kata Bianca dengan mengedarkan pandangannya. Kegelisahan terlihat jelas di wajah cantik Bianca, membuat Christ bertanya-tanya akan apa yang kini tengah Bianca pikiran sehingga membuat wanita hamil itu terlihat sangat gelisah.


"Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu Bia? Apakah ada yang menggangu pikiran mu."


Tanya Christ seraya merapihkan helaian rambut Bianca.


"Kak Christ! Jangan seperti itu. Bianca sudah memiliki suami dan perlakuan kak Christ kepada Bianca dapat menimbulkan kesalahpahaman antara Bianca dan suami Bianca."Seru Bianca dengan penuh penekanan.


"Maafkan Kakak bi."Sesal Christ.


Suara seseorang bertepuk tangan membuat Atensi dan Christ teralihkan. Kedua bola mata Bianca membelik saat melihat Edward yang tengah berjalan ke arah mereka dengan tatapan matanya yang tajam mengarah ke arah Bianca.


"Tu-tuan Edward."Ujar Bianca dengan terbata-bata.


"Tuan Edward?"Lirih Christ dengan menatap Bianca dengan lekat.


Wajah wanita hamil itu tampak pucat pasi seakan-akan darah tidak mengalir di tubuhnya. Bianca memundurkan langkahnya Sehingga membuat wanita hamil itu hampir saja terjatuh, Jika Christ tidak cepat menopang tubuhnya.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja bi?"Tanya Christ dengan nada yang penuh kekhawatiran.


"Bianca baik-baik saja Kak. Lebih baik Kak Christ pulang saja dari sini."Sahut Bianca dengan menyentak tangan Christ di tubuhnya.


"Lihatlah apa yang di lakukan oleh wanita murahan yang ada di hadapanku."Tukas Edward dengan bersedekap dada dan menatap Bianca dengan tajam.


"Tenyata sekali Wanita murahan, selamanya akan menjadi wanita murahan."Desis Edward membuat kedua tangan Christ mengepal.


"KAU..!!"Pekik Christ yang tidak terima wanita yang di cintainya di rendahkan seperti itu.


"Singkirkan tanganmu Sialan..!!"Pekik Edward yang tidak terima saat Christ menunjuk dirinya.


"Kak Christ! Sudah Kak, Lebih baik Kakak pergi dari sini."Titah Bianca sembari memegang tangan Christ yang terkepal erat. Seketika Christ mengalihkan pandangannya dan menatap Bianca, wanita yang sangat di cintainya.


"Tidak bisa Bia! Dia sudah menghinamu dan Kak Christ tidak bisa diam saja, jika kau di hina dan di rendahkan seperti itu!"Pekik Christ dengan menggebu-gebu bahkan guratan guratan kemarahan terlihat jelas di wajah tampannya.


Edward berdecih dan menatap sinis perdebatan antara Bianca dan lelaki selingkuhan nya.


"Drama menjijikkan."Desis Edward dengan kekehan di akhir kalimatnya.


"Bianca mohon Kak, pergilah dari sini. Bianca tidak ingin terjadi sesuatu kepada kak Christ, Kakak tidak tahu dengan siapa saat ini kakak berhadapan."Pinta Bianca dengan penuh harap. Bahkan Bianca tidak segan untuk mengatupkan kedua tangannya kepada Christ.


Melihat Bianca memohon seperti itu membuat Christ mau tidak mau mengiyakan permintaan Bianca. Kedua manik matanya menatap Bianca dengan lekat."Baiklah Kakak akan pergi. Namun jika laki-laki itu berlaku kasar kepada mu, Jangan sungkan untuk menghubungi Kakak." Tutur Christ dengan menatap Edward lewat sudut matanya.


Christ pun kembali menaikkan motornya, Namun sebelum itu laki-laki itu berjalan ke arah Edward dan membisikkan sesuatu kepada suami dari wanita yang di cintainya tersebut.


"Urusan kita belum selesai Tuan Edward O'deon."Bisik Christ dengan penuh penekanan, bahkan tangannya menepuk pundak Edward dengan kencang. Namun Edward tidak meringis ataupun membalas ucapan Christ, laki laki itu hanya menatap Christ dengan senyuman penuh seringainya.


"Kak Christ, Bianca mohon cepatlah pergi dari sini Kak."Seru Bianca saat melihat kedua laki-laki saling bertatapan dengan tajam bahkan atmosfer di sekitar mereka terasa mencekam.


"Baiklah Kakak pamit ya Bia, Jaga dirimu baik-baik."Pamit Christ seraya berlalu meninggalkan Bianca yang kini tengah menatap punggungnya yang semakin jauh dari jangkauanya.


"Kak Christ, Maafkan Bianca."Wanita hamil itu bersedih saat punggung Christ tidak berpaling sedikitpun ke arah nya. Sebuah decakan membuat Bianca tersentak dalam lamunannya.


"Tu-tuan..."Bianca mundur beberapa langkah saat tubuh Edward menjulang tinggi di hadapannya.


"CKck sekali murahan akan selamanya menjadi murahan."Sarkasme Edward dengan decihan di akhir Kalimatnya.


"Tuan! Ini bukan seperti yang anda pikirkan. Anda salah paham Tuan."Sahut Bianca dengan menggelengkan kepalanya."Kak Christ menolong Bianca yang hampir saja tertabrak mobil Tuan."Sambung Bianca dengan tubuh yang bergetar mengingat peristiwa yang hampir saja merenggut nyawanya.


"Lalu apa peduliku? Mau kau hidup ataupun mati itu bukan urusanku. Mungkin Jika Kau dan anak Sialan mu itu lenyap dari hidupku mungkin itu lebih baik."Balas Edward dengan tidak terduga membuat Bianca terhenyak dalam diamnya.


"Satu lagi, jagalah sikapmu di luar sana. Karena saat ini Kau membawa Nama O'deon di belakang mu. Dan tahanlah sifat liarmu itu, Jika memang benar anak yang ada di dalam kandungan mu itu adalah anakku, Aku tidak ingin anakku tercampur dengan laki-laki lain."Seru Edward dengan menjajam. Bianca menatap Edward dengan sendu, Namun tidak ada air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


Edward berjalan meninggalkan Bianca setelah mengatakan hal yang begitu kejam kepada wanita yang berstatus istrinya tersebut.


"Tuhan... Tolonglah kuatkan Bianca untuk menghadapi semua ini."Tutur Bianca dengan menatap lekat tubuh belakang Edward.


Bianca berjalan gontai menuju tempat tinggalnya. Tiada kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya saat hatinya yang rapuh lagi lagi di hancurkan berkeping-keping oleh Edward. Tidak ada satupun yang tahu bertapa hancurnya perasaan Bianca saat ini. Bianca menghentikan langkahnya dengan kedua mata yang terbelalak saat melihat sebuah mobil yang ada di hadapannya.


"Bukankah itu mobil yang tadi ingin menabrak Bianca."Guman Bianca dengan mengerjab ngerjabkan kedua matanya dengan menahan gemuruh di dalam dadanya.


Jangan lupa


Like


Comment


Vote


Rate

__ADS_1


Favorit


__ADS_2