
Dan disini Cleona sekarang, duduk di sebuah bangku menunggu kedatangan seseorang yang tidak ingin Cleona temui. Kedua bola mata Cleona membola malas saat melihat seorang laki-laki yang sangat dia kenal tengah berjalan ke arahnya dengan kedua matanya menatap Cleona dengan sangat tajam.
Kedua mata Edward menatap Cleona dengan tajam dan terdengar decihan kecil yang keluar dari bibir laki-laki itu saat sudah berhadapan dengan Cleona, wanita yang telah membuat dirinya berada di dalam penjara
"Untuk apa kau ingin menemui ku? Cleona O'deon. Ataukah Kau ingin menertawakan ku?" Sarkasme Edward dengan kedua tangannya bersedekap di dadanya.
"Melihat Perkataan dan perlakuanmu yang seperti itu, Aku yakin tidak ada penyesalan di dalam dirimu. Setelah kau melakukan hal begitu kejam dan tidak manusiawi kepada wanita yang tengah mengandung anakmu." Sahut Cleona yang tidak kalah Sarkas dari saudara sepupunya tersebut.
"Wanita murahan itu pantas mendapatkan semua itu. Seorang wanita yang dapat melakukan hal apapun hanya agar semua keinginan nya tercapai. Seorang wanita yang mampu merusak kehidupan dan kebahagiaan wanita lainnya, hanya demi obsesi nya seorang."Balas Edward dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya. Mendengar semua Perkataan Edward yang menghina Bianca, membuat Cleona mencengkeram bajunya di bawah meja saja.
"Dan satu hal yang harus kau ingat! Bahwa Anak yang ada di dalam kandungan wanita Ja'ang itu bukanlah Anakku!"Seru Edward dengan berapi-api.
"Ternyata semua ini tidak membuat mu jera Edward O'deon. Kau kemanakan otak pintar mu itu Edward, sehingga kebenaran yang ada di hadapan mu tidak terlihat sama sekali di mata mu. Ataukah karena kebencian dan dendam kau tutup mata hatimu itu."Pungkas Cleona dengan menahan amarah yang ada di dalam dirinya.
Edward menggelengkan kepalanya dengan bibir yang berdecak mendengar setiap kalimat yang Cleona lontarkan kepadanya.
"Berapa uang yang wanita Ja'ang itu berikan kepada mu, Sehingga kini kau berada di pihak wanita ular itu."Decih Edward dengan sudut bibir yang menyeringai dan tidak lupa kedua matanya menatap Cleona dengan tatapan merendahkan.
"Jaga Ucapan mu Sialan...!!"Pekik Cleona dengan membolakan kedua matanya dengan jari telunjuknya menujuk ke arah Edward.
"Ckck... Hanya dengan kata-kata remeh seperti itu kau sudah tersulut emosi! Lalu bagaimana denganku yang kehidupan nya di permainkan oleh wanita ular itu."Tukas Edward dengan menggebu-gebu.
Cleona menghirup nafas sedalam dalamnya jika dia menghadapi Edward dengan amarah yang seperti Edward lakukan kepadanya, Maka semua masalah di antara mereka tidak akan pernah selesai dan perbuatan Edward akan semakin menggila kepadanya. Terlebih lagi Edward akan semakin membenci kehadiran Bianca yang menurut Edward telah merubah Cleona.
"Kau memang bodoh Edward."Kata Edward menahan amarah yang ada di dalam dadanya.
"Kau tidak bercermin kepada dirimu sendiri Cleona O'deon. Disini kaulah yang bodoh Cleona, bisa-bisanya kau masuk dan terjebak oleh sandiwara murahan yang di mainkan oleh wanita ular itu."Sarkasme Edward dengan menaikan nadanya suaranya sehingga membuat laki-laki itu mendapatkan teguran dari salah satu sipir yang tidak jauh dari mereka berdua.
"KAU....!!"Pekik Cleona tanpa suara dengan kedua tangan yang mengepal di depan wajah Edward.
"Jika kau kesini hanya ingin berdebat dengan ku saja, Lebih baik kau pergi dari sini."Sargah Edward dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya."Membuang- buang waktuku saja."Kata Edward dengan mendecakan kedua bibirnya seraya bangkit dari posisinya.
Cleona membuang pandangannya ke sembarang arah, dengan helaan nafasnya yang terdengar kasar."Tunggu dulu Edward."Panggil Cleona sembari memegang pergelangan tangan Edward.
"Apa lagi yang kau inginkan Sialan...!!" Sargah Edward dengan menyentak tangan Cleona pergelangan tangannya.
"Kau ingin bebas dari penjara ini?"Kata Cleona membuat Edward menaikkan salah satu alisnya."Aku bisa membebaskan dari penjara ini, Asalkan dengan satu syarat..." Cleona menjeda kalimatnya melihat reaksi apa yang akan di tunjukan Edward. Namun laki-laki itu hanya diam tanpa memperlihatkan ekspresi apapun di wajahnya.
"Tanpa bantuan darimu, Aku pun pasti bisa bebas dari penjara ini."Ucap Edward tanpa memperlihatkan ekspresi wajahnya.
"Benarkah...?"Cetus Cleona dengan menahan Senyumannya. "Kau tidak tahu kasus apa yang kini tengah menjeratmu? Kau melakukan kasus kekerasan kepada seorang wanita, terlebih lagi wanita itu sedang hamil dan lebih parahnya kau melakukan kekerasan itu di depan umum dan perbuatan bejatmu itu di lihat oleh banyak pasang mata."Imbuhnya dengan menelisik raut wajah, Namun wanita itu harus bisa menelan kekecewaan nya pada saat Edward tidak merubah raut wajahnya sedikit pun.
"Baiklah, Jika kau tidak ingin aku membebaskan mu."Ujar Cleona bangkit dari duduknya. "Asalkan kau tahu Edward, bahwa perbuatan mu yang menyiksa Bianca itu, telah di dengar oleh lembaga sosial dan pasti sebentar lagi kasus akan semakin memberatkan mu. Mungkin saja kekuasaan dan harta mu tidak akan berguna saat ini." Sambung Cleona dengan senyuman smirknya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Edward.
"Kau pikir aku takut dengan ancaman murahan mu itu."Belas laki-laki itu. "Kau tahu Cleona, Aku sangat kecewa kepadamu. Karena kau lebih memihak wanita ular itu dari pada saudara mu sendiri. Hubungan kita sangatlah dekat sebelum kejadian ini terjadi, dan karena wanita itu hubungan kita merenggang saat ini, bahkan dengan teganya kau memenjarakan saudaramu sendiri hanya demi seseorang yang baru di kenal olehmu."Tutur Edward dengan guratan kekecewaan yang tercekat jelas di wajah tampannya.
"Edward, karena aku menganggap kau adalah saudaraku, aku melakukan semua ini. Aku tidak ingin saat kau menyadari semuanya kau sudah terlambat."Sahut Cleona dengan menyela.
__ADS_1
"Ckck... Kata-kata itu lagi. Dan sudah berapa ku katakan, aku tidak akan pernah menyesali semua yang Pernah dan akan aku lakukan kepada wanita Sialan itu. Karena semua itu memang di dapatkan oleh wanita itu."Pungkas Edward membuat Cleona hanya bisa menghela nafasnya akan kekerasan hati yang Edward miliki.
"Terserah apa yang kau katakan Edward! Aku sudah mengatakan semuanya kepada mu dan Jika suatu saat kau menyesali semua perbuatan mu, Maka janganlah kau mengadu kepada ku."Tukas Cleona seraya pergi meninggalkan Edward. Namun sebelum itu Cleona memberikan selembar foto monochrome ke telapak tangan Edward dengan paksa.
"Lihatlah.... Lihatlah mereka, orang-orang yang kau sia-siakan dan semoga saja Tuhan melembutkan hatimu sebelum semuanya terlambat."Tutur Cleona dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Edward menatap selembar foto yang Cleona berikan kepada nya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, Namun tidak lama kemudian laki-laki itu berdecih sebelum melemparkan foto hasil usg itu ke sembarang arah.
_
_
_
Dengan tubuh yang bersandar di headboard brankar rumah sakit, Bianca termenung memikirkan bagaimana nasib dirinya dan kedua anaknya di masa yang akan datang. Bianca hanyalah seorang remaja yang akan beranjak dewasa, dan kini dia harus menghadapi sesuatu yang tidak pernah orang lain bayangkan.
Sudut bibir Bianca terangkat pada saat merasakan sebuah gerakan di dalam perutnya. "Anak-anak Mamah yang kuat. Terima kasih selama ini kalian tetap bersama Mamah, Walaupun kesakitan dan penderitaan Kalian rasakan."Kata Bianca dengan tatapan mata yang menerawang akan semua kepahitan yang telah dia alami.
Bianca menghela nafasnya sebelum mengalihkan tatapan matanya ke arah ponselnya. Bianca mengambilnya dan menyalahkan nya dan tidak lama kemudian rentetan notifikasi tertera di layarnya Bianca.
"Astaga! Banyak sekali...."Pekik Bianca tanpa suara dengan kedua mata yang membola.
Bianca membuka salah satu pesan dari temannya yang bekerja di supermarket dan membacanya, Bahwa jika Bianca tidak bekerja lagi malam ini, Maka Bianca akan di pecat dari pekerjaannya tanpa mendapatkan uang pesangon sama sekali.
"Ya Tuhan, Bagaimana ini?"Monolog Bianca dengan kedua bola matanya yang bergerak liar.
"Nona Bianca..."Seru Dokter Andreas dengan nada yang naik satu oktaf, Membuat Bianca terhenyak dalam lamunannya.
"Astaga Tuhan."Pekik Bianca dengan mengelus dadanya. Bianca mengalihkan pandangannya dan tatapan matanya bersitatap dengan Dokter Andreas yang kini tengah menatap ke arah dirinya.
"Dokter Andreas..."Ucap Bianca dengan mengerjab ngerjabkan kedua matanya.
"Apa yang Anda pikirkan Nona Bianca, Sehingga Anda tidak menyadari keberadaan Saya."Tutur Dokter Andreas dengan nada formalnya mengingat kini dirinya tengah di jam kerjanya. "Ingat Nona Bianca, Anda jangan terlalu stres dan banyak pikiran itu tidak baik bagi kondisi kandungan Anda yang lemah." Sambung Andreas yang sudah ke sekian kalinya mengatakan hal tersebut kepada Bianca.
"Baik Dok..."Jawab Bianca dengan menundukkan kepalanya dengan kedua bola matanya berotasi malas, karena mendengar semua perkataan Dokter Andreas yang seperti itu untuk kesekian kalinya.
Dokter Andreas pun kembali memeriksa keadaan Bianca dan kandungannya. Bianca
hanya berbaring seraya menatap wajah serius Dokter Andreas yang tengah memeriksa keadaan nya.
"Bagaimana keadaan saya Dok? apakah semuanya baik-baik saja Dok."Tanya Bianca penuh arti.
"Untuk semua ini semuanya normal. Baik kondisi Nona Bianca dan kedua bayi yang ada di dalam kandungan Anda."Tutur Dokter Andreas seraya menyampirkan stetoskop di bahunya.
"Benarkah Dok?"Kedua manik madu Bianca berbinar mendengar penjelasan dari Dokter muda tersebut. "Jadi saya bisa keluar dari rumah sakit ini sekarang Dok?"Imbuh Bianca dengan penuh harap..
"Tidak Nona Bianca, Meskipun keadaan Anda dan kandungan Anda telah membaik, Anda belum di izinkan untuk keluar dari rumah sakit ini."Senyum Bianca perlahan pudar mendengar semua dokter Andreas.
__ADS_1
"Baiklah Dok..."Jawab Bianca dengan lesu dan kini Bianca pasrah akan dirinya yang akan di pecat dari pekerjaannya. Karena kesehatan bayi yang ada di dalam kandungannya lebih penting dari apapun.
_
_
_
"Tuan..."Asisten Kai membungkukkan badannya saat melihat Sang Tuan yang telah bebas dari kasus yang menjeratnya.
"Bagaimana? Kau sudah melakukan semua yang ku perintahkan?"Tanya Edward dengan tersenyum smriknya dan dengan tatapan matanya yang penuh arti.
"Sesuai perintah Anda Tuan."Jawab Asisten Kai dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Bagus..."Ucapnya dengan senyuman seringai yang tidak luntur di sudut bibirnya.
"Bawa dia ke markas kita yang ada di tengah hutan, dan akan ku buktikan siapa Edward yang sebenarnya. Akan ku pastikan dia akan menyesal telah bermain-main dengan diriku dan akan ku buat hidupnya bagikan hidup di neraka penuh dengan kesakitan dan penderitaan, Sehingga membuat siapapun akan berpikir dua kali untuk bermain-main dengan ku."Sambung Edward dengan kilatan kilatan amarah yang tercekat jelas di wajah tampannya.
"Baik Tuan...."
Dengan mengangkat kepalanya Edward berjalan dengan angkuhnya keluar dari kantor polisi tersebut. Dan Edward tersenyum penuh kemenangan saat melihat salah satu sipir yang pernah menghinanya kini tengah menatapnya dengan kedua tangan yang terkepal erat.
"Lihatlah... Dengan uang dan kekuasaan apapun bisa saya beli. Bahkan kebenaran pun bisa menjadi kebohongan jika Uang dan Kekuasaan telah berbicara."Kata Edward tanpa suara ke arah sipir tersebut.
Sipir itu menggelengkan kepalanya melihat Edward dengan mudahnya bebas dari tuntutan yang menjeratnya. Padahal kasus yang menjerat Edward adalah kasus yang cukup berat, bahkan lembaga-lembaga sosial telah turun tangan untuk mengawasi kasus Edward, Namun lihatlah yang terjadi Edward dengan mudahnya bebas dari kasus yang menjeratnya dan bahkan dengan congkak nya Edward berjalan keluar dari kantor polisi tersebut.
"Silahkan Tuan..."Kata Asisten Kai membuka pintu mobil yang akan Edward lewati. Asisten Kai segera memutari mobil mewah berwarna hitam itu dan duduk di belakang kursi kemudinya.
Mobil mewah Edward melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kantor polisi itu. Dan mobil mewah itu pun berjalan membelah padatnya jalanan ibu kota.
"Langsung saja ke kantor dan kumpulkan seluruh karyawan di Aula, Tanpa terkecuali." Titah Edward tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sepertinya ini adalah saat yang tepat, untuk memberitahukan siapa sang penguasa sebenarnya."Guman Edward dengan penuh arti.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit
Tips
__ADS_1