
Tangis Bianca semakin menjadi-jadi saat tidak ada satupun kendaraan yang berhenti untuk menolongnya. Bahkan para pejalan kaki tampak acuh akan tangisan dan air mata wanita malang itu.
"Ya Tuhan bagaimana ini?"Batin Bianca menjerit akan ketidak berdayaan yang saat ini wanita itu alami.
Ternyata Tuhan masih berbaik hati kepada wanita malang itu. Ketika sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping wanita itu. Bianca yang melihat itu pun segera menghampiri mobil itu dan berusaha meminta pertolongan kepada sang pemilik mobil.
"Tuan, Saya mohon tolong saya Tuan."Pinta Bianca dengan penuh permohonan dan mengatupkan kedua tangannya saat pemilik mobil itu.
"Bianca..!!"Guman pemilik mobil itu terpaku melihat wajah Bianca.
"Tuan..!!"Seru Bianca saat tidak mendapatkan balasan dari laki-laki yang ada di hadapannya.
Seketika laki-laki itu tersadar saat suara Bianca mengalun di telinganya.
"Ahh, Iya Maaf Nona. Ada yang bisa saya bantu?"Kata laki-laki itu tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah sendu wanita yang telah dia renggut dan hancurkan kehidupan dan masa depan wanita malang yang ada di hadapan dirinya.
"Kau memang Breng'sek Marvin..!!"Umpat Marvin mengutuk perbuatan yang telah dirinya lakukan di masa lalu.
"Tuan, Bisakah Anda mengantarkan saya ke rumah sakit xxx? Saya akan membayar berapapun biaya yang Anda inginkan."Seru Bianca dengan deru nafas yang menderu dan tanpa terasa cairan bening kembali keluar dari kedua pelupuk matanya.
Tinn....
Tinn....
Suara sahutan klakson dan pekikan dari pengendara sontak membuat Bianca dan Marvin mengalihkan pandangannya.
"Astaga maafkan saya Tuan dan Nyonya." Tutur Marvin saat laki-laki itu menyadari bahwa mobilnya telah menyebabkan kemacetan.
"Mari Nona Bianca."Seru Marvin sembari membuka pintu untuk Bianca lewati.
Kedua kening Bianca menyengrit saat laki-laki-laki di hadapannya itu memanggil namanya. Karena Bianca tidak merasa menyebutkan namanya. Namun, Untuk saa9 ini bukanlah waktu yang tepat untuk mempertanyakan hal seperti itu.
"Silahkan Nona..."Ujar Marvin saat suara klakson semakin memekikkan telinganya.
Sementara itu tidak jauh dari mobil yang di kendarai oleh Marvin. Seorang laki-laki tampak menatap mereka dengan tajam. Rahangnya mengerat dengan gigi yang bergemurutuk saat amarah kini menguasai diri laki-laki itu.
"Dasar Ja'ang Sialan..!!"Desis Edward dengan mengepalkan kedua tangannya.
Sean berusaha untuk tetap fokus dengan kemudi di hadapannya. Walaupun pikiran laki-laki kacau tentang bagaimana mungkin Marvin bisa bertemu dengan Bianca dan permasalahan apalagi yang akan terjadi setelah sang Tuan melihat pertemuan Bianca dan Marvin.
"Astaga Tuhan, Kesalahan pahaman apalagi ini..!!"Guman laki-laki itu dengan menatap Edward lewat kaca spion di sebelahnya.
Sangat sulit bagi Sean dan Asisten Kai untuk meyakinkan Edward tentang kebenaran yang terjadi Tujuh tahun silam dan kini Sean tidak dapat membayangkan kesalahan pahaman apalagi yang akan terjadi saat Edward melihat kejadian di depannya.
"Kenapa kau hanya diam seperti itu! Cepat jalankan mobilnya."Sentak Edward melihat Sean diam saja saat mobil-mobil lainnya telah melaju.
"I-iya Baik Tuan..."Jawab Sean dengan pandangan matanya lurus ke depan.
.
.
.
.
Setelah sampai parkiran rumah sakit yang Bianca tuju, Wanita itu tampak keluar dari mobil Marvin dengan tergesa-gesa tidak lupa wanita itu mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Marvin karena telah mengantarkan dirinya.
Bianca pun berlari masuk ke dalam rumah sakit itu dengan air mata yang tidak henti- hentinya keluar dari kedua pelupuk matanya.
Hati Bianca terluka dan tangisan wanita itu semakin menjadi-jadi pada saat melihat sang anak terbaring di lemah di ranjang rumah sakit dengan kedua mata yang terpejam.
"Anakku..."Lirih Bianca dengan suara serak menahan tangisannya.
"Nyonya Bianca."Panggil Seorang wanita yang Bianca ketahui adalah salah satu guru di sekolahan sang anak.
"Miss Triana."Ucap Bianca dengan menyeka air matanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepada Briana Miss? Kenapa Anakku bisa masuk ke rumah sakit dalam keadaan seperti ini Miss?"Cerca Bianca dengan nada menuntut.
__ADS_1
"Tenanglah Nyonya Bianca. Kami selaku pihak sekolah meminta maaf akan kejadian yang menimpa anak Anda. Dan untuk saat ini kami selaku pihak sekolah pun sedang mencari tahu penyebab anak Anda tidak sadarkan diri di gedung belakang sekolah." Tutur Miss Triana dengan memegang tangan Bianca berusaha menenangkan wanita satu anak itu.
"A-apa gedung belakang sekolah?"Imbuh Bianca dengan kedua mata yang membelik bagaimana mungkin Briana yang penakut itu bisa berada di gedung belakang sekolah.
Seketika perasaan cemas menggelitik diri Bianca dan pemikiran-pemikiran buruk menghantui wanita itu. Apakah Briana kembali menjadi bahan bullying dari teman- temannya. Pikir wanita itu.
"A-apakah anak saya kembali menjadi korban pembullyan dari teman-temannya Miss?"Tanya Bianca setelah mengumpulkan keberaniannya mendengar kenyataan pahit bahwa Briana menjadi bahan ejekan teman- temannya karena tidak memiliki seorang Ayah.
"Pembullyan? Saya rasa Anda berpikir terlalu jauh Nyonya."Tukas Miss Triana tanpa berani menatap Bianca.
Bianca tersenyum kecut mendengar kebohongan yang terlontar dari mulut guru sang anak. "Saya tahu, saya adalah orang yang kekurangan dan tidak memiliki kuasa apapun. Tapi saya menyekolahkan anak saya untuk mendapatkan pendidikan, Bukan untuk mendapatkan ejekan dan Bullyan dari teman-temannya."Tutur Bianca di tekankan di setiap kalimatnya.
"Anda salah paham Nyonya..!!"Sahut Miss Triana namun langsung di tukas cepat oleh Bianca.
"Saya belum selesai berbicara Miss Triana..!!"Tukas Bianca dengan menggebu- gebu.
"Saya benar-benar tidak menyangka pihak sekolah dapat menyembunyikan masalah yang sebesar ini? Apakah menurut Anda pembullyan adalah masalah yang sepele? Ataukah karena saya tidak memiliki kekuasaan dan Briana tidak mempunyai Ayah pihak sekolah dapat semena-mena kepada anak saya?"Seru Bianca dengan memalingkan wajahnya dan menyeka sudut matanya yang berair.
"Nyonyaaaa..."Miss Triana tercekat dan tidak mampu memberikan sanggahan dari semua perkataan-perkataan yang di lontarkan oleh Bianca.
"Maaf Miss, Jika tidak ada yang ingin Anda bicarakan lagi. Silahkan Anda pergi dari sini."Seru Bianca dengan nada tegasnya.
Bukan maksud Bianca untuk berkata kasar dan kurang sopan kepada wanita yang ada di hadapannya. Namun, Bianca sudah terlanjur kesal dan kecewa akan semua yang telah terjadi kepada Briana.
Tanpa mendengarkan jawaban dari Miss Triana, Bianca pun segera masuk ke dalam ruangan sang anak di rawat.
"Dokter..."Panggil Bianca saat seorang doktor sedang memeriksa Briana.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" Tanya Bianca menghampiri dokter itu dengan tatapan matanya tidak lepas dari wajah pucat sang anak.
"Keadaan pasien cukup baik dan mungkin beberapa jam lagi pasien akan sadar."
Tutur Dokter tersebut.
"Syukurlah..."Guman Bianca setelah mendengar penjelasan dokter itu.
Setelah Dokter itu pergi dari ruangan Briana. Bianca pun segera menghampiri brankar sang anak dengan perasaan yang tidak menentu. Sedih, kecewa dan marah menjadi satu. Bianca menggenggam tangan mungil sang anak yang tidak terpasang selang infus dan helaan nafas terdengar kasar dari wanita itu.
"Apakah semua penderitaan dan air mata ini tidak cukup Tuhan? Kapankah semua penderitaan ini akan berakhir Tuhan..."
.
.
.
.
Sementara itu Marvin mengendarai mobilnya dengan perasaan yang tidak menentu. Tanpa sepengetahuan Bianca, laki-laki itu mengikuti Bianca dan mendengar semua percakapan Bianca dan Miss Triana. Perasaan bersalah semakin menguasai diri laki-laki itu saat mengingat perbuatan yang telah dirinya lakukan di masa lalu dan berdampak besar bagi kehidupan gadis kecil yang begitu merindukan sosok Ayahnya.
"Kebodohan apa yang kau lakukan Marvin..!!"Rutuk laki-laki itu dengan mengeratkan rahangnya dengan mata yang menyala-nyala karena amarah yang kini berkobar di dalam diri laki-laki itu.
Dengan kecepatan di atas rata-rata Marvin mengendarai mobil mewahnya membelah padatnya jalanan ibu kota.
"Kau memang Breng'sek Marvin..!!"Ujar laki-laki itu dengan mencengkeram kemudinya.
Marvin menepikan mobilnya dan segera mengambil handphone yang ada di dalam sakunya dan menghubungi salah satu orang kepercayaannya untuk mencari tahu apa yang terjadi kepada Briana di sekolah dan jika memang benar Briana menjadi korban pembullyan di sekolahnya, Maka Marvin tidak akan tinggal diam dan akan membungkam semua orang yang telah melakukan semua itu kepada Briana.
"Cari tahu semuanya, tanpa terlewatkan sedikit pun dan jangan lupa selidiki keluarganya juga."Titah Marvin dengan nada seriusnya.
"Baik Tuan..."Jawab seseorang di seberang sana setelah mendengar semua perintah sang tuan.
Dan tidak lupa Marvin memberikan Titah untuk memindahkan Briana ke ruangan yang lebih nyaman lagi dan dengan fasilitas yang lengkap. Marvin tidak ingin Briana tidak nyaman, mungkin dengan semua yang dia lakukan itu rasa bersalah yang ada di dalam dirinya sedikit berkurang.
"Dan kini tugasku hanya satu, Yaitu memberikan penjelasan kepada Edward tentang kebenaran yang terjadi Tujuh tahun silam."Ucap Marvin menghembuskan nafasnya berat dan laki-laki itu tampak menyenderkan tubuhnya di kursi yang sedang dia duduki.
Walaupun semua itu cukup sulit mengingat bagaimana keras kepala yang di miliki oleh Edward dan terlebih lagi laki-laki itu masih memendam rasa kebencian dan dendam kepada dirinya. Namun, saat sekelebat ingatan tentang wajah pucat Briana dan tangisan Bianca membuat laki-laki itu membulatkan tekadnya untuk menemui Edward dan menjelaskan semuanya, walaupun apapun yang terjadi Marvin akan siap menghadapi konsekuensinya.
Dengan kecepatan di atas rata-rata Marvin mengendarai mobilnya menuju sebuah gedung tinggi yang menjulang yang laki-laki itu ketahui salah satu perusahaan cabang Milik Edward.
__ADS_1
Lima belas menit pun berlalu, mobil mewah Marvin telah sampai di lobby perusahaan cabang Edward. Marvin memarkirkan mobilnya dengan asal saat netra laki-laki itu melihat Edward yang baru saja keluar dari mobilnya di ikuti oleh Sean di belakangnya.
"Edward...!!"Pekik Marvin dengan tergesa- gesa keluar dari mobil mewahnya.
Edward begitu pun Sean membalikkan tubuhnya saat suara yang begitu familiar memanggil namanya. Namun seketika rahang Edward mengeras saat melihat laki-laki yang telah beberapa saat lalu menyulut amarahnya berada di hadapannya.
Edward kembali melanjutkan langkahnya tidak peduli teriakan Marvin memanggil namanya. Melihat Edward tidak mengindahkan panggilan nya membuat Marvin berlari menghampiri laki-laki yang telah dirinya permainan kehidupannya tersebut.
"Edward..!!"Seru Marvin sembari mencekal pergelangan tangan Edward.
Mata Edward membelik dan menatap tajam tangan Marvin yang kini memegang tangannya.
"Lepaskan..!!"Ujar Edward penuh penekanan.
"Tunggu Edward, bisakah kita berbicara sebentar saja?"Pinta Marvin dengan penuh harap tanpa melepaskan cekalan tangannya.
Edward memutar bola matanya malas mendengar ucapan laki-laki yang ada di hadapannya. "Kau pikir aku akan membuang waktuku yang berharga hanya demi manusia sampah seperti Kau..!!"
Sarkasme Edward sembari menyentak tangan Marvin di pergelangan tangannya.
"Beri waktu aku sepuluh menit untuk menjelaskan semua kekacauan dan kesalahpahaman yang telah aku lakukan." Tutur Marvin dengan menatap Edward dengan penuh arti.
"Ckck... Kau pikir aku peduli?!"Decak Edward dengan deciha nya.
"Edward, Aku mohon..."Pinta Marvin dengan mengatupkan kedua tangannya. "Beri waktu aku sepuluh menit untuk menjelaskan semua kekacauan dan kesalahpahaman yang telah aku lakukan."Imbuhnya.
"Apa ini? Kau memohon kepada ku Marvin?Dimana kesombongan mu Tujuh tahun lalu Marvin sehingga kau merendah seperti ini di hadapan ku."Ucap Edward dengan menutup mulutnya berpura-pura terkejut atas apa yang di lakukan oleh Marvin.
"Drama apalagi yang akan kau mainkan Marvin."Decak Edward di dalam hatinya dengan menggelengkan kepalanya.
"Edward..!!"Marvin memekik frustasi melihat reaksi yang di perlihatkan Edward.
"Aku mohon Edward.."Ucap Marvin kembali.
"Jika kau memohon, Maka memohonlah dengan benar."Cetus Edward dengan tersenyum penuh arti.
"APA...!!"Pekik Marvin yang mengetahui kemana arah pembicaraan Edward.
Sejatinya Marvin memiliki karakter yang hampir sama dengan Edward. Dia memiliki harga diri yang dia junjung tinggi-tinggi. Tapi apakah harus merendahkan dirinya seperti ini untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah dia lakukan di masa lalu.
"Kenapa kau diam seperti itu? Tidak mau? Baiklah Jika seperti itu.."Pungkas Edward tanpa menyurutkan senyumannya.
"Tunggu Edward.."Pekik Marvin saat Edward berjalan meninggalkannya.
Selangkah, dua langkah Edward menunggu apa yang akan di lakukan oleh Marvin dan tepat seperti perkiraan Edward. Dengan menekan ego dan harga dirinya, Marvin bersimpuh di bawah kaki Edward tidak peduli banyak pasang mata yang melihat apa yang dirinya lakukan.
"Baiklah sepuluh menit..."Ujar Edward dengan nada congkaknya dan bersedekap di dada menatap Marvin yang kini bersimpuh di bawah kakinya.
"Sebelumnya aku meminta maaf sebesar besarnya karena perbuatan yang telah ku lakukan di masa lalu...."Dan mengalirkan semua cerita yang ingin Marvin utarakan kepada Edward selama ini. Marvin menjeda ucapannya saat telinganya mendengar suara kekehan dari Edward.
"Ckck... Marvin! Marvin! Kau pikir aku akan percaya dengan semua cerita karangan mu itu?"Decih Edward tanpa menghentikan kekehan nya.
"Drama apalagi yang akan kau mainkan Marvin..!!"Imbuh Edward dengan tegas
"Edward...!!"
"Lebih baik kau pergi dari pada membuang- buang waktu ku dengan semua omong kosong mu itu."Seru Edward dengan tarikan nafasnya yang memburu.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit
__ADS_1
Gift