
Setelah mengetahui dimana keberadaan Bianca dari Pak Jang. Laki-laki kejam itu segera berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu. Bunyi ketukan suara pentopel menggema di kesunyian ruangan itu. Kedua tangan laki-laki itu terkepal erat, sehingga menampilkan buku-buku jarinya. Rahangnya mengeras dengan gigi yang bergemurutuk saat amarah meliputi dirinya.
"Cleona Sialan..!! Apa yang telah di lakukan oleh wanita itu."Desis Edward dengan nafas yang memburu.
Pak Jang menatap punggung tegap Edward yang semakin jauh dari pandangannya. Seketika itu juga rasa bersalah menyelimuti laki-laki parubaya itu, Tidak tahu apa yang akan Edward perbuat kepada Bianca. Sungguh memikirkan semua itu, membuat rasa bersalah semakin bersarang di dalam dirinya.
"Maafkan saya Nona Cleona. Karena saya telah melanggar janji kepada Anda, Untuk tidak memberi tahukan keberadaan Nona Bianca kepada Tuan Edward."Guman Pak Jang memikirkan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi setelah Edward bertemu dengan Bianca.
"Sepertinya saya harus memberi tahukan kepada Nona Cleona, Bahwa Tuan Edward telah mengetahui keberadaan Nona Bianca."Ucap Laki-laki parubaya itu.
Edward mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sehingga tidak jarang pengendara di sekitar Edward hampir saja tertabrak oleh mobil laki-laki. Tidak peduli umpatan pada pengendara lainnya, Edward hanya fokus dengan kemudinya agar segera sampai di tempat tujuannya.
"Sialan...!!"Pekik Edward seraya memukul kemudinya saat melihat kerumunan di hadapannya. Laki-laki itu mengusar wajahnya dengan kasar dan kedua matanya membelik tajam.
Edward menurunkan kaca mobilnya dan bertanya kepada salah satu pejalan kaki tentang apa yang terjadi di depannya. Dan pejalan kaki itupun memberitahukan bahwa ada sebuah kecelakaan beruntun dan mereka sedang mengevakuasi para korban sebelum para tenaga medis dan polisi datang di tempat kejadian.
Dengan terpaksa Edward memutar kembali mobilnya dan mencari jalan alternatif lainnya untuk menuju tempat Bianca. Mungkin itu membutuhkan waktu yang lama namun itu lebih baik dari pada dirinya tidak menemui Bianca sama sekali.
Tiga puluh menit pun berlalu.....
Mobil mewah milik Edward telah berada di rumah sakit dimana Bianca di rawat tiga hari belakangan ini. Dengan memakirkan mobilnya secara asal, Edward keluar dari dalam mobilnya dan segera memasuki rumah sakit tersebut. Namun Edward menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui di ruangan mana Bianca di rawat.
"Shitt..."Umpat Edward untuk kesekian kalinya.
Edward pun segera berjalan menuju meja resepsionis yang tepat laki-laki lewati. "Permisi Nona, Ruangan Bianca Jackson?" Ucap Edward dengan suara datarnya.
"Nona Jackson, berada di Ruangan Anggrek lantai tiga Tuan."Kata petugas resepsionis itu dengan senyuman nya.
Tanpa mengucapkan terima kasih Edward pun segera pergi meninggalkan resepsionis itu. Edward pun berjalan ke lift dan menuju lantai tiga dimana Bianca di rawat tiga hari ini.
Brakk....
Dengan sekali tendangan Edward membuka pintu ruangan Bianca, membuat engsel engsel pintu itu terlepas dari tempatnya.
Bianca terperanjat dalam buaiannya saat pintu ruangan nya di buka secara kasar. Wanita hamil itu pun segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu, Namun kedua manik madunya itu membelik saat melihat seseorang yang sangat dia kenali tengah berdiri dengan menatap tajam ke arah dirinya.
"Tu-tuan..."Pekik Bianca saat kedua matanya bersitatap dengan Edward.
"Ja'ang...!!"Desis Edward dengan tersenyum smriknya. Edward merasa jiwa-jiwa iblisnya telah meronta-ronta di dalam dirinya untuk di puaskan.
"U-untuk Apa Tuan kesini?"Tanya Bianca dengan terbata-bata.
Bianca beringsut mundur saat melihat Edward berjalan melangkah ke arah dirinya. Bianca menggelengkan kepalanya dan tanpa terasa cairan bening keluar dari kedua pelupuk matanya saat dirinya telah berada di bawah Kungkungan Edward.
__ADS_1
"Tuan apa yang anda lakukan?! Lepaskan Saya Tuan...!!"Bianca meronta-ronta untuk terlepas dari bawah kuasa Edward. Bahkan tangan mungilnya tanpa segan memukul dada bidang laki-laki itu dan menggigit bahu Edward.
Plakk....
Dan untuk kesekian kalinya, tangan yang seharusnya melindungi dan menjaga wanita malang itu menampar wajah wanita hamil itu untuk ke sekian kalinya.
Wajah Bianca ke samping, Saat Edward lagi-lagi memberikan luka fisik di tubuhnya. Belum hilang luka yang Edward torehkan beberapa hari yang lalu dan kini Edward kembali memberikan memberikan luka kepada wanita malang itu.
"Tuan sebaiknya Anda keluar dari ruangan saya, Sebelum saya memanggil pihak keamanan dan mengusir Anda dari rumah sakit ini secara tidak terhormat."Kata Bianca penuh penekanan sembari memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.
"Ja'ang Sialan...!!"Tanpa berperasaan Edward kembali menampar wajah Bianca lebih keras dari pada sebelumnya. Sehingga suara tamparan itu begitu nyaring di dalam ruangan itu.
"Tuan Edward."Sentak Bianca dengan menatap Edward dengan tajam. "Anda Sungguh keterlaluan Tuan. Saya berada di rumah sakit adalah karena perbuatan Anda Tuan. Tidakkah Anda merasa belas kasihan kepada wanita hamil ini? Tidakkah Anda berpikir bagaimana perasaan saya, Setelah Anda menyakiti perasaan wanita malang ini? Masih berbekas di ingatan dan tubuh saya bagaimana kejamnya Anda menyiksa wanita yang berstatus sebagai istri Anda. Tidak! Anda tidak akan pernah memberikan belas kasihan Anda kepada saya. Karena semua penderitaan yang ada di hidup saya adalah kebahagiaan Anda."Tutur Bianca dengan menggebu-gebu. Bahkan terlihat dada Bianca naik turun saat amarah membelenggu wanita hamil itu.
"Sumpah demi Tuhan Tuan. Saya tidak akan pernah melupakan semua perbuatan dan perkataan kejam Anda kepada saya. Dan Saya yang harus Anda tahu, Bahwa segala sesuatu akan ada timbal baliknya. Semoga saja jika waktu yang di janjikan itu telah tiba, Anda tidak akan pernah menyesali semua perbuatan dan perkataan Anda kepada saya maupun anak yang ada di dalam kandungan saya."
"Ternyata semakin kesini kau semakin pandai bersandiwara hemm."Ujar Edward seraya mencengkeram rahang Bianca untuk menatapnya. "Dan apa yang kau katakan tadi? Menyesal...? Aku Edward O'deon tidak akan pernah menyesali semua perbuatan dan perkataan ku kepada mu, Karena ku tahu semua yang ku lakukan pantas untuk wanita rendahan seperti mu. Dan satu lagi, Jangan pernah sekalipun kau membawa Nama Tuhan di dalam sandiwara murahan mu itu."Sarkasme Edward.
Edward semakin mencengkram tangannya di rahang Bianca."Kau Tahu... Gara-gara kau dan anak Sialan mu itu, Kehidupan ku menjadi hancur."Serunya.
Plakk...
Tangan mungil Bianca terulur untuk menampar wajah laki-laki yang ada di atasnya. "Sudah berapa kali saya kepada Anda Tuan Edward O'deon yang terhormat! Anda boleh saya menghina dan menginjak injak harga diri saya sepuasnya, hingga hati anda yang penuh dengan kebencian itu menjadi puas. Namun, satu hal yang harus Anda ingat! Jangan pernah sekalipun Anda menyentuh dan menghina bayi yang ada di dalam kandungan Saya."Tutur Bianca dengan penekanan di setiap kalimatnya. Bahkan tangan mungilnya itu dengan beraninya menunjuk wajah Edward.
Kini tangan Edward tidak lagi mencengkeram rahang Bianca. Melainkan mencekik leher wanita hamil itu, membuat Bianca memekik dan kesulitan untuk bernafas.
"Uhuk-uhuk..."Bianca terbatuk-batuk saat tangan Edward mencekik lehernya begitu kuat.
"Sepertinya hukuman yang terakhir tidak membuat jera."Bisik Edward dengan seringai smriknya. "Baiklah, Akan ke beritahu bagaimana seorang O'deon memberikan perhitungan kepada seseorang yang telah berani mengusik kehidupanya." Sambung Edward membuat kedua mata Bianca membelik karena merasakan seseorang yang buruk akan terjadi kepadanya.
"Tu-tuan Apa yang akan Anda lakukan? Anda tidak akan bisa melakukan semua itu kepada Saya, Ingat Anda berada di rumah sakit dan Anda tidak bisa macam-macam kepada saya." Sahut Bianca dengan suara yang memberat karena Edward menguasai tubuhnya.
"Ckck meremehkan ku hemm..."Ucap Edward dengan tersenyum penuh arti. Tanpa berkata Edward menarik kasar tubuh Bianca dalam pembaringannya, Sehingga membuat wanita hamil itu terjatuh di atas brankar dengan posisi duduk. Tanpa berperasaan Edward menarik tubuh Bianca keluar dari ruangannya, dengan tangan yang masih terlilit infusan.
Bianca meronta-ronta untuk melepaskan dirinya dari jeratan Edward. Bahkan tangannya yang di infus terasa nyeri.
"Tu-tuan, Saya mohon lepaskan saya Tuan." Pekik Bianca menggema di seluruh ruangan itu, Sehingga membuat para penghuni di lantai itu berbondong-bondong mencari sumber suara tersebut.
"Melepaskan mu. Bahkan sampai kau mati dan tubuhmu menyatu dengan tanah, Aku tidak akan pernah melepaskan mu. Aku akan membalas semua perbuatan mu, dengan beribu-ribu penderitaan dan kesakitan yang tidak pernah kau bayangkan dalam hidupmu. Sehingga kau merasa lebih baik mati." Sarkasme Edward dengan menatap Bianca dengan penuh kebencian.
Edward menghentikan langkahnya, tangan kekarnya melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Bianca dan beralih menarik rambut wanita hamil itu, Sehingga Bianca merasakan sebagian rambutnya terlepas.
"Akhhh.... Tuan Sa-sakit!"Jerit Bianca saat tubuh lemahnya di seret bagaikan seekor hewan oleh Edward.
__ADS_1
"Sungguh kesialan bagi kehidupan ku saat kau beserta Anak haram mu itu masuk ke dalam hidup ku."Desis Edward dengan gigi yang bergemurutuk saat mengingat semua kejadian yang menimpa hidupnya, setelah Bianca hadir di dalam kehidupannya.
Deg...
Bianca mematung di tempatnya dengan perasaan yang terkoyak dan entah sedalam apa lagi luka yang telah Edward torehkan di hatinya. Air matanya keluar mengingat anak yang dia pertahankan dan perjuangan di setiap penderitaan dan kesakitan yang dia terima, di hina sedemikian rupa itu dari ayah kandungnya sendiri.
Anak haram....
Sungguh kali ini Edward sudah berbuat terlampau jauh dengan menghina darah daging sendiri. "Tuan! Kali ini Anda benar-benar keterlaluan. Bagaimana mungkin akan menghina darah daging anda sendiri dengan kata-kata yang tidak pantas seperti itu?! Walaupun mereka hadir dalam sebuah kesalahan, Namun Anda tidak pantas menghina mereka seperti itu." Sargah Bianca dengan menggebu-gebu. Biarkan dirinya yang selalu mendapatkan setiap hinaan, Asalkan jangan kedua anaknya.
"Apa peduliku, Walaupun bayi yang ada di dalam kandungan mu itu adalah darah daging ku. Itu semua tidak akan merubah semuanya. Karena aku tidak sudi mempunyai anak dari seorang wanita seperti mu."Pungkas Edward dengan belikan kedua matanya.
"Anda akan menyesal Tuan. Sumpah demi Tuhan Tuan dengan semua orang yang melihatnya. Setelah Anda mengatakan semua itu, maka hubungan darah di antara Anda dan bayi yang ada di dalam kandungan saya terputus. Dan di masa yang akan mendatang jika Anda menyesali semua yang Anda lakukan kepada kami, Anda tidak berhak mengakui mereka lagi." Seru Bianca dengan memalingkan pandangannya.
Setiap manusia memiliki batas kesabaran mereka masing-masing. Dan Mungkin kini kesabaran Bianca telah sampai puncaknya, setelah Edward mengatakan anak yang ada di dalam kandungan nya adalah anak Haram.
"Kau pikir aku peduli..."Cetus Edward dengan tersenyum mengejek ke arah Bianca.
Edward melemparkan tubuh ringkih itu dengan kasar, Sehingga tubuh Bianca terbentur dinding sangat kencang.
"Akhhh...."
"Kita lihat saja, Siapa yang di antara kita yang akan menyesal. Kau ataukah Aku." Ujar Edward melepaskan ikat pinggangnya dan menatap Bianca bagaikan seekor pemburu yang tengah mengintai mangsanya. Edward menggulung ikat pinggangnya dengan kedua matanya tidak lepas menatap Bianca.
Cetar....
Cetar...
Suara Cambukan menggema di seluruh lantai rumah sakit itu. Bagikan seorang yang tengah di rasuki Edward mencambuk tubuh Bianca dengan membabi buta. Tidak peduli seluruh pasang mata tengah melihat semua yang telah dia perbuat.
Bianca memejamkan matanya saat setiap cambukan mengenai tubuhnya. Wanita hamil itu tidak meringis ataupun mengeluarkan sedikit suara pun dari mulutnya.
"Anda akan sangat menyesal Tuan. Suatu hari nanti Anda akan merutuki semua perbuatan dan perkataan Anda kepada kami. Dan jika semua itu terjadi, Aku Bianca Ashleya Jackson tidak akan pernah mengampuni dan memaafkan mu walaupun anda memohon dan bersujud di bawah kaki ku."Guman Bianca dengan memeluk perutnya dengan posesif.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Favorit
__ADS_1
Vote