Oh My Baby

Oh My Baby
Part 27


__ADS_3

Rasa lemas itulah yang Bianca rasakan saat membuka kedua matanya. Meregangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan saat rasa pegal menyelimuti wanita hamil. Suara gemuruh yang berasal dari dalam perutnya membuat Bianca mengalihkan atensinya.


"Anak-anak Mamah pasti sangat lapar ya?" Kata Bianca dengan tangan mungilnya mengusap permukaan perutnya yang semakin menggunung dari hari ke hari, terlebih lagi Bianca mengandung bayi kembar, Sehingga di usia kandungannya yang baru memasuki empat bulan, terlihat seperti wanita hamil Eman bulan.


"Baiklah! Lekas kita pergi dari tempat ini dan mencari makanan untuk makan kita bertiga."Ucap Bianca seolah-olah wanita hamil itu kini tengah berbincang dengan kedua buah hatinya.


Bianca menyingkap selimut lusuh yang menghangatkan tubuhnya saat malam hari. Bianca bangkit dari posisinya dan melipat kasur lantai lalu menaruhnya di sudut kamarnya. Setelah itu Bianca mengambil pakaiannya yang dia simpan di atas meja tepat di hadapannya.


Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar saat baju yang dia ambil lagi-lagi sudah tidak muat lagi di tubuhnya dan terasa sesak terutama di bagian perutnya.


"Sepertinya Bianca harus membeli baju baru."Kata Bianca dengan mencebikan bibirnya.


Bianca pun keluar dari rumah kayu itu dan berjalan ke samping rumah, Karena memang posisi kamar mandi terpisah dengan rumah kayu. Bianca terlebih dahulu mengambil air di dalam sumur untuk dirinya mandi.


Setelah beberapa saat Bianca telah menyelesaikan urusannya. Kaki mungilnya melangkah meninggalkan tempatnya bernaung. Jalan setapak yang terlihat licin karena belum di aspal dan sesekali Bianca menyapa para pengawal Edward walaupun wanita hamil itu tidak mendapatkan balasan dari sapaannya.


Ternyata kejadian malam itu telah menyebar di penjuru rumah Edward dan menjadi topik yang hangat di bicarakan oleh para pelayan. Bahkan ada yang secara terang-terangan mengatai Bianca wanita murahan yang tidak tahu malu. Sudah di perlakukan seperti itu oleh Edward masih saja bertahan di sisi Edward, meskipun harga dirinya telah di injak-injak oleh laki-laki itu.


Bianca melewati kerumunan pelayan yang tengah menggunjing dirinya. Bahkan ada beberapa pelayan yang sengaja mengeraskan suaranya saat Bianca melewati mereka.


"Apakah kalian di gaji oleh Tuan Edward hanya untuk bergunjing!"Seru Pak Jang penuh penekanan membuat pada pelayan itu menelan Savilanya dengan susah payah.


"Pak Jang!"Kata Pelayan wanita itu dengan serentak membalikkan badannya ke arah pak Jang.


"Kenapa kalian masih diam seperti itu! Cepat kalian bubar dan kembali mengerjakan tugas kalian masing-masing!"


Titah pak Jang dengan tegas.


"Ba-baik Pak Jang."Kata mereka dengan serempak dan dengan langkah yang tergesa-gesa para pelayan itu pergi meninggalkan Bianca dan pak Jang.


"Anda baik-baik saja Nona?"Tanya pak Jang dengan menelisik penampilan Bianca dari atas hingga bawah. "Anda terlihat berbeda Nona."Pak Jang menerbitkan senyumannya saat mengucapkan kata itu kepada Bianca.


"Apa? Benarkah pak Jang? Apakah Bianca terlihat aneh?"Seru Bianca dengan membolakan kedua matanya.


"Tidak Nona. And terlihat cantik dengan rambut tergerai seperti itu."Memang penampilan Bianca sedikit berbeda karena menggerai rambutnya. Wanita hamil itu tampak mempesona terlebih lagi perut Bianca yang terlihat jelas di balik baju yang Bianca kenakan.


"Terima kasih pak Jang."Jawab Bianca atas pujian dari laki-laki parubaya tersebut.


"Anda akan bekerja Nona?"Bianca menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya."Bukankah ini terlalu pagi untuk Anda bekerja?"Pak Jang melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 06.30.


"Tidak pak Jang, Bianca memang sengaja berangkat lebih pagi karena ada beberapa tambahan Susu yang harus Bianca antar."


Tutur Bianca dengan menepiskan senyumanya. Walaupun pak Jang menatap dirinya dengan datar, Namun Bianca dapat merasakan perhatian dan kasih sayang pak Jang kepadanya.


Suara gemuruh yang berasal dari dalam perut Bianca, membuat Atensi pak Jang teralihkan."Anda ingin saya Ambilkan makan Nona?"


"Tidak perlu pak Jang! Bianca bisa sarapan di luar."Tolak Bianca dengan mengalihkan pandangannya. Bianca pun pamit kepada Pak Jang namun baru beberapa menit Bianca berjalan sebuah pemandangan menyakitkan baginya. Dimana seorang pria yang berstatus sebagai suaminya tengah bersenda gurau dengan lawan jenisnya.


"Istrimu sedang memperhatikan kita."Cetus Cleona menghentikan tangan Edward yang sedang mengacak ngacak rambutnya.


"Benarkah?"Edward pun mengikuti arah pandang Cleona dan benar saja di ujung sana Bianca tengah menatapnya dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan.


"Istrimu cantik."Ucap Cleona membuat Edward menatap Cleona dengan alis yang mengkerut."Kenapa? Kenapa menatapku seperti itu?"Sambung Cleona.


"Percuma Cantik! Jika banyak di cicipi oleh banyak pria."Jawab Edward dengan Sarkas.


Bianca menelan Savilanya saat melihat jakun Edward naik turun. Terbesit keinginan dirinya untuk menyentuh jakun itu dan sedikit mencubitnya. Bianca segera menggelengkan kepalanya menghilangkan pemikiran gila tersebut.


"Astaga apa yang kau pikirkan Bianca! Anak-anak Mamah yang baik, Mamah mohon jangan pernah menginginkan hal yang mustahil seperti itu."Guman Bianca seraya mengusap permukaan perutnya dan semua yang di lakukan oleh Bianca tidak luput dari penglihatan Edward dan Cleona.


_


_


_


"Bianca..."Panggil Seorang wanita di belakangnya. Tanpa membalikkan tubuhnya Bianca pun tahu siapa yang memanggilnya.


"Nyonya Merry?"Kata Bianca setelah membalikkan badannya. "Ada apa Nyonya? Anda membutuhkan sesuatu?"


Nyonya Merry menyerahkan beberapa botol susu kepada Bianca dan Bianca pun menerimanya dan memasukannya ke dalam keranjang di belakang sepedanya.

__ADS_1


"Alamatnya sudah ku kirim ke nomormu dan ini Gaji beserta bonusmu bulan ini."Ucap Nyonya Merry seraya memberikan Bianca sebuah amplop coklat.


"Terima kasih Nyonya."Pekik Bianca dengan wajah yang berbinar-binar. Wanita hamil itu tampak memeluk dan mencium amplop coklat dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Sudah..! Sudah..! Lebih baik kau cepat berangkat, Aku tidak ingin pelanggan ku kecewa karena kau terlambat mengantarkan susu pesan mereka!"Seru Nyonya Merry dengan nada yang sedikit penekanan.


"Baiklah Nyonya Merry! Bianca berangkat."


Bianca pun segera menaiki sepedanya dan berterima kasih kepada Nyonya Merry atas semua bantuan dan pengertian dari wanita itu.


"Iya, Hati-hati. Jangan terlalu kencang mengayuh sepedanya! Ingat kau sedang mengandung, Tidak apa-apa sedikit terlambat mengantarkan susunya."Pekik Nyonya Merry melihat Bianca yang begitu bersemangat mengayuh sepedanya.


"Gadis kecil yang malang."Decak Nyonya Merry melihat punggung ringkih Bianca yang semakin jauh dari jangkauanya.


Bianca mendongkakan kepalanya melihat sebuah bangunan di depannya. Bianca merasa menyesal tidak melihat terlebih dahulu alamat yang telah di kirimkan oleh Nyonya Merry. Atensi Bianca teralihkan saat pintu gerbang di hadapannya terbuka dan terlihat seorang petugas keamanan Bianca dengan tajam.


"Anda Lagi Nona!"Seru petugas keamanan itu dengan berdecak pinggang. "Untuk apa lagi Anda kesini? Anda ingin berbuat keributan lagi disini? Jika memang tujuan anda mencari keributan, lebih baik Anda pergi dari sini. Sebelum saya mengusir anda secara paksa!"


Bianca hanya menatap petugas Keamanan itu dengan datar, tanpa berniat membalas ucapan laki-laki parubaya itu.


"Ada apa ini Hardi? Kenapa kau berteriak teriak sepagi ini?"Tukas Seorang di belakang petugas keamanan itu.


"Nyonya...!"Pekik petugas keamanan itu dengan membelikan kedua matanya.


"Bunda..."Guman Bianca membuang pandangannya. Tangan mungilnya menghapus air mata yang entah kapan keluar dari pelupuk matanya.


Meskipun Bianca membenci atas apa yang telah ibu kandungnya lakukan kepada dirinya. Namun, di dalam lubuk hatinya Bianca masih berharap bahwa Sang Bunda menyadari apa yang telah dia lakukan selama ini adalah salah.


"Maafkan saya telah membuat keributan Nyonya. Tapi saya hanya ingin memperingatkan kepada wanita ini untuk tidak membuat keributan lagi."Kata laki-laki itu sembari menunjuk Bianca.


"Kau.."Pekik Bunda Bianca sembari berjalan ke arah Bianca. Tanpa berkata wanita itu membawa tubuh Bianca ke dalam dekapannya dan menghujami wajah Bianca dengan kecupan.


Bianca membeku di tempatnya saat mendapatkan perlakuan itu dari wanita yang telah melahirkannya. Pelukan yang selama ini Bianca rindukan, rasa hangat mengalir di sekujur tubuh Bianca. Tidak ingin terlena dengan dekapan sang ibunda, dengan kasar Bianca mendorong tubuh Sang Bunda, sehingga membuat wanita itu terhuyung ke belakang dan hampir saja terjatuh jika seseorang di belakang sana tidak cepat menahan tubuhnya sebelum terjatuh.


"Liliyana...!!"


"Bunda...!!"


"Aku baik-baik saja Mas. Tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu."Balas sang ibunda dengan seulas senyumanya.


Mata tajam laki-laki itu kini terpusat kepada Bianca."KAU LAGI...!!"Pekik Suami sang Bunda sembari berjalan ke arah Bianca dengan mata yang berkilat amarah.


"Dasar Anak tidak tahu sopan santun! Apakah kedua orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun kepada orang yang lebih tua!!"Seru Suami sang Bunda dengan suara yang meninggi.


Deg. Seperkian detik Bianca terhenyak di tempatnya, Senyuman getir tercekat jelas di wajah cantiknya. "Kenapa memangnya Jika saya tidak di ajari sopan santun oleh kedua orang tuaku? Apakah itu merugikan Anda?"


Tukas Bianca dengan suara yang menantang.


"KAU...!"Pekiknya dengan suara yang lantang bahkan nafasnya terdengar memburu seiring amarah membelenggu dirinya. "Dasar Anak Sialan..!"Imbuhnya.


"Mas Sudah! Jangan terbawa emosi seperti itu, Itu tidak baik untuk kesehatan mu."


Seru Sang Bunda sembari mengelus punggung sang suami.


"Tidak Liliyana! Aku harus memberi pelajaran bagi anak yang tidak bermoral ini. Dia harus tahu bagaimana cara bersikap kepada orang yang lebih tua darinya." Sahut Laki-laki itu dengan menepis tangan sang istri dari punggungnya.


"Mas..!!"Ucap Bunda Liliyana penuh dengan penekanan. Namun laki-laki itu tidak mengindahkan peringatan dari sang istri.


"Kau pengantar susu rupanya."Kata Laki laki itu melihat keranjang yang ada di belakang sepeda Bianca.


Kejadiannya begitu cepat sehingga Bianca tidak dapat mencegah saat laki-laki itu menjatuhkan sepedanya dan menendang botol botol susu sehingga tiada sisa.


"Mas..!!"Pekik Bunda Liliyana melihat perbuatan suaminya yang sudah keterlaluan kepada Bianca.


Bianca mengepalkan tangannya dan manik madunya menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Kenapa? Ingin marah?"Serunya dengan tersenyum penuh kemenangan. Laki-laki itu mengambil dompetnya dan mengambil semua uang tunai di dalamnya lalu melemparkan semua uang itu ke wajah Bianca. "Dan uang ini untuk ganti semua susu mu!"


"Mas Marcel! Sudah Cukup mas. Semua ini sudah melampaui batas."Seru Bunda Liliyana berjalan menuju Bianca dan mengambil semua uang uang yang berceceran di sekitar Bianca.


"Kau tidak apa-apa Nak?"Tanya Sang Bunda menatap Bianca penuh dengan ke khawatiran.

__ADS_1


"Lepaskan...!"Bianca menyentak tangan sang ibunda yang berada di wajahnya.


"Sumpah demi Tuhan Aku membenci pertemuan ini. Dan semoga saja ini adalah pertemuan terakhir saya dengan Anda."


Ucap Bianca dengan suara yang menajam.


Bianca segera membangunkan sepedanya dan menaikinya untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Tunggu dulu! Ambil uang ini untuk mengganti rugi semua dagangan kamu yang rusak."


"Tidak perlu! Saya tidak membutuhkan belas kasihan dari Anda."Balas Bianca.


"Tidak Nak, Bukan seperti itu."Tampak Bunda Liliyana memaksa Bianca untuk menerimanya, Namun Bianca tetap menolak uang itu.


"Ambilah uang ini."Bunda Liliyana menaruh paksa uang yang ada di tangganya ke dalam saku celana Bianca. Dan Bianca yang tidak ingin berdebat lagi pun segera meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Mas! Kamu keterlaluan! Aku kecewa kepada mas."Katanya sembari berlalu pergi meninggalkan sang Suami.


Bianca mengayuh sepedanya dengan perasaan yang sulit untuk di jabarkan. Kecewa, marah dan kebencian menyatu padu di dalam dirinya sehingga membuat terasa sulit untuk bernafas. Pandangan Bianca kosong dengan tatapan mata yang lurus ke depan.


"Bunda..."


"Bunda...."


"Kenapa Bunda begitu tega melakukan itu kepada Bianca? Kenapa tidak Bunda gugurkan saja saat Bianca berad di dalam kandungan Bunda! Bianca tidak ingin hidup Bianca seperti ini dan tidak adakah sedikit saja kebahagiaan untuk Bianca Tuhan? Bianca Lelah berada di posisi seperti itu terus menerus."Ucap Bianca dengan lirih.


Bianca menghentikan sepedanya saat dia sudah berada di tempat peternakan sapi milik Nyonya Merry. Bianca berjalan ke dalamnya dengan lesu bahkan Bianca merasa kesulitan untuk menopang tubuhnya.


"Nyonya Merry..."Panggil Bianca kepada wanita parubaya itu.


"Bianca? Kau sudah datang? Mengapa cepat sekali?"Tanya Nyonya Merry dengan bertubi-tubi. "Ya Tuhan Bianca! Kau pucat sekali."Pekiknya.


"Bianca tidak apa-apa Nyonya."Jawab Bianca dengan menundukkan kepalanya.


"Maafkan Bianca Nyonya. Susu milik anda terjatuh saat Bianca akan mengantarkan nya kepada pelanggan."Kata Bianca.


"Mengapa bia?"


"Sebuah mobil tidak sengaja menyenggol sepeda sehingga terjatuh dan botol botol susu itupun ikut terjatuh dan pecah semuanya."Dusta Bianca.


Wanita hamil itu tidak ingin Nyonya Merry mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi kepada Bianca. Dan Bianca tidak ingin Nyonya Merry khawatir atas apa yang terjadi terhadap kondisi Bianca.


"Astaga Tuhan."


"Tapi tenang saja Nyonya, pengemudi itu mengganti rugi kok."Bianca menyerahkan uang yang ada di dalam sakunya kepada Nyonya Merry.


"Kau baik-baik saja Bia? Apakah kau terluka? Lalu bagaimana kondisi kandungan mu? Ya Tuhan! Mukamu pucat sekali Bia." Nyonya Merry tidak mengambil uang yang ada di tangan Bianca. Wanita parubaya itu terlihat sangat khawatir kepada Bianca dan kandungannya."Apakah kita perlu ke rumah sakit untuk memastikan kandungan mu baik baik saja?"


"Tidak perlu Nyonya. Bianca baik-baik saja." Jawab Bianca seraya memberikan uang itu kepada Nyonya Merry.


"Ini banyak sekali Bia?"Ucap Nyonya Merry melihat untuk yang di berikan Bianca. Nyonya Merry mengambil tiga lembar uang berwarna merah dan kembali memberikan sisa uang itu kepada Bianca.


"Ini apa Nyonya? Kenapa semua uangnya Nyonya berikan kepada Bianca?"Tanya Bianca.


"Itu untuk mu saja. Saya hanya mengambil uang setoran susu saja."Ucap Nyonya Merry.


"Tapi Nyonya, ini banyak sekali."


"Tidak apa-apa anggap saja rezeki untuk anakmu."Sahutnya sembari mengusap punggung ringkih wanita hamil itu.


Jangan lupa


Like


Comment


Vote


Rate


Favorit

__ADS_1


__ADS_2