
Jung Kook memulai rehabilitasinya hari ini. Hana mendorong kursi roda Jung Kook yang sedang memangku Kiki.
"Noona ... Kalau misalnya aku nggak bisa jalan lagi, nanti kita beli kursi roda listrik."
Kursi roda listrik lebih praktis karena tinggal menyentuh tombol, kursi roda bisa jalan sendiri.
"Semoga harganya nggak mahal."
Mereka sampai di ruang rehabilitasi. Jung Kook mulai dari ujung. Tangannya memegang balok kayu di kanan kiri berusaha menahan berat tubuhnya.
Hana dan Kiki melihat dari dekat.
Terapis membantu Jung Kook. Jung Kook sempat jatuh. Kiki segera berlari ke arah Jung Kook. Ia menyemangati Jung Kook. Sama seperti saat dirinya waktu terjatuh, Jung Kook akan menyuruhnya untuk berdiri lagi.
Jung Kook mulai melangkahkan kakinya. Ia berhasil sampai setengahnya. Terapis Jung Kook merasa heran.
Aneh ...
Seharusnya pasien ini nggak bisa jalan.
__ADS_1
Setelah selesai terapi, terapis itu melihat hasil tes Jung Kook lagi.
Betul ...
Pasien yang tadi itu harusnya lumpuh.
Apa hasil tesnya salah?
Jung Kook sendiri juga merasa aneh. "Noona ... Dokter, kan bilang aku bakal lumpuh. Tapi aku tadi itu bisa jalan. Mungkin bentar lagi aku bisa jalan sendiri."
"Iya. Aku juga kaget. Tapi aku senang seandainya kau bisa jalan lagi."
Dokter juga terkejut dengan kemajuan kaki Jung Kook. Terapis Jung Kook memberitahunya ada yang aneh karena hasil tes dan kenyataan berbeda.
"Dokter ... Sepertinya ada yang salah. Pasien Jung Kook yang seharusnya tidak bisa berjalan, kemajuannya sangat pesat. Ia bahkan bisa berjalan dengan kruk sekarang. Tapi ada pasien lain yang bernama Jong Kook, hasil tesnya bagus tapi kakinya lemah."
Mereka lalu memeriksa ulang hasil tes itu. Hasil tes mereka ternyata tertukar. Cedera kaki Jung Kook tidak separah yang dokter bilang.
"Maafkan kami. Hasil tes bapak Jeon tertular dengan hasil tes bapak Jeon yang lainnya. Sekali lagi kami minta maaf." Dokter itu membungkukkan punggungnya 90 derajat ke Hana dan Jung Kook.
__ADS_1
"Noona ... Ternyata kakiku itu baik-baik saja." Jung Kook merasa gembira. Itu artinya ia bisa berjalan lagi.
Hana ikut senang walau dalam hatinya ia merasa kasihan dengan pasien yang satunya.
Jung Kook diperbolehkan pulang ke rumah. Jung Kook terus melatih kakinya. Ia semakin bersemangat saat tahu kakinya hanya cedera biasa dan bisa pulih. Tapi untuk sementara ia tidak mengemudi sampai kakinya benar-benar pulih total. Ia tak mau ambil resiko Hana dan Kiki celaka karena ia memaksakan diri menyetir.
Kiki senang karena ayahnya bisa sering bersamanya. Apalagi saat libur seperti ini. Mereka memang belum bisa bermain di luar karena kondisi Jung Kook. Tapi asal ada ayahnya dan Seon Ho itu sudah lebih dari cukup.
Mint lihat ...
Mama pengen ada teman main juga.
Kayak appa sama Kiki.
"Camilan ..." Hana meneriakkan kata mujarab yang bikin semuanya menghampiri dirinya. Kiki membawakan camilan buat Jung Kook.
"Appa ... Akh ..." Kiki membuka mulutnya tanda Jung Kook harus membuka mulutnya juga. Ia hendak menyuapi Jung Kook.
"Akh ..." Jung Kook membuka mulutnya lebar-lebar. Ia melahap habis semua camilan di tangan Kiki.
__ADS_1