
Di sebuah ruangan tepatnya di ruang kerja Papah Julian, Laki-laki parubaya itu tampak mengepalkan kedua tangannya di atas kursi kebesarannya dengan kedua matanya mendelik tajam, Seolah-olah seekor elang yang tengah mengintai mangsanya. Helaan nafasnya terdengar kasar, memecahkan kesunyian di dalam ruangan itu.
"Sialan..!!"Pekik Papah Julian dengan menghempaskan barang-barang yang ada di sekitarnya. Sehingga membuat kertas-kertas berhamburan di sekitarnya.
Amarah laki-laki parubaya itu meluap dan membuncah seketika, Saat mendengar informasi dari bawahannya bahwa proyek dan kerjasama mereka dengan perusahaan Dimitri telah di batalkan secara sepihak. Walaupun pihak dari perusahaan Dimitri telah memberikan uang kerugian kepada perusahaannya, tetap saja semua itu tidak mengurangi rasa marah yang ada di dalam diri Papah Julian.
Laki-laki parubaya itu merasa terhina akan apa yang telah di lakukan oleh perusahaan Dimitri, karena tidak pernah sekalipun perusahaan lain membatalkan kerja sama dengan perusahaan nya terlebih lagi perusahaan Dimitri adalah perusahaan yang baru beberapa tahun bergerak, walaupun pengaruh perusahaan Dimitri lebih besar dari pada perusahaannya.
Erland yang tidak sengaja melewati ruangan Papah Julian mendengar keributan di dalam dan benda-benda berjatuhan dengan segera memasuki ruangan tersebut. Dan kedua matanya membola melihat ruangan yang biasa bersih dan tertata rapi, kini benar-benar berantakan bagaikan telah di landa gempa bumi.
"Astaga Papah! Apa yang kau lakukan?!!" Pekik Erland seraya berjalan tergesa-gesa ke arah Sang Papah.
"Keluarlah dari Erland..!"Seru Papah Julian berusaha merendahkan suaranya walaupun amarah membelenggu laki-laki parubaya itu. Papah Julian tidak ingin karena dirinya yang masih di kuasai oleh amarah, laki-laki dapat melukai Sang anak.
"Tapi Pah..."Sahut Erland.
"Tidak ada tapi-tapian Erland! Lebih sekarang kau keluar dari ruangan Papah, sebelum Papah melakukan sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan sama sekali." Pungkas Papah Julian dengan suara yang naik satu oktaf.
Erland mematung di tempatnya saat Papah Julian untuk pertama kalinya meninggikan suaranya ke arahnya, rasanya begitu sakit dan entah mengapa pikiran Erland tiba-tiba saja mengingat sang kakak Edward. Bagaimana perasaan laki-laki itu saat Sang Papah selalu membentak dan berkata kasar kepada Edward bahkan tidak segan-segan bermain tangan kepada Edward. Apakah hati dan perasaan kakaknya hancur melebihi dirinya saat ini? Ataukah ini alasan mengapa sikap Edward sangat keras kepada dirinya dan sang Papah?
"Apa yang kau lamunakan Erland?! Cepat kau pergi dari sini..."
"Tapi Pah Erland..."Timpal Erland namun langsung di pungkas oleh Papah Julian.
"Erland O'deon!!"Seru Papah Julian penuh penekanan membuat Erland mau tidak mau keluar dari ruangan sang Papah.
Setelah Erland keluar dari ruangan kerjanya. Papah Julian kini tengah duduk di kursi kebesarannya dengan amarah yang semakin menguasai laki-laki parubaya itu.
Tidak lama kemudian datanglah seorang laki-laki yang telah tiga puluh tahun mengabdikan hidupnya di perusahaan O'deon.
"Tuan..."Laki-laki itu membungkukkan badannya setelah berada di hadapan Papah Julian.
"Bagaimana Jack? Apakah kau telah menemui pihak Perusahaan Dimitri dan menanyakan kenapa mereka, mengapa mereka membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita?"Tanya Papah Julian dengan bertubi-tubi.
"Maafkan saya Tuan. Saya berusaha menemui pihak Perusahaan Dimitri, Namun tidak ada satupun di antara mereka yang menemui saya."Tutur Asisten Jack dengan menundukkan pandangannya.
"APA?! Bagaimana bisa itu terjadi? Apakah mereka reka tidak tahu siapa kita?"Pekik Papah Julian dengan mengeratkan rahangnya.
Ketegangan itu terhenti saat Erland membuka pintu ruangan ruangan Papah Julian dengan sangat kencang, Sehingga membuat suara yang cukup nyaring di antara ketegangan tersebut.
"Apa yang kau lakukan Erland O'deon?!" Sentak Papah Julian membuat Erland tersentak di tempatnya.
"Ma-maafkan Erland Pah."Ucap Erland tanpa berani menatap ke arah sang Papah.
Papah Julian menghembuskan nafasnya mengurangi amarah yang kian menguasai dirinya. Lalu Papah Julian pun bertanya mengapa Erland kembali masuk ke dalam ruangan nya.
"Lihatlah ini Pah..."Kata Erland seraya menyerahkan ponselnya kepada Papah Julian. Kenyitran tercekat jelas di kening laki-laki parubaya itu saat menerima ponsel Erland, Namun tidak lama kemudian kedua mata Papah Erland terbelak dengan rahang yang mengerat.
"Apa maksud dari semua ini Erland?!"Desis Papah Julian dengan nafas yang memburu.
"Seperti yang Papah lihat."Balas Erland.
"Bagaimana mungkin anak Sialan itu adalah pemilik dari perusahaan Dimitri?"Kata Papah Julian dengan mengepalkan kedua tangannya.
Belum sempat Erland menjawab pertanyaan dari Papah Julian, Salah satu direktur di perusahaan O'deon memberi tahukan bahwa saham di perusahaan itu menurun dengan drastis, bahkan banyak dari pada investor yang kembali menarik investasi nya sehingga membuat perusahaan itu berada di ambang batas kehancuran dalam waktu sekejap.
"APA?!! Bagaimana mungkin...?!"Pekik Papah Julian .
_
_
__ADS_1
_
Bianca mengerjab ngerjabkan kedua matanya saat rasa pusing mendera dirinya. Kedua bola mata Bianca bergerak liar saat merasakan ruangan yang begitu asing baginya, begitu gelap dan pengap.
"Dimana Aku? Kenapa Bianca ada disini?" Ucap Bianca dengan lirih. Bianca memejamkan matanya saat rasa pusing itu kian menyiksa dirinya, saat wanita hamil itu akan mengangkat tangannya sesuatu yang berat membuat Bianca tidak kuasa mengangkat tangannya begitu pun dengan kedua kakinya.
"Rantai..."Ucap Bianca dengan kedua mata yang terbelalak saat kedua tangan dan kakinya di rantai bagaikan seekor hewan peliharaan.
Bianca merasa Dejavu akan situasi yang kini dia hadapi. Bianca pernah merasakan hal ini bahkan ketakutan itu masih terasa jelas hingga sekarang, saat ruangan gelap itu menyelimutinya sehingga membuat wanita hamil itu merasa sesak dan kesulitan untuk bernafas. Tubuh Bianca bergetar, membuktikan seberapa besar ketakutan itu. Bianca merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya, terlebih lagi Bianca merasa suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya dan tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang terbuka dari luar ruangan.
Bianca berusaha berpindah dari tempatnya, namun rantai itu begitu kuat membuat Bianca tidak bisa menggerakkan tubuhnya, terlebih lagi tubuh Bianca masih dalam pengaruh obat bius.
"Wah.... Ternyata Ja'ang murahan ini, telah terbangun."Bianca mengalihkan pandangannya saat mendengar suara laki-laki yang begitu tidak asing baginya. Bianca mengalihkan pandangannya dan seketika wanita hamil itu membelakan kedua matanya saat melihat Edward berdiri menjulang di depannya dan tidak lupa senyuman seringai tercekat jelas di wajah tampannya.
"Tu-tuan."Bianca memundurkan tubuhnya saat Edward berjalan ke arahnya. Namun usaha Bianca hanya sia-sia belaka, karena rantai yang mengikatnya membuat tubuh Bianca tidak bisa kemana-mana.
"Kenapa mundur mundur seperti itu? Takut ya? Kasihan sekali?"Cetus Edward dengan tangan yang bersedekap dada dengan kedua manik matanya tidak henti-hentinya menatap Bianca.
"Tuan Edward! Mengapa Anda ada disini Tuan."Ujar Bianca dengan rasa takut yang kian membelenggu wanita hamil itu.
"Lihatlah tubuhmu bergetar, Apakah benar kau saat ini kau tengah ketakutan."Seru Edward tanpa membalas perkataan Bianca.
"Dan satu lagi, Kau bertanya mengapa aku ada disini. Maka jawabannya karena akulah yang membawa mu kesini."Sambung Edward dengan penuh arti dan tidak lupa tangan besar Edward mencengkeram rahang Bianca dengan sangat erat sehingga menampilkan buku-buku jarinya.
"Tu-tuan apa yang Anda lakukan? Kenapa Anda membawa saya kesini?"Kata Bianca dengan menahan nyeri di rahangnya karena cengkraman tangan Edward yang begitu kencang sehingga Bianca merasakan kesakitan yang sangat teramat di wajahnya.
Edward berdecak dan menatap Bianca dengan nyalang. Ingatan Edward kembali berputar bagaimana wanita picik di hadapannya masuk ke dalam kehidupannya dan merusak semua angan-angan dan impian yang telah Edward dan sang kekasih bangun hancur berkeping-keping. Hubungan Edward dengan kedua orang tuanya merenggang, dan dia menjadi bahan olok-olokan oleh teman-temannya dan yang paling membuat Edward murka adalah pada saat Cleona saudaranya sendiri memenjarakannya hanya demi seorang wanita yang baru dia kenal.
Mengingat itu semua tanpa sadar Edward semakin mengeratkan cengkramanya di rahang Bianca, sehingga membuat wanita hamil itu semakin merintih kesaksian.
"Akhh.... Tu-tuan Sa-sakit."Kata Bianca di sela-sela rintihan nya.
"Tu-tuan ini sangatlah sakit. Saya mohon lepaskan saya Tuan, sebenarnya apa kesalahan saya Tuan sehingga tuan memperlakukan saya begitu kejam seperti ini."Tutur Bianca berusaha menahan sakit dan cairan bening yang telah menumpuk di kedua pelupuk matanya.
"Wanita Sialan!! Kau masih bertanya apa kesalahan mu!"Pekik Edward dengan deru nafas yang menderu. "Kau menjebak ku di malam itu, sehingga ku tanpa sadar melakukan hubungan terlarang dengan mu. Pernikahan ku hancur dan kekasihku pergi entah kemana, karena termakan permainan murahan mu itu! Dan aku menjadi bahan olok-olokan oleh teman-temanku karena memperistri wanita Ja'ang seperti mu " Sunggut Edward dengan menggebu-gebu bahkan kedua matanya menatap tajam ke arah Bianca.
"Dan sudah berapa kali saya jelaskan Tuan, bahwa saya bukanlah orang yang menjebak And di malam itu! Jika bukan karena saya menolong Anda di malam itu, mungkin keadaan Anda tidak seperti sekarang." Sargah Bianca suara yang menahan tangisannya.
"Ckck... Kau pikir aku percaya dengan karangan murahan mu."Tukas Edward seraya menghempaskan cengkraman tangannya dengan sangat kencang, membuat wanita itu terpelanting ke belakang cukup keras dengan rantai besi yang menggores lengan dan kaki Bianca.
"Akhh... Sa-sakit."Pekik Bianca dengan menggigit bibir bawahnya menahan nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya sehingga membuat Bianca tidak kuasa untuk menggerakkan tubuhnya.
"Hentikan sandiwara mu Ja'ang! Kau pikir dengan air mata buaya mu, aku akan berbelas kasih dan mengampuni semua dosa-dosa dan kesalahan yang telah kau perbuat?!"Sentak Edward menggema di seluruh ruangan itu. Membuat tubuh Bianca semakin bergetar karena ketakutan.
"Tuan, Jangan karena dendam dan kebencian anda menutup mata akan kebenaran yang ada di hadapan Anda." Ucap Bianca dengan meneguk Savilanya dengan susah payah. "Bukan Anda saja korban dari kejadian malam itu. Nyatanya saya adalah korban yang paling menderita dari kejadian malam itu. Kehidupan dan masa depan saya hancur, saya di usir dari rumah Ayah saya dengan sejuta hinaan dan cacian yang mereka lontarkan kepada Saya. Saya mengandung di usia yang sangat muda, Akan tetapi saya tidak pernah menyalahkan takdir ataupun siapapun tentang kepahitan yang saya alami ataupun membenci janin yang ada di dalam kandungan saya. Karena saya tahu bahwa takdir yang Tuhan akan indah pada waktunya dan tanpa kita duga-duga."Imbuh Bianca dengan menik madunya menatap Edward dengan lekat.
"Sudah...!! Bukankah semua ini yang kau inginkan. Masuk ke dalam kehidupan ku dengan alasan janin yang ada di dalam kandungan mu yang entah siapa ayahnya." Timpal Edward dengan sinis.
"Terserah jika itu yang Anda yakini. Yakinlah jika semua itu yang Anda percayai hingga akhirnya kebenaran itu terungkap dan janganlah Anda menyesal jika semua kebenaran itu terungkap tanpa anda duga. Dan satu hal yang harus Anda ingat, bahwa adalah laki-laki yang merenggut kesucian saya dan ayah dari janin yang saya kandung."Sahut Bianca.
"Cuihh...."Edward meludah tepat mengenai wajah Bianca. "Jangan pernah sekalipun kau membawa nama Tuhan dalam perkataan-perkataan menjijikkan mu itu." Pungkas Edward dengan rahang yang mengerat.
"Dan satu lagi yang harus kau ingat! Jika memang benar janin yang ada di dalam kandungan mu adalah milikku. Itu tidak mengubah semua keadaannya, karena Aku Edward O'deon tidak akan pernah sudi mendapatkan anak dari wanita yang rela menjual kehormatannya hanya demi sebuah ambisi."Sarkas Edward tanpa mempedulikan perasaan Bianca atas apa yang telah dia ucapkan.
Bianca berusaha menyeka ludah Edward yang mengenai wajahnya. Wanita hamil itu memalingkan wajahnya dengan air mata yang entah sejak kapan keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Terserah apa katamu Tuan. Saya hanya bisa berdoa Jika suatu saat Anda menyadari semua kesalahan Anda kepada saya maupun janin yang ada di dalam kandungan saya, Anda tidak terlambat dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi Anda."Seru Bianca dengan suara paraunya.
"Berhentilah berbicara omong kosong seperti itu Ja'ang! Kau pikir dirimu berharga?"Tukas Edward dengan menarik salah satu sudut bibirnya. "Sampah seperti mu hanya layak berada di tempat kotor dan menjijikkan."Imbuhnya dengan tersenyum penuh kemenangan.
Bianca hanya diam tidak menimpali semua hinaan-hinaan Edward yang lontarkan kepada dirinya, karena setiap sanggahan yang Bianca lontarkan pasti akan mendapatkan balasan yang sangat menyakitkan oleh Edward.
__ADS_1
"Terserah apa yang anda katakan Tuan. Yakinlah sesuatu yang memang Anda yakini kebenarannya dan lakukanlah sesuatu yang memang Anda benarkan, saya ikhlas menerima semua yang anda lakukan, Jika semua itu mengurangi rasa benci Anda kepada saya."Tutur Bianca berusaha menepiskan senyuman di wajah kuyunya.
"Tanpa kau perintahkan ku aku akan melakukannya. Akan ku lakukan sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan di dalam kehidupan mu, Sehingga kau menyesal karena telah bermain-main dengan seorang Edward O'deon."Seru Edward dengan smriknya.
Bughh....
Bughh....
Plakk...
Tanpa berperasaan nya Edward menampar dan memukul wajah maupun tubuh mungil itu dengan membabi buta. Suara tamparan itu menggema di dalam ruangan gelap itu, membuktikan seberapa kencangnya Edward memukul dan menampar wanita malang itu. Sementara itu para anak buah Edward menelan Savilanya dengan susah payah, mendengar suara gema tamparan Edward yang laki-laki itu lakukan kepada wanita yang berstatus sebagai istrinya. Kini mereka akan berpikir dua kali jika mereka akan mengkhianati Edward, mengingat seberapa kejamnya perlakuan Edward kepada segelintir orang yang berusaha mengusik kehidupanya.
Edward menghentikan tangannya saat akan kembali menampar wajah Bianca. Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Bianca yang penuh memar kebiru-biruan dan tidak lupa dengan sudut bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah karena perbuatanya. Perasaan Edward membuncah dan sulit untuk di jabarkan saat melihat Bianca yang tidak berdaya karenanya.
"Semua ini hanyalah awal dari permainan yang akan ku lakukan. Namun, lihatlah kondisi mu saat ini begitu mengenaskan dan memprihatinkan."Ucap Edward dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari sudut bibirnya."Namun semua ini sepertinya belum cukup atas semua yang kau lakukan kepada ku."Edward tersenyum penuh arti.
"Ja-jangan Tu-tuan! Sa-saya mohon hentikan semua ini Tuan. Ini sangatlah sakit."Bianca berucap dengan terbata-bata karena rasa sakit yang kian menjalar di sekujur tubuhnya terutama rasa sakit di wajahnya karena tamparan Edward.
"Kau pikir aku peduli dengan kesakitan mu? Kau salah berkata seperti itu kepada ku, karena melihat mu menderita dan kesakitan adalah kebahagiaan untuk ku. Jadi lebih baik kita melanjutkan permainan kita karena malam masih sangatlah panjang."Sahut Edward seraya berdiri dan berjalan dengan langkah lebar menuju sudut ruangan.
"Tu-tuan..."Kedua mata Bianca membola saat melihat Edward membawa sebilah pisau dengan tatapan matanya ke arah dirinya.
"Kenapa terkejut seperti itu? Aku hanya membawa sebuah pisau yang kecil bukanlah pedang ataupun samurai yang panjang. Aku hanya sedikit berpikir jika bermain pisau dengan mu, pasti sangatlah menyenangkan."Seru Edward dengan tersenyum miring.
"Tu-tuan Ja-jangan..."Bianca menahan nafasnya saat Edward telah ada di hadapannya dengan pisau yang mengarah ke arah perutnya. Dan Bianca pun berusaha memeluk perutnya walaupun kedua tangannya di rantai.
"Aku hanya ingin melihat perut mu saja, kenapa tidak boleh? Atau lebih baik kita aku keluarkan saja bayi yang ada di dalam perut mu, Sehingga aku mengetahui bahwa bayi kecil itu adalah milikku atau bukan."Tutur Edward dengan mengarahkan pisau itu tepat di atas perut Bianca.
"Jangan Tuan, Jangan lakukan itu kepada bayi saya Tuan. Meskipun Anda tidak menginginkan kehadiran mereka dan mengatakan kehadiran mereka adalah Aib yang harus anda hilangkan. Akan tetapi tidak bagi Saya, mereka adalah anugerah terindah yang telah Tuhan berikan kepada Saya dan saya akan mempertahankan mereka walaupun penderitaan dan kesakitan menyertai kehidupan saya."
Timpal Bianca dengan suara yang bergetar.
"Akhh..."Bianca memekik saat Edward menekan pisau itu ke permukaan perutnya sehingga menyebabkan tidak sedikit darah keluar dari perutnya.
"Ingatlah saat kata yang harus kau ingat. Jika aku mendengar kau berusaha keluar dari ruangan ini, walau satu langkah dari ruangan ini. Aku ku pastikan kau mendapatkan balasan yang tidak pernah kau bayangkan dalam hidupmu. Aku pun bisa mengeluarkan anakmu saat ini dan melenyapkannya dan memberikannya kepada hewan-hewan peliharaan ku, Jika kau berusaha lari di ruangan ini."Kata Edward sembari menekan pisau itu di perut Bianca.
Tubuh Bianca bergetar hebat mendengar semua perkataan perkataan Edward kepada dirinya. Bianca tahu bahwa semua ucapan Edward kepada dirinya tidak akan main-main dan laki-laki akan membuktikan semua perkataan walaupun harus mengorbankan hati nuraninya.
"Cobaan apalagi ini Tuhan. Kenapa engkau menempatkan hambamu yang malang itu kepada situasi yang sulit ini."Tanya Bianca kepada sang pemilik kehidupan.
Edward pun bangkit dan melemparkan pisau yang ada di genggamannya ke sembarang arah, Sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring membuat Bianca memejamkan matanya.
"Sean...!"Panggil Edward dengan suara tingginya dan tidak lama kemudian seorang laki-laki keluar dari kegelapan dan berjalan ke arah Edward.
"Saya Tuan...."Kata Sean dengan membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.
"Panggilkan Dokter dan suruh dokter itu mengobati wanita Ja'ang ini. Karena aku tidak ingin wanita Ja'ang itu mati dengan mudahnya, sebelum aku membalaskan semua yang telah wanita itu lakukan kepadaku."Titah Edward langsung di angguki oleh Sean.
Jangan lupa
Like
Comment
Vote
Rite
Favorit
Tips
__ADS_1