Oh My Baby

Oh My Baby
Part 45


__ADS_3

Dan disinilah Asisten Kai sekarang. Di sebuah cafe yang tidak jauh dari perusahaan Dimitri, setelah rentetan pesan yang menggangu konsentrasi dalam bekerja membuat Asisten Kai membulatkan tekadnya untuk menemui sang pelaku pengirim pesan di tempat yang di tentukan.


Suara decitan pintu mengiringi langkah Asisten Kai setelah memasuki cafe tersebut. Kedua manik matanya bergerak liar untuk memastikan keberadaan seseorang yang beberapa jam ini mengganggu ketenangan nya dengan rentetan rentetan pesannya.


"Dimana orang itu?"Guman Asisten Kai dengan mengerutkan keningnya dan decakan terdengar lirih dari mulut laki-laki itu.


Baru saja Asisten Kai akan mengeluarkan ponselnya seorang pelayan wanita memanggil namanya. Membuat Atensi laki- laki itu teralihkan.


"Tuan Kai..."Panggil pelayan wanita itu dengan member bow kepada laki-laki yang ada di hadapannya.


"Ya, Anda siapa?"Tanya Asisten Kai dengan tatapan dinginnya membuat pelayan wanita itu meremang di tempatnya.


"Mari mengikuti saya, kedatangan Anda telah di tunggu."Tutur pelayan sembari berjalan mengiringi langkah Asisten Kai menuju sebuah ruangan VVIP yang tidak banyak orang kunjungi oleh sembarang orang.


"Silahkan Tuan..."Pelayan wanita itu membukukan pintu untuk Asisten Kai lewati.


"Tuan telah menunggu kedatangan Anda."


Imbuh pelayan wanita itu sebelum pergi meninggalkan Asisten Kai untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Kedua alis Asisten Kai mengkerut melihat seorang laki-laki yang memunggunginya yang terasa familiar bagi Asisten Kai.


"Kau telah tiba rupanya..."Laki-laki itu membalikkan tubuhnya saat mendengarkan suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.


"Dokter Andreas...!!"Pekik Asisten Kai dengan kedua mata yang terbelalak.


"Tidak perlu berpura-pura kaget seperti itu! Akting mu sangatlah buruk."Decak Dokter Andreas dengan kedua tangan yang bersedekap di dadanya dan menatap sinis Asisten Kai.


Asisten Kai tersenyum miring sembari duduk di kursi yang ada di hadapan Dokter Andreas. Memang sebenarnya Asisten Kai sudah mengetahui bahwa seseorang yang telah mengirimkan pesan adalah Dokter Andreas. Hanya saja Asisten Kai berpura- pura tidak mengetahuinya dan mengikuti permainan yang telah di buat oleh Dokter Andreas.


"Baiklah Jika memang Dokter Andreas mengetahuinya."Kata Asisten Kai dengan menggidikan bahunya.


"Langsung saja ke intinya, Ada hal penting apa yang ingin Dokter Andreas katakan kepada saya, Sehingga Anda meneror saya dengan rentetan pesan yang tidak bermutu itu."Ujar Asisten Kai membuat Dokter Andreas membolakan kedua matanya.


"Ckck... Kata-kata mu itu Kaisar."Dokter pun mengambil sebuah amplop putih yang berlogo rumah sakit ke hadapan Asisten Kai.


Asisten Kai menatap Dokter Andreas seolah-olah bertanya."Surat apa ini Dok?"


"Amplop ini berisi hasil Tes Dna bayi yang ada di dalam kandungan Bianca."Asisten Kai dengan cepat mengambil Amplop tersebut dan membukanya.


"Apakah hasil dari Tes Dna ini dapat di percaya, Terlebih lagi janin itu belum di lahirkan! Anda tidak sedang berbohong kepada saya?"Kata Asisten Kai dengan memicingkan matanya dan menatap penuh selidik kepada laki-laki yang ada di hadapannya.


"Jika kau tidak percaya, maka selidiki lah hasil Tes Dna itu! Bukankah semua itu adalah hal yang mudah bagi seorang Asisten Kai." Sanggah Dokter Andreas dengan nada ejekan terselip di setiap kalimatnya.


Asisten Kai pun membuka amplop tersebut dan netranya membaca kata demi kata yang tertulis di dalam kertas yang ada di genggamannya. Asisten Kai tidak terkejut jika hasil Tes Dna itu menyatakan bahwa anak yang ada di dalam kandungan Bianca 99% cocok dengan Sempel Edward.


"Kenapa kau tidak terkejut membaca hasil Tes Dna itu?"Tanya Dokter Andreas melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Asisten Kai.


"Lalu ekspresi apa yang anda harapkan Dokter Andreas..."Ucap Asisten Kai dengan menggidikan bahunya dengan acuh.


"Kau sudah mengetahuinya?"Tanya Dokter Andreas.


"Mengetahui apa? Apakah hanya ini yang Anda ingin katakan Dok? Jika iya, Maka sebaiknya saya undur diri. Karena masih ada pekerjaan yang lebih penting dari pada saya membuang-buang waktu saya dengan Anda."Tukas Asisten Kai dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Mata Dokter Andreas mendelik mendengar semua perkataan dari Asisten Kai. Tidak lama kemudian Dokter Andreas pun mengeluarkan beberapa lembar foto dan kertas dan tidak lupa juga sebuah flashdisk ke hadapan Asisten Kai.


"Apa ini...?"


"Aku tahu, Kau bukanlah orang bodoh yang tidak memahami apa yang kini berada di tangan mu."Sarkas Dokter Andreas dengan decakan nya.


Sudut bibir Asisten Kai terangkat menatap semua bukti-bukti yang berada di tangannya. Tidak perlu susah-susah dan memakan banyak waktu untuk mencari semua kebenaran tentang malam itu, kini semua bukti itu ada di tangannya dan tidak akan lama lagi semua kebenaran itu terungkap dan dalang tentang kejadian malam itu akan menerima semua karma tentang apa yang di lakukan.


Hanya satu lagi bukti yang harus Asisten Kai cari, Yaitu wanita yang menjadi suruhan dari Marvin karena dialah satu-satunya saksi kunci dari semua kejadian di malam itu.


"Bagaimana? Apakah bukti yang ku kumpulkan cukup untuk mengungkapkan semua kebenaran nya dan membuat nama Bianca kembali bersih?"Seru Dokter Andreas dengan menggebu-gebu membuat atensi Asisten Kai teralihkan melihat keantusiasan dari laki-laki yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Dokter menyukai Nona Bianca?"Telak Dokter Andreas tidak dapat menjawab pertanyaan dari Asisten Kai.


"A-apa ma-maksud mu Kaisar?! Mana mungkin aku menyukai istri dari sahabat ku sendiri...!"Sahut Dokter Andreas dengan tergagap dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Asisten Kai tersenyum tanpa membalas sanggahan dari Dokter Andreas. Karena itu semua bukanlah hak dirinya untuk menentukan dimana hati seseorang berlabuh.


Ketegangan dua laki-laki itu terhentikan saat sebuah suara ponsel memecahkan keheningan di antara keduanya. Dan ternyata bunyi itu berasal dari ponsel Asisten Kai dan dengan segera laki-laki itu pun mengangkatnya karena dia adalah salah satu bawahannya yang di tugaskan nya untuk mencari keberadaan wanita itu.


"Katakan bagiamana...?"Satu kalimat yang begitu singkat asisten Kai ucapakan setelah menerima telepon dari bawahannya.


Dan detik berikutnya Asisten Kai memekik dan raut kemarahan tercekat jelas di wajah terbukti dengan kedua tangan yang terkepal dan wajah yang mengeras.


"Sialan...!! Ternyata mereka bergerak lebih cepat dari pada yang aku kira."Umpat Asisten Kai dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


Suasana terasa sangat mencekam di dalam ruangan itu, hanya deru nafas Asisten Kai yang memburu memecahkan keheningan di dalam ruangan itu.


Wanita yang menjadi satu-satunya saksi kunci dalam malam itu, di temukan telah tiada oleh bawahannya dengan beberapa luka tembak yang bersarang di dada dan kelapanya. Entah Marvin yang melakukan nya ataukah masih ada musuh dalam selimut yang menginginkan kehancuran dari sang Tuan.


_


_


_


Di sebuah ruangan khusus di perusahaan Dimitri yang tidak sembarang orang memasukinya, Rahang laki-laki itu mengerat dengan kemarahan tercekat jelas di wajah tampannya. Ruang yang biasanya rapi dan tertata sedemikian rupa itu, kini sangatlah berantakan dengan pecahan- pecahan kaca di dalamnya, bagaikan ruangan itu telah terjadi gempa bumi sebelumnya.


Edward melupakan amarahnya saat sebuah surat undangan pernikahan di terimanya dengan nama sang kekasih tercantum di dalamnya.


Edward meremat surat undangan di tangganya sehingga menyisakan segumpalan kertas yang tidak berbentuk.


"Sialan...!! Apa yang telah di lakukan oleh Marvin."Desis Edward dengan tatapan tajam matanya yang penuh kemarahan.


Dengan api kemarahan yang semakin menyala di dalam dirinya, Edward keluar dari ruangannya dengan membuka pintu ruangan nya dengan sangat kencang membuat suara dentuman yang cukup nyaring membuat Sekertaris Melly yang sedang duduk di atas kursi terjingkrak karena nya.


"Tu-tuan..."Sekertaris Melly memanggil Edward membuat sang empu menghentikan langkahnya dan menatap wanita itu dengan tajam."Tiga puluh menit lagi akan di adakan meeting dengan perusahaan xxx Tuan." Tutur Sekertaris Melly dengan menundukkan kepalanya.


"Batalkan saja...!!"


"Tapi Tuan, kerja sama ini sangatlah penting bagi perusahaan kita. Jika Anda membatalkan nya, perusahaan kita akan mendapatkan kerugian yang cukup besar." Seru Sekertaris Melly membuat amarah laki-laki itu semakin tersulut.


"Kau pikir dengan batalnya kerja sama ini akan membuat ku jatuh miskin?!"Pekik Edward dengan membolakan kedua matanya.


"Ma-maafkan saya Tuan. Saya akan membicarakan nya dengan pihak perusahaan xxx dan kembali mengatur ulang pertemuan Anda dengan mereka."Ucap sekertaris Melly dengan menundukkan kepalanya.


"Ckck... Dasar tidak berguna!"Desis Edward sembari meninggalkan sekertaris Melly yang mematung di tempatnya.


Ting...


Pintu Lift terbuka Edward pun segera keluar lift tersebut, Namun baru beberapa langkah Edward berjalan netranya menangkap Asisten Kai berjalan memastikan lobby perusahaan dengan langkah yang tergesa-gesa.


"Dari mana saja laki-laki itu?" Guman Edward dengan tatapan matanya terpusat kepada Asisten Kai.


Merasa dirinya di perhatikan Asisten Kai pun segera mengalihkan pandangannya dan kedua matanya membola saat bersitatap dengan Edward.


"Tu-tuan..."Kata Asisten Kai dengan tergagap dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dari mana saja kau?!"


"Maafkan saya Tuan. Saya tadi ke cafe seberang untuk membeli cofee."Asisten Kai pun menunjukkan gelas Coffe yang ada di tangganya. Ya setelah urusannya dengan Dokter Andreas selesai, laki-laki berpikir untuk mencari alasan kepada Edward agar Tuannya itu tidak curiga kepadanya.


Edward hanya melirik sekilas dan mendengus. "Kerjakan semua tugasku dan berkas-berkas yang tertunda di ruangan ku. Aku akan pulang terlebih dahulu."


"Baik Tuan."Asisten Kai tidak bertanya alasannya Edward melihat sorot kemarahan di laki-laki itu.


***

__ADS_1


Sementara itu Marvin tengah tersenyum penuh kemenangan saat mendapatkan laporan dari bawahannya yang dia tugaskan untuk mengirimkan surat undangan pernikahan nya bersama Laura kepada Edward, tanpa laki-laki itu ketahui.


Tawa Marvin menggema di seluruh ruangan kerjanya itu, membuat sang bawahan yang tengah berdiri di hadapan Marvin meremang di tempatnya.


"Tidak sia-sia ku membawa mu dari tempat terkutuk itu."Kata Marvin berjalan menuju sudut ruangannya dan membuka sebuah lemari yang di dalamnya berisi brankas pribadinya dan mengambil dua tumpuk uang di dalamnya.


"Ambillah untuk berobat ibumu. Anggap saja uang itu sebagai bonus Karena telah mengerjakan tugas yang telah ku berikan." Marvin melempar uang itu kepada bawahannya.


"Terima kasih Tuan..."


"Pergilah..."Usir Edward dengan mengibaskan tangannya mengusir sang bawahan.


Marvin keluar dari ruangan kerjanya dan bertepatan pula sang Asisten pribadi nya akan masuk dan ingin menemui dirinya.


"Tuan..."Ucap Asisten Mike dengan membungkukkan badannya saat di hadapan Edward.


"Ada apa Mike?"


"Ada beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani Tuan."Jawab Asisten Mike dengan menyodorkan beberapa berkas di tangannya.


"Simpanlah di meja kerja ku. Aku akan kembali ke rumah ku dan sebelum makan siang aku akan kembali. Sebelum aku kembali Ambil alih tugasku di perusahaan." Tutur Marvin dengan nada tanpa bantahan.


"Baik Tuan..."


Sebuah mobil mewah yang di kendarai oleh Marvin berjalan meninggalkan perusahaan nya dan membelah padatnya jalanan ibu kota.


Lima belas menit pun berlalu.


Marvin telah sampai di kediaman mewahnya yang di jaga ketat oleh para pengawal bersenjata lengkap, sehingga siapapun tidak di izinkan masuk dengan sembarang orang. Melihat mobil sang Tuan, salah satu dari pengawal itu pun berlari dan membukakan gerbang untuk Marvin lewati.


"Tuan..."Serempak para pengawal itu membungkukkan badannya saat Marvin keluar dari mobilnya.


"Dimana Nyonya?"Tanya Marvin entah kepada siapa.


"Nyonya Laura berada di taman belakang Tuan."Sahut salah satu pengawal.


"Baiklah...! Kembalikan ke tempat kalian masing-masing."Titah Marvin dan tanpa mendapatkan jawaban dari bawahannya Marvin pun segera meninggalkannya dan menuju sang pujaan hati berada.


Sudut bibir Marvin terangkat saat melihat punggung seorang wanita yang di cintai nya. Dengan langkah lebarnya Marvin berjalan menuju Laura dan mendekap erat tubuh wanita itu dari belakang.


"Laura..."Ucap Marvin dengan mengendus leher jenjang Sang pujaan hati.


"Ma-marvin...!!"Pekik Laura dengan suara yang terbata-bata. Tubuh wanita itu bergetar saat tangan dan mulut Marvin menjelajahi tubuhnya.


"A-apa yang kau lakukan Marvin! Lepaskan aku."Pekik Laura seraya memberontak dari pelukan Marvin, Namun tenaganya tidak cukup kuat untuk mengimbangi kekuatan dari laki-laki yang tengah memeluknya.


"Awww...!"Laura menjerit kecil saat Marvin menggigit leher dengan kencang sehingga menimbulkan bekas merah di lehernya.


Pokk...


Pokk...


Suara tepuk tangan dari arah belakang dengan suara yang tidak asing bagi mereka. Membuat Laura begitu pun Marvin mengalihkan atensinya.


Notes: Untuk pada reader setia Nona Afreen. Nona mohon maaf karena jika cerita yang Nona buat sangatlah bertele-tele dan membosankan. karena Nona masih dalam tahap belajar dan Nona menulis hanya untuk menyalurkan hobi Nona dan mengisi waktu luang Nona.


Jangan lupa


Like


Comment


Vote.


Favorit

__ADS_1


Rite


__ADS_2