Oh My Baby

Oh My Baby
Part 66


__ADS_3

Dentingan suara sendok memenuhi ruangan yang tidaklah besar itu. Bianca menatap Briana yang kini tengah menyendokkan nasi ke dalam mulut mungilnya itu.


Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar saat melihat tatapan Briana yang kosong. Dua bulan pun telah berlalu dengan cepat, dimana peristiwa buruk yang di alami Briana dan Bianca, membuat semuanya berubah. Tidak ada lagi Briana yang manja dan cerewet, kini hilang di gantikan dengan Briana yang pendiam dan dingin setelah semua kejadian buruk menimpa mereka.


"Anna, ingin tambah ayamnya lagi?"Tanya Bianca memecahkan keheningan di antara ibu dan anak itu.


"Tidak Mah, Anna sudah kenyang."Jawab Briana dengan cepat tanpa menatap wanita yang melahirkannya itu.


Briana tahu kini sang Mamah tengah menatapnya dengan sendu. Luka di hati gadis kecil itu masih berdarah dan menganga, Namun yang membuat Briana sedih bukanlah penolakan Edward sang papah kepada dirinya. Namun, karena lagi-lagi karena dirinya membuat Sang Mamah bersedih dan menangis.


Bianca tidak mengindahkan ucapan dari anaknya itu, Wanita satu anak itu tetap menaruh sepotong ayam ke atas piring anaknya tersebut.


"Mah...!!"Protes Briana melihat apa yang di lakukan oleh Mamahnya itu.


"Makanlah sayang, Mamah tahu kamu masih menginginkan ayam ini."Kata Bianca dengan senyumannya.


Briana menghela nafasnya dengan kasar dan gadis kecil itu pun kembali melanjutkan makannya dari pada berdebat dengan sang Mamah.


"Anak pintar..."Cetus Bianca mengelus pucuk kepala anaknya itu.


"Mah, jangan seperti itu! Anna bukan anak kecil lagi yang bisa Mamah perlakuan seperti itu!"Tukas Briana seraya menyingkirkan tangan Bianca di kepalanya.


Lima belas menit pun berlalu Bianca dan Briana telah menghabiskan makanannya dan Briana pun beranjak untuk membersihkan piring kotor yang ada di hadapannya.


"Tidak perlu Anna, biar Mamah saja yang membereskan nya. Lebih baik kamu masuk ke kamar dan kembali lanjutkan belajar mu." Seru Bianca.


"Tidak Mah, biarkan Anna saja yang membereskan semuanya. Mamah pasti lelah setelah seharian berkerja."Tukas Briana membawa piring kotor itu ke tempat cucian piring.


"Baiklah, Jika itu memang keinginan Anna."


Imbuh Bianca dengan helaan nafasnya.


*


Bianca menggelengkan kepalanya dengan seulas senyuman yang tersemat di sudut bibirnya, pada saat melihat Briana yang lagi-lagi tertidur di tempat belajarnya dengan tumpukan buku-buku di hadapannya.


"Astaga anak ini..!!"Decak Bianca dengan senyuman yang tidak surut di sudut bibirnya.


Bianca pun membawa tubuh mungil anaknya itu ke dalam gendongannya dan membaringkan Briana di ranjang kecil yang tidak jauh dari tidak meja belajar gadis kecil itu.


"Mimpi indah princess Mamah."Bianca mengecup kening Briana dan menyelimuti tubuh gadis kecil itu. ruangan ke


Bianca pun segera beranjak dan kembali menuju meja belajar sang anak untuk membereskan buku-buku Briana. Namun gerakan Bianca terhenti saat melihat sebuah buku yang terasa asing bagi wanita itu.


"Buku siapa ini?"Kata Bianca dengan menyengritkan kedua alisnya.


Hati wanita satu anak itu resah melihat ada satu buku yang bukan milik anaknya, dengan perasaan yang tidak tenang Bianca pun segera memeriksa meja belajar sang anak dan Bianca terpaku melihat banyaknya tumpukan buku-buku yang bukan milik sang anak.


"Kenapa banyak sekali buku orang lain disini?"


Bianca merasa bingung, mengapa banyak buku tulis yang bukan milik Briana di meja belajar anaknya. Kecurigaan dan pikiran - pikiran buruk mulai muncul di benak wanita itu, Apakah jangan-jangan Briana mengerjakan tugas teman- temannya.


"Aku harus mencari tahunya."Guman Bianca dengan sungguh-sungguh. Tidak mungkin bagi Bianca untuk bertanya langsung kepada Briana, karena Bianca tahu kepada Briana tidak akan berkata jujur kepada dirinya.


"Semoga saja yang aku takutkan tidak terjadi Tuhan..."Akhirnya dengan segala kegelisahan yang membelenggu wanita itu, Bianca membaringkan tubuhnya di samping Briana dan membawa tubuh mungil anaknya itu ke dalam pelukannya.


.

__ADS_1


.


.


.


"Nih kerjain tugas kita..!!"Briana yang sedang termenung pun terhenyak karena suara lengkingan dari empat orang anak sebayanya. Mereka semua bukan temannya karena Briana tidak memiliki teman satu pun di kelasnya.


Briana mendongkakan kepalanya dan menatap mereka dengan kening yang mengkerut.


"Apa?!! Kenapa liatin kita kaya gitu? Enggak terima?"Sentak salah satu dari mereka dengan berdecak pinggang.


"Tidak.."Ujar Briana dengan menggelengkan kepalanya.


Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar setelah empat orang itu beranjak dari tempat duduknya. Gadis kecil itu tampak mengambil buku-buku itu dan memasukkan buku itu ke dalam tasnya sebelum guru melihatnya.


Sebenarnya Briana tidak suka jika di suruh untuk mengerjakan tugas teman-temannya. Namun, Briana tidak bisa berbuat apa-apa mereka memaksa Briana dan tidak segan memukul gadis kecil itu.


Di sudut ruangan di bangku paling belakang Briana menatap sendu teman-temannya yang kini tengah bermain dan bercanda dengan riang tanpa mempedulikan dirinya.


Namun tawa mereka tidak berlangsung dengan lama, karena suara bel pertanda masuk telah berbunyi dan guru telah masuk ke dalam kelas mereka.


"Selamat pagi anak-anak."Ucap Seorang guru wanita setelah masuk ke dalam kelas tersebut.


"Selamat pagi ibu guru."dengan serempak mereka pun menjawab seruan dari gurunya tersebut.


"Ayo anak-anak untuk pelajaran olahraga hari ini kita akan praktek di lapangan."Seru Guru wanita itu sontak mendapatkan sorok ramai dari murid-muridnya.


Bianca tersenyum kecil melihat apa yang di lakukan oleh teman-temannya. Bianca pun beranjak dari kursinya dan mengikuti langkah lebar teman-temannya dari belakang.


"Untuk para anak laki-laki bermain bola dulu ya. Ibu akan ke kantor terlebih dahulu."


Lian halnya dengan Briana, gadis kecil itu tampak memisahkan dirinya dan duduk menyendiri di bawa pohon yang tidak jauh dari teman-temannya.


Briana hanya Bianca melihat semua yang di lakukan teman-temannya dengan tersenyum sedih. Selalu saja seperti ini, Briana sendirian tidak mempunyai teman, mereka semua selalu menjauhi dirinya, entah karena apa mereka selalu melakukan nya. Jika Briana mendekati mereka, mereka selalu menjauhi Briana dan melontarkan kata-kata yang cukup menyakitkan bagi gadis kecil itu.


Dan entah menit yang keberapa, Briana merasakan sebuah tangan mengusap kepalanya membuat gadis kecil itu mengalihkan pandangannya.


"Ibu guru..."Pekik Briana.


"Briana tidak ikut bermain dengan teman-teman?"Tanya Guru wanita itu seraya mengelus pucuk kepala Briana.


"Tidak ibu guru, Anna ingin disini saja."Balas Briana dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa Anna tidak ingin bermain dengan teman-teman? Bukankah senang jika bermain bersama teman-teman?"Cerca Guru wanita itu dengan menatap Bianca dengan lekat.


"Anna tidak memiliki alasan tertentu untuk tidak bermain dengan teman-teman ibu guru. Anna hanya ingin sendiri saja disini." Timpal Briana semakin menundukkan kepalanya dan memilin ujung baju yang gadis kecil itu kenakan.


Guru wanita itu menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari muridnya itu. Wanita itu tahu bahwa Briana kerap kali di kucilkan dan menjadi bahan bullying dari teman-temannya dan sudah berapa kali guru wanita itu menasehati dan sedikit memberikan peringatan kepada murid- muridnya agar tidak melakukan semua itu kepada temannya sendiri.


"Ayo Anna, ikut dengan ibu guru."Ajak Guru wanita itu seraya menggenggam tangan mungil Briana.


"Kemana ibu guru?"Tanya Briana dengan menundukkan kepalanya menatap wajah wanita dewasa yang kini tengah menggenggam erat tangannya itu.


Briana pun terpaksa mengikuti langkah ibu gurunya, sampai langkah kaki mungilnya berhenti saat berada beberapa langkah di depan teman-temannya.


"Ibu guru, Kenapa ibu membawa Anna kesini?"Tanya Briana.

__ADS_1


"Anak-anak Ayo ajak Briana untuk bermain ya."Seru guru wanita itu sontak menghentikan kegiatan mereka masing- masing.


"Ibu guru...!!"Briana menggenggam erat tangan wanita itu saat tatapan teman- temannya mengarah kepadanya.


"Ayo Lyara ajak Briana bermain bersama kalian."Ajak Guru wanita itu.


"Baik ibu guru."Jawab Lyara sembari menatap tajam Briana.


"Ibu guru tinggal dulu ya. Briana disini dan bermain dengan Lyara ya."


"Iya ibu guru."Jawab Briana dengan menganggukkan pasrah. Namun kenyataan tidak pernah seindah yang Briana bayangkan, setelah Guru wanita itu pergi meninggalkan Briana, mereka mulai mengeluarkan sifat asli mereka.


Brug...


"Aww...!!"Briana memekik saat tubuhnya di dorong oleh Lyara dengan cukup kencang sehingga membuat lutut gadis kecil itu mengeluarkan darah.


Lyara dan teman-temannya yang lain tertawa tanpa berniat membantu Briana sedikit pun. Briana berusaha menahan tangisannya saat lututnya terasa sangat sakit.


"Mamah..."Cicit Briana dengan ringisannya.


"Dasar Anak Mamah..!! Jatuh seperti itu saja menangis."Ejek Lyara dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Kamu pikir kita akan bermain dengan anak haram seperti kamu..!!"Timpal salah satu teman Llyara.


"Anna bukan Anak Haram..!!"Pekik Briana dengan sela-sela ringisannya.


"Kalau kamu bukan anak haram? Lantas dimana Ayah keberadaan Ayah kamu?!" Sahut Lyara.


"Huh... Dasar Anak Haram!"


"Briana bukan Anak Haram...!!"Pekik Briana dengan lengkingan suaranya.


Lyara menatap teman-temannya dengan senyuman penuh arti.


"Anak Haram...!!"


"Anak Haram...!!"


Briana menutup telinganya saat lagi-lagi temannya membully dirinya dengan kata-kata yang tidak pantas di ucapkan oleh anak seusia mereka.


"Ana bukan Anak Haram..!!"


"Ana punya Papah! Ana bukan Anak haram..!!"


Apa salah Briana? Kenapa Briana selalu mendapatkan cemoohan dari teman- temannya? Briana hanya ingin berteman dengan mereka saja? Apakah keinginan gadis kecil itu salah? Ataukah karena Briana tidak memiliki Papah, Sehingga mereka mengucilkan dirinya dengan sedemikian rupa ini?


Jangan lupa


Like


Comment


Rate


Vote


Favorit

__ADS_1


Gift


__ADS_2