Oh My Baby

Oh My Baby
di rumah Halmi


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore. Hana hendak menjemput Kiki dan Seon Ho di daycare.


"Ibu ... Aku pamit dulu. Mau jemput Kiki dan Seon Ho." Hana berpamitan dengan ibunya.


"Hati-hati di jalan." Ibu Hana berpesan.


Hana berjalan menjemput Kiki dan Seon Ho di daycare.


"Imo ... Kita mau ke mana?" Seon Ho bertanya karena tidak biasanya mereka jalan di jalan itu.


"Imo sama Kiki nginap di rumah orang tua Imo. Jadi, Imo bawa Seon Ho ke rumah orang tua Imo. Imo juga sudah beritahu eommanya Seon Ho buat jemput Seon Ho di sana." Hana menjelaskan.


Seon Ho menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah orang tua Hana.


"Ibu ... Ini Seon Ho teman daycarenya Kiki. Seon Ho ini eommanya Imo." Hana memperkenalkan Seon Ho ke ibunya.


"Annyeonghaseyo." Seon Ho menundukkan kepalanya.


"Halmi udah siapin camilan. Ayo makan."


Mereka pun makan.


Tak lama kemudian ada telepon masuk di ponsel dari pelatih Jung Kook. Jung Kook di camp pelatihan tidak fokus. Tinju dan tendangannya tidak maksimal. Hana pun menelpon Jung Kook.


"Kookie ... Pelatih tadi menelponku. Katanya kau nggak fokus." Hana memandang Jung Kook yang penuh dengan peluh.


"Aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi sama Nam Joon oppa." Hana memberitahu Jung Kook.


"Fokus dengan latihanmu."


"Appa fighting ..." Kiki menyemangati ayahnya.


"Samchon ... Fighting." Seon Ho juga ikut menyemangati.


Kiki dan Seon Ho menyemangati Jung Kook.


...🌼🌼🌼...


Di rumah orang tua Hana ...


Seon Ho melihat sekelilingnya. Ada banyak foto keluarga yang dipajang. Ia melihat-lihat foto keluarga mereka saat Hana dan Jung Kook masih balita.


"Imo ... Ini siapa? Seon Ho mau kenalan." Seon Ho menunjuk foto anak perempuan yang terlihat manis di foto. Di sebelah anak perempuan itu ada bocah lelaki yang ia kira Kiki. Ia ingin berkenalan dengan anak perempuan itu.


"Ini Imo waktu masih kecil." Hana menjelaskan.


"Tapi ini Kiki." Seon Ho menunjuk foto bocah lelaki di samping Hana kecil. Tidak mungkin bocah perempuan itu seusia Hana.


"Ini bukan Kiki. Ini Jung Kook samchon." Hana menjelaskan lagi.


"Ini foto Imo sama Jung Kook samchon waktu kami masih kecil."


"Samchon sering ke sini?" Seon Ho melihat banyak sekali foto Jung Kook di rumah orang tua Hana.

__ADS_1


"Jung Kook samchon tinggal di sini sejak ia lahir." Hana tahu Seon Ho pasti bingung. Seon Ho tak pernah tahu kalau Hana dan Jung Kook adalah kakak dan adik sebelum menikah.


"Jung Kook samchon itu adik Imo."


Seon Ho sedikit bingung ~ Apa boleh menikah dengan adik sendiri?


Tapi ia tidak memikirkannya lagi saat ia bermain dengan Kiki.


Jan 5 sore ibu Seon Ho menjemput Seon Ho.


"Eomma ..." Seon Ho memeluk ibunya.


"Halmi ... Imo ... Ki ... Bye ... Bye ..." Seon Ho berpamitan.


"Bye ... Bye ..."


"Saya permisi dulu." Ibu Seon Ho juga berpamitan. Mereka lalu pulang ke rumahnya.


Dalam perjalanan pulang Seon Ho bertanya ke ibunya "Eomma ... Apa kita boleh menikah dengan adik kita sendiri?"


"Nggak boleh."


"Tapi Imo dan Jung Kook samchon menikah."


Seon Mi pernah mendengar berita tentang Hana dan Jung Kook. Ia tahu Hana dan Jung Kook adalah kakak adik.


"Hana Imo dan Jung Kook samchon memang kakak adik. Tetapi mereka tidak ada hubungan darah. Jadi, mereka boleh menikah."


Seon Ho masih belum paham ~ Mungkin nanti kalau Seon Ho sudah dewasa, Seon Ho paham.


Hana dan ibunya berbincang santai.


"Ibu rasa ibu pernah mendengar cerita tentang ibu Seon Ho."


"Ibu dengar dari siapa?"


"Dari teman ibu. Suaminya baru saja meninggal, kan?"


"Iya. Kasihan mereka. Kasihan Seon Ho sudah jadi anak yatim di umurnya yang masih sangat muda."


"Mertuanya tidak pernah menyetujui pernikahan mereka. Bahkan mereka dan juga saudara ipar ibu Seon Ho mengatainya wanita pembawa sial saat ayah Seon Ho sakit dan akhirnya meninggal.


"Tapi itu sudah takdir." Air mata Hana mulai menetes. Ibu Seon Ho tak pernah cerita tentang keluarga suaminya.


"Kenapa mengangis?"


"Aku merasa sedih. Bukannya dibantu malah dikata-katain."


"Eomma ..." Kiki mulai ikut menitikkan air mata saat melihat ibunya menangis.


Neneknya lalu menggendong Kiki. Hana juga buru-buru mengelap air matanya.


Nenek Kiki melihat Kiki. Fisik dan wajah Kiki sangat mirip Jung Kook saat kecil. Sedangkan senyum dan sifat sebagian besar lebih condong menyerupai Hana.


Nenek Kiki masih ingat saat Hana dan Jung Kook masih kecil.

__ADS_1


Saat itu Jung Kook kecil berbuat kesalahan sehingga ayah mereka mendisiplinkan Jung Kook. Jung Kook menangis. Hana kecil yang melihatnya juga ikut menangis.


"Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Hana kecil menangis melihat Jung Kook yang menangis.


"Noona ..." Jung Kook kecil melihat ke Hana kecil.


"Jangan menangis ..." Jung Kook kecil mengusap air mata Hana kecil. Seharusnya Jung Kook yang dihibur tetapi malah Jung Kook yang menghibur Hana kecil.


Ibu mereka tersenyum mengingat hal itu.


Tak lama kemudian ayah mereka datang.


"Halji ..." Kiki berlari menyambut kakeknya.


"Cup ..." Satu kecupan mendarat di pipi Kiki.


Kakek Kiki menggendong Kiki.


"Nanti kalian menginap?' Ayah bertanya ke Hana.


"Iya. Selama Jung Kook berlatih di luar kota."


Kakek Kiki beralih ke Kiki lagi.


"Halji punya hadiah buat Kiki." Kakeknya mengambil sesuatu dari tasnya. Kiki menunggu tidak sabar mendengar kata hadiah.


Mobil?


Yobot (robot)?


"Ta da .." Kakeknya hanya menunjukkan finger heart ke Kiki.


Kiki balas membuat finger heart dengan tangan mungilnya.


Tapi Kiki masih menunggu. Ia tahu ada hadiah sebenarnya untuk dirinya.


"Yeay ..." Kiki bersorak kegirangan saat mendapat hadiah gitar mainan dari kakeknya.


"Gitarnya mirip punya Jung Kook saat ia masih kecil."


Hana masih ingat saat Jung Kook remaja saat mereka memilah mainan lama mereka untuk disumbangkan ke panti asuhan. Jung Kook memainkannya untuk yang terakhir kalinya.



...🌼🌼🌼...


Hana merasa beruntung punya keluarga yang begitu menyayanginya. Walaupun saat kejadian Kiki mereka sempat berkonflik.


Boleh dibilang ayah dan ibunya juga merupakan ayah mertua dan ibu mertuanya. Jadi, ia tak perlu beradaptasi lagi dengan keluarga suaminya.


Bila dipikir-pikir lagi. Boleh dibilang saudara iparnya adalah dirinya sendiri. Dengan menikah dengan Jung Kook, ia tak harus berseteru dengan keluarga suaminya.


Dengan menikah dengan Jung Kook, ia tidak mengalami perselisihan dengan ayah mertua atau ibu mertua. Hana sudah sering mendengar curhatan orang-orang yang sudah menikah. Terkadang hubungan di antara suami dan istri baik-baik saja tetapi menjadi buruk saat anggota keluarga lainnya mengompori satu sama lain. Bahkan ada yang bercerai.


Apa aku boleh dibilang beruntung menikah dengan Jung Kook?

__ADS_1


__ADS_2