
You are my sunshine
My only sunshine
You make me happy
When skies are gray
You'll never know, dear
How much I love you
Please don't take
My sunshine away
The other night, dear
As I lay sleeping
I dreamed I held you
In my arms
When I awoke, dear
I was mistaken
So I hung my head and I cried.
Bianca melonggarkan pelukannya saat mendengar suara nafas yang teratur dari Briana dan benar apa yang di pikirka, bahwa kedua manik matanya Briana itu terpejam.
"Anak Mamah tertidur ternyata."Lirih Bianca mencoba melepaskan Briana dari dekapannya.
"Papah..."Panggil Briana dalam tidurnya.
Deg
Seketika ribuan jarum menghantam dada Bianca saat kata-kata itu terucap tanpa sadar oleh Sang Anak.
Bianca tersenyum getir, seberapa besar usaha Bianca mengisi kekosongan sosok Ayah bagi Briana. Tetap saja Briana adalah seorang gadis kecil yang merindukan sosok Ayah di dalam kehidupannya. Meskipun Briana beberapa kali mengatakan tidak akan bertanya lagi tentang Ayah kandungan nya, Namun perasaan gadis kecil itu tidak akan berbohong.
"Andai kamu tahu sayang, bahwa keadaan kita terutama kamu seperti ini adalah akibat dari perbuatan Papah kamu."
Masih lekang di ingatan Bianca, Saat dengan kejamnya Edward memukuli dan menyiksa dirinya karena kesalahan yang tidak pernah Bianca lakukan dan rasa sakit itu masih sering kali terasa saat dirinya mengingat Edward dengan kejamnya menendang perutnya mengakibatkan Bianca pendarahan dan kehilangan salah satu bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Andai saat itu pikiran ku tidak senaif itu, Mungkin saja salah satu anak ku masih hidup dan keadaan Briana tidak seperti ini."
Dan entah berapa kali Bianca menyesali semua keputusan bodohnya di masa lalunya yang berdampak buruk bagi kehidupan anak-anak nya.
"Papah, Papah dimana Ana sangat merindukan Papah."kening Briana mengkerut dan bulir-bulir keringat keluar dari pelipis gadis kecil itu.
Bianca yang melihat itu pun segera menyeka keringat Sang Anak.
"Papah..."
"Tenanglah sayang, Mamah ada disini bersamamu."Bisik Bianca dengan menahan tangisannya.
Bianca tahu apa yang kini di rasakan oleh sang anak, karena pada sejatinya pun Bianca pernah merasakan dan berada di posisi Briana saat ini. Namun sekeras apapun usaha Bianca mempertemukan Briana dengan Edward Sang Ayah, Bianca tahu apa yang akan terjadi. Edward akan menolak keras kehadiran Briana, bahkan laki-laki itu mungkin saja menganggap kehadiran Briana adalah Aib yang harus laki-laki lenyapkan seperti di masa lalu dan mungkin saja Edward akan menghalalkan segala cara agar Briana lenyap di dalam kehidupannya.
Dan memikirkan tentang penolakan Edward, pasti akan berdampak buruk bagi mental Briana dan kesehatan gadis kecil itu. Bianca tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terhadap Briana, Cukup salah satu anaknya yang menjadi korban kebejatan Edward. Bianca bisa gila bila jika kehilangan Briana, Satu-satunya alasan untuknya hidup.
"Papah, Papah dimana..."
Perasaan Bianca semakin teriris melihat betapa mendambakan Briana tentang sosok Ayah Kandungnya itu. Dan Bianca pun mengetahui alasan mengapa Briana begitu mendambakan sosok Sang Ayah.
Pernah suatu hari Briana pulang dari sekolah dengan keadaan kening yang berdarah dan baju yang kotor. Bianca yang kebetulan saat ini ada di rumah sontak terkejut dan bertanya apa yang terjadi kepada sang anak dan Briana pun menjawab bahwa dia terjatuh saat akan pulang ke rumah.
Bianca yang tidak terlalu yakin akan jawaban dari Briana pun segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Briana.
Bianca hancur setelah mengetahui apa yang sebenarnya menimpa sang anak. Ternyata di sekolah Briana acap kali mendapatkan rundungan dan pembullyan dari teman-temannya karena tidak memiliki sosok Ayah. Namun pihak guru sekolah tidak bisa berbuat apa-apa, karena Anak yang sering membully Briana adalah Anak donatur terbesar di sekolahan Briana.
"Mamah tidak membutuhkan laki-laki itu untuk membuat mu bahagia Nak. Karena tanpa laki-laki itu pun Mamah masih bisa mencukupi semua kebutuhan mu dan memberikan kasih sayang yang berlimpah untuk mu."Ucap Bianca dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Bianca pun kembali berbaring di samping Briana dan mendekap erat tubuh mungil gadis kecilnya itu.
"Tidurlah sayang, Mamah ada bersama mu."
Bisik Bianca berusaha menahan tangisannya.
.
.
.
.
.
Setelah menempuh beberapa jam penerbangan di udara, akhirnya pesawat yang di tumpangi oleh Edward dan Sean telah mendarat dengan sempurna di tanah kelahiran kedua laki-laki itu.
Edward cukup lama mematung di tempatnya dan sesekali helaan nafas kasar keluar dari bibir laki-laki itu. Entah apa yang di rasakan dan di pikirkan oleh laki-laki itu, Namun kegusaran tampak jelas di wajah tampan laki-laki itu. Membuat Sean yang berada tidak jauh dari tempat duduk Edward segera menghampiri Sang Tuan.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"Tanya Sean dengan nada penuh ke khawatiran saat melihat Edward memijat pelipisnya.
"Hmm..."Balas Edward tanpa memandang Sean sekalipun.
"Sepertinya Anda tidak baik-baik saja Tuan. Apakah Anda perlu memeriksakan kesehatan Anda Ke rumah sakit?"Cerca Sean yang mengkhawatirkan kondisi kesehatan Tuannya tersebut.
"Bisakah kau menutup mulutmu itu..!!"Tukas Edward dengan mata yang menatap tajam ke arah Sean yang ada di hadapannya.
"Maafkan saya Tuan..."
"Ckck sudahlah."Ujar Edward dengan mengibaskan tangannya.
Laki-laki itu pun segera bangkit dari duduknya dengan di ikuti oleh Sean di belakangnya.
Edward menghentikan langkahnya sejenak dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, Edward merasakan firasat yang tidak baik saat kakinya menapaki tanah kelahirannya untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun.
"Papah..."
"Sialan suara itu lagi..!!"Decak Edward di dalam hatinya.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"Tanya Sean.
"Astaga Sean..!! Berhentilah bertanya omong kosong itu kepada ku!"Seru Edward dengan lirikan mata tajamnya.
Seketika Sean membungkam mulutnya dan mengikuti langkah lebar Edward dari belakang.
Barisan para pengawal berjas hitam telah berbaris menunggu kedatangan Edward sedari tadi dan tidak lupa sesosok laki-laki yang berbaris paling depan dengan senyuman khasnya setia berdiri menunggu kedatangan Tuannya.
"Selamat datang kembali Tuan."Ucap Asisten Kai dengan tanpa sungkan memeluk laki-laki yang telah berjasa dalam kehidupannya.
"Hmm, Kaisar..."Edward pun membalas pelukan hangat dari sosok laki-laki yang telah dirinya anggap sebagai adik kandungnya sendiri itu.
Edward melepaskan pelukannya dan berjalan menuju mobil mewah yang telah di sediakan untuknya.
"Silahkan Tuan."Dan Seperti sebuah kebiasaan yang tidak pernah Asisten Kai lupakan, Laki-laki itu membukakan pintu untuk Edward lewati.
"Bagaimana kabarmu Kai?"Tanya Edward setelah memasuki mobil mewah tersebut.
"Sejauh ini kabar perusahaan baik-baik saja Tuan. Anda bisa mempercayai semuanya kepada saya Tuan."Balas Asisten Kai sambil mengemudikan mobilnya.
"Ckck, Kau itu Kaisar..!!"Decak Edward menggelengkan kepalanya mendengar jawaban salah satu orang kepercayaannya itu. "Aku bertanya tentang kabarmu, Bukan kabar perusahaan..!!"Imbuh Edward.
"Seperti yang Anda lihat Tuan. Saya baik-baik saja."Ucap Asisten Kai tanpa mengalihkan pandangannya.
Tiga puluh menit pun berlalu, mobil mewah milik Edward telah sampai di pelataran rumah megah Edward. Seperti yang terjadi di bandara beberapa saat yang lalu, Tampak para pelayan dan pengawal telah berbaris rapi menunggu kedatangan Sang Tuan rumah yang telah lama tidak menginjakkan kakinya selama tujuh tahun terakhir.
"Selamat datang Tuan Muda..."Secara serempak para pelayan dan pengawal itu berseru dan membungkukkan badannya setelah Edward memasuki kediaman mewah tersebut.
"Selamat datang kembali Tuan Muda."Ucap Pak Jang dengan senyuman lebarnya sehingga menampakkan jelas kerutan- kerutan di sekitar wajah yang tidak muda lagi.
"Pak Jang..."Edward pun segera memeluk laki-laki tua yang sudah Edward anggap seperti Ayah Kandungnya sendiri.
"Bagaimana kabar Anda Tuan Muda? Apakah Anda baik-baik saja? Saya sangat senang bisa bertemu kembali dengan Anda setelah Tujuh tahun terakhir ini Anda menghilang entah kemana."Tutur Pak Jang yang sontak di balas kekehan oleh Edward.
__ADS_1
"Saya baik-baik Pak Jang."Jawab Edward tanpa menghentikan kekehannya.
Edward mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya tanpa seinci pun yang terlewati. Bangunan megah ini, bukan hanya sebuah rumah bagi Edward karena setiap desain dan interior rumah ini Laura yang memilihnya untuk rumah masa depan mereka setelah menikah. Namun rencana itu kini hanyalah sebuah angan-angan yang tidak akan pernah bisa Edward gapai dan wujudkan. Karena wanita yang inginkan menjadi pendamping hidupnya, nyatanya telah menjadi istri sahabatnya sendiri. Sedangkan dirinya harus terjebak dengan seorang wanita yang telah menghancurkan kehidupan nya.
"Kenapa aku menjadi memikirkan wanita Ja'ang itu..!!"Rutuk Edward.
.
.
.
.
.
Bianca dengan hati-hati melepaskan dekapan dari Briana dan dengan perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara wanita itu turun dari ranjang sang anak.
Untuk sejenak Bianca berdiri mematung dan menatap wajah Briana yang begitu mirip seperti dirinya saat kecil, hanya saja warna mata Briana yang mengikuti Sang Papah.
"Anak Mamah sayang, Jangan menangis lagi ya. Mamah akan selalu ada di samping mu, Walau apapun yang terjadi."Ucap Bianca seraya mengecup kening Briana yang tengah terlelap itu.
"Maaf Sus..."Panggil Bianca kepada salah satu suster yang berada di depan pintu ruang rawat Briana.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?"Tanya wanita berbaju putih itu.
"Maaf Sus, Saya hanya meminta tolong untuk menitipkan anak saya sebentar."
Pinta Bianca.
"Oh iya, Silahkan Nyonya..."Ucap Sang Suster dengan tersenyum ramah ke arah Bianca.
Bianca pun mengucapkan terima kasih kepada Sang Suster tersebut. Wanita satu anak itu pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Administrasi guna untuk mempertanyakan kembali tentang keputusan rumah sakit yang tidak membolehkannya untuk mencicil biaya rumah sakit.
"Permisi Nona..?"Panggil Bianca kepada salah satu pegawai Administrasi yang tengah berkutat di depan sebuah komputer.
"Iya Nyonya, Ada yang bisa saya bantu?" Pihak Administrasi itu pun sontak berdiri dan menatap Bianca dengan seulas senyuman simpulnya.
Dan Bianca pun mengutarakan maksud untuk bertanya tentang rincian biaya yang harus Bianca keluarkan selama sang anak di rawat di rumah sakit.
"Atas Nama?"Tanya pihak Administrasi itu.
"Briana Tiffany, Nona..."Jawab Bianca dengan cepat.
"Apa?! Bagaimana mungkin..?!"Pekik Bianca saat petugas itu mengatakan bahwa semua biaya rumah sakit Briana telah lunas.
"Benar Nyonya dan untuk dua hari ke depan pasien akan menjalani operasi jantung." Tutur pihak Administrasi itu membuat kedua bola mata Bianca semakin membelik.
"Tunggu Nona, Mungkin Anda salah melihat. Karena saya belum sepeser pun membayar biaya rumah sakit ini."Seru Bianca meminta pihak Administrasi itu kembali mengecek ulang komputer nya.
"Anda bisa melihat sendiri Nyonya."Dan Bianca pun melihat bahwa tagihan rumah sakit sang anak tertera lunas.
"Tapi Nina, Siapa yang membayar biaya rumah sakit Anak saya Sus?"Tanya Bianca.
"Maaf Nyonya saya tidak bisa menjawab pertanyaan Anda, Karena beberapa hari yang lalu saya tidak masuk kerja dan tepat hari ini saya baru masuk kerja kembali."
"Baiklah, Terima kasih Nona atas bantuannya."Ucap Bianca.
Kini yang menjadi pertanyaan bagi wanita satu anak itu, Siapa orang baik yang telah membantunya membayar biaya rumah sakit ini.
"Apakah Nenek Clara yang melunasi semua biaya rumah sakit ini?"Pikir Bianca.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote And,
Favorit
__ADS_1