
Brak...!!
"Kebodohan apa yang kau lakukan Gwen..!!"
Pekik Margaretha yang tidak lain adalah Manajer Gwen.
Deru nafas wanita yang kerap kali di panggil Etha itu memburu dengan amarah yang kini membelenggu wanita itu, Karena Scandal yang di lakukan oleh salah satu modelnya. Membuat perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar akibat scandal yang di lakukan oleh Gwen saat ini
"Bisakah kau sedikit menurunkan suara mu
Etha. Telinga ku sakit mendengar suara jelek mu itu."Ucap Gwen dengan mengibaskan tangannya.
"Kau masih bisa bersantai setelah masalah yang kau lakukan Gwen..!!"Seru Margaretha dengan menatap Gwen yang terlihat santai setelah semua scandal yang wanita itu lakukan.
"Apa yang kau khawatiran Etha, Kau seperti tidak tahu bagaimana dunia yang kita jalani saja. Tidak akan lama lagi Scandal ini akan hilang dan tergantikan oleh scandal- scandal lain."Tukas Gwen dengan mendecakan bibirnya.
"Astaga Gwen! Kau lupa siapa yang kini kau hadapi Gwen saat ini..!!"Pekik Margaretha seraya mengusap wajahnya dengan kasar mendengar semua perkataan Gwen.
Gwen memutar bola matanya malas dan berpura-pura tidak mendengar apa yang di katakan oleh Manager nya itu.
"Kau mendengar apa yang ku katakan Gwen...!!"Desis Margaretha dengan menahan amarah yang ada di dalam dirinya.
"Hmm..."Balas Gwen dengan sebuah deheman dan merasa acuh akan perkataan dan cercaan Margherita kepada dirinya.
Tok...
Tok..
Suara ketukan pintu mengalihkan Atensi Margaretha maupun Gwen.
"Masuk..."Ujar Margaretha sembari duduk di kursi kebesarannya. Beriringan dengan terbukanya pintu ruangan itu, masuklah seorang wanita yang tidak lain adalah Asisten pribadi Margaretha.
"Nyonya..."Ujar Valenzia menundukkan kepalanya selayaknya seorang bawahan kepada atasannya.
"Ada apa Zia?"Tanya Margaretha dengan memijat pelipisnya yang berdenyut akibat masalah yang kini menimpa dirinya.
"Nyonya begini...."Dan Zia pun menjelaskan bahwa ada beberapa pihak yang membatalkan kontrak kerja sama mereka di batalkan secara sepihak karena scandal yang kini menjerat Gwen.
"Lihatlah akibat dari perbuatan mu itu Gwen...!!"Pekik Margaretha menunjuk ke arah wajah Gwen.
"Singkirkan tanganmu dari wajahku Etha..."
Titah Gwen dengan decakan nya.
"Astaga anak itu, Jika saja dia bukan anak dari orang yang berjasa dalam hidupku, sudah dari lama ku keluarkan dia dari Agensi ku ini."Guman Margaretha saat melihat wajah Gwen yang masih terlihat acuh bahkan wanita itu terlihat menyandarkan punggungnya seraya bersedekap dada.
.
.
.
.
.
"Sekali lagi coba katakan, Apa maksud mu Sean..?"Seru Edward dengan nada naik satu oktaf.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan."Ucap Sean dengan menundukkan kepalanya. Laki-laki itu menyadari apa kesalahan yang telah dirinya lakukan sehingga membuat sang tuan memberikan amarahnya saat ini kepadanya.
"Maaf katamu..!!"Pekik Edward dengan mencengkeram kerah baju Asisten nya itu dan tidak lupa sorot mata laki-laki itu penuh kemarahan saat menatap orang kepercayaan nya itu.
"Sudah berapa kali ku katakan bahwa aku tidak ingin lagi pergi ke tempat itu dan sekarang dengan lancangnya kau mengambil keputusan tanpa izin dariku..!!"
Imbuh Edward seraya melayangkan Sebuah pukulan tepat di rahang Sean membuat laki-laki itu tersungkur ke belakang beberapa langkah.
Tidak cukup satu pukulan, Edward pun kembali melayangkan pukulan demi pukulan ke arah wajah dan perut Sean. Amarah Edward tersulut mendengar jika Sean menyetujui permintaan dari Tuan Morgan salah satu klien Edward, Bahwa Sean dan Edward bersedia
"Uhuk-uhuk..!!"Sean pun hanya bisa pasrah saat menerima tendangan yang begitu kencang di perutnya.
"Kenapa kau hanya diam?! Bangun Sialan dan balas pukulan ku!"Seru Edward kembali mencengkeram kerah kemeja Sean yang kini lemah dan tidak berdaya.
"Ma-maafkan Sa-saya Tu-tuan."Hanya kata maaf yang kini bisa di ucapkan oleh Sean, Sungguh kini sean terasa sulit untuk bernafas karena cengkraman Sang Tuan di kerah kemejanya.
"Sialan kau Sean..!!"Edward pun melepaskan cengkeramannya cukup kasar membuat laki-laki itu terhuyung dan membentur kursi di belakangnya.
Sean memejamkan saat rasa nyeri itu semakin terasa akibat pukulan yang di berikan oleh Edward. Namun Sean yang memang mengakui bahwa dirinya salah, hanya diam dan pasrah menerima semua perlakuan Tuannya itu.
"Bangunlah sean dan balas semua pukulan yang kau terima..ea2q!"Seru Edward dengan menggebu-gebu karena amarah yang kini membelenggu laki-laki itu.
"Maafkan saya Tuan."Dan hanya kata maaf yang mampu terucap dari bibir laki-laki.
"Ckck Sialan...!!"Decak Edward dengan menendang meja di hadapannya sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring di dalam ruangan itu.
"Pergilah Sean dan perbaiki semua kesalahan mu itu..!!"Titah Edward tanpa menatap ke arah Sean sekali pun.
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak bisa."
"Saya tidak bisa Tuan, Tuan Morgan telah mempercayakan sepenuhnya proyek tersebut kepada kita Tuan. Jika kita tidak turun langsung dengan proyek itu dan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, Maka Tuan Morgan bisa saja membatalkan kerja sama itu dan kita akan mengalami kerugian yang tidak sedikit."Seru Sean dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Hati-hati dengan ucapan mu Sean! Sekali lagi kau mengucapkan omong kosong mu itu, habislah kau di tangan ku."Desis Edward dengan gigi yang bergemurutuk.
"Maaf Tuan..."Dan kata maaf itu kembali terucap dari bibir laki-laki itu.
"Breng'sek kau Sean..!!"Umpat Edward dengan mengusap wajahnya dengan kasar sembari duduk di atas kursi kebesarannya.
Untuk saat ini pikiran Edward buntu, Laki-laki itu tidak mampu berpikir untuk mencari jalan keluar apapun. Memang benar apa yang di katakan oleh Sean, Jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dalam proyek kerjasama dirinya dengan Tuan Morgan, Maka laki-laki parubaya itu akan kehilangan kepercayaannya kepada dirinya dan tidak menutup kemungkinan berita itu akan tersebar dan setelah berita itu tersebar entah apa yang akan terjadi dengan perusahaan yang dengan susah dirinya bangun.
"Baiklah, Persiapan Semua secepatnya dan atur ulang semua jadwal ku."Dan dengan berat hati Edward pun menyetujuinya.
"Benarkah Tuan...?"Terlihat jelas binar kebahagiaan dari sorot matanya.
"Aku paling tidak suka mengulangi apa yang telah ku katakan, Sean...!!"Desis Edward.
"Baik Tuan..."Seakan-akan kejadian beberapa waktu lalu tidak berpengaruh bagi Sean, Kini laki-laki itu tampak berdiri tegap seolah-olah pukulan yang Edward berikan beberapa waktu lalu tidak ada apa-apa nya bagi Sean.
Bergegas Asisten Sean pun segera keluar dari ruangan Edward dan mempersiapkan semua keperluan Sang Tuan dalam perjalanan bisnis kali ini.
Senyuman penuh kemenangan tercekat jelas di bibir laki-laki itu tanpa Edward sadari. "Maafkan saya Tuan, Saya melakukan semua ini demi Anda dan masa depan Anda. Terlebih lagi kini Nona Kecil sangat membutuhkan Anda."Guman Sean di dalam hatinya.
Ya, Perjalanan bisnis kali ini Sean memiliki misi khusus untuk mempertemukan Edward Sang Tuan kepada putri dan istrinya. Masih teringat jelas saat Asisten Kai memberikan dirinya pesan bahwa Keberadaan Bianca telah di temukan, Tidak lupa tentang kondisi Briana saat ini dan penyakit jantung bawaan yang di derita oleh Nona kecilnya tersebut.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Dan Akhirnya Putri dan pangeran pun hidup bahagia...."Kata Bianca di akhir ceritanya.
Briana sangat menyukai jika Sang Mamah membacakan nya dongeng, terlebih sebelum tidur seperti ini.
Bianca menaruh buku dongeng kesukaan anaknya itu di samping nakas brankar Briana.
"Ada apa Ana? Kenapa wajahmu seperti itu?"Tanya Bianca saat melihat Briana menautkan kedua alisnya seperti orang yang tengah menahan sakitnya.
"Apakah disini Ana merasa sakit?"Bianca pun mengusap perlahan dada buah hatinya tersebut.
"Tidak Mah,"Jawab Briana dengan gelengan kepalanya.
"Lalu...?"Desak Bianca menatap lekat sang anak.
"Begini mah, Ana hanya berpikir apakah pangeran berkuda putih itu benar-benar ada di kehidupan nyata?"Ucap Briana dengan kening yang semakin mengkerut dalam.
Seulas senyum tercekat jelas di sudut bibir mungil wanita itu."Pasti Ada, dan mungkin suatu hari nanti Tuhan akan mempertemukan Ana dengan pangeran berkuda putih yang akan menjadi pelindung Ana di masa depan."Kata Bianca.
"Tidak Mah, Bukan ini maksud Ana..."Tukas Briana dengan mengerucutkan bibirnya.
"Hmm Lalu...?"
"Jika benar apa yang di katakan Mamah, Kalau pangeran berkuda putih itu ada. Maka Ana akan berdo'a kepada Tuhan agar Tuhan segera mempertemukan Mamah dengan pangeran berkuda putih Mamah."
Seru Briana dengan menggebu-gebu.
"Kenapa harus begitu Ana?"Bianca mengusap Surai rambut yang menutupi wajah sang anak.
"Karena Jika Mamah telah bertemu dengan pangeran Mamah, Maka Mamah tidak usah berkerja dan mencari uang untuk Ana lagi. Terkadang Ana merasa sedih melihat Mamah bekerja banting tulang untuk menghidupi Ana. Terlebih saat ini Ana berada di rumah sakit, pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk biaya perawatan Ana dan lagi-lagi Ana menjadi beban bagi Mamah."Tutur Briana dengan menundukkan kepalanya dan tidak lupa tangan mungil itu meremat ujung baju yang Briana kenakan.
"Apa yang kamu katakan Nak, hilangkanlah semua pemikiran buruk mu itu. Briana bukanlah beban bagi Mamah, Akan tetapi Briana adalah lentera dan alasan bagi Mamah untuk terus menjalani kehidupan Mamah yang pahit ini."Tukas Bianca dengan nada penekanannya. Bianca tidak ingin sang anak berpikiran macam-macam dan berdampak kesehatan Briana.
"Tapi Mah..."
"Cukup satu yang harus Ana Tahu, Mamah tidak membutuhkan seorang pangeran untuk kebahagiaan Mamah. Karena kebahagiaan Mamah hanyalah Briana seorang dan Mamah hanya meminta kepada Ana untuk tetap berada di samping Mamah apapun yang terjadi."Pinta Bianca.
"Kenapa Mamah berkata seperti itu? Seolah-olah Ana akan pergi meninggalkan Mamah suatu saat nanti."Cetus Briana seraya menatap Sang Mamah dengan penuh tanda tanya.
"Tidak sayang! Tidak ada satupun yang bisa memisahkan kita, Walaupun kematian sekalipun."Bianca dengan cepat merengkuh tubuh lemah Briana agar gadis kecil itu tidak melihat tidak melihat air mata kesedihan nya.
Jangan lupa
Like
Comment
Favorit
Rate
Vote
__ADS_1