
"Bagaimana keadaan Anda Nona Bianca? Apakah Anda merasa nyeri di bagian tertentu?"Tanya Dokter Andreas seraya memeriksa keadaan Bianca melalui stetoskop dan infusan yang mengalir di pergelangan tangan Bianca.
"Saya sudah merasa baik-baik saja Dok." Jawab Bianca dengan senyuman khas wanita hamil itu."Hanya saja saya sering merasakan kram di perut saya."Imbuhnya dengan ringisan di akhir kalimatnya.
"Benarkah?"Bianca menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Dan Dokter Andreas pun sedikit menyingkap perut Bianca hingga batas perut atasnya, setelah mendapatkan izin dari sang pemilik tubuh.
"Sebaiknya Anda jangan terlalu banyak berpikir dan stress Nona, dan semua itu penyebab seringnya perut Anda mengalami kram."Dokter Andreas pun menjelaskan apa yang harus di lakukan oleh Bianca saat kram di perutnya terjadi dan posisi apa saja yang harus di lakukan Bianca saat kram itu terjadi di perut Bianca.
"Baiklah, Saya mengerti Dok."Setelah beberapa kali perbincangan di antara mereka, Dokter Andreas pun keluar dari ruangan itu karena masih memiliki beberapa pasien untuk di periksanya.
Keheningan menyelimuti Bianca setelah Dokter muda itu keluar dari ruangan nya. Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar, Atensi wanita hamil itu teralihkan saat pintu ruangannya di buka dari luar dan terlihat seorang wanita yang tidak asing bagi Bianca yang tengah berdiri dengan menatap Bianca senyumannya.
"Kak Cleona..."Ucap Bianca dengan senyuman simpul di sudut bibirnya. Bianca berusaha bangkit dari posisinya, namun dengan cepat Cleona mencegahnya.
"Jangan bergerak dengan tiba-tiba seperti itu bi, ingat bagaimana penjelasan dari Dokter Andreas."Seru Cleona penuh peringatan.
"Baik Kak..."Cleona pun membantu Bianca untuk bersandar dengan beberapa tumpuk bantal di belakangnya.
"Sudah makan Bianca?"Tanya Cleona dengan melirik sebuah mangkuk yang berisi bubur di atas nakas di samping brankar Bianca.
"Belum Kak..."Balas Bianca dengan gelengan kepalanya."Bianca merasa mual Kak, Setiap melihat makanan rumah sakit, Kak."Bianca berkata sembari menahan mualnya saat melihat makanan yang ada di sampingnya.
Cleona menaruh paper bag yang di bawanya dan mengeluarkan semua isinya ke hadapan Bianca. Dan bau masakan tercium begitu harum di indera penciuman Bianca, membuat perut wanita hamil itu meronta-ronta untuk di isikan.
"Apa ini Kak?"Tanya Bianca berpura-pura tidak tahu isi di dalam kotak yang ada di hadapannya.
"Makanlah, Kakak tahu kau sudah bosan merasakan masakan rumah sakit dan Kakak sengaja memasak makanan untuk mu."Tutur Cleona membuat lengkungan di sudut bibir wanita hamil itu.
"Ayam kecap..."Pekik Bianca saat melihat isi di dalam kotak makanan itu. Bianca menelan Savilanya susah payah melihat makanan yang dia inginkan beberapa hari ini yang kini ada di hadapannya.
"Makanlah, Kenapa kau hanya melihatnya saja." Titah Cleona membuat Bianca mengerjab ngerjabkan kedua matanya.
Dengan lahap wanita itu memakan makanan yang di bawa oleh Cleona. Cleona yang melihat cara makan Bianca seperti itu, hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah kekanakan Bianca yang baru pertama kali Cleona lihat.
"Pelan-pelan Bianca, Tidak ada yang akan mengambil makanan mu."Seru Cleona seraya menghapus noda kecap di sudut bibir Bianca.
"Makanan ini adalah makanan terenak yang pernah Bianca makan Kak."Ucap Bianca dengan terendam makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Setelah ini kita akan memeriksakan kandungan mu."
"Baik Kak."
"Aku tidak sabar melihat bagaimana perkembangan kedua keponakan ku."Kata Cleona membuat Bianca menghentikan kunyahan nya setelah mendengarkan ucapan Cleona.
"Kakak mengetahuinya..?!"Cicit Bianca tanpa berani menatap ke arah Cleona.
"Kakak tidak akan bertanya kenapa kamu merahasiakan nya."Ucap Cleona seraya menyingkirkan Surai coklat yang menutupi wajah cantik Bianca.
"Maafkan Bianca Kak..."Cicit Bianca semakin dalam menundukkan wajahnya.
"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Kakak tidak apa-apa, Kakak tahu jika Bianca pasti mempunyai alasan kenapa Bianca merahasiakan nya."Tutur Cleona mengangkat wajah Bianca dan menatap wanita itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Terima kasih Kak...."
Setelah Bianca menghabiskan makanan yang telah di bawa oleh Cleona. Wanita hamil itu kini tampak duduk di sebuah kursi roda dengan Cleona yang mendorongnya. Sesekali terdengar obrolan di antara mereka berdua sebelum menuju ruangan Dokter kandungan.
"Nyonya Jackson..."Panggil Seorang perawat yang sedari tadi menunggu kehadiran Bianca. Tatapan perawat itu tak henti hentinya menatap wanita hamil itu, berita tentang bagaimana di pukuli dan di siksa oleh Edward telah menyebar ke seluruh rumah sakit dan menjadi perbincangan hangat antara para dokter, perawat maupun para petinggi rumah sakit itu.
__ADS_1
Bianca menundukkan kepalanya saat perawat yang ada di hadapannya itu menatap nya penuh iba dan rasa kasihan. Bianca tahu pasti berita tentangnya beredar di rumah sakit ini dan menjadi topik hangat yang di perbincangkan. Bahkan luka luka di wajahnya pun masih tercekat jelas dan rasa perih akibat cambukan itu masih terasa di tubuhnya, Sehingga membuat kaki Bianca bergetar saat melangkah. Cleona yang mengetahui bahwa Bianca merasa tidak nyaman akibat tatapan perawat itu, wanita itu pun segera menegur perawat itu.
"Maaf Sus, Apakah Dokter Natasha nya ada?" Tegur Cleona membuat tatapan perawat itu terhenti kepada Bianca.
"Aahh... Iya, Silahkan masuk Nyonya. Dokter Natasha telah menunggu kedatangan Kalian." Kata perawat itu dengan tersenyum kikuk saat melihat tatapan tajam Cleona kepadanya.
Perawat itu pun segera membukakan pintu untuk Bianca lewati, Cleona dan Bianca pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada perawat itu sebelum masuk ke dalam ruangan yang terasa lebih dingin dan sedikit mencekam bagi Bianca, karena untuk kedua kalinya wanita hamil itu akan melihat perkembangan kedua buah hatinya yang kini tengah tumbuh di dalam rahimnya.
"Selamat siang Nyonya Jackson, Nona Cleona." Sapa seorang Dokter muda yang kini tengah tersenyum kepada Bianca maupun Cleona.
"Selamat siang Dok."Balas keduanya setelah berada di depan meja dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Anda Nyonya Jackson?"
"Saya baik-baik saja Dok."Kata Bianca dengan senyuman nya.
Dan Dokter Natasha pun bertanya tentang keluhan yang di alami Bianca selama masa kehamilannya. Dengan kedua matanya tak lepas menatap raut wajah Bianca yang penuh kesedihan dan keputusasaan.
"Perut saya sering merasa kram sehingga saya sedikit kesulitan untuk bernafas dan pinggang saya pun sering merasa sedikit sakit Dok."Balas Bianca.
"Semua keluhan Anda adalah beberapa hal yang sering terjadi kepada wanita hamil. Dan seiring bertambahnya usia kandungan, intensi kram dan pegal di pinggang Anda akan semakin sering terjadi."Tutur Dokter Natasha.
"Benarkah itu Dok? Semua itu tidak akan membahayakan kesehatan dan perkembangan kedua anak saya kan Dok?"Tanya Bianca dengan sungguh-sungguh.
"Tidak Nyonya, Semua itu adalah hal yang wajar dan Anda tidak perlu memikirkan nya terlalu berlebihan yang akan menjadi beban Anda, Sehingga mempengaruhi kondisi kandungan Anda."Balas Dokter Natasha yang memaklumi ketakutan Bianca, karena Dokter Wanita itu tahu bahwa ini adalah kehamilan pertama Bianca.
"Baiklah Dok, Saya mengerti..."
"Mari berbaring Nyonya. Kita akan lihat bagaimana perkembangan Si kecil di dalam perut Anda."Titah Dokter itu sembari bangkit dari kursi kebesarannya.
"Auchh..."Desis Bianca saat rasa perih di punggungnya terasa karena tidak sengaja tertekan oleh perawat.
"Kenapa Bianca? Perutmu kembali sakit?" Cleona bertanya penuh ke khawatiran karena melihat raut wajah Bianca kesakitan.
"Tidak apa-apa Kak. Bianca baik-baik saja."
Elak Bianca menahan rasa sakit di punggung nya yang tertekan karena posisinya yang berbaring.
Rasa dingin menerpa perut Bianca, saat sebuah gel di oleskan di permukaan perutnya dan tidak lama kemudian sang dokter memutarkan alat usg di atas sana.
Kedua manik madu Bianca tak henti hentinya menatap layar hitam di sampingnya. sampai Sudut bibir Bianca terangkat saat layar hitam yang semulanya kosong kini menampakkan calon buah hati yang tengah di kandung Bianca.
"Lihatlah Nyonya, Itu adalah Anak Anda." Seru Dokter Natasha sembari menunjukkan kedua bayi Bianca. Helaan nafas Sang Dokter berat dan itu terdengar jelas oleh Bianca maupun Cleona.
"Ada apa Dok? Apakah terjadi sesuatu dengan kandung saudara saya?"Tanya Cleona.
"Perkembangan dan berat badan bayi Nyonya Bianca tidak seperti usia kandungannya."Ujar Dokter Natasha dengan helaan nafasnya.
"La-lalu apa yang harus saya lakukan Dok? Saya tidak ingin terjadi sesuatu kepada kandungan saya."Kedua mata Bianca berkaca-kaca, Wanita hamil itu tidak sanggup memikirkan bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan kepada kedua buah hatinya.
"Saya mohon Dok, lakukan sesuatu..."Pinta Bianca dengan suara paraunya.
"Jangan berpikir terlalu berlebihan seperti ini Nona! Semua itu akan membuat Anda stres dan berpengaruh kepada kandungan Anda." Seru Dokter Natasha dengan sedikit penekanan di kalimatnya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan Dok?" Tanya Bianca kembali.
"Anda hanya perlu merubah pola makan Anda dan memakan makanan yang bergizi dan baik. Anda tidak boleh terlalu stres dan banyak pikiran dan selalu menjaga mood anda dengan baik."Nasihat Dokter Natasha yang langsung di sanggupi oleh Bianca.
__ADS_1
"Lalu, Apakah saya bisa melihat jenis kelamin calon keponakan saya Dok?" Cleona bertanya agar Bianca mengalihkan pikirannya dan tentu semua itu berhasil saat melihat raut wajah Bianca yang tidak memuram lagi.
"Iya, benar Dok. Apakah saya bisa melihat jenis kelamin anak-anak saya?"Suara Bianca penuh harap begitu pun dengan tatapan matanya.
Dokter Natasha tersenyum mengerti apa yang di lakukan oleh Cleona."Baiklah mari kita jenis kelamin si kecil..."Dokter Natasha tampak kembali memutar alat usg di atas permukaan perut Bianca.
"Jenis kelamin bayi Anda adalah..."Jeda Dokter Natasha dan tidak lama kemudian Sang Dokter pun tersenyum saat mengetahui jenis kelamin bayi yang di kandung Bianca."Laki-laki...."
"Keduanya laki-laki Dok?"Pungkas Cleona dengan kedua matanya yang tidak henti hentinya menatap perut Bianca.
Dokter Natasha pun menjawab bahwa salah satu bayi Bianca tidak menampakkan jenis kelaminnya dan Cleona yang mendengar jawaban dari Sang Dokter pun nampak kecewa.
"Tidak apa-apa Kak, yang penting keduanya sehat."Kata Bianca seraya mengusap lengan Cleona, Sehingga membuat wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah Bianca.
Setelah pemeriksaan itu berakhir. Cleona membawa Bianca ke taman rumah sakit, agar wanita hamil itu mendapatkan suasana yang berbeda dan menyegarkan pikiran wanita hamil itu.
Bianca tersenyum saat melihat seseorang anak perempuan yang tengah bermain dengan kedua orang tuanya. Tanpa sadar tangan mungilnya itu mengusap permukaan perutnya.
"Apakah suatu hari nanti kalian akan mendapat apa yang di rasakan oleh anak perempuan itu? Apakah Papah kalian masih mengeraskan hatinya untuk menerima kehadiran kalian? Mamah tidak apa jika kehadiran Mamah begitu di benci oleh Papah kalian, Asalkan tidak kalian berdua." Batin Bianca dengan tersenyum getir membayangkan kehidupan apa yang akan di alami oleh kedua anaknya, yang tidak jauh berbeda kehidupannya yang tidak di inginkan kehadirannya oleh Sang Ayah.
"Ada apa Bianca? Perutmu sakit lagi?"Tanya Cleona melihat raut wajah Bianca yang memucat.
"Tidak apa-apa Kak. Bianca hanya berpikir apa yang harus Bianca lakukan setelah semua ini." Elak Bianca dengan tatapan matanya yang menerawang. "Bianca tidak ingin berada di posisi seperti ini terus Kak, Bianca tidak bisa terus berada di samping Tuan Edward dan memohon belas kasihan laki-laki itu! Bianca sudah Lelah kak, baik hati maupun fisik Bianca."
"Bianca tidak tahu kekejaman apa lagi yang akan Tuan Edward lakukan kepada Bianca. Meskipun Bianca terkesan egois dan mementingkan perasaan Bianca sendiri, tanpa memikirkan bagaimana nasib kedua anak Bianca tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah mereka. Tapi ini yang terbaik bagi kita semua Kak, Bianca tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Bianca dan kedua anak Bianca jika kami terus berada di samping Tuan Edward." Bianca tampak menelan Savilanya dengan susah payah, saat mengingat semua kepahitan dan penderitaan yang terjadi di dalam hidupnya bersama Edward. Walaupun pernikahan mereka masih terhitung seumur jagung, akan tetapi banyak sekali luka dan kesakitan yang telah Edward torehkan kepadanya.
Cleona tidak bisa berkata apa-apa untuk menyanggah ucapan Bianca. Karena dia tahu seberapa kejamnya Edward memperlakukan Bianca.
"Jika kau ingin pergi dari kehidupan Edward, Maka bicaralah kepada Kakak dan Kakak akan sebisa mungkin membantu mu jauh dari Edward."Sahut Cleona dengan suara yang bersungguh-sungguh tanpa menatap ke arah Bianca.
"Kak Cleona..."Panggil Bianca membuat lamunan wanita itu terhenyak.
"Iya, Ada apa Bianca? Perutmu kembali kram?"
"Tidak Kak,"Bianca menggelengkan kepalanya sembari berucap."Kak Cleona, Apakah Bianca bisa meminta satu permintaan kepada Kakak?" Sambung Bianca dengan suara yang penuh harap.
"Katakan apa yang kamu inginkan Bianca, sebisa mungkin Kakak akan berusaha mewujudkan keinginan mu."Cerca Cleona.
"Benarkah Kak?"Dan Cleona pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Katakan lah Bianca, Apa yang kamu inginkan..."Desak Cleona.
"Bisakah Kakak mengeluarkan Kak Edward dari penjara..?!"Tubuh Cleona mematung saat mendengarkan permintaan Bianca kepadanya
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit
Tips
__ADS_1