
Seorang wanita tengah terlelap dengan gelisah di atas tempat tidur lusuhnya. Bulir bulir Keringat sebesar biji jagung keluar dari pelipisnya, Sehingga membasahi wajah cantik dan lehernya. Nafas wanita itu nampak memburu di kala keheningan yang menyelimuti wanita itu malam ini.
"Bunda..."Lirih wanita itu tanpa membuka kedua matanya.
Nafasnya mulai tersendat-sendat, seakan akan apa yang ada di dalam mimpinya benar benar wanita itu rasakan saat ini.
"Tidak! Lepaskan Bianca kak."Tangan mungil Bianca bergerak seolah olah menghalau sesuatu yang akan menimpa dirinya.
"Bukan Ayah, Bukan Bianca yang memulainya. Ayah salah paham...!!"Jerit Bianca dengan tertahan bahkan tanpa terasa cairan bening keluar dari pelupuk matanya.
"Tidak Tuan lepaskan! Semua ini salah, Saya Mohon lepaskan Tuan."Bianca memekik di dalam tidurnya saat bayang-bayang masa lalu kembali menghantuinya di dalam alam bawah sadarnya.
Perlahan-lahan kedua manik mata Bianca itu pun memisahkan dirinya dan mulai menampakkan warnanya. Namun terlihat jelas sekali tidak ada kehidupan di dalamnya, Luka yang begitu dalam dan menyakitkan begitu jelas dari sorot matanya, hanya dalam sekali melihatnya saja.
Kedua mata bianca berkaca-kaca kaca dan mematung di tempatnya dengan tatapan matanya menatap langit-langit kamarnya.
Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut wanita itu, hanya keheningan yang menyelimuti wanita itu dalam beberapa waktu. Sebelum rintihan di sertai isakan yang sedikit demi sedikit keluar dari bibir mungilnya memecahkan kesunyian malam itu.
"Bunda..."Bisik Bianca di sertai air mata yang tidak henti hentinya keluar dari pelupuk matanya.
Wanita malang itu tampak menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Punggung Bianca bergetar serta isakan yang tertahan keluar dari bibir mungilnya.
"Mengapa Tuhan? Mengapa Tuhan begitu jahat kepada Bianca Bunda..?"Lirih wanita malang itu dengan suara paraunya.
"Tidak cukupkah Tuhan membuat penderitaan dan kesakitan di dalam kehidupan Bianca selama ini? Sehingga saat tidur pun Tuhan memberikan Penderitaan ini?"
"Apa salah Bianca Tuhan? Sehingga Tuhan begitu teganya memberikan kehidupan Bianca yang begitu pahit seperti ini?"
"Apakah di kehidupan yang lalu Bianca pernah melakukan sebuah perbuatan yang fatal, Sehingga Tuhan memberikan hukuman yang sedemikian ini kepada hambamu ini?!"Bianca menggigit bibir bawahnya agar isakan dan tangisan terdengar. Namun tetap saja sekuat apapun Bianca menahan nya, tetap saja isakan dan tangisan Bianca memecahkan keheningan malam ini.
"Apa Tuhan begitu membenci Bianca..? Sehingga di dalam mimpi pun, Tuhan memberikan kepahitan yang sedemikian rupa ini."Pungkas Bianca dengan tatapan matanya yang menerawang.
Bianca kembali mengingat apa yang wanita itu mimpikan.
Sebuah kenangan masa lalu yang sangat ingin ingin sekali Bianca lupakan. Akan tetapi, Semakin Bianca berusaha melupakannya maka kenangan itu semakin menghantui dirinya baik keadaan sadar maupun tidak sadar.
Seperti yang Bianca mimpikan beberapa saat Lalu. Saat Sang Ayah memukul Bianca dengan membabi buta tanpa sebab dan melontarkan kata kata yang begitu kasar bahkan sampai saat ini pun Bianca masih mengingat semua perkataan ayahnya dengan sangat jelas.
"Dasar anak pembawa sial..!! Gara gara kehadiran mu! Aku tidak akan bisa lagi mengangkat kepala ku di hadapan semua orang. Kau adalah kesalahan dan aib yang ingin sekali aku hancurkan di dunia ini."Kata kata begitu mudahnya laki laki itu lontarkan kepada anak kandungnya sendiri. Seorang anak yang tidak tahu apa kesalahannya sehingga dirinya begitu di benci oleh orang orang di sekitarnya.
"Ayah...."Guman Bianca memejamkan kedua matanya mengingat apakah ada sedikit saja kenangan manis antara dirinya dan Sang Papah.
"Mungkin saat ini Ayah masih menganggap keadaan Bianca adalah aib yang harus ayah lenyap di dunia ini. Namun, Suatu hari nanti Ayah pasti akan menyadari betapa berharganya putri mu yang selama ini Ayah Sia-siakan."Ucap Bianca dengan tatapan kosongnya.
Bianca tercenung beberapa saat sebelum suara perut yang berasal dari perutnya membuat mengalihkan atensi wanita hamil itu.
"Anak Mamah lapar...?"Tanya Bianca dengan tangan yang mengelus permukaan perutnya. Seolah olah wanita itu kini tengah berbicara dengan calon buah hatinya.
__ADS_1
Bianca pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan melipat selimut lusuh yang membalut tubuhnya. Bianca terlihat merapikan rambutnya lalu memakai kacamata bulat yang selama ini menutupi keindahan manik madunya.
Di dalam kegelapan malam Bianca berjalan menyusuri setiap lorong di dalam rumah Edward.
Wanita itu mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan sosok yang selalu melontarkan kata-kata kasar dan makian kepada dirinya.
Di jam jam seperti ini biasanya Edward masih terjaga dan mengerjakan berkas berkas kantornya yang sempat tertunda saat siang hari.
"Semoga saja Tuan Edward telah tertidur." Ucap Bianca penuh harap.
Karena untuk saat ini Bianca terlalu lelah untuk mendengar umpatan dan cacian yang selalu Edward lontarkan kepada dirinya.
Namun setelah Bianca berada di dalam dapur. Keinginannya untuk makan seolah olah hilang begitu saja. Bahkan kini bianca terlihat menutup mulut dan hidungnya saat mencium sesuatu yang begitu menyengat di indera penciumannya. Sehingga dengan langkah yang tergesa-gesa Bianca berjalan ke kamar mandi dan mengeluarkan semua makan yang baru beberapa jam dirinya makan.
"Ya Tuhan...."
Bianca menyalakan kran air dan membasuh wajahnya yang terlihat sang pucat. Wanita itu menghembuskan nafasnya dengan tangan yang mengusap permukaan perutnya yang sedikit menggunung di balik baju kebesaran yang dia kenakan.
"Anak Mamah..."
"Ini sudah malam Jangan membuat mamah susah lagi ya dek. Mamah hanya sendiri dan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita yang tidaklah sedikit."Kata Bianca sembari pergi meninggalkan kamar mandi setelah merasa tubuhnya lebih baik.
Rasa kantuk mulai mendera bianca. Namun, kedua manik matanya terlihat enggan untuk terpejam membuat wanita hamil itu berjalan seorang diri di antara kegelapan malam.
Bianca mendekap tubuhnya dengan erat, saat angin malam menerpa tubuhnya yang hanya berbalut pakaian tidurnya.
"Kenapa Bianca tiba tiba ingin meminum air kelapa?"Wanita hamil itu menelan Savilanya nya sudah payah, pada saat membayangkan kesegaran air kelapa saat di minumnya.
"Bagaimana Mamah mendapatkan kelapa di malam hari seperti ini dek?"Sambungnya dengan suara parau.
Lagi dan lagi Bianca merasa manusia paling tidak beruntung dan menyedihkan di dunia ini. Saat semua wanita hamil di dunia ini mendapatkan perlakuan yang sangat spesial dari orang orang di sekitar. Berbanding terbalik dengan yang Bianca rasakan.
Wanita hamil itu harus berjuang dengan keras untuk mencukupi kebutuhan nya dan bayi yang ada di dalam kandungannya.
Tidak ada satupun orang yang membantu Bianca di kala wanita hamil itu merasakan mual dan pusing di pagi hari. Dan tidak ada yang mencarikan sesuatu saat Bianca mengidam, bahkan bianca harus menahan keinginannya saat tubuhnya tidak bisa di ajak untuk berkompromi lagi. Dan itu semua hanyalah sebagian kecil kepahitan yang harus Bianca jalani di dalam kehamilannya.
Dengan keinginan nya yang semakin membuncah dan tidak bisa Bianca pendam kembali, dengan terpaksa kembali menunju kamarnya untuk mengambil baju hangat dan sedikit uang yang wanita itu punya.
Bianca keluar dari kamarnya dan berjalan menuju pintu belakang yang biasa Bianca dan para pelayan lewati. Dan di dalam hatinya berdoa agar Tuhan serta merta menjaga Bianca dan kandungan nya saat ini maupun di masa yang akan datang.
"Apa yang anda lakukan di luar malam malam seperti ini Nona Bianca?"Tanya salah satu penjaga yang bertugas menjaga di depan gerbang utama saat Bianca meminta izin untuk keluar.
"Bianca hanya meminta izin untuk keluar sebentar saja kak, Bianca perlu membeli sesuatu di luar sana Kak."Timpal Bianca
"Maafkan saya Nona Bianca..."
"Bukankah Anda sudah mengetahuinya peraturan yang ada di rumah ini jika lebih dari jam sebelas malam, gerbang utama akan di tutup dan tidak di perbolehkan siapapun untuk keluar dari sini sebelum mendapatkan izin dari Tuan Edward..!!"Sahut laki laki itu membuat senyuman Bianca sirna seketika.
__ADS_1
"Baiklah Jika memang itu peraturannya. Bianca tidak akan melanggarnya, lagi pula Bianca bisa membelinya di hari esok."Sahut bianca dengan menundukkan kepalanya menahan rasa sesak yang kian menghimpit dadanya.
Lagi dan lagi bianca harus menelan pil pahit saat sesuatu yang sangat dia inginkan tidak terlaksana. Dengan langkah yang lesu dan tubuh yang bergetar Bianca berjalan menuju kamarnya.
"Sabar ya dek. Untuk saat ini Mamah belum bisa memberikan apa yang kamu inginkan." Lirih Bianca seraya menyeka air mata yang keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Air mata ini..! Kenapa selalu saja muncul di saat yang tidak tepat."Sungut Bianca dengan menyeka air matanya.
"Lagi pula malam malam seperti ini... Bagaimana caranya Mamah menemukan pedagang kelapa Muda."Ujar Bianca dengan kekehan di akhir kalimatnya dengan air mata yang tidak henti hentinya keluar dari pelupuk matanya.
"Anda mengidam kelapa Muda Nona?"Tanya pengawal yang mendengar ucapan Bianca. Dan bianca membalasnya dengan anggukan kepala, karena jika Bianca membuka mulutnya bisa di pastikan yang keluar hanya isakan dan tangisan nya saja.
"Mari ikut saya Nona..."Ajak Pengawal itu sembari berjalan di depan Bianca, membuat kening wanita hamil itu menyengrit dengan penuh tanda tanya.
"Kita akan kemana kak?"Tanya Bianca dengan suara paraunya.
"Bukankah Anda ingin kepala Muda? Maka ikutilah saya jika memang anda benar benar menginginkan nya."Jawab pengawal itu tanpa menghentikan langkahnya.
"Baiklah..."
Dan dengan lesu Bianca mengikuti langkah laki laki itu. Setelah beberapa menit berjalan samar samar bianca melihat sebuah pohon kelapa yang berdiri kokoh di antara remang remang nya jalan.
"Kelapa Muda..."Cicitnya dengan binar di kedua matanya.
"Anda bisa duduk di sini Nona. Saat saya sedang mengambil Kelapa Muda yang anda inginkan."Ucap pengawal itu seraya menunjuk sebuah kursi besi di tempat tersebut.
"Baiklah kak, Bianca akan duduk disana."Ucap Bianca dengan senyuman yang tidak henti hentinya luntur di wajahnya.
"Kelihatannya kelapa yang di sebelah kiri itu terlihat enak kak."Seru Bianca dengan mendongakkan kepalanya dengan tangan yang menujuk sebuah kelapa yang berada di samping kiri pengawal itu.
"Yang ini Nona. ?"Tanya Pengawal itu dengan memegang kelapa yang di tunjuk oleh Bianca.
"Benar yang itu..!!"Pekik Bianca tanpa sadar bertepuk tangan layaknya seorang anak kecil. Namun, Senyuman Bianca sirna setelah mendengar suara yang begitu familiar di pendengaran Nya
"Wah Wah Apa yang ku lihat ini?!"Seru seseorang di belakang Bianca membuat wanita itu membalikkan tubuhnya dan seketika itu juga mematung melihat siapa yang berada di belakangnya.
"Tu-tuan Edward..."Ucap mereka dengan serentak dengan membelikan kedua matanya.
"Tidak cukupkah kau menggoda dan merusak kehidupan ku..?!"Ujar Edward dengan suara yang menajam.
"Dan lihat sekarang, Kau bahkan berani- beraninya menggoda bawahan ku di depan mata diriku sendiri..!!"Sambung Edward.
"Tidak seperti itu Tuan. Tuan salah paham kepada Saya."Sahut Bianca dengan tergagap bahkan Bianca tidak mampu mengangkat kepalanya saat tatapan tajam Edward mengarah ke dirinya.
"Mengelak hmm..."Cetus Edward dengan menatap Bianca dengan tersenyum miring.
"Tu-tuan..."Bianca tidak bisa berkata kata. Tubuh wanita itu bergetar bahkan tidak terasa air mata mulai keluar dari kedua pelupuk matanya.
__ADS_1
"Dasar wanita menjijikkan...!!"Desis Edward dengan sarkasme seraya berjalan pergi meninggalkan Bianca
Jangan lupa Like Comment Rate dan Vote