
Fionn
"Saya tahu kalau kamu maju di pemilihan ini, kamu yang akan menang. Saya positif akan itu. Itulah kenapa saya bertanya di awal soal apakah kamu memiliki teman. Seharusnya saya tidak perlu mempertanyakan hal itu." Pak Mul tergelak tertahan. "Tentu saja kamu punya banyak sekali teman. Bahkan bisa dikatakan kalau sebagian besar murid di sekolah ini akan memilih kamu. Iya, kan?"
Pertanyaan retoris. Dia tidak membiarkan gue menjawab sebelum kembali berkata-kata lagi.
"Saya hanya ingin memberi tahu satu hal, Fionn."
Nah, kali ini lidah tuanya bisa menyebut nama gue dengan benar.
"Rasa hormat tidak bisa dibeli dengan uang, tidak pedulii sebanyak apa pun uang yang keluarga kamu miliki di dunia ini. Uang hanya akan bertahan selama mereka masih ada. Setelah habis, entah siapa yang tahu apa yang akan terjadi dengan rasa hormat yang seseorang berikan kepada kami sebelumnya. Kemungkinan besar akan menguap bersama keberadaan kertas-kertas itu.
"Jadi, untuk apa kamu berambisi menjadi ketua OSIS, pemimpin dari semua siswa dan siswi yang ada di sini kalau mereka tidak menghormati kamu dan kamu tidak menghargai mereka, hm? Apa yang akan kamu lakukan dengan kedudukan itu? Apakah kamu hanya menginginkan gengsinya saja? Apakah kamu hanya menginginkan titelnya saja?
"Kalau iya, saya sarankan agar kamu sebaiknya mundur. Tidak usah mencalonkan diri. Karena kamu hanya akan mengancam orang-orang yang mengingatkan kamu akan kewajiban yang harus kamu lakukan dan tanggung jawab yang harus kamu emban nantinya seperti yang kamu lakukan kepada saya sebentar ini.
"Belum berada di kursi OSIS saja kamu sudah banyak berkilah. Sudah banyak beralasan. Sebenarnya apa yang menghambat kamu untuk menyelesaikan jawaban pertanyaan di dalam buku itu dalam sepuluh hari, hm? Toh, kamu hanya tinggal menyalinnya saja. Belum-belum kamu sudah sok tahu dengan jumlah soal di dalam sana. Di satu buku hanya ada lima ratus soal, Fionn. Itu pun perkiraan maksimal dari saya, akan tetapi saya yakin betul jumlahnya kurang dari itu.
"Katanya kamu mau jadi pemimpin, akan tetapi tidak mau berjuang untuk menjadi pantas." Dia mulai menggeleng. "Saya kasihan sekali sama kamu. Saya–"
What the fxck ever. Gue tidak mau mendengarkan ocehan ngawur yang ke luar dari mulut lelaki yang setengah rambutnya sudah memutih itu. Gue tidak mau berlama-lama lagi duduk di depan mukanya yang sok suci, sok benar, sok tahu soal gue dan kehidupan gue.
Dan apa yang ada di dalam otak gue.
Fxcking hell.
Segera saja gue sambar kedua buku tebal yang ada di atas meja, menyenggol tetikus tanpa kabel yang ada di dekat itu dan membuatnya terjatuh ke lantai.
I don't give a flying fxck about that. I don't give a flying fxck about him. I don't give a flying fxck about HIM!
__ADS_1
Langkah gue yang lebar berhasil menelan jarak antara meja Pak Mul dan pintu ruang guru hanya dengan beberapa langkah saja. Gue tidak paham. Entah langkah gue yang semakin lebar atau emosi yang gue rasakan di dalam dada ini pada akhirnya membuat gue bisa terbang. Yang jelas, dalam waktu yang relatif singkat, gue sudah berada di koridor depan ruangan laknat itu dengan napas yang terengah-engah.
Gue jelas tidak lupa untuk membanting pintunya.
Gue sudah bilang kalau gue sudah tidak peduli lagi dengan penilaian siapa pun terhadap gue. Mereka tidak berhak menghakimi sikap gue, keputusan yang gue ambil, dan kelakuan gue kalau mereka tidak tahu apa yang terjadi pada gue selama ini.
Persetan buat orang-orang yang merasa dirinya benar di atas dunia yang terasa lebih buruk dari neraka ini!
****
Gue mengetuk pintu kelas dan membukanya sebelum gue dipersilakan masuk.
Gue tidak peduli. Gue mengetuk pintu itu hanya karena gue ingin. Gue sedang tidak menunggu izin dari siapa-siapa.
Gue tidak butuh izin sari siapa pun di sekolah ini.
Ah, shxt. Whatever lah. Gue tidak peduli.
Tanpa memedulikan si guru tanpa nama itu, gue menuju tempat duduk gue yang ada di barisan belakang. Ada empat buah deretan kursi yang memanjang ke belakang, masing-masing deret berisi lima buah kursi, dan keempat baris terakhir selalu diisi oleh gue dan teman-teman gue. Tidak ada yang berani mwngisi barisan paling belakang tersebut tidak peduli di kelas apa saja. Yang jelas, ketika mereka mengetahui kalau gue dan anak-anak ada di kelas yang sama, mereka akan menghindari barisan terakhir layaknya sebuah penyakit menular.
Smart move on their behalf. Gue tidak akan main-main dengan orang-orang yang mengusik ketenangan gue.
Seperti Pak Mulyono tua bangka botak itu.
Gue geram. Gue marah. Gue tidak tenang.
Gue harus memikirkan bagaimana cara menaklukkan tugas ini sekaligus balas dendam padanya.
****
__ADS_1
Gue menghadiri kelas kimia dan bahasa Indonesia dengan diiringi oleh awan mendung di atas kepala gue. Awan yang diundang oleh kelancangan Pak Mul dan mengguyur mood gue sekuyup-kuyupnya. Tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kekelaman suasana hati gue.
"Hey." Seseorang menyapa dan segera menghempaskan diri mereka ke bangku di sebelah gue. Gue menengok dan bertemu dengan mata genit Alda.
Tak lama kemudian gue merasakan bibirnya yang lengket mendarat di rahang gue.
Fxck. Lekas-lekas gue seka bekas bibirnya itu. Gue yakin dia baru saja menempelkan pemoles bibir berwarna merah muda mengilat yang sedang dipakainya di rahang gue.
Eew.
"Fxcking hell, Alda! Stop. Gue gak mau lihat sodara kembar gue *****-***** cowok di depan gue. Gue mau makan, sialan. Please, pergi jauh-jauh, deh!"
"Apaan, sih, lo? Suka-suka gue, dong, mau ngapain. Badan gue ini. Urus aja urusan lo sendiri sono!"
Damn it to hell. Gue dibuat semakin muak oleh drama saudara kembar yang selalu terjadi ketika mereka bertemu ini. Kenapa mereka tidak bisa akur, gue juga tidak tahu.
Jika ada satu hal benar yang orang tua gue lakukan, itu adalah dengan tidak memberikan gue saudara. Gue tidak tahu apa yang akan gue lakukan kalau gue punya adik atau kakak dan harus berkelakuan seperti ini setiap saat.
"What the fxck? Bisa gak lo bersikap kayak cewek baik-baik, ha? Gak ada harga diri banget lo abis ngomong kayak barusan!"
"Bodo amat. Gue gak peduli sama pendapat lo. Udah gue bilang urus aja urusan lo sendiri!"
God damn it! Gue tidak bisa kalau harus mendengarkan itu lebih banyak lagi. Gue tidak bisa.
Di rumah gue sudah puas dengan teriakan dan kata-kata kasar seperti yang mereka lakukan. Masa di sekolah gue harus menghadapinya lagi?
Fxck them. Fxck them all.
Bersambung ....
__ADS_1