
Fionn
"Ya udah, Bu. Saya mau nyapa Bu Rahayu dulu sebelum naik ke atas, ya." Gue berpamitan dengan Bu Pik yang masih saja menunggui gue mengurus barang belanjaan gue. Terlebih lagi posisinya itu, lho. Kedua siku bertelekan di atas meja, lengannya ditegakkan untuk menopang dagu. Dia di kalakian melihat ke arah gue dengan—please, gue tidak percaya akan mengatakan hal ini, dia melihat ke arah gue dengan sok imut. Eew.
Duh, ibu yang satu ini benar-benar, deh.
Dia kembali memberikan gue senyum konyolnya dan berkomentar. "Ya, Tuhan, Fionn. Calon menantu idaman banget gak, sih."
Kalau ada orang yang mengatakan bahwa wanita yang sedang asyik duduk di salah satu dari empat kursi yang mengelilingi meja persegi kecil ini adalah seorang ibu berusia empat puluhan akhir dan bekerja sebagai caretaker profesional daei sebuah lembaga, gue tidak akan yakin. Kenapa? Karena dari tadi yang dilakukannya hanya mengawasi gerak dan gerik gue.
Gue sendiri tidak tahu kalau gue membutuhkan seseorang untuk "menjagai" gue seperti begini. Ah, sudahlah.
Setelah menyiapkan apa yang akan gue bawa ke kamar Kimaya terlebih dahulu; beberapa bungkus snack, kukis, satu botol obat pereda rasa nyeri, dua botol air putih, dan heating pad elektrik rechargable, gue menuju ke kamar Bu Rahayu. Dari pintu yang terbuka lebar, gue menyapa wanita yang semakin hari tampak semakin tidak baik itu.
__ADS_1
"Hai, Bu," sapa gue sambil menyandarkan bahu ke bingkai pintu. "How are we feeling today?"
Bu Rahayu dan Pak Mul menengok ke arah gue. Wanita itu kemudian melakukan sesuatu dengan bibirnya yang terlihat somewhat seperti sebuah senyum. "Hai, Fionn. Kamu baru datang?"
Karena kamar mereka tidak terlalu besar, jadi dari tempat gue berdiri yang sebenarnya hanya berjarak satu setengah sampai dua meter paling jauh, gue masih bisa membaca gerak bibir Bu Rahayu alih-alih mendengar bisikan-bisikan tidak jelas yang keluar dari mulutnya.
Gue menanggapi pertanyaan wanita yang telah melahirkan Kimaya itu dengan sebuah gelengan. "Enggak, Bu. Udah lumayan. Tadi Fionn beresin belanjaan dulu."
Kali ini gue mengangguk. "Iya," sahut gue. "Tadi saya beli beberapa makanan dan obat buat Kimaya. She got her period while we were at school today."
Mengapa gue tidak canggung membicarakan hal itu dengan orang tua Kimaya? Yaa ... karena, apa yang perlu membuat gue sungkan, kan? Mereka pasti sudah tahu kalau anak perempuannya akan mengalami hal tersebut. Lagi pula, datang bulan bukanlah sesuatu yang bisa membuat gue segan. In fact, nothing can embarrass me, not like that.
"Ah ...." Huruf H yang diucapkan oleh Bu Rahayu terdengar lebih ... haunting. Sekonyong-konyongnya bulu kuduk gue berdiri.
__ADS_1
Well, it's time to get the hell out of here.
"Ya udah, Bu, Pak. Kalau gitu saya mau cek keadaan Kimaya dulu, ya. Permisi." Di saat itu juga gue berbalik.
Tanpa memedulikan Bu Pik yang masih ada di tempatnya, gue mengambil baki yang sudah ready di atas meja dan membawanya ke lantai dua. Tiba di ujung tangga, gue langsung disambut oleh pintu yang tertutup.
Oh, no. Pintu kamarnya ditutup. Apa yang harus gue lakukan?
Kalau gue ketuk dan ternyata dia sedang beristirahat di dalam, gue akan jadi sangat kesal dengan keputusan gue itu. Namun, jika tidak gue panggil dan ternyata dia malah membutuhkan salah satu dari barang yang gue bawa, gue juga akan merasa sama bersalahnya.
Fxcking hell. I must be really care for her if I'm standing eight here, in front of her door, considering and reconsidering my options so I don't bother her one way or another. Damn. This girl got me tangled up so badly around her little and delicate fingers.
The end.
__ADS_1