Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
44. Sampai Senja Menjelang


__ADS_3

Fionn


Setelah dari Crusty Deb, kami langsung menuju ke rumah Kimaya. Sampai di tempat kejadian perkara, gue melihat mobil butut milik Pak Botak sudah terparkir di garasi rumah mereka. Huft. Here we go.


Ketika gue melihat Kimaya mulai bersiap untuk ke luar dari mobil, gue menghentikan gerakannya dengan segera. "Eits, tunggu dulu. Biar gue yang bukain pintu buat lo."


"Tapi, kan." Kimaya mulai melancarkan aksi protesnya. "Gue masih bisa melakukan hal itu sendiri."


Gue sekonyong-konyongnya memutar bola mata. "Iya, Kim, gue tahu. Dari tadi gue juga udah tahu dan gue biarin lo aja, kan? Tapi, sekarang itu kita ada di tempat yang berbeda. Gue punya firasat kalau bokap lo lagi ngintip dari balik jendela saat dengar suara mobil. Atau, paling enggak, salah satu dari nyokap atau Bi Pik kepo itu. Gue akan dengan senang hati mempertaruhkan seluruh harta kekayaan keluarga gue untuk memilih salah satu dari skenario itu."


"Aaah .... Lo benar juga. Oke, deh." Dia mendesah. "Gue shock banget pas tahu level kekepoan Bu Pik bisa setinggi itu. Biasanya dia cuma sibuk ngurusin Ibu aja."


"Ya iya lah. Secara kan bahan gosipannya kayak gue gini," decak gue.


"Idih." Kimaya mencibir.


Keheningan kembali merajalela. Gue menoleh ke arah rumah dan benar saja. Sesuatu—atau seseorang berdiri di balik tirai di jendela ruang tamu. Tirai kamar ibunya Kimaya juga terbuka. "Benar kan apa yang gue bilang?" Gue mengatakan ini pada Kimaya yang langsung menengok ke arah rumah.


Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. "Udah, ah. Kalau gitu mending kita masuk ke dalam aja. Gue malas banget diintipin gini."


"Oke." Namun, sebelum turun, gue segera menutup semua kemungkinan munculnya bentuk-bentuk penentangan yang lain di masa depan. "Makanya lo jangan suka protes kalau gue melakukan sesuatu. Apa pun yang gue kerjain pasti ada maksud dan tujuannya. Gue gak pernah mengambil tindakan dengan asal-asalan. Semuanya pasti sudah gue perhitungkan dengan matang."


****


Kimaya


Dia benar-benar melakukan semua tindakan dengan maksud dan tujuan yang jelas. Setelah membukakan pintu mobil untukku, dia menungguku ke luar dan menutup kembali pintu itu dengan lembut. Setelahnya, dia merangkul bahuku dan mulai berjalan memasuki halaman kecil rumah kecil kami.

__ADS_1


Belum lagi kami sampai di teras, pintu depan sudah terbuka. Siapa lagi kalau bukan Bu Pik yang menjelma daei baliknya. "Eh, Dek Fionn mampir lagi!" sambutnya dengan perasaan girang yang berlebihan membuatku ingat apa yang Fionn katakan di dalam mobil tadi.


Secara yang jadi bahan gosipannya kayak gue gini.


Baiklah. Dia lagi-lagi benar.


Setelahnya dia mempersilakan kami masuk. Aku tidak menyangka kalau perawat ibuku merasa perlu untuk mempersilakan aku, anak yang punya rumah, untuk masuk ke rumahku sendiri. Hadeh. Dasar Bu Pik.


Tidak seperti kunjungan sebelumnya, aku tidak yakin keberadaan Fionn yang sebelum ini apakah bisa dikatakan sebagai kunjungan, kami melewati ruang tamu dan terus ke dalam. Di ruang tengah yang juga merupakan ruang makan dan dapur—ruang tengah kami mempunyai konsep open floor, akan tetapi dengan skala yang jauh lebih kecil dari yang dimiliki oleh rumah atau apartemen mewah di luar sana—Ayah sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.


Ayah tidak pernah menonton televisi. Setelah dari sekolah, Ayah akan selalu menghabiskan waktu bersama Ibu di kamar. Entah ada suatu pekerjaan yang dilakukan atau tidak, Ayah selalu menemani Ibu. Namun, tidak untuk kali ini. Entah karena Ayah ingin memulai kebiasaan baru atau hanya karena Ayah ingin menampakkan dirinya saat Fionn ada di sini.


Meski aku tidak mempunyai harta kekayaan sebanyak yang keluarga Haas punya, akan tetapi aku bisa mempertaruhkan apa yang aku punya untuk opsi yang nomor dua. Ayah ingin membuat Fionn sadar akan keberadaannya di rumah ini.


Namun, hal itu tidak membawa pengaruh kepada si keturunan sultan. Dia dengan entengnya berjalan mendekati Ayah dan mengulurkan tangan. "Sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu aktivitas, Bapak. Saya hanya ingin memperkenalkan diri secara resmi. Saya Fionn Akari Haas, pacar anak Bapak, Kimaya. Senang akhirnya bisa memperkenalkan diri kepada Bapak."


Aku kembali memusatkan perhatianku pada Ayah yang masih memperhatikan tangan Fionn, belum juga membalas jabatannya. Tangan pemuda itu masih saja tergantung di udara di antara mereka. Mantap, tak bergetar sedikit pun. Aku akui cowok gadunganku itu besar juga nyalinya.


Tidak percuma darah keluarga besar itu mengalir di dalam tubuhnya.


Tepat di hitunganku, dalam bahasa arab tentunya, yang ke lima puluh satu, barulah Ayah berdiri dan menggapai tangan anak muda itu. "Hai, Fionn. Senang akhirnya Bapak bisa berkenalan dengan kamu. Sebelum ini Bapak hanya mendengar cerita saja," balas Ayah.


"Senang bisa membuktikan kalau cerita yang Bapak dengar bukan omong kosong belaka, Pak."


Jawaban Fionn betul-betul membuatku ingin mengacungkan jempol kepadanya. Kenapa dia bisa sehebat ini? Kenapa dia bisa setenang itu di saat dia tengah berbohong dengan sadar di depan banyak orang? Apa yang sudah dilaluinya sampai-sampai aku saja, yang merupakan rekan dalam aksi ini, hampir terkecoh dan berpikir bahwa apa yang diucapkan oleh pemuda yang berdiri menjulang di depanku ini adalah benar adanya.


Wow. Benar-benar tidak dapat kupercaya.

__ADS_1


Karena aku terlalu hanyut dalam pemikiranku sendiri, aku tidak tahu bahwa namaku sudah dipanggil sedari tadi. Lagi-lagi sentuhan di bahuku mengembalikan aku kepada kenyataan. Kali ini Fionn menyenggol bahuku dengan bahunya. Eh, bukan. Lebih kepada dia menyenggol bahuku dengan lengannya yang berada sedikit di atas siku.


"Maya." Suara Ayah akhirnya dapat dicerna oleh otak. "Kamu tidak menyapa ibumu dulu sebelum kalian belajar?"


Belajar? Belajar? Apa saja yang sudah dikatakan oleh Fionn kepada Ayah selama aku melamun? "Belajar apa?" tanyaku dengan nada bingung yang sebenarnya.


Fionn yang menyahuti pertanyaanku itu. "Aku udah kasih tahu ke ayah kamu kalau kamu menawarkan untuk membantu tugas yang dia berikan ke aku di sekolah. Untuk keperluan pemilihan."


Ah, ah, ah. Aku tidak tahu kalau Fionn akan memberi tahu Ayah soal itu. "Oh, iya, iya." Aku menutupi kebingunganku dengan cengengesan.


"Ya, udah. Kalau gitu buruan sapa Ibu ke dalam dulu. Biar kita bisa mulai belajarnya. Abis itu aku mau siapin berkas untuk pendaftaran besok."


****


Kami menyapa Ibu sebentar. Wanita yang sudah melahirkanku itu tersenyum lemah dari tempat tidur. Sepertinya ini hari yang agak berat baginya. Aku segera mengajak Fionn keluar dari sana. Bukan hanya karena ingin cepat belajar, akan tetapi aku hanya ingin lebih lekas kabur dari kenangan buruk itu.


Lalu kami masuk ke kamarku san membiarkan pintunya terbuka (syarat dari Ayah). Bu Pik tidak lama mengantarkan minuman dan makan ringan. Sirup jeruk dingin dan biskuit sialan itu lagi.


Ternyata soal-soal yang diberikan Ayah adalah soal kelas dua dan kelas tiga yang sudah kukerjakan jauh sebelum aku memulai sekolah menengah atas. Kukeluarkan catatan lamaku dan kuberikan kepada Fionn.


"Nih, kamu tinggal ketik sendiri."


"Daaamn. This is so damn easy," kekehnya sambil memasukkan buku-buku itu ke dalam tasnya.


Aku kemudian sibuk mengerjakan tugasku. Dia sibuk dengan ponselnya. Kami menghabiskan waktu dengan seperti itu sampai senja menjelang.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2