Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
48. Something So Physical


__ADS_3

Kimaya


Aku tidak tahu apa yang aku seharusnya aku rasakan ketika Fionn mengaku bahwa dia memang mempunyai hubungan dengan si Alda Nenek Lampir Sok Manjaitu walaupun hubungan yang dimaksud hanya sebatas hubungan fisik.


Hubungan fisik.


Hubungan fisik.


Hubungan fisik.


Ya, Tuhan! Hubungan fisik! Hubungan fisik macam apa yang pernah mereka lakukan?


Ah, tidak, tidak, tidak. Aku tidak ingin mengetahuinya.


Namun, apakah aku benar-benar ingin menyiksa diriku sendiri seperti itu? Jika aku tidak bertanya kepada Fionn sekarang, rasa ingin tahu di dalam diriku pasti akan terus-menerus mengusik pikiran. Hal tersebut jelas akan mempengaruhi semua aspek. Tidak hanya di dalam kehidupanku, akan tetapi juga di kehidupan Fionn. Karena kehidupan kami sudah saling berkaitan dengan satu sama lain semenjak dua minggu yang lalu.


Ya, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Kalau aku akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Fionn, apakah aku akan siap mendengarkan jawaban yang ke luar dari mulutnya? Apakah aku akan siap menghadapi konsekuensi yang akan dibawa oleh pengakuan itu? Apakah aku akan bisa mengendalikan diri dan perasaanku?


Ah, perasaan! Kenapa perasaanku jadi berserakan seperti ini? Apa yang sudah terjadi di dalam diriku ini? Kenapa aku menjadi tidak menentu setelah mendengarkan pengakuan dari Fionn? Apakah mungkin ....


Tidak, tidak, tidak. Tidak ada hal khusus yang terjadi. Ingat kata-kata Fionn yang sudah kujadikan mantra agar diriku tidak terlalu terbawa suasana. Bahwa semua yang dilakukan Fionn memiliki tujuan tersendiri. Bahwa apa pun yang dilakukannya adalah demi sebuah misi. Bahwa setiap perbuatannya telah dipertimbangkan sebelum ini.


Jadi, dia mengakui itu untuk mencapai sebuah tujuan. Namun, apa tujuannya itu? Apa hubungan tujuannya itu denganku?


Aaargh! Kepalaku rasannya ingin pecah karena pengakuan yang baru saja dia lakukan.

__ADS_1


Aku ingin segera ke luar dari sini, dari toilet wanita yang tiba-tiba terasa sangat menyesakkan ini. Namun, untuk ke luar dari dalam sini aku harus menembus kungkungan lengan Fionn terlebih dahulu. "Fionn, awas. Gue mau keluar." Aku memerintahkannya untuk menyingkir.


Tentu saja dia tidak mau mendengarkan perintahku. "No. Kamu gak boleh pergi ke mana-mana. Kita akan tetiada di sini sampai kamu tenang dan mau menatap mata aku lagi."


Aku tidak tahu sejak kapan aku telah mengalihkan pandanganku dari mata hijaunya yang indah dan penuh hipnotis itu. Aku tidak tahu semenjak dsei kapan aku sudah menghindari tatapan mata hijau Fionn Haas yang sungguh menyesatkan.


"Kim, lihat aku." Kini gantian Fionn yang memberikan suruhan. Dengan suara rendahnya dia menyuruh aku untuk melihat ke dalam mata itu lagi.


Tidak, aku tidak mau melakukan itu. Kali ini gantian aku yang bersikeras untuk mengabaikan ucapannya.


"Kimaya. Look. At. Me." Fionn mengubah caranya dengan menggeram.


Hah. Dia pikir geramannya akan membuat aku melakukan apa yang dia inginkan. Tidak, tidak akan.


"Kimaya." Setelah mengucapkan namaku, dia di kalakian melakukan apa yang tidak kusangka akan dia lakukan. Fionn mendekatkan wajahnya ke wajahku. Padahal sebelum ini jarak wajah kami sudah termasuk cukup dekat, akan tetapi dengan usahanya memperkecil jarak, kini aku bisa merasakan tiupan napasnya membelai wajahku.


Sialan! Padahal aku sudah begitu susah payah menguasai diri. Dengan semua perubahan yang terjadi, rasanya semakin tidak mungkin untuk membuat diriku sendiri bertekuk lutut. Rasa-rasa yang ada semakin merajalela, meronta-ronta ingin diberikan perhatian satu per satunya.


Sialan. Sialan, sialan, sialan!


"Kimaya." Pada kesempatan kali ini Fionn mengubah taktiknya. Dia menujar nada rendahnya dengan bisikan sekarang. "Look at me. Please."


Tisak ada yang dapat menangkap perhatianku selain permohonan yang dibisikkan oleh Fionn tepat di depan mukaku. Aku sekonyong-konyongnya mengabulkan permintaannya dan menatap mata itu lagi. Dari jarak yang sedekat ini, aku bisa melihat garis-garis hijau gelap yang menghiasi kornea matanya tersebut. Mata yang tepinya dilingkari juga oleh warna hijau gelap yang sama. Perpaduan warna hijau yang sungguh, sungguh, sungguh menawan. Apakah aku sudah pernah menyinggung soal hasil pencarianku di internet soal mata hijau ini? Ternyata bola mata dengan warna hijau termasuk warna bola mata yang langka. Diperkirakan hanya dua persen dari penduduk dunia yang memilikinya. Dan aku rasa Fionn adalah salah satu yang beruntung.


Keberuntungan yang dimiliki oleh seseorang yang sudah beruntung.


Sialan! Apa yang sedang aku bicarakan? Kenapa jadi melantur begini, sih?

__ADS_1


Kembali ke mata hijau yang sangat menawan itu. Dan juga cara dia mengucapkan kata please dengan bisikannya. Dan napasnya yang berembus di wajahku. Dan aroma mint yang tercium dari sana. Kapan dia mengkonsumsi permen mint favoritnya itu?


Dan semenjak kapan dadaku menjadi berdebar-debar seperti ini?


"Ah, there you are," bisik Fionn ketika mataku sudah menatap matanya dengan stabil lagi. Dia kemudian tersenyum tipis. Senyum yang semakin membuat jantungku berdetak lebih cepat. "Ayo. Sekarang saatnya kamu tanyakan sama aku apa yang sudah mengahntui kepala kamu sejak tadi. Aku akan jawab semuanya dengan jujur. Karena aku memang pengen jujur sama kamu."


Apa yang sedang dia bicarakan? Aku mengatakan hal yang sama dengan yang terlintas di pikiranku sebentar ini padanya. "Kamu ngomong apa, sih? Aku gak ngerti." Aku ikut-ikutan berbisik.


Fionn kembali menyerangku dengan tarikan bibirnya. "Ah, ah, ah. Jangan gitu, dong, Babe. Dari tadi aku udah memilih untuk gak bohong sama kamu. Sekarang, I think you need to do the same. Kita gak mau apa yang kita punya jadi berat sebelah, kan?"


Apa, Fionn? Apa yang kita punya?


Ya, Tuhan. Kini sudah muncul lagi pertanyaan yang baru. Pertanyaan yang sama sekali tidak ingin kutanyakan kepada cowok di hadapanku ini.


"Babe, come on. Aku sebenarnya audah tahu apa yang ada di dalam kepala kamu. Semuanya udah terpampang jelas di sini." Dia tiba-tiba menempelkan dahinya ke atas keningku.


Bukan merupakan sentuhan yang besar, akan tetapi apa yang sekarang dilakukannya memberikan dampak yang jauh lebih berbahaya dari pegangan tangan dan rangkulan di bahu yang selama ini kami lakukan. Kalau sebelumnya kami mengerjakan semua itu agar dilihat oleh murid-murid yang mengelilingi kami, saat ini hanya ada kami berdua di dalam toilet wanita. Hanya kami yang tahu apa yang kami lakukan di dalam sini. Apa pun yang kami lakukan bukan lagi menjadi tontonan. Apa yang kami lakukan sejatinya hanyalah dilakukan untuk diri kami sendiri.


Sudahkah kalian melihat di mana letak bahayanya?


"Fionn." Aku memanggilnya.


"Hm?" Dia bergumam. Dahi kami masih saja menempel.


Aku harus melakukan sesuatu untuk mengganti suasana yang riskan ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk memecahkan situasi yang rawan menciptakan kehancuran ini. Dengan tujuan seperti halnya tersebut di atas, di kalakian aku menanyakan hal yang tidak ingin kutanyakan tadi. "Hubungan fisik seperti apa saja yang sudah kalian kerjakan?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2