
Kimaya
Aku tidak dapat menahan tawa saat melihat ekspresi horor yang mewarnai wajah Fionn. Dia tidak menganggap aku hanya akan mengikuti aemua permintaan dia tanpa benar-benar menyatakan kesediaanku, bukan? Dia tidak benar-benar menganggap aku akan bertindak seceroboh dan sesemberono itu, bukan?
Tidak. Tidak akan pernah.
Cowok yang semulanya berdiri itu kini memutuskan untuk duduk kembali di kursi yang masih ada di depanku. "Come on, Kim. Kita udah bicara panjang lebar. Kita udah bahas banyak hal. Kita udah susun rencana yang gye bilang pretty solid. Setelah semua itu, dan lo bilang kalau lo masih belum yakin sama perjanjian ini?"
Aku lantas menyahut. "Gue gak bilang kalau gue belum yakin sama perjanjian ini, kok. Gue tadi bilang kalau gue belum menyatakan persetujuan terhadap kesepakatan kita. Karena, untuk membuat kesepakatan ini solid, gue rasa kita harus menyatakan persetujuan kepada satu sama lain. Mungkin juga ditambah dengan berjabat tangan biar afdal."
Lagi dan lagi cowok di depanku ini mengdengkus. Aku benar-benar mulai curiga. Melihat dari betapa seringnya dia melakukan hal itu, jangan-jangan Fionn betul-betul mempunyai campuran darah banteng di dalam garis keturunannya.
Wow. Hampir saja gelakku tersembur ke luar. Segera kusembunyikan tawa itu dengan batuk dan dehaman. Kembali kufokuskan pandangan kepada si blasteran banteng itu.
Dia sedang menyisir rambut yang dibiarkan panjang di bagian atas dan sangan tipis di bagian samping kanan, kiri, dan bagian belakang itu. Potongan rambut yang sudah sangat umum aku lihat ada di kepala cowok-cowok. Namun, entah kenapa sensasinya agak sedikit berbeda saat dipadankan dengan rambut berwarna cokelat terang, bergelombang, dan terlihat sangat halus milik Fionn.
Hm. Aku rasa rambut itu adalah privilese yang dia dapatkan dari darah luar negeri yang diturunkan oleh ayahnya. Hm. Dari mana asal ayahnya itu, ya? Kalau tidak salah dengar dari negara di bagian Eropa sana.
Duh. Kenapa aku tidak bisa mengingat satu detail tersebut, ya?
Dan, eh, eh, eh. Apa yang baru saja ditangkap oleh telingaku? Apakah Fionn barusan mengucapkan sumpah serapah?
Dan kenapa itu juga terdengar sangat ... sangat ... sangat ... menyenangkan di telinga ini? Kenapa aku merasa bahwa apa yang dilakukan oleh Fionn terlihat dan terdengar begitu mirip dengan para pacar khayalan yang kumiliki dari buku-buku yang kubaca itu?
__ADS_1
Aduuuh.
Aku harus berhati-hati ini!
Namun, setelah dipikir-pikir, kenapa aku harus berhati-hati? Bukannya aku berencana untuk menyamakan Fionn dengan tokoh-tokoh di dalam novel itu. Bukannya aku bermaksud untuk memperlakukan mereka dengan sama. Para pacar khayalanku akan tetap menjadi yang pertama dan terutama sekali di dalam hidupku. Mereka akan selalu menjadi yang paling setia menemani hari-hari. Sedangkan Fionn, Fionn akan hanya menjadi pacar bohonganku di dunia nyata. Apa yang kami lakukan hanya akan selamanya menjadi sebuah transaksi. Kemenangannya dalam pemilihan ketua OSIS yang dibarter dengan jaminan dana pendidikan lanjutan untukku. Setelah semua tujuan masing-masing pihak tercapai, kami harus mengakhiri kesepakatan yang sudah dibuat. Dari awal, aku sudah tahu kalau semuanya hanya palsu dan sementara.
Pacar khayalanku tidak seperti itu.
"Oke," ucap Fionn setelah mengembuskan napas panjang sekali lagi. "Oke." Dia mengangguk. "Kalau begitu, let's make an official deal and shake hands on it."
Aku akui pada awalnya aku hanya ingin mempermainkan dia, mencoba mengetes seberapa besar keinginan Fionn atas perjanjian ini. Namun, setelah melihat betapa frustrasinya dia ketika aku mengimplikasikan bahwa kesepakatan kami belum final, aku sudah mendapatkan jawaban yang kuinginkan.
Senang mengetahui bahwa dia juga benar-benar serius dengan perjanjian kami ini. Senang mengetahui bahwa aku bukan satu-satunya pihak yang berharap agar kesepakatan ini berjalan dengan baik dan berhasil nantinya. Senang mengetahui bahwa orang nomor satu di sekolah seperti Fionn saja masih membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan sesuatu.
Aku menelan ludah saat melihat dan mendengar hal tersebut. Keseriusan yang terkandung di dalam tindakan Fionn membuat semuanya terasa menjadi begitu nyata dan begitu resmi. Ah, sial. Ternyata aku lebih menyukai atmosfer ringan yang kami bagi tadi. Saling bertukar pikiran dengan ringan dan tanpa beban.
Salah sendiri kenapa mengerjai cowok ini. Sekarang aku sudah mendapatkan apa yang aku minta, bahkan berkali-kali lipat lebihnya.
Aku menelan ludah sekali lagi. Menyatakan persetujuan soal kesepakatan kami rasanya seperti menyatakan kesediaanku untuk menjadi pendamping hidup Fionn.
Namun, jika dilihat daei satu sisi, benar juga. Aku akan mendampingi dia untuk beberapa saat. Walaupun hanya sebagai kekasih palsu yang dibayar, tetap saja aku akan mendampingi dia.
Baiklah kalau begitu. "Oke, gue setuju." Di kalakian akhirnya aku mengungkapkan.
__ADS_1
Fionn menganggukkan kepala dengan dalam sebelum menyatakan persetujuannya sendiri. "Gue juga setuju dengan kesepakatan yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Gue akan segera mengurus surat perjanjian resmi kita dengan lawyer gue biar masing-masing pihak punya pegangan."
Aku ikut-ikutan mengangguk. "Oke." Aku menanggapi, berusaha untuk tampil tidak terlalu kaku dan santai. Ngomong-ngomong, berapa, sih, umur si Fionn ini? Kenapa cara berbicaranya sudah seperti orang dewasa? Kenapa dia sudah mempunyai tim lawyer sendiri? Bukankah pekerjaannya sebagai satu-satunya pewaris dari perusahaan ayahnya hanya ongkang-ongkang kaki dan main-main saja dan semua uang itu yang akan bekerja untuknya? Lalu, kenapa dia bisa bersikap seperti seorang profesional begini?
Ah, sudahlah. Tidak perlu pikirkan urusan orang lain. Kenapa aku tiba-tiba menjadi begitu penasaran dengan urusan orang lain, sih? Apalagi orang lain itu adalah Fionn. Kenapa aku mengurusi urusan pribadinya? Sudah, sudah, sudah. Sudahlah, otak. Jangan berputar lebih kencang lagi demi memikirkan kepentingan orang. Jangan menambah-nambah perkara yang membebani diri sendiri.
Kami hanya berpura-pura menjalin hubungan di sekolah. Ini adalah misi pencitraan Fionn. Ini semua dilakukan demi tugas dan nama baik dia. Bagiku ini semua demi uang kuliahku.
Oooh, aku sudah tidak sabar untuk ke luar dan memulai masa perkuliahanku nanti.
"Kim?"
Sekali lagi suara Fionn menembus kabut yang melingkupi otakku. Perlahan-lahan aku mulai kembali memasuki dunia nyata dan fokus padanya. "Ya?"
Dia serta-merta mengarahkan pandangan ke bawah. Ke arah tangannya yang sudah terjulur ke arahku.
Ya, Tuhan. Sejak kapan dia sudah mengulurkan tangannya seperti itu?
Demi memalsukan rasa salah tingkah, aku berdeham dan menyambut jabatan tangannya. Dia menggoyangkan tangan kami yang bertaut ke atas dan ke bawah satu kali dengan mantap. "Deal," tegas Fionn.
"Deal." Aku mengulang meski tidak sekeras yang diucapkannya barusan.
Namun, artinya tetap sama saja. Dengan begitu, aku dan dia telah menyegel hidup kami selama beberapa bulan ke depan pada satu sama lain. Aku benar-benar berharap semuanya berjalan dengan sangat lancar. Karena aku rasa aku sudah cukup banyak mendapatkan nasib buruk dari yang namanya kehidupan. Sudah sepatutnya aku mendapatkan suatu kemudahan saat ini, kan?
__ADS_1
Bersambung ....