
Fionn
Gue masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Kimaya. Gue pintar akting bagaimana, ya?
"Yuk, ah." Kimaya memotong laju pikiran yang berkeliaran di dalam kepala gue. "Entar telat lagi."
Gue hanya memilih untuk menyimpan pertanyaan itu untuk diri gue sendiri. Tidak ada gunanya juga menanyakan kembali kepada cewek yang audah berjalan duluan di depan gue ini. Dia pasti hanya akan berkelit dan bersilat lidah lagi.
Buset, dah. Bahasa gue.
****
Kimaya
Fionn benar-benar bermain dengan halus. Kalau bukan karena kata PERJANJIAN sudah kutulis dengan besar-besar dan menggunakan huruf besar serta kutempelkan di tengah-tengah isi kepala, aku tidak akan bisa membedakan mana sikapnya yang asli, mana yang hanya sandiwara. Terlebih lagi aku tidak pernah mengenal Fionn secara pribadi. Pengetahuan yang kudapat hanya berasal dari cerita mulut ke mulut saja.
Seperti yang sebelumnya, penghuni koridor sekolah ternganga ketika melihat kami berjalan bersama, dengan Fionn yang memegangi tas yang jelas-jelas tas seorang perempuan di sebelah tasnya sendiri. Mereka dibuat lebih menganga lagi ketika aku sampai di deoan kelas dan Fionn melambaikan tangannya sambil mengatakan "Bye, Babe" dengan suaranya yang dibuat lebih rendah. Aku tahu dia sengaja melakukan hal tersebut. Aku tahu maksudnya apa. Namun, aku tidak mampu memungkiri bahwa cara dia berpamitan barusan membikin jantungku cegukan.
Dia benar-benar jago melakukan semua ini. Aku tidak yakin aku bisa mengimbangi permainannya.
****
Seperti seorang siswa yang betul-betul teladan, aku mengikuti setiap langkah di dalam instruksi yang diberikan oleh Fionn. Tidak lagi memedulikan apa yang dikatakan oleh orang-orang pengecut dan penuh kemarahan di kolom komentar What's Up Taruna, cek. Mencoba menghiraukan tatapan yang diberikan oleh para penghuni koridor, cek. Menunggu Fionn kembali dari pertemuannya dengan pelatih sepak bola sekolah dengan sabar di dekat lapangan parkir depan, cek.
"Maya?"
Aku mendengar suara Ayah dari balik punggung. Seketika aku berbalik dan menemukan orang tua laki-lakiku itu berjalan mendekat. "Ayah? Ayah kok belum pulang?"
__ADS_1
Ayah serta-merta mendudukkan tubuhnya di sampingku, di atas bangku kayu yang terdapat di bawah pohon besar yang menaungi setengah taman di depan gedung utama SMA Taruna Nusantara. "Ayah baru saja mau pulang," jawab Ayah. Aku menoleh dan melihat ekspresi yang tidak pernah ada sebelumnya di wajah lelaki paruh baya itu. Setidaknya ekspresi itu belum pernah diberikan kepadaku sebelum ini. "Ayah juga baru baca pesan yang kamu kirim."
Oh, itu. Kemungkinan besar itulah yang menjadi sumber dari raut aneh di wajah Ayah. Apakah Ayah merasa kecewa? Curiga? Atau ... ada hal lain yang dirasakannya?
"Kamu ... mau pulang sama teman kamu." Ayah mengatakan hal itu, akan tetapi intonasi yang dipakainya membuat kalimat itu terdengar seperti pertanyaan.
"Hm. Iya, Yah." Aku mengaku, entah kenapa tiba-tiba perlu untuk merasa malu.
"Ayah ... Ayah juga mendengar cerita yang menarik dari Ibu," lanjut Ayah.
Ah, iya. Memang. Karena "kesibukan" baruku, aku tidak bisa berlama-lama bercengkerama dengan Ayah dan Ibu di akhir minggu kemarin. Aku hanya memandangi tangan yang terlipat di atas paha dan dengan setia menunggu kalimat Ayah berikutnya.
"Ayah akui ceritanya sungguh ... menarik."
Menurut aku yang sudah seumur hidup berbaur dengan Ayah, ayahku adalah seorang orang tua yang tingkat kesabarannya mendekati level dewa. Ayah tidak pernah meninggikan suara, baik kepada aku dan terlebih lagi kepada Ibu. Ayah selalu memegang asas praduga tidak bersalah lebih dari pihak penegak hukum. Sebelum ada bukti yang mendukung sesuatu kesalahan yang dilakukan oleh salah seorang di antara aku atau Ibu, atau bahkan tetangga di sebelah rumah kami, Ayah akan menerima kejadian itu sebagai suatu kebetulan yang tidak baik.
Entah aku harus bersyukur atau malah marah pada Ayah. Karena sikapnya yang dianggap terlalu "lunak" itu, tetangga kami menjadi sering mengolok-olok Ayah. Namun, kedua orang tuaku tidak peduli. Mereka tetap melanjutkan hidup mereka sebagai pasangan yang sangat berbahagia.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan cepat dan dangkal.
"Dan ... terlalu kebetulan."
Pernyataan yang Ayah ucapkan barusan jujur saja membuatku agak tergugu. Kebetulan seperti apa yang dimaksudkan oleh Ayah? Jangan-jangan ....
"Maya?" Kali ini Ayah memanggilku dengan menggunakan penekanan yang lebih. "Ayah mau tanya sesuatu sama kamu. Boleh?"
Jantungku sudah mulai melakukan joging di balik tulang rusuk, membuat perkataan yang ke luar dari mulutku ikut berlarian. "B-boleh, Yah."
__ADS_1
"Dan kamu janji harus menjawabnya dengan jujur, ya?"
Deg. Jujur. Jujur bukanlah sesuatu yang bisa aku lakukan sekarang. Tidak jika Ayah bertanya tentang hal-hal yang menyangkut dengan perjanjianku dengan Fionn. Meskipun demikian, aku tidak bisa mengungkapkan hal itu kepada Ayah, bukan? Aku tidak bisa menyatakan dengan jujur bahwa aku tidak bisa jujur pada Ayah. Lalu, apa yang harus aku lakukan?
Di kalakian terjadi sebuah kejadian yang janggal. Sesuatu—atau seseorang?—di sudut kepalaku berbisik. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. "White lie. Inilah sebabnya istilah white lie itu ada."
Dan kenapa suara itu terdengar mirip sekali dengan suara Fionn? Apa aku sudah gila? Walaupun begitu, tidak ada waktu untuk memecahkan misteri ini sekarang. Aku harus menghadapi Ayah terlebih dahulu. "Oke." Dengan sedikit dukungan dari suara yang muncul di dalam kepala, aku dengan sadar menyetujui syarat Ayah meskipun aku tahu aku berkemungkinan besar akan melanggar janji itu.
"Janji dibuat untuk dilanggar, kan?"
Apa? Kenapa dia muncul lagi?
Fokus, Kimaya, fokus. Fokus pada suara Ayah dan keadaan sekarang.
"Sejak kapan kamu berteman dengan Fionn?"
Pertanyaan pertama dan aku sudah harus berbohong. "Udah lumayan lama, Yah." Aku mengungkapkan jawabanku kembali pada jari-jemari yang saling memainkan satu sama lain di atas rok lipat seragam sekolah yang kupakai.
"Oh, ya?" Kali ini Ayah tidak menyurukkan keterkejutannya. "Sudah lumayan lama, ya?"
"He-eh." Aku bergumam.
"Baiklah kalau begitu." Ayah mengambil waktu beberapa kala sebelum mengimbuhkan, "Kalau begitu kamu juga sudah kenal dia dengan lumayan dekat pula, ya?"
Interogasi. Ayah sedang melakukan interogasi. "Iya, Yah. Lumayan." Dan kalau dipikir-pikir lagi, jawabanku ini tidak sepenuhnya bohong. Aku memang sudah mengenal Fionn dengan lumayan dekat sekarang jika dibandingkan dengan pertama kali kami bertemu tiga hari yang lalu. Sekarang aku sudah mengetahui detail-detail kecil soal cowok yang sedang kutunggu itu.
Ah, iya. Aku akan bertemu dia. Ya, Tuhan. Jangan biarkan dia datang saat ayahku masih ada di sini. Kumohon, Tuhan. Kumohon.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah." Aku bisa menebak kalau Ayah mengucapkan kata itu sembari mengangguk. "Ayah berharap Ayah bisa bertemu dengan dia secara langsung di rumah kita, ya. Ayah juga penasaran sama apa yang dibilang ibumu. Katanya selain ganteng, Fionn juga ramah. Sesuatu yang belum pernah Ayah dengar dikatakan oleh murid-murid di sekolah."
Bersambung ....