
Fionn
Damn. She's got fire in her. Cewek ini tidak ragu untuk menempatkan gue di tempat yang seharusnya. Dia tidak khawatir menghadapi gue, tidak berusaha menjaga sikap sedikit pun di depan gue. Dia tidak seperti cewek-cewek yang biasa gue temui, yang langsung luluh dan bersujud di kaki gue semata-mata karena gue bilang gue ingin mereka untuk melakukan itu.
Sedangkan Kimaya tidak. Dia berbeda. It's ... pretty damn refreshing.
Gue memperhatikan dia dengan tidak terlalu diam-diam saat dia mendekati wanita paruh baya yang memanggilnya dari teras rumahnya tadi. Gue penasaran siapa dia sebenarnya. Tampilannya profesional, bukan seperti ibu-ibu yang stay di rumah. Kecuali, yeah, kalau ibunya Kimaya menggunakan rok span untuk bersantai. Siapa tahu juga, kan?
Namun, wanita itu tadi bilang kalau ibunya Kimaya ingin dia mengajak gue ke dalam. Jadi, jelas teori gue yang pertama dipatahkan oleh fakta ini. Meskipun demikian, gue menangkap aura kefamilieran dari mereka berdua sewaktu mereka berbicara. So, she is not her mom, but her ... what?
Gue juga mengamati caranya berbicara, gerakan tubuhnya saat dia mengekspresikan diri. Di kala lidahnya menari melahirkan opini dan memuntahkan teori, tangannya ikut meliuk-liuk ke sana kemari. Perbincangan dengan Kimaya terlihat sangat hidup. It's a fascinating thing to watch. Gue jadi semakin ingin tahu bagaimana rasanya terlibat dalam satu diskusi bersama dia.
Lalu dia berjalan kembali ke tempat gue. Dengan memberengut, dia mendekat. Saat dia menyilangkan tangannya di depan dada dengan dramatis, mata gue yang gue akui jelalatan ini otomatis mengarah ke bagian itu. Bukannya banyak yang bisa dilihat, sih. Secara, kan, sudah gue bilang kalau dia kurus, akan tetapi tetap saja. Apalagi ketika dia menyadari apa yang gue lakukan dan mengubah posisi tangannya.
Fxck. She's so damn cute when she's angry like that.
Ditambah lagi ketika dia mencondongkan tubuhnya ke arah gue, mata besarnya itu terlihat semakin komikal, membikin gue semakin gemas dan ingin bermain-main bersama dia.
But, wait, wait, wait, wait a minute. What the fxck? Apa yang baru saja terlintas di pikiran gue, ha?
For the love of the fxcking God. Fionn!
Baru lima menit berada di dekat cewek ini dan gue sudah kehilangan jati diri. She's got fire and attitude, so that's why she's so fxcking dangerous. Lagian, gue punya misi yang harus gue selesaikan sendiri saat gue memutuskan untuk membuntuti dia.
Remember your mission, Fionn. Remember what got you here in the first place. Remember what you have planned.
Shxt. Gue tidak boleh lengah dari tujuan awal gue. Gue tidak boleh terdistraksi. Peduli setan dengan ke-cute-an dan api yang ada si dalam dirinya. Peduli setan dengan matanya yang besar dan komikal. Peduli setan dengan semua hal yang membuat dia terlihat atraktif. Peduli setan dengan itu semua. Pokoknya gue harus fokus sama tujuan gue. Titik.
Okay, okay. Gue mengirimkan acungan jempol ke batin gue. I got the memo.
__ADS_1
Oleh sebab itu gue mengikutinya melewati pagar dan masuk ke rumah mereka.
Tidak perlu banyak bujukan atau ancaman untuk membuat gue menurut. Gue tidak peduli dengan bukti-bukti yang katanya dia punya. Permintaan, atau lebih tepatnya perintah, yang dilayangkan oleh Kimaya tanpa dia sadari mempermudah eksekusi dari tujuan gue.
She just doesn't know that.
Kami berhenti di depan pintu. Kimaya yang berjalan di depan gue lantas menoleh. "Buka sepatu lo," suruhnya dengan ketus seakan gue adalah makhluk tidak beradab yang tidak tahu akan basic manner seperti itu.
Namun, sejujurnya, gue tidak akan tahu kalau tidak dia beri tahu. Karena, what the fxck, man? Sejak kapan kita perlu capek-capek membuka sepatu saat akan masuk rumah? Rupanya, begitulah peraturan di rumah Kimaya.
Dengan patuh gue buka Nike .... yang gue pakai dan meletakkannya di sudut di depan pintu, sementara Kimaya menjinjing sneaker putih yang tadi dipakainya ke dalam. "Lo tunggu di sini dulu. Gue mau narok sepatu." Dia mengangguk ke arah sofa yang ada di ruangan itu.
Gue juga mengangguk.
"Mau minum apa lo?" Kimaya bertanya lagi.
"Anything is fine," jawab gue sembari mengedikkan bahu.
Dari depan rumah bercat putih ini sudah terlihat tidak terlalu besar. Meski bertingkat dua, gue rasa hanya ada satu ruangan di lantai atas. Dan benar saja. Ruangan tempat gue berada sekarang, ruang tamu, hanya berukuran kira-kira tiga kali tiga meter, cukup untuk memuat satu set sofa rendah sederhana yang tidak akan pernah gue duduki dengan sukarela kalau bukan karena terpaksa.
Dan urusan buka sepatu. Come the fxck on. Walaupun masih dibungkus oleh kaus kaki, hawa dingin dari lantai masih bisa merasuk dan mengganggu kenyamanan kaki gue. Sialan. Gue sesekali menggesek-gesekkan kedua kaki gue pada satu sama lain hanya karena gue terlalu jengkel dengan kenyataan yang gue hadapi sekarang.
Wajar saja Pak Mul terkenal dengan kesabarannya. Siapa yang tidak harus banyak bersabar jika harus menjalani kehidupan seperti ... ini?
"Oh, kamu sudah masuk ternyata."
Gue mendengar suara itu dan sekonyong-konyongnya menegakkan duduk. Wanita yang tadi lagi. "Eh, iya, Bu." Gue meringis, tidak tahu harus melakukan apa.
"Maya masih di kamarnya, ya?"
__ADS_1
Mana gue tahu. "Eh, ehm. M-mungkin, Bu."
Ibu-ibu itu kemudian duduk di seberang gue. "Kami temannya Maya di sekolah, ya? Ibu lihat seragam kalian sama."
Entah kenapa pertanyaan Ibu itu membuat gue merasa sedang diintrogasi. Mungkin karena rasa ingin tahu bercampur girang yang memenuhi raut mukanya.
God damn it. Cewek itu di mana, sih?
Di kalakian gue menjawab pertanyaan si Ibu dengan sebuah anggukan.
"Kalian satu kelas?"
Gue mengangguk lagi.
"Kamu kenal dekat dengan Kimaya?"
Okay, terlepas dari gue dekat atau tidaknya dengan si Kimaya-Kimaya ini, gue rasa itu bukan urusan dia. Ini urusan pribadi kami dan sungguh lancang kiranya bertanya soal itu langsung kepada gue, bukan ke Kimayanya sendiri. Ibu ini tahu soal privasi tidak, sih?
"Bu Pik! Ibu jangan kepo, deh!"
Gue tidak pernah menyangka kalau akan ada saat di mana gue merasa sangat lega ketika mendengar suara cempreng milik Kimaya. Namun, itulah yang terjadi saat ini. Diam-diam gue mengembuskan napas lapang. Sialan itu ibu-ibu. Baru masuk sekali ke dalam rumah ini, dia sudah berhasil membuat gue tegang setegang-tegangnya.
Dan bukan tegang yang gue suka pula.
"Eh, Maya." Wanita yang dipanggil Bu Pik ini seketika saja cengengesan. "Ibu cuma pengen tahu aja, kok." Dia berkilah.
"Itu yang namanya kepo, Bu," jawab Kimaya dengan gemas. "Ya, udah. Kita mau ke atas dulu, deh. Males kalau nanti di bawah bakal Ibu kepoin terus."
"Eh, tunggu. Sebelum ke atas, ibu kamu mau ketemu sama teman kamu dulu."
__ADS_1
What the fxck? Hari pertama dan gue sudah dibawa keliling-keliling bertemu orang tuanya?
Bersambung ....