
Fionn
What the heck?
"Ayo, Maya. Ibumu sudah menunggu di kamar. Semakin segera kalian menemuinya, semakin cepat kalian bisa mengurusi urusan kalian lagi." Wanita yang dipanggil Bu Pik itu menggoyang-goyangkan alisnya dengan jenaka. "Iya, kan?"
Gue tidak tahu masih ada orang tua yang mau melakukan hal konyol seperti itu, akan tetapi what the fxck ever. Maybe Bu Pik ini mau mencalonkan diri menjadi nominasi dari kategori Ibu-Ibu terkepo, terjulid, dan terkonyol of the Year, I wouldn't know.
But, wait a minute.
Gue membuntuti cewek ini karena ada alasannya. Dan meski tawaran gue akan sangat menggiurkan bagi sebagian orang, akan tetapi tetap saja ada kemungkinan kalau cewek ini akan menolak tawaran itu. So, gue rasa gue bisa memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan gue.
Lagi pula, apa salahnya menyetor muka ke orang tua calon teman lo, kan? Such an innocent act.
"Tapi, Bu Pik–"
"Gak apa-apa, Kim." Gue memotong kalimatnya. Eh, akan tetapi kenapa gue jadi panggil dia dengan sebutan Kim? Dari mana datangnya?
"E ciyeee, udah ada panggilan sayang, tah, rupanya?" Bu Pik mulai lagi dengan aksinya yang menurut gue sangat tidak sesuai dengan umur itu.
Gue tidak mengindahkan komentar Bu Pik dan hanya membalas pelototan Kimaya, Kim. Come the fxck on, girl. Ikuti permainan gue. Semakin cepat kita ke luar dari situasi ini, semakin cepat pula urusan gue dan elo selesai. Karena, seperti elo, gue juga ingin segera keluar dari lubang neraka ini.
Kimaya masih saja memberikan mata besarnya ke arah gue. Mata besar yang komikal dan cute dan .... Argh! Stop it, Fionn! Ini bukan saatnya otak lo ngalor-ngidul ke mana-mana. Sekarang itu saatnya lo mainkan keahlian lo.
__ADS_1
Meluluhkan hati wanita.
Buat Kimaya menurut dengan semua perkataan lo, at least for the time being.
Ah, ah, ah. Benar juga. Gue kembali mengirimkan acungan jempol ke setan di dalam kepala gue. Terkadang dia ada gunanya juga.
"Come on." Gue serta-merta meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat. Dengan begitu tangan kami tidak akan terlepas meski dia menarik-narik tangannya untuk ke luar dari pegangan gue. Gue remas lebih kuat lagi tangannya saat gue merasakan sebuah sentakan.
Di saat gue merasakan gerakan itu sekali lagi, gue memutuskan untuk berbalik dan memasang sebuah senyum yang tegang. Gue sengaja melakukan hal itu agar Bu Pik yang gue yakin dengan senang hati memata-matai tindak dan tanduk kami pasti sedang menonton dengan cermat. "Come on, Kim. Katanya kamu mau cepat-cepat bikin tugasnya. Lagian mama kamu juga pasti udah nunggu dari tadi," imbuh gue pun dengan nada lembut yang penuh dengan kepura-puraan.
Gue sendiri yang menjadi saksi bagaimana Kimaya menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan sembari menutup mata. Mulutnya komat-kamit untuk beberapa saat itu entah untuk menyebut apa. Apakah dia sedang menjampi-jampi gue? Namun, tebakan gue yang paling kuat adalah dia sedang merutuki keberadaan gue di dunia ini.
Hm. Pasti itu. Lagi pula, dia bukan orang yang pertama, kok. So, what the fxck ever lah.
God damn it to hell! Gue tidak menyangka kalau gue baru saja memakai kata terkesima. Dari mana gue mengetahui kosakata itu? Apa yang membuat gue terkesima pada gadis seperti dia ini? Dan ... dan ....
Kekacauan yang sedang terjadi di dalam diri gue dihentikan oleh sebuah remasan di dalam genggaman tangan kami. Gue kembali bisa memusatkan perhatian kepada Kimaya yang masih menengadah demi melihat langsung ke mata gue. "Ayo. Lebih cepat lebih baik," katanya. Dia di kalakian menarik tangan gue dan memimpin langkah menuju ke tempat di mana ibunya berada.
****
Kimaya
Aku tidak pernah membayangkan ini terjadi. Aku tidak pernah membayangkan seorang cowok akan bertemu dengan Ibu dengan kondisi yang seperti ini. Aku bahkan tidak pernah mengharapkan apalagi membayangkan ada cowok yang akan datang ke rumah ini dan bertemu dengan Ibu.
__ADS_1
Aku tidak mengerti dengan sikap cowok yang ada di depanku ini. Aku tidak mengerti apa alasannya ada di sini. Aku tidak mengerti kenapa dia bersikeras untuk bertemu dengan Ibu. Aku tidak mengerti kenapa dia berlagak mengenalku di depan Bu Pik. Aku tidak mengerti dari mana datangnya panggilan itu.
Kim. Dia memanggilku Kim. Tidak ada seorang pun sebelumnya yang pernah memanggilku dengan sebutan selain Maya. Aku selalu menjadi Maya. Namun, entah kenapa, selain menghadirkan kebingungan, kehadiran cowok ini juga membawa nama baru bagiku.
Kim.
Fionn Haas memberiku sebuah nama panggilan baru.
Ya. Aku kenal siapa dia. Siapa yang tidak kenal dengan satu-satunya ahli waris dari perusahaan ekspor-impor terbesar di negeri ini? Nama belakangnya menjadikan Fionn sebagai predator paling tinggi yang ada di rantai makanan di sekolah. Dia adalah raja dari siswa dan siswi SMA Taruna Nusantara. Kami pernah satu kelas di kelas Matematika Ayah saat kelas dua.
Namun, pengetahuanku hanya sebatas itu. Aku tidak tahu apa-apa tentang urusan pribadinya. Atau lebih tepatnya, aku tidak ingin tahu apa pun soal gosip yang beredar di koridor-koridor sekolah selepas jam pelajaran. Aku ada di sekolah bukan untuk hal-hal sia-sia seperti mengurusi siapa yang tidur dengan siapa, siapa yang berkencan dengan siapa, atau siapa yang baru dicampakkan oleh siapa.
Sekolah adalah tempat belajar. Dan belajarlah yang seharusnya kulakukan di sana.
Lalu, kenapa dia ada di sini?
Pertanyaan itulah yang akhirnya membuatku menuruti keinginannya untuk segera bertemu dengan Ibu. Ibu yang kondisinya tidak diketahui oleh siapa pun di sekolah selain pihak guru. Namun, ketika aku masik ke sana bersama Fionn, dia akan merubah kenyataan itu. Dia akan menjadi satu-satunya murid yang mengetahui urusan pribadiku.
Keenggananku membagi soal perkara yang bersifat privasi terkalahkan oleh rasa ingin tahu. Apa alasan dia membuntutiku dan ada di sini sekarang?
"Ayo. Lebih cepat lebih baik." Dengan begitu, kutarik tangannya yang tengah menggenggam tanganku. Tangan lawan jenis pertama yang memegang tanganku. Awalnya aku merasa agak aneh dengan sentuhan ini, akan tetapi aku tidak ingin terlalu memikirkannya karena ada masalah yang lebih penting yang harus dipecahkan.
Lebih cepat lebih baik. Lebih cepat dia bertemu dengan Ibu, lebih cepat lagi aku mendapatkan jawabanku.
__ADS_1
Bersambung ....