
Fionn
Give me a fxcking break. Apa si Hamish ini berpikir gue butuh penyelamatan dari dia, ha? dia pikir dia siapa? Dan yang paling penting, apa dia pikir gue tidak bisa menangani seseorang dengan lidah seperti lidah Mario seorang diri sehingga dia mau jadi knight in shining armor buat gue?
What the fxck am I doing with these three fxcking idiots by the way? Why the fxck did I let them be my friends in the first place, huh? What the fxck was going on in my mind?
Sejujurnya gue tidak punya jawaban utnuk pertanyaan-pertanyaan itu. Yang jelas, gue hanya harus menghadapi situasi ini dengan keberadaan mereka terlebih dahulu. Paling lama setahun ini. Setelah itu, gue bisa melepaskan diri dari kebodohan dan ketidakbergunaan meeka bertiga.
"Anyway." Mario kembali ke topik pembicaraan, tidak memedulikan kekerasan yang baru saja terjadi di depan matanya. Entah kenapa dia merasa perlu untuk menantang gue terlebih dahulu. "Kalau lo nawarin sejumlah uang yang lumayan, dia pasti akan mempertimbangkan keputusannya. Sesuai dengan informasi yang kita dapat dari agent Aldi kalau dia juga anak beasiswa. Pak Mul juga gue yakin tidak mendapat gaji yang seberapa. Lagian, menurut orang-orang sekelas dia, apa yang lebih menggiurkan selain dari uang, sih? Apa? Gue rasa gak ada."
Gue tahu kalau pendapat Mario itu sebagian besar adalah benar adanya. Apa yang lebih menggiurkan selain uang bagi mereka yang tidak pernah memilikinya? Yang selama ini hanya memimpikan lembaran-lembaran kertas itu saja? Tidak ada. Tidak ada. Uang sudah menjadi tujuan hidup manusia di zaman sekarang ini.
Oke. Gue bisa memanfaatkan fakta ini. Gue jelas bisa menggunakan informasi ini sebagai dasar dari penawaran gue. Sekarang, yang perlu gue lakukan hanyalah memikirkan angkanya.
"Menurut lo pada berapa angka yang gak bisa ditolak oleh orang dengan kondisi ekonomi seperti Pak Mul?" Gue melemparkan pertanyaan ini ke tengah meja agar mereka yang mengaku sebagai teman gue bisa ikut memikirkan jawaban yang gue cari.
"Gue rasa lebih besar lebih baik." Hamish membagi hasil pemikirannya.
Aldi telah kembali ke habitatnya. Dia menganggukkan kepala ke arah ponsel yang sudah berhasil direbutnya kembali dari tangan gue. "Nope." Dia kemudian menyanggah. "Kalian harus mempertimbangkan kepribadian Kimaya. Gadis seperti apa dia. Menurut kalian, dia mau terima duit dengan jumlah yang gak sensible dengan usaha yang dia lakukan?"
__ADS_1
Kali ini gue tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Aldi. Gue melirik ke Hamish yang mengerutkan alis dan Mario yang entah kenapa juga ikut kebingungan. Hah. Mana jawaban lo, Smartxss?
Tidak mendapatkan tanggapan seperti yang dia harapkan, Aldi mengangkat kepala dengan potongan rambut Mohawk itu. "Ergh!" erangnya setelah sadar bahwa kami tidak akan memberikan apa yang dia harapkan. "Ini, nih, akibatnya kalau lo orang-orang bule sering ketemu dan milih cewek-cewek yang kerjaannya cuma suka jadi tukang gali emas. Bokong-bokong putih lo pada–" Dia menghentikan kalimatnya sendiri untuk meminta maaf kepada Mario yang jelas mendapatkan pengecualian. "Ets, sori, Yo! Gue gak bermaksud rasis."
Mario mengedikkan bahu lebarnya.
Setelah itu barulah Aldi melanjutkan. "Bokong-bokong luar negeri lo pada udah biasa dibersihin sama cewek-cewek tipe begitu demi duit. Tapi, gak semua cewek mau jadi tukang gali emas, Coy. Ada yang mau jadi dokter, perawat, dan profesi lainnya selain jadi pemanis buatan buat Om-Om kaya raya."
What the fxck is he talking about?
"Lo ngomongin apa, sih, Anxinggg?" Mario tidak tahu bahwa dia telah menyuarakan pertanyaan di dalam hati gue.
Hal tersebut membuat darah gue semakin naik ke ubun-ubun. "Fxcking hell, idiots! Stop bertele-tele." Gue memelototkan mata ke arah Hamish yang seketika itu juga menahan gelaknya. Selanjutnya gue memutar badan ke arah Aldi agar gue bisa memberikan dia perhatian sepenuhnya. "Dan, lo. Jelasin ke gue apa maksud perkataan lo barusan sekarang!"
"Chill, ma bro. Lo gak perlu bentak-bentak dia juga, kan?" Mario berkomentar. Gue tidak tahu apa maksudnya mengatakan itu. Entah mau semakin memprovokasi gue atau benar-benar peduli terhadap si Aldi. "Lo, kan, bisa minta jelasin baik-baik sama dia. Dia mikirin urusan lo, lho. Bukan urusannya sendiri. Jadi sopan dikit kenapa? Hargain orang."
Posisi gue membuat gue tidak dapat melihat Mario secara langsung, akan tetapi gue mulai berpikir itulah yang terbaik. Karena, kalau gue dan dia bertatap-tatapan, gue tidak tahu apa yang akan terjadi. Dengan begini gue dapat menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan.
Saat mata gue terbuka, gue bertemu dengan mata Aldi yang masih memperhatikan gue. Tanpa perlu gue membuka mulut, cowok itu sudah melwtakkan ponselnya di atas meja dan berbicara duluan. "Ya, maksud gue, kalau lo nawarin duit, jumlahnya yang masuk di akal. Jangan terlalu berlebihan. Cewek polos bin lugu kayak Kimaya gak mungkin bertingkah seperti gold digger, kalau lo tahu gimana maksud gue. Mungkin kalau lo menawarkan duit dengan jumlah yang fantastis, nanti dia malah tersinggung dan gak jadi mau bantuin elo."
__ADS_1
Okaaay. Now we're getting somewhere.
"Lo bilang jumlah soalnya ada berapa tadi?" Dia bertanya di kalakian.
"Sekitaran seribu lima ratus buah soal. Setengahnya pun dari latihan di kelas dua yang ada dalam buku catatan." Gue memberikan jawaban sesuai dengan yang dikatakan Pak Mul sialan itu.
"Hm. Oke." Dia mengangguk sekali. "Batas waktunya tiga bulan, ya?"
Kini giliran gue yang mengangguk.
Aldi tampak berpikir sejenak. Gue tidak mengerti apa yang dia pikirkan san bagaimana cara menghitung angka yang masuk akal untuk menjadi upah untuk mengerjakan soal sebanyak itu. Setelah beberapa kala berlalu, dia akhirnya berkata. "Kalau dilihat dari qaktu yang terpakai, tenaga yang terkuras, dan pengetahuan yang digunakan dalam mengerjakan segunung soal-soal bullshit itu, gue saranin lo kasih dia dua puluh lima juta."
Salah satu alis gue otomatis naik ke dahi mendengar nominal yang disebut oleh si Aldi. "Lo serius?" Gue bertanya dengan serius.
Si Dipshxt malah mengedikkan bahu. "Yep, gue rasa segitu cukup lah. Apalagi bagi orang-orang sekelas mereka, lihat duit dua puluh lima juta udah pasti kayak lihat pohon emas."
Apa benar yang dia bilang? Masa melihat uang yang jumlahnya cuma sebanyak itu mereka sudah kegirangan?
Bersambung ....
__ADS_1