Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
34. Jam Makan Siang


__ADS_3

Fionn


"Keren banget lo, Bro." Hamish yang duduk di seberang meja mencondongkan tubuhnya ke depan. Masih dengan berbisik, dia melanjutkan ucapannya. "Gue gak nyangka, baru kemarin kita omongin, sekarang lo udah bisa jadian aja, tuh, sama si Kimaya. Cerita ke kita-kita, dong, gimana kejadiannya. Kok hari ini lo udah bisa jalan sama dia, sih? Penasaran gue."


Gue hanya mengedikkan bahu, berlagak apa yang audah gue capai dengan Kimaya merupakan hal yang biasa saja. Namun, sudut bibir gue tidak bisa berbohong, rasa puas diri yang ada di dalam dada menariknya ke atas. Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling meja kantin tempat biasa kami duduk. Tatapan Hamish tak lepas dari gue, rasa ingin tahu melingkupi dirinya. Gue yakin kalau bukan karena peringatan yang berasal dari Mario tadi pagi, dia akan melompat-lompat dari kursinya ketika menunggu jawaban dari gue.


He's barely reining it in.


Mario juga menatap gue. Namun, dia melakukannya dengan lebih calm, lebih tenang. Hanya ketajaman matanya saja yang menjadi tanda kalau dia juga sedang menunggu dan sama ingin tahunya dengan pemuda yang duduk di sebelah dia.


Sedangkan Aldi, meskipun dia menekur dan penglihatannya tidak lepas dari, apa lagi kalau bukam layar ponsel, dengan keyakinan yang mencapai seratus persen cowok yang duduk di sebelah gue itu juga tak kalah penasaran.


"Yeah, we just struck a deal." Gue lagi-lagi mengedikkan bahu dengan cuek. Mereka pasti menginginkan penjelasan yang lebih banyak dari sekadar satu kalimat "kami hanya membuat perjanjian" itu saja.


Ketika gue tidak berkata apa-apa lagi, Hamish sekonyong-konyongnya menyahut dengan mata yang lebar. Namun, hntung saja dia masih berpikiran waras dan bisa mengontrol nada suaranya. "That's it?" tanyanya dengan setengah berbisik setengah berseru. "Gak ada kelanjutannya gitu? Tambahan penjelasan atau apa?"


"Gue udah bilang kalau kita bikin perjanjian. Udah, itu aja. Tambahan penjelasan macam apa yang lo maksud?" Gue menantang tuntutannya.


"Yaaa, apa aja, kek. Awalnya gimana, prosesnya kayak apa, apa isi perjanjiannya. Masa lo cuma kasih tahu kita gitu doang. Come on, man. Tell us the deeds. There has to be some deeds. Ya, kan?" Dia masih saja bersikeras.

__ADS_1


Rasa bangga gue tadi seketika berubah menjadi sebuah kekesalan karena kecerewetan mulut si Hamish sialan ini. Dia memang tidak bisa membaca suasana. Dia memang terlalu banyak omong. Namun, sebelum gue bisa lay it off on him, lagi dan lagi Mario sudah melaksanakannya terlebih dahulu. "Anak-anak pada ngeliatin kita, Hamish. Shut your trap, will you? Mending lo habisin aja makan siang lo daripada lo sibuk maksa si Fionn buat ngomong. Dia gak akan jawab pertanyaan konyol dan terlalu kepo lo itu di sini karena bahkan di tempat ini pun meja dan kursi punya telinga. Dasar dungu."


Hamish seketika langsung bungkam.


Well, kalau lidah tajamnya Mario tidak diarahkan ke gue, kadang-kadang gue juga bisa merasakan manfaat dari perkataan-perkataan yang menyayat hati miliknya.


Suasana menjadi tenang kembali. Setidaknya untuk beberapa saat sebelum gue sadar bahwa seharusnya cewek itu sudah ada di sini sekarang. Where the heck is he?


Segera gue mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku celana kotak-kotak berwarna biru tua, putih, dan hitam yang merupakan warna sekolah itu. Gue lalu mengirimkan beberapa pesan ke nomor ponsel Kimaya sekaligus. Tidak berselang lama, tanda centang dua di bawah pesan berubah menjadi warna biru.


Gue tunggu balasan dari dia. Gue menunggu balasan yang menyatakan kalau dia minta maaf agak terlambat karena sesuatu hal dan akan segera sampai di sini. Gue menunggu balasan yang mengatakan kalau dia sedang dalam perjalanan ke kantin, sesuai dengan yang sudah kami rencanakan semalam.


Namun, dia belum juga datang. Pesan gue belum juga di balas.


I don't fxcking get this girl. Seriously, I don't fxcking get her. Apa susahnya mengikuti perintah gue yang sederhana ini, sih? It's not a fxcking rocket scientist. Right? Gue suruh datang ke kantin, ya, dianya tinggal jalan ke kantin. Apa dia tidak tahu jalan ke sana? Come the fxck on. Masa dia tidak tahu jalan ke kantin? Sudah berapa lama dia ada di sekolah ini? Kalaupun benaran tidak tahu—kalau ini benar, ya, dia benar-benar tidak tahu, dia bisa tanya ke murid-murid lain, kan?


Iya, kan?


But she didn't do such a thing. Untuk seseorang yang diakui kepintarannya, dia terlalu tolol untuk mengerjakan sesuatu hal yang seharusnya sangat sepele. Tinggal datang ke kantin apa susahnya, sih?

__ADS_1


"Fionn!" Suara hardikan dengan suara yang dibuat-buat manja itu memecah konsentrasi gue merutuki Kimaya. Sekarang kekesalan gue berpindah tempat ke cewek yang baru saja menghempaskan dirinya di antara gue dan Aldi.


Saudara kembarnya itu lantas melancarkan aksi protes sendiri karena terdorong dengan kasar. "What the fxck?"


Namun, Alda tidak sedikit mengindahkan cowok yang selama sembilan bulan berbagi tempat dengannya di dalam perut ibu mereka. Dia malah memusatkan perhatiannya, dan ekspresi cemberut yang terlihat sangat aneh dengan muka penuh make-up serta raut yang benar-benar palsu, ke arah gue.


Setelah mengerling ke arah Alda, gue membuka silangan tangan yang sedari tadi gue pertahankan di depan dada dan untuk pertama kalinya menjangkau menu makan siang yang disediakan oleh sekolah dengan ogah-ogahan. Gue mencomot satu kentang goreng.


"Fionn!" rengek Alda lagi. "Kamu beneran jalan sama cewek lain, ha?"


Gue juga tidak mengerti dengan cewek yang satu ini. Kami sudah sepakat bahwa apa yang kami lakukan di balik pintu kamarnya hanya akan stay di sana saja. Apa yang kami lakukan itu bukan soal perasaan, akan tetapi hanya perkara kebutuhan biologis yang minta dipuaskan. Gue sudah menekankan ini ke dia berkali-kali dan dia juga telah mengiyakannya sebanyak itu juga. Meskipun demikian, semakin ke sini sikapnya malah semakin ke sana. Dia tidak menunjukkan sikap cuek seperti yang dia tunjukkan di awal.


"Lo apa-apaan, sih, Alda? Emang kenapa kalau Fionn jalan sama cewek lain? Gak ada urusannya sama lo juga."


Nah, ini satu lagi. Aldi tidak tahu apa-apa soal perjanjian antara gue dan Alda. Jadi, dia juga semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap yang terjadi pada kembarannya.


Fxck me. Mulai lagi mereka.


Alih-alih ambil pusing dengan pertengkaran kedua orang saudara kembar itu, gue menjangkau sebuah kentang goreng lagi. Kalau dipikir-pikir, makanan yang disediakan sekolah sudah sangat baik, sesuai dengan budget yang sudah dikeluarkan orang tua murid. Lumayanlah kalau di lidah gue. So, kenapa gue jarang banget makan makanan ini, ya? Kenapa seringnya cuma gue ambil buat jadi pajangan di atas meja lalu dibuang begitu saja?

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2