Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
13. Knight in Shining Armor


__ADS_3

Fionn


Gue tidak tahu kalau si guru botak dan songong itu punya anak. Gue tidak tahu kalau anaknya adalah seorang perempuan dan bersekolah di Taruna Nusantara juga. Gue tidak tahu kalau kami pernah mengikuti beberapa kelas bersama.


Semua ini gue ketahui setelah mendapatkan penjelasan dari Aldi, yang dibantu oleh Hamish dan ditambahkan oleh Mario. Mereka juga memperlihatkan sebuah foto dari website sekolah.


Hm. Dia terlihat tidak mirip dengan si botak sama sekali. Gue tidak tahu harus bersyukur atau curiga akan hal tersebut.


Skip this. Kebenaran soal asal DNA seseorang tidak akan pernah menjadi urusan gue.


Lebih baik kembali ke topik awal.


Anak Pak Mulyono.


Namanya Kimaya Larahati. Satu angkatan dengan kami. Berambut hitam lurus sepunggung, atau begitulah kira-kira yang terlihat di foto ini. Wajahnya tirus dengan mata besar, hidung mancung, bibir merah muda yang tidak terlalu tebal dan yang pasti tampak alami. Kulitnya kuning langsat. Badannya lumayan tinggi dan tubuhnya bisa dikatakan kurus. Namun, kurus yang sehat.


Gue rasa dia adalah kloningan ibunya.


Itu pun kalau istri Pak Mul betul-betul secantik ini.


Damn. Betul kata si Dipshxt. Ke mana saja gue selama ini sampai gue tidak menyadari ada cewek seperti ini di angkatan kami?


Setelah dilihat, diamati dengan saksama, dan dipikir-pikir lagi, gue tahu alasannya.

__ADS_1


Alasannya adalah karena dia, si Kimaya ini, terlalu polos dan lugu untuk selera gue yang seksi, penuh dengan pengalaman dan kemampuan, serta, di saat yang sama, murahan. Berbanding terbalik dengan apa yang direpresentasikan oleh gadis di dalam layar ponsel si Aldi.


"Gimana, bro? Doi lumayan, kan?" celetuk si Dipshxt di tengah-tengah kontemplasi yang sedang terjadi di dalam kepala gue.


Gue serta-merta mengirimkan sebuah kerlingan tajam pada dia. "Dia beneran bisa bantu gue?" Gue menyelidik. Si Aldi sebaiknya tahu lebih banyak soal cewek yang satu ini.


"Secara akademis, yes. Gue yakin seratus juta persen. Sia, kan, salah satu murid beasiswa." Dia mengimbuhkan. "Doi bisa masuk Taruna Nusantara gak cuma karena bokapnya ngajar di sana, Coy. Tapi, karena otak doi emang seencer itu. Dia pernah dua kali lompat kelas di SD dan SMP. Jadi, kalau lihat umur, umurnya dia sekarang dua tahun di bawah kita. Sepatutnya doi baru kelas satu SMA."


"Wuanjay! Tahu info sebanyak itu dari mana lo?" Hamish berseru. Matanya melebar, takjub akan luapan data yang baru saja disampaikan oleh Aldi.


Sebenarnya gue juga begitu. Tidak menyangka si Kamprxt yang matanya seperti dilem ke layar itu tahu sebanyak ini soal seseorang seperti anaknya Pak Mul. Karena, let's be honest. Kimaya bukanlah tipe sosok yang akan menjadi pusat perbincangan murid-murid di sekolah. Dia, yang gue tebak dari asal usul dan cerita Aldi tadi, adalah tipe murid yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat nongkrong favorit dan menyendiri sebagai hal yang paling dicintai.


Bukankah begitu, wahai para Nerd and Introvert?


Karena memang begitu kenyataannya. Kimaya spells nerdy and introvert.


Damn it to hell. Another side of the world that I didn't know. Fxck me.


"Seriusan lo, Di?" Si Gondrong nan terlihat terlalu excited di seberang gue mengangkat suara lagi. Dia terlihat semakin tertarik dengan apa yang ke luar dari mulut si pribumi.


Eh, gue sudah pernah bilang, belum, kalau setengahnya si Hamish ini adalah darah Amerika? Kalau belum, maafkan kelancangan gue yang menganggap kalian akan dapat "menangkap" fakta kecil tersebut dari sikap-sikapnya.


Did I just sound like a total xss? What the fxck ever. Gue jelas tidak akan pernah peduli dengan pendapat orang lain tentang diri gue.

__ADS_1


Senyum si Aldi tampak semakin memuakkan di mata gue. "Ya, iya lah. Gue seratus juta persen serius, Mish! Lagian apa yang mau dibohongin coba? Semua orang tahu itu. Yaa, setidaknya bagi kami para gamers, sih. Tapi, ya, gak masalah juga. Yang jelas kami tahu apa yang kami tahu."


"That's awesome, man!" Mereka lalu ber-high five ria.


Fxcking hell. Gue tidak bisa tahan berlama-lama melihat ketololan dua orang ini. "Lo berdua udah selesai, hm?" Gue akhirnya menengahi sesi fangirling dan fanmeeting itu. "Can we get a fxcking move on and back to the actual work now?"


Geraman gue jelas membunuh mood mereka. Gue bisa melihat Aldi memutar bola matanya menanggapi sikap gue. Dan si Hamish, seperti biasa, bersikap berlebihan dengan terlihat cemberut.


Sedangkan gue, seperti biasa pula, tidak mengindahkan sikap mereka.


"So, apa kalian pikir si cewek ini pasti mau nerima tawaran gue?"


"Hm, tergantung." Mario memilih sekarang waktunya untuk ikut serta dalam perbincangan ini. "Lo mau nawarin apa emangnya? Kalau lo mau kasih "diri" lo sebagai ganti dari kerja dia, gue rasa lo pasti bakalan ditolak."


Gue mendengar seseorang di antara kami menahan gelaknya. Namun, gue tidak sempat mencaei tahu siapa persisnya yang melakukan itu karena gue terlalu sibuk untuk mencoba membunuh Mario dengan menggunakan tatapan gue. "The fxck are you talking about?" Gue menggeram. "Be fxcking serious for one second, will you?"


Mario mencibir. Warna merah muda dari bagian dalam bibirnya tampak sangat kontras sekali dengan warna kulitnya yang pekat. "As you wish."


"Come on, Mario. Masa lo pikir Fionn mau-mau aja sama cewek kayak begitu? Gak mungkin lah. Tipenya Fionn, kan, yang kayak Alda atau Serena." Hamish menaik-turunkan alisnya dengan jenaka.


Seketika saja Hamish mengaduh. "Aw!" Teriakan itu tak pelak menarik perhatian pengunjung Crusty Deb yang sudah mulai ramai seiring dengan bergulirnya jam makan siang. Menyadari hal tersebut, dan gue rasa dia juga ingat dengan janji dari Bu Deb, Hamish mengutuk Aldi dari balik gigi-giginya yang bergemeretakan. "Fxck, Aldi. Sakit banget tahu! Apa-apaan lo pakai nendang kaki gue segala?"


Aldi mencondongkan tubuhnya ke atas meja. "Itu buat komen lo soal Alda. Gimanapun juga dia tetap sodara kandung gue. Jadi, stop bikin darah gue naik kalau lo gak mau kaki kurus lo itu gue tendang lagi sampai patah. Ngerti lo, ha? Ngerti gak lo?"

__ADS_1


Hamish, like a true loser, menganggukkan kepalanya sekali.


Bersambung ....


__ADS_2