Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
15. Special Kind of Xssholes


__ADS_3

Fionn


Gue sungguh tidak mengerti kenapa orang-orang bisa bahagia melihat sejumlah uang yang bagi gue tidak seberapa itu. Namun, gue tidak berkata apa-apa lagi. Gue hanya mengangguk. "Oke." Gue kembali memutar badan dan menghadap ke depan.


Dua puluh lima juta. Hm, gampang lah itu.


"Terus, gimana rencana lo buat deketin si doi?" Hamish kembali mengambil andil dalam percakapan dan perencanaan. Dia sangat suka sekali mengetahui segala sesuatunya dan ikut campur urusan orang tanpa diminta.


"Kayaknya dia gak suka nongkrong di tempat-tempat anak-anak biasa nongkrong, deh. Soalnya gue gak pernah lihat dia pas jam istirahat," sambung Mario. "Dan, setelah diingat-ingat lagi, kayaknya gue gak pernah lihat dia di mana pun selain di kelas."


"Hm." Gue bergumam sekadarnya.


"Come on, guys. Masa lo pada masih gak bisa nebak, sih?" Dengan hati-hati Aldi menelekan sikunya di atas meja yang masih penuh oleh piring dan mangkuk kotor bekas pesanan kami. Kini, dengan posisi seperti ini, dia secara tidak langsung telah menyatakan bahwa dirinya tertarik dan akan mendedikasikan waktu untuk masalah yang sedang kami bahas.


Si Dipshxt jarang sekali menimbrung, lebih memilih berinteraksi dengan ponselnya daripada orang lain, akan tetapi sekalinya ikut, dia akan mendominasi percakapan. If you haven't notice already.


Dia mendesah dengan dramatis ketika tidak ada satu pun dari kami yang memberikan komentar. "Ergh!" erangnya sebagai tambahan efek. "Dengar, ya, Cowok-Cowok Setengah Bule yang Kadang Clueless, pribumi ini msu menjelaskan."


Apa gue sudah memberi tahu kalau Aldian Simatupang ini orang yang cinta drama?


Oh, sudah. Okay, then.


Aldi mengambil napas. Selama berbicara, dia memastikan untuk menatap mata kami saru per satu. "Setiap orang itu masuk ke dalam satu golongan. Oke? Dan setiap golongan itu ada ciri-cirinya masing-masing. Contohnya kita. We're handsome, we're rich, we're popular."


Eeeew. Gue tidak percaya kalau dia baru saja mengucapkan semua itu dengan mulutnya sendiri. Meskipun benar, akan tetapi gue tetap tidak pernah bisa membayangkan mengatakan diri gue sendiri dengan sebutan ganteng dengan cara yang seyakin itu seperti yang dilakukan oleh si Kamprxt ini barusan. He has some gut.


"What?" Ketika dia melihat gue dan ekspresi jijik yang ada di muka gue. "That's the fxcking truth, isn't that? So, kenapa lo ngeliat gue kayak gitu?"

__ADS_1


Holy cow. Gue baru saja menemukan persamaan yang dimiliki kedua kembaran itu. Aldi dan Alda sama-sama memiliki rasa percaya diri yang setinggi langit ketujuh. Juga rasa so sure of themselves sampai membuat mereka bertindak dan berkelakuan seperti yang masing-masing lakukan di keseharian mereka.


Fxck. Gue paham kalau mereka adalah teman gue, dan orang yang melakukan interaksi dengan gue, akan tetapi gue tidak sadar kalau gue ternyata juga tidak imun dengan sikap mereka yang seperti ini.


Baru saja si Aldi sedikit banyaknya terdengar seperti Arnold dan Monalisa Haas.


And that's the truth.


Kenapa gue baru sadar sekarang?


Ketiga cowok yang meski gue ragukan kepribadiannya namun tetap gue akui sebagai teman melanjutkan pembicaraan. Tidak aware dengan inner turmoil yang ada di dalam diri gue.


"Oke, balik lagi ke topik pembahasan. Orang dengan tipe seperti kita ini, punya ciri atau karakter khusus yang kita mainkan. Right? Handsome, rich, and popular guys like us tends to be the Alpha xssholes who runs the pack. Benar, gak? People flocks around us, making us as the center of their universe. Yang cowok pengen jadi sahabat kita sedangkan yang cewek rela menyuguhkan diri mereka di atas piring perak, ready to be served."


Oh, my fxcking God. Gue benaran mau muntah mendengarkan deskripsi dari si Aldi. Apa iya kami semenjijikkan itu?


Gue tidak habis pikir kenapa Hamish dan Mario tidak merasakan hal yang sama dengan yang gue rasakan. Kenapa di wajah mereka yang ada malah gurat-gurat bangga dan puas mengetahui semua hal itu?


"Dan apa yang xssholes seperti kita lakukan terhadap mereka? Kita memang menyantapnya dengan senang hati, kan?"


Kalimat Aldi disambut oleh sorak dan sorai dari Hamish dan Mario. Mereka bertiga dengan semangatnya melakukan tos dan bergantian menepuk pundak masing-masing sambil berdiri berbataskan meja.


Sementara gue? Gue rasanya ingin menjauh dari makhluk-makhluk yang memuakkan ini, akan tetapi apalah daya. Gue masih memiliki kepentingan. Gue masih ada urusan dengan mereka. Gue masih membutuhkan keberadaan mereka di sekitar gue.


Fxck. It's so damn embarrassing to know that even though I have all the things I can have in the world, I still need these kind of people in my life. That realization makes me feel even more pathetic than Hamish.


God fxcking damn it.

__ADS_1


"Oke, oke. Lanjut." Suara Aldi memotong psikoanalisis yang terjadi dalam diri gue. "Jadi, lo semua udah paham, kan, arah pembicaraan gue ke mana?"


Setelah apa yang dikatakan dan keberhasilannya membuat perut dan kepala gue berputar, si Dipshxt ini ternyata belum mengatakan inti dari pembicaraan.


For the love of all things holy.


"Seperti yang udah gue katakan sebelumnya, setiap orang punya ciri dan karakter masing-masing yang mereka perankan. Kalau yang seperti kita nongkrongnya di tempat-tempat hype, menurut kalian, cewek nobody kayak Kimaya ini bakal nongkrong di mana, ha?"


Gue melihat tubuh Hamish sudah setengahnya melayang di atas meja. Sedikit lagi dia mencondongkan tubuhnya ke depan, bisa-bisa kemeja putih seragam sekolah yang dipakainya itu akan melakukan hubungan intim dengan minyak dan noda yang masih menempel di piring bekas kepiting saus Padang yang dipesannya tadi. Sekarang saja dia tidak sadar kalau ujung rambut gondrongnya yang tergerai sudah mampir di gelas yang setengahnya masih berisi cola.


Setan di dalam kepala gue mengharapkan kalau dia meminum cola yang audah terkontaminasi rambut itu nanti.


"Di mana?" Si Gondrong pun bertanya dengan antusias.


Yang gue herankan, si Mario yang biasanya penuh dengan komentar-komentar pedas kini mengunci lidahnya rapat-rapat. Damn. Sebegitu besarkah pengaruh ego terhadap diri mereka? Baru disanjung sedikit saja mereka sudah hanyut dalam pengaruh mulut si Aldi.


"Di tempat cewek-cewek kuno dengan pikiran tertutup berkumpul. Ya, di gua purba mana lagi kalau bukan di perpus sekolah!"


Tawa mereka seketika meledak.


"Anxing. Gue kira di mana!" Hamish mengungkapkan di antara gelak.


Mario ikut-ikutan terkakah. "Sialan lo, Di!"


Benar-benar sialan si Aldi. Daei tadi dia berputar-putar, dan literally memutar kepala dan perut gue dengan ucapannya, hanya untuk mengatakan kalau kemungkinan besar gue bisa menemukan si Kimaya-Kimaya ini di perpus sekolah, ha? Gue juga sudah bisa menebaknya dari tadi.


Fxcking hell.

__ADS_1


Buang-buang waktu aja gue di sini.


Bersambung ....


__ADS_2