
Fionn
Tanpa disuruh gue mengenyakkan diri ke bangku yang ada di seberang cewek gadungan gue. Melihat apa yang gue lakukan, sebelah alis Kimaya naik bersama pandangan yang tidak percaya. "What?" Gue bertanya, berpura-pura tidak tahu apa yang menjadi maksud dari tatapannya.
Dia terus saja menatap gue sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang dan menyerah. "Terserah lo, deh. Bodo amat." Cewek di seberang gue kembali menunduk untuk melanjutkan apa yang dia kerjakan sebelum kedatangan gue.
Gue tergelak. "Apaan, sih, lo?" Meskipun gue yakin dia tidak ingin diganggu, gue ternyata masih ingin mengusik dia. Entah kenapa melihat kerutan di dahinya membuat gue merasa ... senang.
Well, that's a surprising feeling to have for sure.
Si cewek paling Capricorn ini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. (Kalian bertanya-tanya kenapa gue sampai tahu apa zodiaknya si Kimaya? Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya? Of course hal pertama yang gue tanyakan ke dia adalah tanggal lahirnya. Dan, omong-omong, nih, ya, for your information, doi lahir tanggal delapan belas Januari tahun dua ribu enam. Ngeri, gak, tuh?)
Namun, gue tidak bisa tinggal diam. Keinginan untuk mengajak Kimaya untuk "bermain-main" tetap saja ada di dalam diri gue.
Diam-diam gue mencondongkan tubuh dan mencuri pandang pada halaman yang terbuka di depan Kimaya. Dia sedang mengerjakan ... IELTS? Gue mengalihkan perhatian ke halaman buku lain yang terletak di samping buku itu. Heh, bukannya ini lebih mirip soal TOEFL? What the heck? "Lo lagi bahas soal persiapan IELTS?" Gue tidak dapat menahan diri untuk tidak memastikan.
Dia hanya bergumam. "Hm."
Sekonyong-konyongnya gue membalik halaman buku yang terakhir gue amati untuk mwngecek sampulnya. "Dan TOEFL juga?"
"Hu-uh," jawabnya kemudian, masih dengan ekspresi bingung yang sebenarnya.
"Dalam satu waktu? I mean, sekaligus? Lo belajar buat persiapan IELTS dan TOEFL secara bersamaan? Serius lo?"
__ADS_1
Kimaya mendesah lagi lalu mengerang. Kali ini dia dengan penuh kerendahan hati mau menatap mata gue setelah dari tadi tidak mengacuhkannya. "Iya, Fionn. Gue serius. Gue sekarang lagi belajar buat persiapan IELTS dan TOEFL sekaligus. Emangnya kenapa, hm? Ada masalah?"
"Lo sehat?" Gue menjulurkan tangan gue untuk menyentuh kening Kimaya. Namun, belum-belum tangan gue sudah ditepisnya duluan menggunakan tangannya.
"Apa-apaan, sih, lo?" protes gadis itu. "Ngapain lo pegang-pegang gue? Mau apa tangan lo lurus-lurus ke arah gue, ha?"
"Eh, biasa aja, dong. Lo, kan, pacar gue." Gue menjawab dengan sembarangan.
Tentu saja jawaban daei gue itu bertemu dengan penolakan. "Enak aja!" Kali ini giliran Kimaya yang memukul meja keras-keras dengan kedua telapak tangannya.
Gue menantang dia untuk mengucapkan kata-kata itu, kalimat yang di dalam perjanjian adalah kata-kata yang terlarang diucapkan di lingkungan sekolah atau tempat-tempat umum yang berkemungkinan besar dikunjungi oleh murid-murid SMA Taruna Nusantara. Sunggingan sudut bibir gue semakin menjadi ketika Kimaya mengungkapkan kalimat selanjutnya.
"Walaupun gue udah jadi pacar lo, bukan berarti lo bisa megang gue sesuka hati lo, ya, Fionn. Ini tubuh gue. Gue yang berhak menentukan apa yang akan gue lakukan dan tidak boleh dilakukan terhadap tubuh gue ini. Lo ngerti, kan?" Kimaya mengakhiri pidato yang bertemakan my body my choice dengan meminta persetujuan dari gue.
Lagi pula, anggap saja itu sebagai apresiasi gue karena dia telah menepati janji untuk tidak mengucapkan kalimat terlarang "pacar gadungan" atau hal semacamnya yang bermakna sama di saat yang benar-benar kritis seperti tadi. Gue yakin dia sangat ingin melemparkan kata-kata itu ke muka gue sebentar ini. Namun, dia memilih untuk tidak melakukannya.
I think she has finally gotten the hang of this hate-need transactional friendship between us.
Bel tanda berakhirnya waktu istirahat tiba-tiba berbunyi. Sudah saatnya untuk kembali ke kelas lagi.
"Yuk, beresin buku-buku lo. Gue antar ke kelas." Tak perlu disuruh pun, Kimaya sudah mulai membereskan buku-buku yang bertebaran di atas meja dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Ketika dia hendak menyandang tas punggung berwarna abu kebiru-biruan itu—eh, apa warnanya biru ke-abu-abuan, ya?—gue mencegat tangannya. "Sini, biar gue yang bawain."
Kimaya menatap gue dengan tatapan sinis dan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Gue melawan tatapan itu dengan alis gue yang tinggi. Tanpa menggunakan kata-kata, gue biarkan alis gue itu menjadi perwakilan gue untuk bertanya tanpa bertanya langsung soal maksud dari tatapannya itu.
Kimaya yang pintar hanya menggeleng dan berkomat-kamit di bawah napasnya. Dia pasti sedang mengutuk keberadaanku, lagi.
"Eh, Kim. Jangan lupa tungguin gue dulu pas jam pulang sekolah nanti. Kita pulangnya barengan aja. Lagian gue juga bakal ke rumah lo ini, kan?" Gue mengingatkan cewek itu, siapa tahu otaknya yang pintar itu lupa untuk menyimpan informasi basic seputar perjanjian kami.
Kimaya kembali mengerling ke arah gue dengan tatapan curiganya itu. "Ngapain lo ke rumah gue."
Nah, kan. Benar saja. Bisa-bisanya dia lupa akan hal yang menjadi dasar dari perjanjian kami. "Lah, kita, kan , hari ini rencananya mau mulai ngerjain soal tugas gue yang segunung itu."
Setelah mendengarkan penjelasan dari gue, barulah pemahaman muncul di raut wajahnya. "Ooh, iya, iya. Oke, oke. Lo pulang jam berapa emangnya?"
"Gue harus ke lapangan dulu. Lapor ke coach kalau gue gak mau ikut tim sepak bola lagi. Abis itu baru kita jalan. Bentar banget, kok. Gak sampai satu jam. Paling banter tiga puluh menit. Itu pun kalau coach gak lagi PMS." Gue mengedikkan bahu yang bebas dari tali tas Kimaya.
Dia mengangguk.
Kami segera menurunk tangga dan bertemu dengan perpustakaan yang benar-benar lengang. Hanya ada petugas jaga yang suduk di belakang counter di dekat pintu masuk dan keluar. Gue membukakan pintu untuk Kimaya.
Cewek itu menggeleng-gelengkan kepalanya sekilas. "Lo itu emang paling bisa banget kalau akting, ya, Fionn."
Komentarnya itu membuat gue merasa sedikit terekspos. Bagaimana tidak? Tidak ada seorang pun dari teman gue yang pernah mengatakan kalau gue adalah seseorang yang pintar bermain peran, padahal kami sudah berteman dan berkumpul bersama cukup lama. "Apaan, sih? Akting apaan? Maksud lo apaan coba? Gak ngerti gue." Gue meluncurkan serangan balik.
"Iya, lopinyar banget akting. Kalaugue gak tahu kalau ini hanyalah isi dari perjanjian kita belaka, gue gak akan percaya apa yang gue bilang sendiri kayak gini."
__ADS_1
Bersambung ....