Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
51. Histeria


__ADS_3

Kimaya


Aku membuat kesalahan dengan membiarkan air mata pertama jatuh di pipiku. Yang pertama itulah yang paling penting karena setelah dia jatuh, teman-temannya yang lain akan dengan mudah mengiringi. "Fionn. Pergi dari sini. Gue gak mau lo ada di sini. Please. Pergi, Fionn. Pergi. Tinggalin gue sendiri. Gue pengen sendiri."


Sebisa mungkin kutahan isak yang hendak melompat ke luar dari dalam dada. Sebisa mungkin kutahan perasaan yang kini meluap-luap di sana. Sebisa mungkin kukendalikan emosi meski sebenarnya sudah terlanjur membuncah.


Dia sudah mendengar getaran di dalam nada suaraku, akan tetapi aku hanya akan membiarkannya mendengar sampai di situ. Tidak akan kubagi lagi perasaan yang aku rasakan saat ini padanya lagi.


"Aku gak akan pergi sebelum kamu buka pintu ini."


Ah, tentu saja itu tidak akan pernah terjadi. Dia pikir aku sudah gila apa? "Enggak mau!" Aku sekonyong-konyongnya membantah.


Kudengar suara embusan napasnya yang keras. Kemudian dia melanjutkan, "Shxt, Babe. I'm so sorry that happened to you. I promise I will find the piece of shxt that responsible for all of this. Okay? I promise you and I never once fail to keep my words."


Janji? Dia akan menemukan siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Semua ini yang seperti apa? Aku tidak mengeti apa yang menjadi topik pembicaraan Fionn. Kebingungan ini membantuku dalam misi yang kupunya untuk menghentikan tangis. Kubersihkan hidung dengan punggung tangan. "Gue gak ngerti apa yang lo bilang barusan. Kenapa lo bikin janji? Tanggung jawab apa maksud lo?"


****


Fionn


Oh, shxt. For the love of all things holy, dia baru saja tidak mengatakan itu, kan? Dia tidak mengatakan kalau dia tidak tahu apa yang sedang gue bicarakan?


Sial!


"Ah, no. Aku gak bilang apa-apa kok. Aku bilang gitu cuma pengen narik perhatian kamu aja. Aku bilang gitu biar kamu ke luar dari sana. Aku cuma mau lihat keadaan kamu. Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja." Gue harap kilah gue terdengar agak meyakinkan di telinga cewek yang masih mendekam di balik bilik paling ujung toilet ini.


"Gue gak percaya!" Sebuah bantahan penuh api menggema di dalam ruangan ini.


Dasar gadis keras kepala. Dia pikir dengan dia kembali menggunakan kata ganti elo dan gue itu lagi, gue akan sekonyong-konyongnya mengikuti dia, begitu? Meski dari awal kami memang menggunakan aku dan kamu di depan publik saja, akan tetapi setelah selama dua minggu ini sikap manis yang kami lakukan terhadap satu sama lain benar-benar membuat gue enjoy memanggil dia dengan kata ganti itu. Gue sudah terbiasa dengan progress ini. Gue tidak mau mundur dan kembali ke stage di mana kami saling memanggil elo dan gue lagi.


"Ya, udah kalau kamu gak percaya," desah gue. Menyerah dengan cepat agar Kimaya melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Namun, harapan hanyalah tinggal harapan. Dia tidak melakukan itu. "Fionn, gue akan tanya sekali lagi sama lo, ya. Dan gue harap lo bisa jawab jujur. Karena kalau enggak, gue akan buat lo menyesal. Gue juga bukan orang yang pernah melanggar janji gue, lo tahu?"


Holy fxcking shxt. Why do I have to find her threatening me hot? Why do I have to see this as a freaking way to turn me on?


Fxck, Fionn. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk berpikiran seperti itu! Kita sedang menghadapi sebuah situasi sekarang. Jadi kita harus menyelesaikan ini dulu sebelum pindah ke tugas yang baru. Control your thoughts, man. Get it together.


Shxt. Okay.


"Nothing, Babe. It's not something you have to worry about. Let's focus on here and now. Apa aja yang kamu butuhkan? Aku bakal cariin semuanya buat kamu."


****


Kimaya


Apa? Apa aku tidak salah dengar? Apa yang baru saja dia katakan? "Lo mau bantu gue? Lo yakin?" Aku bertanya pada Fionn yang masih setia menemaniku dari balik pintu.


"Iya, dong. Of course. Just say it and I will get everything taken care of."


"Oke kalau gitu. Gue bakal kirim list-nya lewat chat. Tunggu bentar."


Namun, cowok itu tiba-tiba saja berteriak. "Jangan! Gak usah!" Dia kemudian berdeham. "Maksud aku, kamu bisa sebutin aja. Biar aku yang catat sendiri. Ayo, Babe. Sebutin."


Larangan yang diberikan Fionn hanya menjadi percuma. Kata-katanya tidak kugubris sama sekali.


Dan, akhirnya aku tahu soal apa yang dia katakan tadi. Ya, Tuhan! Aku sepertinya ingin mati saja.


****


Fionn


Keheninganlah yang menjadi tanggapan dari peringatan gue. "Kimaya, Babe, kamu dengar aku, kan?"

__ADS_1


Diam.


God damn it.


"Babe?" Gue memanggilnya dengan lembut sekarang. Karena gue punya firasat kalau saat ini dia sedang membutuhkan itu.


Benar saja. Hal itu terdengar dari nada yang sayup-sayup sampai ke telingaku. "Fionn, cepetan. Bawa gue ku luar dari neraka ini segera."


****


Turns out I don't know what I'm signing for. "Shxt, Babe. Are you crazy?" Gue memekik setelah membaca isi dari daftar yang sudah dikirimkan Kimaya ke dalam chat room kami.


"Kan katanya elo yang mau bantuin gue? Sekarang gue yang lo bilang gila, ha?" Kimaya balas berteriak. "Cepetan, Fionn, cariin! Gue rasanya udah pengen ganti kulit ini!"


Yes, Ma'am! Your wish is my command.


****


Thank God gue masih punya stok masker di dalam mobil. Sebelum gue meluncur untuk menyelesaikan misi yang terasa seperti program uang kaget yang dulu ada di televisi, gue memasang masker tersebut. Sekarang gue siap untuk menjelajah aisle yang ada di mini market ini.


****


Kimaya


Aku tidak dapat menahan kikihan setelah Fionn pergi untuk membeli ****** ***** dan pembalut yang kutuliskan di dalam daftar. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana ekspresi mbak-mbak kasir ketika melihat barang-barang yang akan di-check out oleh Fionn.


Ya, Tuhan. Pasti mereka akan sangat, sangat, sangat histeris. Seorang cowok bule tengah membeli perlengkapan kewanitaan. Ya, Tuhan. Ya, Tuhan!


Baiklah. Sebaiknya aku memang memfokuskan pikiranku ke arah ini saja. Daripada aku tenggelam dengan kehisterisanku sendiri setelah pesan yang masuk ke dalam ponselku. Bayangkan saja. Kamu menerima pesan siaran yang sedang membicarakan aibmu sendiri. Bagaimana rasanya membaca pesan-pesan itu jika kalian jadi aku?


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2