
Kimaya
Aaaaaaaaa, Bu Pik sialan! Kenapa, sih, dia harus masuk dan mengantarkan minum segala? Kenapa dia harus memperhatikan kami seperti itu? Kenapa dia harus bertingkah aneh seperti tadi?
Aaaaa, dia sudah benar-benar membuat aku malu di depan cowok songong sialan ini!
Aku sangat, sangat, sangat ingin mencak-mencak sebab kelakuan Bu Pik tadi, akan tetapi aku tidak bisa melakukan apa pun di sini, sekarang, karena masih ada si Fionn.
Cowok yang dari tadi bertele-tele, berkata ingin memberikan sebuah penawaran kepadaku, akan tetapi belum mengatakan apa-apa dari tadi.
Dia sama sialannya dengan Bu Pik. Argh!
****
Fionn
But, what the fxck ever. Gue tidak peduli. Seharusnya gue tetap fokus pada tujuan gue. Tidak mudah terdistraksi oleh hal-hal kecil yang dilakukan oleh Kimaya atau orang-orang yang ada di rumahnya.
"Gue serius, Kim," jelas gue sembari memutar badan agar kembali berhadapan dengan dia.
Matanya berkedip-kedip saat gue mengucapkan nama panggilan yang gue kasih untuk dia tadi. Hm. Interesting. Kenapa matanya berkedip-kedip seperti itu? Kenapa–
Fionn, focus the fxck on your task! What is the matter with you?
Oh, shxt. Okay, okay.
Tidak menunggu jawabannya, gue serta-merta melanjutkan, "Dengar baik-baik."
"Gue dari tadi udah–"
Gue hentikan ucapannya dengan lirikan gue. "Gue bilang dengerin gue baik-baik. Dan itu termasuk dengan tidak menyela pembicaraan gue. Lo mau urusan kita di sini cepat selesai atau enggak? Gue yakin Bu Pik lagi mencoba menguping kita dari anak tangga paling bawah, berharap dia mendapatkan potongan-potongan suara yang kita keluarkan. Gue yakin kakinya lagi bergoyang-goyang dengan cepat karena dia udah gak sabar dan mulai dikuasai oleh rasa penasarannya yang udah di ubun-ubun banget. Jadi, semakin lama lo berduaan sama gue di sini, gue yakin bokong Bu Pik semakin gatal untuk menunggu lo ke luar dan menginterogasi lo. Ngecengin lo. Emangnya lo mau, ha? Lo mau diledekin ibu-ibu itu?"
****
Kimaya
__ADS_1
Apa maksudnya coba? Dia menuduh aku selalu memotong pembicaraannya dan membuat penjelasannya tergantung. Padahal dia sendiri yang berbicara dengan berputar-putar.
Oh, Tuhan. Betapa aku ingin mengungkapkan semua yang ada di dalam kepalaku soal cowok sok keren yang banyak omong ini. Namun, demi kebaikan bersama, aku memilih untuk bungkam karena dia ada benarnya juga. Aku tidak mau diinterogasi oleh Bu Pik semalam suntuk.
Aku tidak tahu bahwa Bu Pik bisa menjadi aekepo dan sejulid ini. Ya, Tuhan. Pengetahuanku soal wanita itu benar-benar tidak seberapa. Walau sudah hampir enam bulan mendampingi Ibu, ternyata sekarang aku sadari bahwa waktu yang kami habiskan bersama sangatlah sedikit.
Oke, memang itu yang seharusnya terjadi karena Bu Pik harus memusatkan perhatiannya kepada kesehatan Ibu, akan tetapi ... kalian tahu lah apa yang aku maksud.
Sialan.
Meskipun bungkam, aku tetap saja tidak tahan untuk tidak melepaskan uneg-uneg dengan cara yang lain, yaitu dengan menggunakan gestur. Aku berpura-pura mengunci mulutku dan membuang kuncinya ke arah belakang.
Fionn memutar bola matanya melihat apa yang aku lakukan.
"Okay, Smartxss, lo beneran udah bisa fokus dengerin gue sekarang, gak?" Dia di kalakian bertanya.
Benar-benar memegang peranku sebagai seorang smartxss seperti yang dia katakan, aku hanya mengacungkan satu jempol kananku.
Fionn menghela napas kuat-kuat. "For your info, gue mau ikut pemilihan ketua OSIS."
"Tapi, gue punya masalah sama nilai gue."
Hm. Okaaay.
"Sebenarnya gak masalah, sih, cuma kayak hiccup doang. Nilai gue kurang dikit lagi, jadi normal, dong, kalau gue temuin gurunya dan minta perbaikan nilai. Yang gak nirmal itu, tugas yang dikasih sama gurunya."
Oh, di sini ternyata. Dia pasti mau minta bantuanku untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut.
"Awalnya gue mau minta tolonh lo buat mengerjakan tugas-tugas itu, akan tetapi ... setelah gue pikir-pikir lagi, rasanya percuma. Karena gue yakin guru ini ngasih tugas kayak gitu biar gue sekalian belajar. Lo pasti juga berpikiran gitu, kan?"
Okaay. Dia tidak salah. Aku sejujurnya juga akan memikirkan hal yang sama.
"Dan kemudian satu ide lain muncul. Ide yang gue rasa sangat sangat, sangatlah cemerlang."
Oh, tidak. Aku tidak suka dengan kilat nakal yang baru saja melintas di matanya. Apayang sedang dipikirkannya? Apayang ada di dalam kepalanya itu? Apa yang tengah dia rencanakan?
__ADS_1
"Lo ... lo harus jadi pacar gue."
Apa? Apa?! APA?!
"APA?!" Aku jelas tidak bisa membendung rasa terkejutku setelah dia mengutarakan hal itu. Apa yang dia katakan? Dia mau aku menjadi pacarnya? Maksudnya apa, ha? Apa maksud dari perkataan cowok sinting ini? "Gila lo! Gue–"
"Stop! Jangan nolak dulu!" perintah dia sambil mengangkat tangannya.
Ya, Tuhan. Apa yang dia lakukan membuat aku jadi teringat pada salah satu potongan lagu dangdut hits di zaman baheula yang pernah aku lihat di salah satu platform media sosial. Banyangan itu sekonyong-konyongnya memancing gelak dari dalam dada. Sialan!
"What? Kenapa lo ketawa? Apa yang lo ketawain?" todong Fionn yang keningnya tengah berkerut sepuluh.
Aku menggeleng dan mengibaskan tangan, memberikan isyarat agar dia mengabaikanku saja.
"Fxck. Oke. Jadi, gue mau lo jadi pacar gue." Dia kembali melanjutkan.
Kalimat tersebut mengembalikanku pada situasi yang sedang aku hadapi dan pada pokok pembicaraan kami. Oh, tidak.
"Gue akan tanggung satu tahun biaya kuliah lo untuk satu bulan jadi pacar gue. Gak peduli di mana pun lo akan kuliah nanti."
Mataku serta-merta terbelalak. Ya, Tuhan yang Maha Agung. Aku tidak mendengar apa yang aku rasa aku dengar baru saja, bukan? Apa barusan Fionn memgatakan kalau dia akan membayar satu tahun biaya kuliah di universitas yang aku pilih? Apakah dia baru saja menawarkan aku sebuah ... beasiswa?
"Lo hanya harus jadi pacar gue dan ngajarin gue cara ngerjain soal-soal yang dikasih untuk perbaikan nilai gue." Dia terdiam sebentar untuk berpikir. "Hm, yeah. Itu aja. Jadi pacar gue dan bantuin gue ngerjain tugas. Simple, kan?"
Aku tidak dapat mendengar apa-apa lagi dengan jelas. Yang melayang-layang di dalam kepalaku sekarang adalah bayangan saat aku melanjutkan pendidikan ke sekolah impianku.
"Apa gue udah boleh ngomong sekarang?" Aku bertanya.
Fionn menganggukkan kepalanya. "Oke. Silakan. Gue rasa ini juga udah saatnya lo ngomong."
"Oh, oke. Thanks." Aku berdeham. Entah kenapa tiba-tiba saja tenggorokanku terasa kering. "Apa lo serius bilang kalau lo gak peduli di mana pun gue akan kuliah nanti?"
"Of course. Gue serius, Kim. Like a heartbeat."
Bersambung ....
__ADS_1