Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
46. Memakan Fionn Hidup-Hidup


__ADS_3

Kimaya


"Shxt, Babe. That was amazing!" Fionn terkakah-kakah saat kami menuju ke kelasku selanjutnya usai makan siang. "Si Mario, Hamish, sama Aldi juga ikut-ikutan terhibur sama jawaban kamu. Man! Aku yakin orang sekantin juga merasa kayak gitu. Soalnya gak ada yang pernah berani melawan si Alda seperti yang kamu lakuin barusan."


Ya. Sudah dua minggu berlalu dan Fionn dan aku juga sudah mulai terbiasa dengan sandiwara yang kami lakoni di depan murid-murid sekolah dan di depan orang tuaku. Meski gosip di kolom berita What's Up Taruna masih saja membahas konspirasi soal hubungan dua sejoli yang berbeda alam ini—kata mereka, lho, akan tetapi aku juga telah terbiasa untuk tidak terlalu memikirkannya. Peduli apa. Urusan aku dan Fionn hanya akan menjadi urusan kami.


Anying menggonggong, kafilah akan tetap berlalu.


Selain sudah terbiasa dengan keberadaan masing-masing, kami—atau sebut saja aku, karena Fionn tentu telah sering melakukan hal-hal semacam itu, juga sudah mulai merasa nyaman untuk melakukan kontak fisik sederhana seperti berpegangan tangan dan berangkulan. Meski tidak pernah membahasnya secara detail, selama ini Fionn hanya melancarkan sentuhan-sentuhan simpel seperti itu saja. Dan aku sangat berterima kasih padanya karena merasa tidak perlu melakukan sesuatu yang lebih.


"I mean, you literally butchered her in front of the whole school!" Fionn tertawa lagi.


Awalnya aku hanya ingin memberikan erangan sebagai sebuah tanggapan. Karena, tidak seperti Fionn yang berlagak seperti apa yang kulakukan tadi merupakan sebuah kemenangan besar dan mencatat sejarah, aku tidak merasakan sebuah kesenangan setelah memukul telak Alda di kantin tadi. Yang kurasakan hanya kram di perut dan linu yang menyerang tulang-tulangku.


"Babe! You're the best!"


Namun, sikap berlebihannya itu menyulut perasaan yang lain. Aku malah jadi ingin memakannya hidup-hidup. Oleh sebab itu, kalimat-kalimat pedaslah yang melompat ke luar dari mulutku. "Udah lah, Fionn. Gak usah lebay, deh. Aku cuma ngomong langsung aja sama dia, gak lebih. Jangan terlalu dibesar-besarkan juga, gak penting. Lagian kamu sebenarnya ada urusan apa, sih, sama dia sampai sikap dia bisa jadi overprotektif begitu sama kamu, ha? Kamu beneran pernah jalan sama dia? Si Alda itu mantan kamu, ya?"


****

__ADS_1


Fionn


Oh, shxt. Oh, shxt. Oh, shxt. Oh, shxt. Oh, shxt. Kimaya tidak baru saja mempertanyakan hal itu, bukan? Ini cuma gue yang salah dengar, kan?


Padahal dari tadi kami masih berjalan dari kantin menuju ke kelas sejarah dunia milik Kimaya yang dijadwalkan setelah istirahat siang. Namun, sekonyong-konyongnya langkahnya terhenti untuk mengatakan, melancarkan perkataan dan pertanyaan tersebut. I mean, like, where did those questions even come from, huh? Kenapa bisa tiba-tiba muncul dan meluncur dari bibir cewek gadungan gue ini?


Sialan! Benar-benar sialan!


Padahal tadi gue betul-betul merasa senang melihat mulut si Alda yang ternganga lebar karena tidak menyangka akan disemprot habis-habisan oleh Kimaya. Padahal gue tadi sungguh-sungguh merasa bangga atas apa yang telah dia lakukan, apa yang akan menjadi contoh bagi anak-anak Taruna Nusantara yang selama ini menjadi korban dari kekejian dan kekerdilan jiwa seorang Aldarani Simatupang. Kimaya bilang apa tadi? Oh, iya. Dia bilang si Alda ini miskin harga diri.


Kimaya isn't wrong.


Namun, setelah pertanyaan-pertanyaan itu ke luar dari mulut Kimaya, gue merasa ... aneh. Takut. Sementara itu gue tidak seharusnya merasakan sebuah ketakutan.


But, no. Gue ternyata tidak bisa seperti itu. Gue tidak bisa merasakan ketenangan, kenyamanan, dan keluwesan yang gue punya untuk mengungkapkan segala dosa-dosa yang pernah gue perbuat dengan si cewek yang miskin harga diri tersebut.


Gue sungguh merasa takut. Entah gue takut karena gue merasa setelah semuanya gue beberkan kepada Kimaya, dia akan menjadikan pengetahuan itu sebagai senjata untuk melukai gue suatu hari nanti. Namun, dugaan itu langsung dinegasikan oleh kenyataan bahwa di masa depan Kimaya masih mempunyai urusan bersama gue, setidaknya untuk mengurusi perkara uang-uang yang didapatkan dari kesepakatan kami. Nope. Bukan ini alasannya. Coret ini dari dalam daftar.


Huff. Gue tahu alasan yang sebenarnya dan gue takut untuk mengungkapkan itu.

__ADS_1


Gue tidak tahu semenjak kapan gue jadi si paling takut seperti seorang pecundang seperti ini.


But, yeah. Here we go. Gue sejujurnya merasa takut karena ... gue tidak ingin ketika Olavia tahu apa yang audah gue perbuat, ketika dia tahu seberapa bejatnya gue ini, dia akan ... kecewa dan memandang rendah terhadap gue. Gue takut apa yang sudah gue lakukan dengan cewek-cewek itu, khususnya dengan Alda si miskin harga diri tersebut, membuat Kimaya menjadi tidak suka lagi berteman dengan gue.


Entah kenapa gue sangat ingin menjaga rasa saling menghormati dan saling menghargai yang gue dan seorang Kimaya Larahati punya terhadap satu sama lain.


"Jawab, dong, Fionn. Kenapa lo cuma bengong aja, sih?" desak cewek yang gue bayar untuk menjadi pendamping gue itu.


"Eh, anu. Eh." Ghe memijat-mijat tengkuk, tidak tahu dengan apa yang harus dilakukan. Mengungkapkan semuanya dengan jujur terasa begitu tidak mungkin, akan tetapi cewek ini sekarang memasang tampang yang sangat membikin gue tidak ingin melakukan sesuatu yang dapat menyulut amarahnya. "Eh, itu ... ehm, itu ...."


Mata gelapnya yang tajam berhasil menciptakan rasa seperti ditelanjangi di sekujur tubuh gue. Pandangan yang penuh pengamatan itu memindai gue dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum Kimaya menyunggingkan senyum pahitnya dan menggeleng. "Aku udah tahu. Aku seharusnya udah tahu kalau kalian memang ada apa-apanya, kan? Kamu gak perlu menjawab pertanyaan aku dengan kata-kata karena mata kamu yang bergelimang oleh rasa bersalah itu sudah memberi tahu aku jawaban yang aku mau dengan jelas. Jelas sejelas-jelasnya." Kimaya menunduk. "Seharusnya aku tahu aku gak perlu bertanya ke kamu lagi. Seharusnya aku bisa lihat kalau kalian pernah punya sesuatu. Kalau enggak, gak mungkin juga rasanya Alda bisa berani ngomong kayak tadi. Mana mungkin dia asal ngomong aja, kan?" Kemudian, seperti yang gue takutkan, Kimaya berlalu begitu saja.


****


Kimaya


Aku tahu aku sebenarnya tidak berhak untuk marah. Aku tahu sebenarnya aku tidak memiliki hak untuk merasa dikhianati, merasa tidak enak hati setelah mendapatkan kesimpulan bahwa ya, Fionn dan Alda pernah punya sesuatu yang membuat Alda berani menyatakan klaimnya terhadap pemuda itu di depan banyak orang. Terlebih di depan aku yang notabenenya adalah pacar dari Fionn Akari Haas —sejauh pengetahuan publik.


Namun, lagi-lagi rasa ingin tahu ini tidak sapat dibendung. Lagi-lagi, rasa ingin tahulah yang menghancurkan perasaanku.

__ADS_1


Namun, kenapa aku merasa seperti ini?


Bersambung ....


__ADS_2